Adhimukti Parivartah Dharmaparyaya Suttram

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Adhimukti Parivartah Dharmaparyaya Suttram

Post by skipper on Sat Nov 29, 2008 12:55 pm

SUTTA BUNGA TERATAI DARI KEGHAIBAN HUKUM KESUNYATAAN YANG MENAKJUBKAN

BAB IV


Om Vajra Akshobhya Hum
SASARAN YANG TEPAT


Pada saat itu Subhuti, Maha Katyayana, Maha Kasyapa dan Maha Maudgalyayana yang telah dilahirkan dengan Kebijaksanaan, menjadi kagum serta dihinggapi perasaan gembira setelah mendengar dari Sang Buddha tentang Hukum Kesunyataan yang belum pernah diajarkan sebelumnya oleh Sang Buddha dan tentang Penerangan Agung dari Sariputra. Kemudian Mereka bangkit dari tempat duduk-Nya dan sambil mengatur pakaian, Mereka menutup bahu kanan serta meletakkan lutut Mereka diatas tanah mengatupkan Tangan-Nya, membungkukkan Badan dengan takzim dan memandang ke arah Wajah Sang Buddha, Mereka menyapa Sang Buddha dan berkata :

"Kami Para Tetua dari Wiharawan-Wiharawan yang sudah tua dan sudah lanjut usia, beranggapan bahwa Kami telah mencapai Nirvana sehingga tidak ada lagi yang bisa Kami lakukan, oleh karenanya Kami tidak mendesak untuk mencari Penerangan Agung. Sang Buddha telah lama mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan dan selama itu pula Kami duduk di tempat merasa Badan Kami lesu dan hanya berpikir tentang Kehampaan, tentang Arupa, dan Yang Tanpa Arah. Tetapi sesuai dengan Hukum-Hukum Kesunyataan Bodhisattva, contoh-contoh Keghaiban, membersihkan Kawasan KeBuddhaan dan menyempurnakan semua Mahluk, Kami tidak dapat membayangkan sedikitpun adanya rasa bangga. Betapapun juga Perasaan Kami meluap-luap dengan penuh Kegembiraan setelah mendengar Sabda Sang Buddha bahwa Para Sravaka (Siswa) Yang Telah Mencapai Penerangan Agung. Betapa Gembiranya Hati Kami dihadapan Sang Buddha karena memperoleh apa yang belum pernah Kami alami. Secara tak terduga Kami sekonyong-konyong mendengar Hukum Kesunyataan Yang Ghaib ini. Kita merasa bangga mendapatkan Mantra yang bermutu ini, tanpa mencari-Nya.

Yang Maha Agung, Sang Buddha, perkenankanlah Kami sekarang berbicara dalam Perumpamaan untuk menjelaskan maksud ini. "Seperti Seorang laki-laki yang pada masa mudanya meninggalkan Ayahnya pergi. Lama Ia tinggal di Negeri-Negeri lain selama 10, 20 atau 50 tahun. Semakin Ia menjadi tua, semakin banyak pula Kebutuhannya. Ia mengembara ke segala penjuru untuk mencari sandang dan pangan sampai akhirnya Ia mendekati Tanah Kelahirannya tanpa diduga-duga. Dari semula Ayahnya mencari Anak ini tetapi sia-sia belaka, sementara itu Ia tinggal disuatu kota tertentu. Rumah-Nya menjadi sangat kaya raya, barang-barang dan harta benda-Nya sudah tak terhitung lagi, emas, perak, lapis lazuli, kerang, ember, kristal dan permata-permata lain sehingga lumbung dan harta benda-Nya melimpah-limpah. Ia banyak mempunyai orang muda dan budak, pembantu dan pelayan serta memiliki banyak gajah, kuda, kereta, lembu dan domba yang tak terhitung jumlahnya. Penghasilan dan modal-modal-Nya tersebar di negeri-negeri lain, pedagang dan langganan-langganan-Nya pun luar biasa banyaknya.

"Pada saat ini, si Anak malang mengembara dari desa ke desa dan menjelajahi banyak negeri dan kota hingga akhirnya sampailah Ia di kota dimana Ayahnya tinggal. Sang Ayah selalu memikirkan Anak-Nya dan meskipun Ia telah terpisah darinya selama 50 tahun, belum pernah Ia membicarakan hal ini dengan orang lain. Ia selalu merenung sendiri tentang hal ini dan selalu menyimpan penyesalan-Nya ini dalam Hati-Nya. Dalam renungan-Nya Ia berpikir :"Saya sudah tua dan sudah lanjut usia, dan saya memiliki banyak kekayaan emas, permata, perak, lumbung serta harta benda yang melimpah-limpah, tetapi Saya tidak ber-Putera. Suatu hari nanti, akhir hayat Saya akan tiba dan kekayaan-Ku akan berceceran dan hilang karena tiada seorangpun yang mewarisinya." Demikianlah keadaan Orang Tua itu, dan bilamana Ia teringat akan Putera-Nya, pikiran ini datang lagi : "Seandainya Aku bisa mendapatkan Anak-Ku kembali dan memberikan Kekayaan-Ku kepadanya, betapa puas dan gembiranya Hati-Ku tanpa adanya kekhawatiran lagi."

"Yang Maha Agung ! Sementara si anak malang bekerja disana-sini dan tanpa diduganya, sampailah Ia dikediaman Ayahnya. Sambil berdiri diambang pintu, Ia melihat dari kejahuan Ayahnya duduk disebuah Kursi berbentuk Singa dan Kaki-Nya diatas penunjang kaki yang bertatahkan manikam serta Tubuh-Nya berhiaskan untaian Mutiara yang berharga ratusan ribu, dipuja dan dikelilingi oleh para Brahmana, Kesatriya dan penduduk. Para pelayan dan bujang muda yang berselempang putih melayani-Nya dikanan-kiri. Ia bertutupkan sehelai tirai yang indah yang digantungi rangkaian-rangkaian bunga. Bebauan yang harum semerbak diatas bumi, segala macam Bunga-Bunga yang masyhur tersebar disekeliling dan benda-benda yang berharga diatur berderetan, beberapa diantaranya diterima dan yang lain ditolak-Nya. Demikianlah Kemuliaan dan KeAgungan Martabat-Nya.

Melihat Ayahnya memiliki Kekuasaan yang sedemikian besarnya, si anak malang itu tercekam oleh perasaan takut dan menyesal bahwa Ia telah datang ke tempat ini, sehingga diam-diam Ia berpikir : "Tentunya Ia Seorang Raja atau Seorang Keturunan Raja dan ini bukanlah Tempat bagi Saya untuk bekerja. Lebih baik Saya pergi ke dusun-dusun yang kecil dimana ada tempat bagiku untuk bekerja dan dimana sandang dan pangan lebih mudah diperoleh. Jika Saya berlama-lama disini, mungkin saya akan mengalami aniaya dan dipaksa bekerja." Setelah berpikir demikian, Ia segera pergi. Tetapi pada saat itu, Orang Tua yang duduk di Kursi Singa-Nya telah mengenali Anak-Nya pada pandangan pertama dan dengan Kegembiraan yang luar biasa dalam Hati-Nya, Ia berpikir : "Sekarang Aku telah menemukan Seseorang kepada siapa Harta Kekayaan-Ku akan Kuwariskan. Selalu Aku pikirkan Anak-Ku ini tanpa dapat menemuinya, tetapi tiba-tiba Ia telah datang sendirian dan rasa rindu-Ku terobati. Meskipun telah lanjut usia-Nya, Aku tetap merindukan-Nya." Dengan segera Ia mengutus pembantu-pembantu-Nya untuk mengejarnya dan membawanya kembali. Kemudian utusan-utusan itu segera menangkapnya. Si Anak malang itu menjadi terkejut dan ketakutan dan dengan keras Ia berteriak membantah: "Saya tidak mengganggu Kalian, mengapa Saya harus ditangkap?" Tetapi utusan-utusan itu bertindak lebih cepat lagi untuk menangkapnya dan memaksanya balik kembali. Kemudian Anak yang malang itu berpikir dalam hatinya bahwa meskipun Ia tidak bersalah namun Ia akan dipenjarakan juga, hal ini pasti berarti kematiannya sehingga bertambah ngerilah hatinya dan akhirnya pingsanlah Ia dan rubuh ketanah.

Ayahnya yang melihat dari kejauhan kemudian memerintah utusan-Nya sambil berkata:"Tidak ada gunanya Orang ini, jangan membawanya dengan paksa. Teteskan air dingin pada wajahnya agar Ia sadar kembali dan jangan bicara apapun lagi padanya." Betapapun juga Sang Ayah mengetahui watak Anak-Nya yang rendah diri dan menyadiri Kedudukan-Nya Sendiri yang seperti Raja itu telah menyebabkan kedukaan pada Anak-Nya. Meskipun demikian, Ia semakin percaya bahwa Anak ini adalah Anak-Nya, tetapi dengan Kebijaksanaan Ia tidak mengatakan apapun pada orang lain bahwa Anak ini adalah Anak-Nya Sejati. Salah Seorang utusan itu berkata pada Anak yang malang itu:"Sekarang Engkau saya bebaskan. Pergilah kemana Engkau suka." Anak yang malang itu menjadi gembira, karena memperoleh apa yang tidak diharapkannya. Ia bangkit dari tanah dan pergi ke sebuah pedusunan yang miskin untuk mencari sandang dan pangan. Kemudian Orant Tua yang ingin menarik hati Anak-Nya itu, mulai mengatur suatu rencana. Dengan diam-diam, Ia mengirimkan 2 orang yang kelihatannya sedih dan tidak berwibawa sambil berkata : "Kalian pergi dan kunjungilah tempat itu kemudian katakan dengan halus pada orang yang malang itu :"Ada tempat bagimu untuk bekerja disini dan Engkau akan diberi upah lipat dua", jika Orang itu menyetujui, bawalah Ia kembali dan berikanlah Ia pekerjaan. Dan jika Ia bertanya tentang pekerjaan apa yang akan dikerjakannya, kemudian kalian boleh berkata kepadanya:"Kami memberimu pekerjaan untuk membersihkan tumpukkan kotoran dan kita berdua juga akan senang bekerja bersamamu. Kemudian kedua orang utusan itu berangkat mencari Anak yang malang, dan setelah menemukannya, mereka mengatakan tentang usul-usul diatas kepadanya. Kemudian setelah menerima uang muka, si Anak malang itu bergabung bersama mereka mem bersihkan kotoran-kotoran. Ayah-Nya yang sedang memperhatikan Anak-Nya itu, dicekam rasa haru dan kasihan kepadanya.

Pada suatu hari, Ia melihat dari kejahuan lewat jendela, perawakan Anak-Nya yang ceking, kurus dan muram dikotori dan dinodai oleh tumpukan kotoran dan debu, kemudian Ia menanggalkan untaian permata-Nya, pakaian-Nya yang lembut dan perhiasan-perhiasan-Nya serta mengenakan kembali pakaian yang kasar, compang-camping serta kotor, lalu Ia melumuri Tubuh-Nya dengan debu dan mengambil sebuah panci debu di Tangan kanan-Nya serta dengan lagak yang tegas Ia berkata : "Lanjutkan pekerjaan Kalian, jangan bermalas-malasan." Dengan rencana yang demikian itu, Ia mendekati Anak-Nya dan berkata :"Wahai Orang-Ku, Tinggallah dan bekerjalah disini, janganlah pergi kemana-mana lagi, akan Aku naikkan upah-Mu dan apapun yang Engkau perlukan, seperti mangkok, alat-alat masak, beras, gandum, garam dan cuka, janganlah ragu-ragu. Kecuali itu, kalau Engkau membutuhkan, akan Kuberi kepada-Mu seorang pelayan yang sudah tua."

"Tenangkanlah hati-Mu, anggaplah Saya ini seperti Ayah-Mu Sendiri dan janganlah takut lagi. Betapapun juga Saya sudah tua dan lanjut usia sedang Engkau masih muda belia dan perkasa. Selama Engkau bekerja, belum pernah Engkau menipu, malas, marah ataupun menggerutu. Tidak pernah Aku lihat Engkau mempunyai sifat-sifat buruk semacam ini seperti pekerja-pekerja yang lain. Mulai saat ini dan seterusnya, Engkau akan Aku anggap sebagai Anak-Ku Sendiri yang Kulupakan."

Kemudian Orang itu memberi-Nya nama baru dan memanggil-Nya seperti Anak-Nya. Meskipun Anak yang malang itu bersuka cita atas kejadian ini, tetapi masih juga Ia berpikir tentang Dirinya sebagai Seorang buruh yang rendah, oleh karenanya Ia melanjutkan pekerjaan-Nya membersihkan kotoran selama 20 tahun dan sesudah waktu ini, timbullah rasa saling mempercayai diantara Mereka sehingga Ia dapat keluar masuk dengan leluasa, meskipun tempat kediamannya masih tetap di tempat semula.

"Kemudian Orang Tua itu jatuh sakit, dan menyadari bahwa sebentar lagi ajal-Nya akan tiba. Maka berkatalah Ia kepada Anak yang malang itu :"Sekarang Aku memiliki emas, perak, dan benda-benda berharga yang bertumpuk-tumpuk dan lumbung serta harta kekayaan yang melimpah ruah. Aku ingin Engkau mengetahui sampai hal yang sekecil-kecilnya tentang jumlah dari semua benda-benda ini dan jumlah dari harta yang masih harus diterima dan yang diberikan.

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Namo Bhagavate Vipula Garbhe Mani Prabhe Tathagata Arhate SamyakSamBuddha

Post by skipper on Sat Nov 29, 2008 12:58 pm

Begitulah pikiran-Ku. Setujukah Engkau dengan keinginan-Ku ini ? Karena sekarang Aku dan Engkau adalah sejiwa. Perhatikanlah terus menerus sehingga tidak ada waktu yang terbuang."

Kemudian Si Anak malang itu menyetujui petunjuk dari Perintah-Nya dan menjadi terbiasa dengan semua barang-barang itu, emas, perak, benda-benda berharga dan begitu juga dengan lumbung dan kekayaan, tetapi tanpa adanya gagasan untuk mengharapkan menerima harta itu sedikitpun, sedangkan tempat tinggalnya masih tetap ditempat semula, dan perasaan rendah dirinyapun masih tetap belum bisa ditinggalkannya.

"Sesudah beberapa waktu berselang, kembali Ayah-Nya mengetahui bahwa pemikiran Anak-Nya lambat laun sudah berkembang dan kemauannya pun tumbuh dengan baik dan Dia mengetahui juga bahwa Anak-Nya telah memandang rendah keadaan pemikirannya yang terdahulu. Karena mengetahui bahwa akhir hayat-Nya sudah dekat, Ia memerintah Anak-Nya datang dan pada saat yang sama Ia mengumpulkan Sanak keluarga-Nya, Para Raja, Para Menteri, Kesatriya dan Rakyat. Ketika Mereka semua sudah berkumpul, kemudian Ia menyapa Mereka Mereka dan berkata :"Ketahuilah tuan-tuan sekalian bahwa inilah Putera-Ku yang telah Kulupakan." Sudah lebih 50 tahun lamanya sejak Ia meninggalkan Saya di suatu kota dan pergi untuk menanggung sepi dan derita. Nama-Nya semula ialah si Anu dan nama Saya Sendiri ialah si Anu. Pada waktu itu, Saya mencari-Nya dikota itu dengan penuh kesedihan dan Saya menemui-Nya di tempat ini tanpa terduga dan Saya mendapatkan-Nya kembali. Ia betul-betul Anak-Ku dan Saya betul-betul Ayah-Nya. Sekarang seluruh Harta Kekayaan yang Saya miliki, semua-Nya menjadi Hak Putera Saya dan semua pengeluaran-pengeluaran dan penerimaan yang terdahulu seluruhnya sudah diketahui oleh Anak ini.

Yang Maha Agung ! Ketika Anak yang malang itu mendengar Kata-Kata Ayah-Nya ini, betapa besar Kegembiraan-Nya mendengar berita yang tidak diharapkan-Nya itu dan karenanya Ia berpikir :"Tanpa Saya bersusah payah mencari-Nya, Harta Benda ini telah datang sendiri kepada-Ku."

Yang Maha Agung ! Orang Tua yang sangat kaya raya itu ialah Tathagata dan Kita semua ialah sebagai Putera-Putera Buddha. Sang Tathagata selalu mengatakan bahwa Kita adalah Anak-Nya. Yang Maha Agung ! Karena adanya tiga penderitaan ditengah-tengah kelahiran dan kematian, maka Kita telah menanggung segala macam penderitaan, diperdayakan, diabaikan dan diremehkan kasih Kita. Hari ini Sang Buddha telah membuat Kita untuk merenungkannya dan membersihkan kotoran dari segala pembicaraan-pembicaraan yang mengasyikkan tentang Hukum-Hukum yang tidak berharga. Dalam hal ini, Kita harus tekun membuat kemajuan dan Kita telah memperoleh pembayaran upah sehari bagi usaha Kita untuk mencapai Nirvana. Karena memperoleh ini, Kita benar-benar menjadi Gembira dan Puas, dengan berkata pada Diri Kita Sendiri :"Untuk Ketekunan dan Kemajuan, yang telah Kita terima adalah begitu besarNya." Tetapi Sang Buddha mengetahui sebelumnya bahwa batin Kita masih terikat dengan keinginan-keinginan yang rendah dan menyukai hal-hal yang hina , maka Dia membiarkan Kita melakukan cara Kita Sendiri dan Diapun tidak membeda-bedakan Kita.
Dia bersabda:"Kalian akan menguasai Kekayaan dari Pengetahuan Ilmu Sang Tathagata". Sang Buddha dengan Kekuasaan-Nya Yang Bijaksana, telah bersabda tentang KeArifan Tathagata, dan meskipun Kita hanya mengikuti Sang Buddha dan menerima Upah sehari dari Nirwana, Kita telah menganggap-Nya sebagai suatu Keuntungan Yang Besar dan Kita tidak pernah mencurahkan Diri Kita untuk mencari Kendaraan Agung. Kita juga telah menyatakan dan menerangkan tentang Kebijaksanaan dari Sang Tathagata kepada Bodhisattva, tetapi tentang Kendaraan Agung ini Kita tidak pernah menginginkan-Nya, karena betapapun juga, Sang Buddha mengetahui bahwa Batin Kita masih menyukai hal-hal yang hina dan dengan Kebijaksanaan-Nya, Dia mengajak Kita menurut kesanggupan Kita, tetapi Kita tidak menyadari bahwa Kita adalah benar-benar Putera-Putera Buddha.

Sekarang Kita telah menyadari bahwa Yang Maha Agung tidak sakit hati terhadap Kebijaksanaan Sang Buddha. Karena dari dahulu kala, Kita semua adalah Putera-Putera Buddha, hanya Kita menyukai hal-hal yang hina. Kalau saja Kita mempunyai Jiwa yang menyukai KeAgungan, maka Sang Buddha akan berkhotbah kepada Kita tentang Hukum Kesunyataan Kendaraan Agung. Di dalam Sutta ini, sekarang Dia hanya berkhotbah tentang Satu Kendaraan dan meskipun dahulu ketika dihadapan Bodhisattva Dia hanya berkhotbah dengan memandang rendah, tentang Para Sravaka yang menyukai hal-hal yang hias, tetapi nyatanya Dia telah memerintahkan Mereka dalam Kendaraan Agung. Oleh karenanya Kita berkata bahwa meskipun Kita tidak mempunyai gagasan untuk mengharapkan Hal itu, tetapi sekarang Harta Kekayaan Yang Besar dari Raja Hukum Kesunyataan telah datang Sendiri pada Kita. Dan seperti itulah Putera-Putera Buddha akan memperoleh, dan Kita Semua telah mendapatkan-Nya.

Kemudian Maha Kasyapa yang ingin menyampaikan lagi maksud-maksud ini, menyatakan dalam Syair."

"Kita pada hari ini
telah mendengar Sabda Sang Buddha
dan sangat berdebar-debar dengan Kegembiraan
telah memperoleh Ajaran-Ajaran yang belum pernah ada
Sang Buddha mengatakan bahwa Kita Para Sravaka akan menjadi Buddha
Kumpulan Harta-Nya Yang Tiada Tara
Kita telah terima tanpa mencari-Nya
Seperti halnya Seorang muda
Belum dewasa dan pelalai
Yang meninggalkan Ayah-Nya dan pergi
Ketanah lain yang jauh
Mengembara kian kemari dibanyak negeri
Selama 50 tahun
Ayah-Nya dengan penuh kekhawatiran
Mencari-Nya ke segala penjuru
Jemu dengan pencarian-Nya
Ia tinggal di suatu kota

Hari ini Kita mendengar Sabda Sang Buddha
Dengan penuh gairah dan Kegembiraan
Telah memperoleh Ajaran dari Sang Buddha
Yang sebelumnya belum pernah dibabarkan

Sang Buddha telah menyatakan
Bahwa Kita Para Sravaka akan menjadi Buddha
Kumpulan Harta Yang Tiada ternilai banyak-Nya
Telah Kita terima tanpa Kita mencari-Nya

Seperti halnya seorang Anak muda
Yang belum dewasa dan pelupa
Yang pergi meninggalkan AyahandaNya
Ketanah rantau yang jauh nun disana
Berkelana kian kemari dibanyak negeri
Selama lima puluh tahun lamanya

Ayah-Nya dengan penuh kekhawatiran
Telah mencarinya kesegala penjuru
Tanpa mengenal jemu dan putus asa

Akhirnya Ayahandanya tinggal di sebuah kota
Membangun sebuah rumah yang besar mewah
Harta Kekayaan-Nya berlimpah-limpah
Emas, perak, batu-batu mulia dan mutiara
Segala Ratna mutu manikam tiada ternilai

Binatang-binatang ternak-Nya banyak sekali
Gajah, kuda, lembu dan domba tiada terhitung
Memiliki banyak tandu, usungan dan kereta
Abdi-Nya baik yang tua maupun muda
Rakyat semuanya menghormati-Nya

Modal-Nya tersebar sampai ke negeri lain
Pendapatan-Nya mengalir terus menerus
Dari para pedagang yang menjadi langganan-Nya
Yang terdapat dimana-mana disegala penjuru

Ribuan keti Rakyat menyanjung memuliakan-Nya
Bagaikan Seorang Raja, Ia dipuja dan dicintai
Para Menteri dan Para Bangsawan menghormati-Nya
Tamu-Nya dari segala negeri datang berkunjung

Demikian besar Kekayaan dan Kekuasaan-Nya
Namun usia-Nya kian hari bertambah lanjut
Rasa duka terus bersemi dalam Hati-Nya
Karena rindu kepada Putera-Nya yang hilang

Siang malam Ia termenung mengenang Putera-Nya
Sementara itu kematian kian mendekat
Anak-Nya yang bodoh belum juga kembali
Dari kepergian-Nya sudah 50 tahun lebih

Apa yang akan Kulakukan terhadap Harta-Ku
Yang bertumpuk dalam gudang-gudang-Ku ?
Yang jumlahnya tiada ternilai ?

Sementara itu si Anak yang malang
Mengembara mencari pangan dan sandang
Dari kota kekota, dari satu negeri ke negeri lainnya
Kadang-kadang mendapatkan rejeki dan tidak
Keadaan-Nya sangat lemah, kurus dan lapar
Badan-Nya gatal penuh kudisan disana sini

Akhirnya si Anak hilang lewat di kota
Tempat Istana Ayah-Nya yang berdiri megah
Si Anak malang pergi kesana kemari
Mencari kerja namun tak berhasil

Si Anak yang malang tegak berdiri
Di pintu gerbang rumah Ayahanda-Nya
Waktu itu Ayahanda-Nya sedang duduk
Di balik pintu gerbang bertirai manikam
Duduk diatas Singasana Singa
Dikelilingi oleh para pembantu utama-Nya
Yang senantiasa menjaga-Nya sepanjang hari

Beberapa orang sedang sibuk menghitung
Emas, perak dan segala benda berharga
Yang lain menghitung keluar masuknya barang
Menulis dan mencatat surat-surat pinjaman

Si Anak yang malang ketika melihat Ayah-Nya
Ia merenung dan bertanya di dalam Hati-Nya
"Tentu Ia Seorang Raja atau Keturunan Raja
Mengapa Aku sampai datang kemari ?"

Kemudian Ia berpikir dan berkata dalam hati
"Jika Aku terlambat pergi dari tempat ini
Aku pasti akan disuruh kerja paksa"
Setelah Ia berpikir demikian, Ia lalu pergi
Keperkampungan orang-orang miskin

Kesanalah Ia pergi dan mencari kerja.
Pada saat itu Ayah si Anak malang
Menyaksikan Anak-Nya dari kejahuan
Dengan diam-diam Ia mengenal-Nya

Segera Ia mengutus seorang pembantu-Nya
Untuk pergi menemui Anak-Nya yang malang
Untuk dibujuk supaya dapat dibawa kembali
Namun si Anak malang berteriak ketakutan
Kemudian Ia jatuh pingsan, rubuh ketanah

Dalam igauan-Nya, si Anak malang berkata
"Orang-orang itu telah menangkap Diri-Ku
Pasti mereka akan segera membunuh-Ku".
Ayah dari Anak yang malang itu mengetahui
Putera-Nya begitu bodoh dan rendah Diri
Tidak mau percaya bahwa Orang Tua itu Ayah-Nya.

Dengan menggunakan Akal Yang Bijaksana
Kembali Ia mengutus pembantu-pembantu-Nya
Untuk menemui Anak-Nya yang malang, yang lupa Ayah-Nya
Dikirimkan-Nya pembantu-Nya yang cacad
Matanya tinggal satu, badannya pendek
Yang nampaknya sama sekali tak berwibawa

Dipesannya kepada orang yang diutus-Nya
Supaya Ia mengajak si Anak malang bekerja
Menjadi tukang membersihkan kotoran dan sampah
Akan diberi upah dua kali lipat banyaknya
Si Anak malang mendengar ini, hati-Nya gembira

Demikianlah Si Anak malang yang telah bekerja
Membersihkan rumah Ayahandanya dibagian luar
Membersihkan kotoran dan sampah yang ada disana
Ayah-Nya lewat disamping-Nya
"Sungguh bodoh Anak-Ku" pikir-Nya dalam hati
Ia sudah terbiasa dengan yang sederhana

Kemudian Orang Tua si Anak malang
Mengganti pakaian Kebesaran-Nya yang mewah
Mengenakan pakaian compang camping
Diambilnya panci yang kotor lalu pergi
Menemui Anak-Nya yang sangat dicintai-Nya

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Namo Bhagavate Bhaisajya Guru Vaidurya Prabha Raja Tathagata Arhate SamyakSamBuddha

Post by skipper on Sat Nov 29, 2008 12:59 pm

Dengan cara ini Ia berhasil mengajak Anak-Nya
DisuruhNya anak-Nya supaya rajin bekerja
"Aku telah memutuskan untuk menaikkan gaji-Mu."
Akan Kuberikan minyak untuk Kaki-Mu
Akan Kuberikan sandang pangan yang cukup
Demikian puls tikar yang tebal dan hangat

Kemudian tiba-tiba Orang Tua itu menghardik
"Sekarang lanjutkan pekerjaan-Mu"
Setelah menghardik Orang Tua itu berkata lembut
"Kau Kuanggap sebagai Anak-Ku Sendiri"
Dengan Kebijaksanaan-Nya Ayah si Anak malang
Akhirnya memperoleh si Anak yang malang
Keluar masuk mengurus rumah tangga-Nya
Hal ini telah berjalan selama 20 tahun

Si Anak yang malang mendapat kepercayaan
Mengurus emas, perak, mutiara dan kristal
Mengatur keluar masuknya barang-barang
Sehingga akhirnya Ia menjadi pandai.

Tetapi si Anak yang malang tetap memikirkan
Tentang diri-Nya yang miskin dan hina
Ia tetap bertempat tinggal dipondok
Meskipun tiap hari Ia mengurus harta benda
Yang berharga yang tak ternilai harganya
Ia tetap berpikir:"Harta ini bukan milik-Ku".

Pikiran Anak-Nya terbaca oleh Ayahanda-Nya
Yang nampak-Nya kian lama kian berkembang
Sekarang Ia ingin menyerahkan Kekayaan-Nya
Kepada Anak-Nya yang sangat dicintai-Nya

Orang Tua itu mengumpulkan sanak keluarga-Nya
Para Panggeran dan Para Menteri, Para Kesatriya
Juga dihadiri oleh banyak rakyat-Nya
Dalam Pertemuan besar Orang Tua itu berkata :
"Ini adalah Putera-Ku yang telah pergi
Meninggalkan Diri-Ku 50 tahun lamanya

Sejak Aku melihat Putera-Ku telah kembali
Dua puluh tahun telah berselang
Yang telah dahulu menghilang di sebuah kota
Dalam pengembaraan-Ku untuk mencari-Nya
Akhirnya Aku tiba di kota ini

Sekarang semuanya sudah Kumiliki
Harta kekayaan dan rakyat Kuberikan
Dan Anak-Ku bebas menggunakan-Nya sekehendak-Nya
Si Anak yang malang ingat pada kemiskinan-Nya
Sehingga Ia kembali merasa rendah Diri
Namun akhirnya Ia merasa gembira
Memperoleh Harta Kekayaan yang demikian besarnya
Yang selama ini belum pernah diharap-diharapkan-Nya

Demikian pula halnya dengan Sang Buddha
Yang mengetahui bahwa Kita masih terikat
Dengan segala hal-hal yang hina dina
Sebelumnya Sang Buddha tidak berkata :
"Kalian akan menjadi Putera Buddha".

Tetapi Sang Buddha telah menyatakan
Bahwa Kita telah mencapai Kesucian dan Kesempurnaan
Sebagai Sravaka didalam Hinayana

Sang Buddha telah memerintahkan kepada Kita
Mengkhotbahkan tentang Jalan Yang Paling Suci
Siapa melaksanakan-Nya akan menjadi Pengikut Buddha

Demi Bodhisattva Yang Agung
Kita terima Perintah Sang Buddha
Dengan berbagai alasan dan peribadatan
Dan dengan tidak begitu banyak pernyataan

Setelah mengkhotbahkan Jalan Yang Agung ini
Ketika Putera-Putera Buddha mendengar Hukum Kesunyataan ini
Siang dan malam merenungkan-Nya dengan tekun
Dan dengan penuh semangat mengamalkan-Nya
Kemudian Sang Buddha menyatakan kepada Mereka
Bahwa Mereka dalam generasi mendatang
Akan menjadi Pengikut Buddha

Hukum Kesunyataan Kepercayaan dari seluruh Penganut Buddha
Hanya diuraikan kepada Para Bodhisattva dengan penuh kenyataan
Bukan dijelaskan kepada Kita
Kebenaran inilah yang telah dikhotbahkan
Persis seperti Anak yang malang itu
Yang telah datang mendekati Ayahanda-Nya
Meskipun Ia mengutus seluruh Harta Kekayaan itu
Namun tiada keinginan untuk memiliki-Nya

Demikian pula halnya dengan Kita ini
Meskipun Kita mengetahui Harta Kekayaan
Yang berupa Hukum Kesunyataan yang diberikan Sang Buddha
Namun tidak keinginan untuk memiliki-Nya
Seperti halnya si Anak yang malang

Dengan jalan mengekang hawa nafsu
Kita merasa telah mencapai kepuasan
Masalah ini hendaknya Kita selesaikan
Sehingga tiada sisa lagi untuk dikerjakan

Jika Kita telah mendengar
Tentang Punsucian Tanah-Tanah Buddha
Dan Penyempurnaan mahluk-mahluk hidup
Kita tidak akan merasa bahagia
Mengapa ?

Karena Kita menyukai segala-galanya
Menyukai Kehampaan, menyukai Kelahiran
Tanpa kematian tiada yang besar
Tiada yang kecil tanpa salah dan cela
Merenungkan semuanya ini
Tiada terasa ada kebahagiaan
Meskipunhal ini telah berjalan lama

Tiada merasa iri hati atau terikat
Terhadap Kebijaksanaan Sang Buddha
Atau punya hasrat keinginan untuk-Nya
Tetapi dengan memandang Hukum Kesunyataan ini
Kita merasa telah mencapai Kesempurnaan

Kita dalam waktu yang lama
Melaksanakan Hukum Kehampaan ini
Memperoleh Kebebasan dari Tribuana
Menderita segala macam kesengsaraan

Tinggal di Tubuh Yang Sempurna
Di Nirvana di mana bentuknya masih ada
Karena diperintah oleh Sang Buddha
Kita merenung dan tanpa ragu lagi
Mencapai Jalan itu

Karena itu Kita seharusnya
Membalas kasih-Nya Sang Buddha
Meskipun Kita demi Putera-Putera Buddha
Telah berkhotbah tentang Hukum Bodhisattva
Bahwa Mereka harus mencari Jalan Buddha

Tetapi Kita dalam hubungan dengan Hukum ini
Tidak pernah punya hasrat dan keinginan
Dan Guru Kita melihat membiarkan Kita Sendiri
Karena Dia telah menyelami pikiran Kita
Sehingga pada mulanya Ia tidak membakar
Semangat Kita supaya berkobar-kobar
Dengan bersabda tentang pahala yang besar

Begitu pula halnya dengan si Orang Tua
Yang menyadari sifat rendah diri Anak-Nya
Dengan segala Kebijaksanaan-Nya
Ia membenarkan perasaan hati nurani-Nya
Untuk kemudian menyerahkan Harta Kekayaan-Nya

Demikian pula halnya dengan Sang Buddha
Dalam menunjukkan keanehan-keanehan-Nya
Mengetahui Mereka masih menyukai hal-hal hina
Dan dengan Kebijaksanaan-Nya
Menunjukkan perasaan Mereka

Ia memerintahkan Mereka dengan Kebijaksanaan
Dengan menyatakan bahwa hari ini Kita memperoleh
Sesuatu yang sebelumnya belum pernah Kita miliki
Yang tidak pernah Kita cari

Sekarang Kita telah memperoleh-Nya
Yang sebelumnya belum pernah Kita duga
Seperti halnya si Anak yang malang
Yang memperoleh Harta Kekayaan begitu banyak

O, Yang Maha Agung
Sekarang Kita telah mendapatkan Jalan
Bahkan Kita telah menerima hasil pahala
Didalam Hukum Yang Sempurna ini
Kita mendapatkan Pandangan Terang

Kita sudah begitu lama memelihara
Perintah suci dari Sang Buddha
Hari ini untuk pertama kalinya
Kita memperoleh buah dan pahala-Nya

Di dalam Hukum dari Raja Hukum Kesunyataan
Karena telah lama menjalankan Perbuatan Mulia
Sekarang Kita telah mencapai Kesempurnaan
Memetik Buah Hasil Yang Tiada Bandingannya

Sekarang Kita benar-benar sebagai Pendengar
Yaitu Ajaran-Ajaran itu yang didengar mahluk-mahluk
Ajaran dari Jalan Sang Buddha.

Kita sekarang benar-benar Seorang Arahat
Yang ada diseluruh dunia yang oleh dewa-dewa
orang-orang dan Brahma dianggap sebagai Sesembahan Agung.
Sang Buddha dengan Kasih-Nya Yang Agung
Dengan segala Keanehan-Nya mengasihi Kita
Perintah-Nya telah menguntungkan Kita

Lewat koti kalpa yang tak terhitung
Siapa yang akan mampu membalasnya
Bersujud dengan berlutut
Menyembah dengan menundukkan Kepala
Atau memikul-Nya diatas pundaknya
Lewat kalpa seperti pasir di Sungai Gangga
Atas pemujaannya dengan sepenuh hati

Atau dengan makanan lezat
Atau dengan pakaian yang mahal harganya
Dan segala bentuk dari balai-balai
Atau dengan berbagai macam hiburan
Dengan kepala lembu dari kayu cendana
Dan dengan segala macam permata

Membangun Stupa dan sanggar pemujaan
Atau menilami Bumi dengan kain indah
Dengan semuanya ini Kita menghormati-Nya

Melalui kalpa ibarat pasir di Sungai Gangga
Masih tiada seorangpun yang dapat membalas-Nya

Buddha mempunyai Kemujijadan Yang Ghaib
Yang muncul bersama-sama demikian besarnya
Yang tiada batasnya, tak dapat disadari
Kekuasaan-Nya yang sangat Agung
Mereka Sangat Sempurna Tiada Cela
Sang Raja Hukum Kesunyataan Yang Mampu Memikirkan
Segala bentuk pikiran yang rendah

Bagi orang yang masih awam
Yang masih terikat dengan keduniawian
Harus menunggu dengan sabar

Dikhotbahkan-Nya Khotbah yang sesuai
Dengan kemampuan Penganut Buddha
Untuk mencapai Kekuasaan Yang Agung
Mengetahui seluruh mahluk hidup
Dengan beraneka ragam keinginannya
Kesenangan dan Kekuasaannya
Ini sesuai dengan kemampuan mereka

Dengan mengambil banyak Perumpamaan
Mereka mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan ini
Sesuai dengan kemampuan mahluk-mahluk hidup
Yang terdahulu kala telah menanam
Akar dari perbuatan-perbuatan baik

Penganut-Penganut Buddha mengetahui yang dewasa dan yang belum dewasa
Dan memeliharanya satu demi satu
Membedakannya dan memahaminya
Dalam satu Yana yang sesuai
Mereka berkhotbah tentang Pohon itu.

Demikianlah Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Yang Menakjubkan, Tentang Sasaran Yang Tepat , Bab 4.

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Adhimukti Parivartah Dharmaparyaya Suttram

Post by Sponsored content Today at 5:11 pm


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik