Bhiksu Sesat dari Hokkaido

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Bhiksu Sesat dari Hokkaido

Post by skipper on Wed Feb 11, 2009 12:25 pm


Om Ah Hum Guru Pei Ahosasa Maha Lian Sheng Siddhi Hum
Om Mariciyi Svaha

Bhiksu Sesat dari Hokkaido


Ketika Zhenfo Zong berangsur-angsur berdiri, siswa yang menjadi bhiksu makin lama makin banyak, Vajracarya Zhenfo Zong tersebar di seluruh dunia, "mahavihara", "vihara", dan "cetiya" berdiri satu demi satu.

Di selatan ada seorang bhiksu sesat, bernama "Hong Bian-tian", mengutus orang menyampaikan pesan pada saya:

1. Zhenfo Zong harus dibawah kekuasaannya.

2. Semua bhiksu harus lepas jubah.

3. Vajracarya harus melepaskan mahkota Panca Buddha.

4. Dilarang memanggil Buddha Hidup Lian Sheng dengan sebutan Buddha Hidup, hanya boleh memanggilnya Bhiksu Lian Sheng.

5. Semua murid Zhenfo Zong seharusnya bersarana ulang di dalam naungan alirannya. Ia mau menjadi pemimpin atau ketua aliran.

Hong Bian-tian berkata:

"Bila kelima hal ini tidak dituruti dan diumumkan. Selama 7x7= 49 hari, tubuh Anda Lu Sheng-yen akan kaku lalu mati."

Begitu mendengarnya, saya terbahak-bahak, saya berkata, "Walaupun saya adalah perintis Zhenfo Zong, namun, hal ini terbentuk secara alami, saya tidak pernah mencampuri urusan personalia, administrasi, bendahara, dan lain sebagainya, saya lepas tangan, itu urusan masing-masing."

Maksud saya adalah, saya tidak berhak menyuruh murid-murid saya lepas jubah, Vajracarya melepaskan mahkota Panca Buddha, dan murid-murid Zhenfo Zong bersarana ulang pada bhiksu sesat.

Walaupun saya sudi. Saya boleh lepas tangan.

Murid-murid saya pun tidak sudi.

Si bhiksu sesat murka begitu mendengarnya, namun, saya sama sekali tidak mengiraukannya, saya menjalani hidup dengan santai. Seperti biasanya, bermeditasi dan melatih diri.

*

Suatu hari, tiba-tiba saya merasa gelisah dan emosi, saya juga tidak bisa duduk bermeditasi dengan tenang, saya merasa agak resah dan pikiran kacau, sekujur tubuh saya terasa tidak beres.

Saya membentuk mudra, mengundang "Gongcao Piket Harian", "Dewa Gongcao" memberitahu saya:

"Mahaguru Lu, Anda telah menyalahi bhiksu sesat, bhiksu sesat yang Anda salahi adalah salah satu dari 500 bhiksu sesat di pedalaman, salah seorang bhiksu sesat yang paling hebat! Ilmu Setan Terbangnya telah mencelakai tidak sedikit manusia, hari ini, Anda harus melakukan perlindungan diri dengan sebaik-baiknya!"

Saya terkejut sekali begitu mendengarnya.

Tadinya saya tidak menghiraukan si bhiksu sesat, tak disangka ia sungguh punya sedikit ketrampilan.

Saya tidak tahu, apa itu "Ilmu Setan Terbang".

Bagaimana pula saya melindungi diri?

Saya lebih dulu menggunakan "Ilmu Pengganti", saya meminjam sebatang pohon untuk menggantikan roh saya.

Tujuh hari kemudian, pohon itu tak disangka jadi layu dan mati, saya kaget sekali.

Saya gunakan lagi sarang burung di atap rumah untuk menggantikan roh saya, tujuh hari kemudian, seekor walet mati lemas di depan pintu rumah saya. Saya melihat burung mati begitu membuka pintu, saya pun kaget sekali.

Saya titipkan lagi roh saya di "Thanka Tantra", Thanka "Jambhala Kuning".

Tujuh hari kemudian, benang thanka putus, thanka jatuh di mandala, saya pun kaget sekali.

Terakhir, saya tidak berdaya, saya hanya menekuni "Sadhana Penghilang dari Dewa Marici".

Mudra membentuk "Mudra Penghilang".

Bervisualisasi diri sendiri masuk ke dalam mudra.

Baca mantra: "Om. Molizhiyi. Suoha." Saya tekuni selama 7 hari.

Akhirnya, saya bertemu sesosok setan raksasa, berwajah hijau dan bertaring, wujudnya sangat menakutkan, memimpin setan-setan kecil yang tak terhitung jumlahnya, mati-matian mencari saya di depan, belakang, dan di dalam rumah saya.

Bahkan di kulkas, bak mandi, mandala, toilet, dan lain-lain pun dicari.

Pokoknya, mereka sama sekali tidak menemukan saya, "Sadhana Penghilang dari Dewa Marici" saya tidak dapat ditemukan oleh makhluk halus manapun.

Setan terbang raksasa dan setan-setan kecil yang tak terhitung jumlahnya ini tanpa alasan yang jelas menganggap saya telah menguap di alam manusia.

Telah lenyap. Telah hilang. Atau benar-benar telah mati.

Itu sebabnya, setan terbang raksasa pun mencari saya seharian penuh, lalu pulang melaporkan tugasnya.

Karena "Sadhana Penghilang dari Dewa Marici", nyawa saya pun tertolong, inilah kehebatan "Mantra Dewa Marici", berkah kelengkapan mudra dan roh saya dapat masuk ke dalam mudra, ini kisah nyata.

*

Setelah bhiksu sesat dari Hokkaido gagal mencelakai saya dengan "Ilmu Setan Terbang", hatinya sangat jengkel.

Lalu ia marah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa terhadap saya, ia marah sampai terus-menerus menghentakkan kakinya. Ia masih ingin mencelakai saya dengan ilmu sesat lainnya, namun, ilmu sesat yang terbesar yang ia miliki adalah "Ilmu Setan Terbang", bahkan "Ilmu Setan Terbang" pun tidak berguna, ia sadar ia tidak mampu mencelakai saya, akhirnya, saking marahnya, ia sendiri meninggalkan Hokkaido, mengambil langkah seribu, kabur entah ke mana.

Tadinya si bhiksu sesat mempunyai beberapa murid, juga tercerai-berai.

Terus terang, saya masih belum menggunakan Mahasadhana saya! Misalnya:

"Hevajra".

"Chakrasamvara".

"Guhyasamaja".

"Yamantaka".

"Kalachakra".

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Mahayana Arya Marici Dharani Sutram

Post by skipper on Sat Feb 14, 2009 2:36 pm

Mahayana Arya Marici Dharani Sutram


Demikianlah yang telah Kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berdiam di Taman Jetavana di Sravasthi, bersama-sama dengan para Bhikshu Utama sejumlah 1250 orang. Saat itu Sang Buddha memberitahu Para Bhikshu, "Terdapat seorang dewa bernama Marici yang selalu melintas di hadapan Sang Surya. Dewa Marici ini tidak dapat dilihat oleh seorangpun, tak dapat ditangkap, tak dapat ditipu, tak dapat diikat, tak dapat dihutangi oleh siapapun, dan juga tak dapat diperdaya musuh." Buddha memberitahu para bhikshu, "Bila ada orang yang mengenal nama Dewa Marici, orang tersebut juga tak terlihat, tak dapat ditangkap, tak dapat dibohongi, tak dapat diikat, tak dapat dihutangi, serta tak dapat diperdaya musuh." Buddha memberitahu para bhikshu, "Jika ada pria dan wanita baik, mendengar nama Dewa Marici, hendaknya mereka berkata demikian: "Saya siswa bernama .............. mengetahui nama Dewa Marici ini, oleh karenanya tidak ada orang yang dapat melihat saya, tidak ada orang yang dapat menangkap saya, tidak ada orang yang dapat membohongi saya, tiada orang yang dapat mengikat saya, tiada seorangpun yang dapat berhutang pada saya, dan tiada musuh yang dapat memperdaya saya."

Pada saat itu Buddha melafalkan mantra yang berbunyi, "Dan zhi ta. An jia mo si. Mo jia mo si. Zhi po luo mo si. Mo he zhi po luo mosi. An duo li ta nuo mo sha he."

(Sanskrit: Tadhyata. Om Kamasi, Mahamasi, Ciparamasi, MahaCiparamasi, Om Turetanama, Svaha).

[Ucapkan pula], "Lindungilah saya pada siang hari. Lindungilah saya pada malam hari. Lindungilah saya di rumah musuh. Lindungilah saya di tengah marabahaya. Lindungilah saya dari petaka rampok, di tempat
manapun juga. Setiap saat lindunglah saya, siwa yang bernama ....... Svaha."

Buddha memberitahu Para Bhikshu, "Bila ada pria dan wanita baik, Bhikshu, Bhikshuni, Upasaka, Upasika, raja, menteri, rakyat, dan lain sebagainya, mendengarkan Mantra Marici, sepenuh hati melafalkan, tak akan celaka oleh bahaya tersebut di atas."

Buddha memberitahu para bhikshu, "Bila ada orang yang dapat menulisnya, membacanya, menekuninya, menyelipkannya di sanggul, mengenakannya dalam baju, membawanya kemanapun pergi, maka segala
marabahaya akan lenyap dan tiada lagi aral melintang." Setelah para bhikshu mendengarkan sabda Sang Buddha ini, maka mereka menjalankannya dengan gembira.

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik