Ārya Samvrti Paramārtha Satya Nirdeśa Nāma Mahāyāna Sūtra

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Ārya Samvrti Paramārtha Satya Nirdeśa Nāma Mahāyāna Sūtra

Post by skipper on Sun Oct 09, 2016 12:33 am


Hum
MAHAYANA TRIPITAKA SUTTRAM

Om Vairocana Hum

Magha Puja

Om Vajrapani Hum

Ārya Samvrti Paramārtha Satya Nirdeśa Nāma Mahāyāna Sūtra

(Sutra Kendaraan Besar Yang Bernama Yang Suci Pengajaran Kebenaran dari Makna Tertinggi Dan Yang Biasa)

Demikianlah telah kudengar, pada suatu waktu, sang Bhagavan sedang tinggal berdiam di Rājagrha, di atas puncak gunung Grdhrakūta, bersama-sama dengan perkumpulan besar Bhiksu samgha yang berjumlah delapan ribu Bhiksu, para Bodhisattvā Mahāsattvā yang berjumlah tujuh puluh dua ribu Bodhisattva, juga para devaputra yang menghuni kāmadhātu dan Rūpadhātu. Disana, sang Bhagavan mengajarkan Dharma, dikelilingi dan dihormati oleh rombongan dari ratusan ribu makhluk.

Ada hadir di dalam perkumpulan rombongan itu Devaputra yang bernama Praśāntavinayeśvara. Dia bersujud di kaki sang Bhagavan, dan, membungkuk dengan telapak tangan beranjali kearah sang Bhagavan, bertanya : "Bhagavan, di manakah Ma˝juśrī Kumārabhuta sekarang? Bhagavan, diri saya sendiri dan semua orang di sini menginginkan sang Mahāsattvā itu mengajarkan Dharma."

Sang Bhagavan menjawab, "Jika, Devaputra, orang melakukan perjalanan kearah timur dari Buddhaksetra ini dan lewat melampaui delapan belas ribu Buddhaksetra, ada sebuah Buddhaksetra yang bernama Ratnaloka. Di sana, sang Ratnaketu Tathāgata Arhan Samyaksambuddha saat ini sedang tinggal berdiam dan mengajarkan Dharma. Ma˝juśrī Kumārabhuta juga ada disana sekarang."

Praśāntavinayeśvara devaputra berkata kepada sang Buddha : "Bhagavan, itu akan menjadi indah jika sebuah tanda dibuat sedemikian rupa sehingga Ma˝juśrī Kumārabhuta, setelah melihatnya, akan mau kembali ke sini. Alasannya, Bhagavan, bahwa orang belum mendengar Dharma Nirdesa yang sama seperti yang diberikan oleh Ma˝juśrī Kumārabhuta, dari para Srāvaka, Pratyekabuddha, atau para Bodhisattva yang masih bergantung pada petunjuk. Kecuali sang Tathāgata, tidak ada orang lain sama sekali yang mampu mengajarkan Dharma dengan cara itu. Bhagavan, ketika Ma˝juśrī mengajarkan Dharma, semua tempat tinggal Mara kehilangan kegemerlapannya. Selain itu, semua Mara menjadi tidak dapat menimbulkan bahaya apa pun. Semua penentang sepenuhnya dikalahkan. Mereka yang dengan petunjuk berangkat tanpa membutuhkan petunjuk. Saddharma juga tetap ada selama waktu yang panjang. Sang Tathāgata juga akan bersukacita dalam hal ini dan menyetujui itu."

Sang Bhagavan tahu bahwa Praśāntavinayeśvara devaputra akan membuat permintaan ini, dan memancarkan seberkas cahaya dari rambut Urna di kening-Nya. Sinar cahaya itu menerangi trisāhasramahāsāhasra lokadhātu dengan kecerahannya yang hebat dan, melewati delapan belas ribu Buddhaksetra, cahaya-Nya yang hebat itu menyebar di seluruh Ratnaloka, Buddhaksetra dari sang Bhagavan Ratnaketu Tathāgata Arhan Samyaksambuddha.

Menyaksikan cahaya ini, beberapa Bodhisattva Mahāsattvā bertanya kepada sang Bhagavan Ratnaketu Tathāgata Arhan Samyaksambuddha yang tinggal berdiam di sana : "Bhagavan, ada Cahaya yang terang seperti itu sekarang; Siapakah yang menyebabkan tanda itu?"

Sang Bhagavan Ratnaketu berkata : "Kulaputra, di sebelah barat dari Buddhaksetra ini, melewati delapan belas ribu Buddhaksetra, ada Sahaloka. Disana, sang Bhagavan Sakyamuni Tathāgata Arhan Samyaksambuddha saat ini tinggal dan mengajarkan Dharma. Sang Bhagavan Sakyamuni Tathāgata Arhan Samyaksambuddha yang mengirimkan seberkas cahaya dari rambut Urna di kening-Nya, dan pancaran dari seberkas cahaya itu melewati delapan belas ribu Buddhaksetra dan menerangi dunia ini dengan cahaya-Nya yang hebat."

Para Bodhisattva Mahasattva itu bertanya kepada sang Bhagavan Ratnaketu Tathāgata Arhan Samyaksambuddha : "Bhagavan, mengapa sang Bhagavan Tathāgata Arhan Samyaksambuddha itu memancarkan
seberkas cahaya ini?"

Sang Bhagavan Ratnaketu menjawab á: "Dia melakukannya dalam rangka untuk memanggil Manjusri Kumārabhuta. Dan mengapa? Untuk membuat Dia kembali ke sana. Di dalam rombongan dari Buddha itu, ada banyak para Bodhisattva Mahasattva serta banyak para deva, nāga, yaksa, gandharva, āsura, garuda, kinnara, mahoraga, dan manusia. Mereka semua ingin melihat Manjusri Kumārabhuta dan mendengar Dia mengajarkan Dharma."

Kemudian Ratnaketu Tathāgata berkata kepada Manjusri Kumārabhuta : "Karena, Manjusri, sang Bhagavan Sakyamuni Tathāgata dan semua orang di dalam rombongan-Nya ingin melihat Anda, Anda harus pergi ke Saha loka itu."

Manjusri menjawab : "Ya, Bhagavan, Saya juga telah melihat tanda itu."

Jadi, Manjusri Kumārabhuta, bersama dengan sepuluh ribu Bodhisattva, membungkuk ke kaki Ratnaketu Tathāgata. Mereka berputar mengelilingi sang Bhagavan Ratnaketu Tathāgata Arhan Samyaksambuddha tiga kali, dan kemudian dengan seketika berangkat ke dunia saha ini, tiba secepat waktu yang dibutuhkan oleh orang yang kuat untuk mengulurkan dan menarik kembali lengannya. Tinggal berdiam di langit dengan tubuh yang tidak terlihat, Mereka menurunkan hujan besar dari bunga-bunga yang harum, yang berwarna-warni, dan yang menyenangkan, seperti yang tidak pernah terlihat atau terdengar sebelumnya, dalam rangka untuk menghormati sang Bhagavan Sakyamuni Tathāgata Arhan Samyaksambuddha. Hujan besar dari bunga-bunga ini memenuhi seluruh trisāhasramahāsāhasra lokadhātu hingga setinggi lutut.

Melihat bunga-bunga ini, semua orang yang berkumpul di sana kagum dan bertanya, "Bhagavan, siapakah yang menyebabkan hujan besar bunga-bunga ini, yang begitu menyenangkan untuk dilihat, berjatuhan?"

Sang Bhagavan menjawab : "Manjusri Kumārabhuta, disertai dengan sepuluh ribu Bodhisattva, telah datang dari Dunia Permata ke Dunia Saha ini. Dengan tubuh Mereka yang tidak terlihat, Mereka semua menurunkan hujan besar bunga-bunga ini untuk menghormati sang Tathāgata."

Mereka yang di dalam perkumpulan itu berkata : "Bhagavan, kami ingin melihat Manjusri Kumārabhuta dan para Bodhisattva Mahasattva itu."

Pada saat itu, Manjusri Kumārabhuta dan sepuluh ribu Bodhisattva itu turun dari langit. Setelah berlutut ke kaki sang Bhagavan, Manjusri Kumārabhuta dan para Bodhisattva Mahasattva itu masing-masing duduk di kursi yang Mereka ciptakan secara ajaib sendiri.

Kemudian Praśāntavinayeśvara devaputra berlutut kepada sang Bhagavan dan berkata dengan tangan beranjali : "Bhagavan, semua dari kami ingin mendengar, jadi tolong minta Manjusri Kumārabhuta untuk mengajar."

Sang Bhagavan menjawab : "Devaputra, diri Anda sendiri harus membuat permintaan itu."

Jadi, sang Devaputra berkata : "Manjusri, itu akan menjadi indah jika Anda dapat memberikan kepada kami Dharma-nirdesa yang sama seperti apa yang diajarkan di dalam Buddha-ksetra dari sang Bhagavan Ratnaketu Tathāgata."

Manjusri menjawab : "Pada Yang Tertinggi (Paramā), Dharma bukanlah tentang menghasilkan kemelekatan; Juga bukan tentang melenyapkan kemelekatan; Pada Yang Tertinggi (Paramā), itu bukanlah tentang menghasilkan kemarahan; Juga bukan tentang melenyapkan kemarahan; Pada Yang Tertinggi (Paramā), itu bukanlah tentang menghasilkan angan-angan khayalan; Juga bukan tentang melenyapkan angan-angan khayalan. Pada Yang Tertinggi (Paramā), itu bukanlah tentang menghasilkan kebijaksanaan; Juga bukan tentang melenyapkan kebijaksanaan."

Sang Devaputra berkata : "Manjusri, bagaimanakah itu?"

Manjusri menjawab : "Devaputra, di dalam yang tidak dilahirkan, tidak ada kelahiran atau akhir apapun. Pada Yang Tertinggi (Paramā), Devaputra, para Bodhisattva Mahasattva tidak memiliki pikiran apapun, tidak satupun yang timbul, dan tidak satupun yang akan timbul. Dan mengapa begitu ? Karena, pada Yang Tertinggi (Paramā), semua gejala kejadian adalah yang secara alami tidak dilahirkan."

Sang Devaputra berkata : "Manjusri, apa yang sang Tathāgata lihat untuk ditinggalkan melalui pengajaran Dharma-Nya?"

Manjusri berkata : "Sang Tathāgata itu mengajarkan Dharma karena pada Yang Tertinggi (Paramā), hal-hal adalah yang tidak lahir secara alami, juga tidak berakhir secara alami. Dan mengapa begitu? Karena para Bodhisattva Mahasattva menerapkan diri Mereka sendiri secara tekun pada Kebenaran dari Makna Tertinggi (Paramārtha-satya). Namun, Mereka tidak menerapkan diri Mereka sendiri secara tekun pada kebenaran biasa (samvriti-satya)."

Sang Devaputra berkata : "Manjusri, apa itu Kebenaran dari Makna Tertinggi (Paramārtha-satya)?"

Manjusri berkata : "Jika, Devaputra, pada Yang Tertinggi (Paramā), Kebenaran dari Makna Tertinggi menjadi objek dari tubuh, ucapan, atau pikiran, itu bukanlah 'Kebenaran dari Makna Tertinggi', tetapi adalah 'kebenaran biasa dari dirinya sendiri'. Sebaliknya, Devaputra, pada Yang Tertinggi (Paramā), Kebenaran dari Makna Tertinggi melampaui semua yang biasa. Itu adalah tanpa hal yang khusus; Itu tidak muncul, tidak berhenti, dan terbebas dari sesuatu yang untuk dikatakan, dan perkataan, atau sesuatu yang untuk diketahui, dan pengetahuan. Devaputra, Kebenaran dari Makna Tertinggi melampaui segala sesuatu melalui wilayah dari Sarvaj˝a-jnana yang diberkahi dengan yang tertinggi dari semua aspek. Devaputra, itu tidak memiliki keterlibatan, juga tidak berbalik, atau gagasan dan pikiran. Pada Yang Tertinggi (Paramā), tidak ada 'pantai seberang,' tidak ada 'pantai ini,' juga tidak ada yang di tengah. Meskipun, Devaputra, orang sungguh membuat klaim yang berlebihan : 'Ini adalah Kebenaran dari Makna Tertinggi', itu adalah tidak sama seperti mengatakan : 'Kebenaran dari Makna Tertinggi adalah seperti ini'. Devaputra, pada Yang Tertinggi (Paramā), kenyataan adalah yang tidak dilahirkan; dengan demikian, tidak ada hal biasa yang berlaku untuknya. Itu yang pada Yang Tertinggi (Paramā), yang tidak ada hal biasa yang berlaku, itu, Devaputra, adalah Kebenaran dari Makna Tertinggi. Dengan demikian, itu adalah tidak sama seperti mengatakan : 'Kebenaran dari Makna Tertinggi adalah seperti ini'. Devaputra, sang Tathāgata Arhan Samyaksambuddha juga mengatakan bahwa pada Yang Tertinggi (Paramā), semua gejala kejadian dan semua istilah nama adalah gejala kejadian yang palsu dan menipu."

Sang Devaputra berkata : "Lalu bagaimanakah itu, Manjusri, bahwa Dharma yang diajarkan oleh sang Tathāgata bukanlah yang palsu?"

Manjusri berkata : "Devaputra, pada Yang Tertinggi (Paramā), sang Tathāgata tidak berbicara palsu. Juga tidak Dia berbicara benar. Dan mengapa begitu? pada Yang Tertinggi (Paramā), Devaputra, sang Tathāgata belum muncul. Dan jadi, pada Yang Tertinggi (Paramā), Dia tidak berbicara yang palsu maupun yang benar. Devaputra, bagaimanakah menurut Anda? Apakah penjelasan yang diberikan oleh ciptaan magis dari sang Tathāgata benar atau salah?"

Sang Devaputra berkata : "Manjusri, penjelasan yang diberikan oleh ciptaan magis dari sang Tathāgata tidaklah benar, juga tidaklah salah. Mengapa begitu? Manjusri, pada Yang Tertinggi (Paramā), tidak ada yang benar-benar didirikan pada yang dipancarkan oleh sang Tathāgata."

Manjusri berkata : "Begitulah, Devaputra. Sang Tathāgata tahu bahwa semua gejala kejadian adalah yang tidak terdirikan di dalam Makna Tertinggi (paramārtha). Apapun yang tidak terdirikan di dalam Makna Tertinggi harus tidak disebut sebagai yang benar, juga harus tidak disebut sebagai yang palsu di dalam hubungan pada Yang Tertinggi (Paramā). Mengapa begitu? Karena, pada Yang Tertinggi (Paramā), semua gejala kejadian adalah yang tidak dilahirkan."

Sang Devaputra berkata : "Manjusri, bagaimanakah sang Tathāgata mengajarkan Makna Tertinggi?"

Manjusri berkata : "Makna Tertinggi, Devaputra, adalah yang tidak dapat diajarkan. Dan mengapa? Karena topik, guru, metode pengajaran, murid, dan alasan untuk mengajar, semuanya itu yang pada Yang Tertinggi (Paramā) adalah yang benar-benar tidak dilahirkan. Gejala kejadian yang sama sekali belum lahir tidak bisa dirinya sendiri mengungkapkan gejala kejadian yang benar-benar belum lahir."

Ketika Manjusri Kumārabhuta telah memberikan Dharma tentang Kebenaran Tertinggi ini dengan tanpa mengajar, pikiran dari lima ratus Bhikshu terbebaskan dari kekotoran tanpa kemelekatan lagi. Para Bodhisattva Mahasattva yang tidak terhitung mengembangkan dengan tanpa mengembangkannya, mencapai kesabaran menerima gejala kejadian sebagai yang tidak dihasilkan (anutpattikadharmaksānti).

Sang Devaputra berkata : "Manjusri, itu adalah sulit untuk merasakan keyakinan dalam Kebenaran dari Makna Tertinggi."

Manjusri berkata, "Devaputra, itu adalah sulit bagi siapa saja yang masih bergantung pada petunjuk untuk merasakan keyakinan dalam Kebenaran dari Makna Tertinggi."

Sang Devaputra berkata : "Manjusri, itu adalah sulit untuk memahami Kebenaran dari Makna Tertinggi."

Manjusri berkata, "Devaputra, itu adalah sulit bagi mereka yang tidak mengerahkan diri untuk memahami Kebenaran dari Makna Tertinggi."

Sang Devaputra berkata : "Manjusri, bagaimanakah para Bhikshu mengerahkan diri?"

Manjusri berkata, "Pada yang tertinggi, Devaputra, ketika Mereka tanpa pengerahan tujuan itu untuk memahami, melepaskan, mengolah, atau mewujudkan, itu adalah bagaimana para Bhikshu mengerahkan diri dengan tanpa mengerahkan diri. Dan mengapa? Karena orang mungkin berpikir, 'Pada yang tertinggi, ini adalah yang untuk dipahami, ini adalah yang untuk dilepaskan, ini adalah yang untuk dibudidayakan, dan ini adalah yang untuk diwujudkan.' Namun, pemikiran seperti itu melibatkan tanda-tanda yang berhubungan dengan gagasan dan kerumitan. Ini melibatkan petunjuk dan emosi yang mengganggu. Ini melibatkan kegaduhan dan ketakutan. Ini melibatkan penyakit dan penderitaan. Ini melibatkan sakit dan racun. Dengan demikian, keterlibatan dari jenis ini bukanlah yang asli. "

Sang Devaputra berkata : "Manjusri, apa keterlibatan yang asli?"

Manjusri berkata, "Devaputra, apa pun yang sama dengan 'Kenyataan apa adanya yang sesungguhnya (tathatā)', á'alam gejala kejadian (dharmadhatu)', dan 'yang sepenuhnya tidak dilahirkan pada tingkat yang Tertinggi' adalah yang juga sama dengan 'lima tindakan dengan akibat yang langsung' pada tingkat yang Tertinggi."

"Apa pun yang sama dengan tathatā, dharmadhatu, dan yang sepenuhnya tidak dilahirkan pada tingkat yang Tertinggi adalah juga pada yang Tertinggi sama dengan pandangan."

"Apapun yang sama dengan tathatā, dharmadhatu, dan yang sepenuhnya tidak dilahirkan pada tingkat yang Tertinggi adalah juga pada yang Tertinggi sama dengan kualitas dari para makhluk biasa.

"Apapun yang sama dengan tathatā, dharmadhatu, dan yang sepenuhnya tidak dilahirkan pada tingkat yang Tertinggi adalah juga pada yang Tertinggi sama dengan kualitas dari mereka yang berlatih.

"Apapun yang sama dengan tathatā, dharmadhatu, dan yang sepenuhnya tidak dilahirkan pada tingkat yang Tertinggi adalah juga pada yang Tertinggi sama dengan kualitas dari mereka yang tidak lagi berlatih.

"Apapun yang sama dengan tathatā, dharmadhatu, dan yang sepenuhnya tidak dilahirkan pada tingkat yang Tertinggi adalah juga pada yang Tertinggi sama dengan kualitas dari Buddha yang sepenuhnya sempurna.

"Apapun yang sama dengan kualitas dari Buddha yang sepenuhnya sempurna pada tingkat yang Tertinggi adalah juga pada yang Tertinggi sama dengan tathatā, dharmadhatu, dan yang sepenuhnya tidak dilahirkan.

"Apapun yang sama dengan kualitas dari Buddha yang sepenuhnya sempurna pada tingkat yang Tertinggi adalah juga pada yang Tertinggi sama dengan Nirvana.

"Apapun yang sama dengan Nirvana pada tingkat yang Tertinggi adalah juga pada yang Tertinggi sama dengan samsara.

"Apapun yang sama dengan samsara pada tingkat yang Tertinggi adalah juga pada yang Tertinggi sama dengan penderitaan.

"Apapun yang sama dengan penderitaan pada tingkat yang Tertinggi adalah juga pada yang Tertinggi sama dengan pemurnian.

"Apapun yang sama dengan pemurnian pada tingkat yang Tertinggi adalah juga pada yang Tertinggi sama dengan semua gejala kejadian.

"Bhikshu yang benar-benar terlibat di dalam kesetaraan dari semua gejala kejadian pada tingkat yang Tertinggi dalam cara ini, Devaputra, adalah yang disebut sebagai Dia yang dengan keterlibatan yang asli pada tingkat yang Tertinggi. Namun, itu tidaklah seperti cara itu diucapkan."

Sang Devaputra berkata : "Manjusri, apa itu kesetaraan yang mana segala sesuatu hingga pemurnian dikatakan pada yang Tertinggi menjadi sama, dan juga pada yang Tertinggi menjadi sama dengan semua gejala kejadian?"

Manjusri berkata, "Pada yang Tertinggi, semua gejala kejadian adalah yang sama bahwa mereka tidak muncul. Pada yang Tertinggi, semua gejala kejadian adalah yang sama bahwa mereka tidak dilahirkan. Pada yang Tertinggi, semua gejala kejadian adalah yang sama bahwa mereka tidak nyata. Oleh karena itu, Devaputra, pada yang Tertinggi, semua gejala kejadian adalah yang sama. Dan kenapa begitu? Karena pada yang Tertinggi, Devaputra, semua gejala kejadian adalah yang belum muncul, mereka tidak dapat dibeda-bedakan."

"Devaputra, itu adalah sama seperti persamaan ini. Ruang di dalam bejana yang terbuat dari tanah liat dan Ruang di dalam bejana yang terbuat dari permata keduanya adalah unsur Ruang; Pada yang Tertinggi, tiada perbedaan terkecil pun yang dapat dibuat di antara mereka. Dengan cara yang sama, Devaputra, emosi yang mengganggu adalah pada dirinya sendiri tidak muncul pada tingkat yang Tertinggi. Pemurnian itu sendiri juga tiada asal mula pada tingkat yang Tertinggi. Pada yang Tertinggi, samsara itu sendiri juga tidak muncul. Pada yang Tertinggi, semua gejala kejadian hingga Nirvana itu sendiri tidak muncul. Pada yang Tertinggi, tiada perbedaan terkecilpun yang dapat dibuat sehubungan dengan ini. Dan mengapa? Karena pada yang Tertinggi, semua gejala kejadian adalah yang belum muncul."

Sang Devaputra berkata, "Manjusri, bagaimanakah seharusnya para Bodhisattva Mahasattva mengerahkan diri sehubungan dengan 'kebenaran yang mulia (āryasatyāni)'?"

Manjusri berkata, "Jika Devaputra, para Bodhisattva Mahasattva tidak menerapkan diri pada kebenaran yang mulia, bagaimana Mereka bisa mengajar dengan tanpa mengajar Dharma kepada para Sravaka? Namun, Devaputra, meskipun memang itu adalah kasus, meditasi dari para Bodhisattva Mahasattva pada kebenaran melibatkan pertimbangan, sedangkan meditasi dari para Sravaka pada kebenaran tidak melibatkan pertimbangan. Mengapa begitu? Devaputra, pada tingkat yang biasa, para Bodhisattva Mahasattva mempertimbangkan semua makhluk hidup. Meskipun Mereka bermeditasi pada kebenaran dengan tanpa bermeditasi, Mereka tidak mewujudkan 'batas kenyataan (bhutakoti)' melalui berfokus pada ketiadaan zat. Pada tingkat yang biasa, dalam rangka memperoleh 'cara terampil (upaya-kaushalya)', para Bodhisattva Mahasattva bermeditasi pada kebenaran dengan tanpa bermeditasi. Pada tingkat yang biasa, Mereka tidak membuang kebenaran dari samsāra atau nirvāna. Pada tingkat yang biasa, dalam rangka secara pribadi membedakan kebijaksanaan dari para Buddha, para Bodhisattva Mahasattva bermeditasi pada kebenaran dengan tanpa bermeditasi."

"Devaputra, itu adalah sama seperti persamaan ini. Orang yang telah tertangkap oleh banyak orang yang tidak dikenal melarikan diri. Dia lolos dari antara banyak orang asing itu dan memasuki hutan. Namun Dia menjadi takut, panik, dan meninggalkan hutan itu, tidak pernah kembali lagi. Devaputra, dalam cara yang sama, para Sravaka takut pada samsara dan melarikan diri dengan panik. Mereka tidak kembali ke dunia ini, tetapi bermeditasi pada satu titik pada kebenaran di dalam kesendirian. Dengan demikian, karena Mereka tidak memiliki kecerdasan dari berbagai cara, Mereka tidak mempertimbangkan semua makhluk hidup, dan seterusnya hingga tidak mempertimbangkan kebijaksanaan dari kemahatahuan (Sarvaj˝a-jnana)."

"Devaputra, itu adalah sama seperti persamaan ini. Seorang pemimpin memperoleh banyak pelayan dan semua persediaan yang diperlukan. Berpikir bahwa Dia harus berangkat untuk mengumpulkan banyak barang, Dia mengumpulkan banyak orang dan, tanpa rasa takut atau panik, Dia meninggalkan hutan yang terpencil. Demikian juga, Devaputra, para Bodhisattva Mahasattva menyerupai Pemimpin yang besar itu ketika Mereka terlibat dalam perilaku duniawi pada tingkat yang biasa. Dengan demikian, Mereka menyediakan untuk semua makhluk hidup dan terlibat dengan kasih sayang yang besar, yang dapat disamakan dengan banyak pelayan itu. Mereka memperoleh semua akar kebajikan, yang merupakan persediaan itu. Mereka memiliki keuntungan besar yang terdiri dari enam kesempurnaan yang melampaui (sadpāramitā), cara menarik murid (samgraha-vastūni), dan pahala kebajikan yang tidak tertandingi dan kebijaksanaan. Mereka bertindak demi kesejahteraan semua alam makhluk hidup dan melanjutkan dari Buddhaksetra ke Buddhaksetra. Dengan demikian, Mereka menyediakan untuk para makhluk hidup dan bermeditasi pada kebenaran melalui upaya-kaushalya."

"Devaputra, pikirkanlah persamaan ini. Jika orang memasukkan kain serat rami dengan bunga campaka dan vārsika, aroma wanginya akan cepat memudar. Dengan cara yang sama, Devaputra, meditasi dari para Sravaka pada kebenaran diamati hanya dalam waktu yang singkat. Dengan berlalu secara cepat ke nirvana, Mereka tidak menghasilkan aroma wangi dari disiplin, mendengar, penyerapan, pengetahuan, dan kebijaksanaan Buddha. Lagi, Mereka tidak dapat melepaskan emosi yang mengganggu yang bergabung dengan kecenderungan dari kebiasaan."

"Devaputra, pikirkanlah persamaan ini. Jika orang mengisi kain sutra benares yang berharga dengan parfum manusia dan dewa dan aroma wewangian bunga selama ratusan ribu maha kalpa, aroma wangi surganya akan dirasakan selama-lamanya, dan aroma áwangi yang murni itu akan meliputi para dewa dan manusia. Devaputra, dalam cara yang sama, para Bodhisattva Mahasattva dengan tanpa meditasi bermeditasi pada kebenaran selama banyak ratusan ribu kalpa yang tidak terhitung. Mereka tidak berhenti melakukannya sampai Mereka telah mencapai Sarvaj˝a-jnana yang diberkahi dengan yang tertinggi dari semua aspek dan masuk ke dalam nirwana yang lengkap (parinirvāna). Dan, dengan tanpa bergantung pada petunjuk, Mereka menjadi sangat harum dengan aroma wangi dari Sarvaj˝a-jnana yang diberkahi dengan yang tertinggi dari semua aspek. Dalam hal kebiasaan duniawi, Mereka meninggalkan semua kecenderungan kebiasaan dari emosi yang mengganggu dan menarik dunia para dewa, manusia, dan asura."

Kemudian Praśāntavinayeśvara devaputra bertanya kepada Manjusri Kumārabhuta : "Manjusri, bagaimanakah Sravaka sangha yang dimiliki oleh sang Ratnaketu Tathāgata Arhan Samyaksambuddha?"

Manjusri menjawab : "Pada yang tertinggi, mereka bukanlah para pengikut yang setia, tetapi juga bukanlah yang setia beralih ke orang lain. Pada yang tertinggi, mereka bukanlah pengikut keluarga (kula), tetapi juga tidak pada yang tertinggi meninggalkan keluarga Tathāgata (Tathāgata-kula). Pada yang tertinggi, mereka tidak mengikuti Dharma; Tentu, pada yang tertinggi, mereka sepenuhnya tidak mengamati Dharma. Pada yang tertinggi, mereka tidak memiliki delapan kualitas yang salah, tetapi juga tidak pada yang biasa terbebas darinya."

"Pada yang tertinggi, mereka bukanlah yang memasuki arus (Srota-ňpanna), namun dalam hal kebenaran biasa dari dunia, mereka melampaui semua alam yang lebih rendah. Pada yang tertinggi, mereka bukanlah yang kembali sekali (Sakrdāgāmin), namun pada tingkat yang biasa, mereka kembali untuk mematangkan para makhluk. Pada yang tertinggi, mereka bukanlah yang tidak kembali (Anāgāmin), namun pada tingkat yang biasa dari semua gejala kejadian, tiada kembali. Pada yang tertinggi, mereka bukanlah yang layak (Arhan), namun menurut kebiasaan dunia, mereka sangatlah layak dipuja oleh dunia bersama dengan para dewa-nya. Pada yang tertinggi, mereka bukanlah pendengar (Śrāvaka), namun, dengan tanpa secara gagasan pikiran memahaminya, mereka mendengar semua Bhagavan Buddha."

"Pada yang tertinggi, mereka tidak tanpa kemelekatan, namun pada tingkat yang biasa, mereka tidak terluka oleh siksaan kemelekatan. Pada yang tertinggi, mereka tidak tanpa kemarahan, namun pada tingkat yang biasa, mereka tidak terluka oleh siksaan kemarahan. Pada yang tertinggi, mereka tidak tanpa angan-angan khayalan, namun pada tingkat yang biasa, semua gejala kejadian adalah yang terbebas dari kegelapan. Pada yang tertinggi, mereka tidak tanpa emosi yang mengganggu, namun pada tingkat yang biasa, mereka berusaha keras untuk menjinakkan emosi yang mengganggu milik semua makhluk. Pada yang tertinggi, mereka dengan jelas telah tinggal berdiam di dalam yang tanpa asal-mula dari awal, namun pada tingkat yang biasa, mereka dengan sadar mengambil keberadaan. Pada tingkat yang biasa, mereka merangkul samsara, namun pada yang tertinggi, tidak ada menggenggam atau meninggalkan gejala kejadian apapun."

"Pada yang tertinggi, dengan tanpa kesadaran yang kuat memperhatikan semua gejala kejadian, mereka melihat dengan tanpa melihat. Namun pada tingkat yang biasa, mereka berlatih di dalam pangkalan kesadaran (smrti-upasthana). Pada yang tertinggi, dengan tanpa mengetahui, mereka mengetahui bahwa semua gejala kejadian adalah yang tidak dilahirkan dan yang tidak berhenti. Namun dalam hal pengalaman duniawi, mereka berlatih di dalam pelepasan yang menyeluruh. Pada yang tertinggi, mereka tidak memiliki tubuh maupun pikiran, namun di dalam kebenaran yang biasa dari dunia, mereka telah mencapai landasan dari kekuatan ajaib (rddhipāda). Pada yang tertinggi, mereka tanpa indera (indriya), namun pada tingkat yang biasa, mereka telah mencapai semua indera. Pada yang tertinggi, dengan tanpa melihat, mereka melihat bahwa semua gejala kejadian adalah yang tidak nyata. Namun, dalam rangka untuk memusnahkan kesombongan dan pemahaman gagasan dari setiap orang yang sombong dan yang terlibat di dalam pemahaman gagasan, mereka berlatih dengan tanpa berlatih di dalam kekuatan (bala). Pada yang tertinggi, dalam rangka untuk membuatnya di mengerti bahwa semua gejala kejadian adalah yang tidak nyata, mereka berlatih dengan tanpa berlatih di dalam cabang-cabang kebangkitan (bodhi-anga). Walaupun pada yang tertinggi sepenuhnya tidak nyata, pada tingkat yang biasa mereka berlatih di dalam jalan (mārga) dengan cara tidak berlatih. Pada yang tertinggi, mereka mencapai ketenangan yang sunyi (śamatha) di dalam batas kenyataan (bhutakoti). Pada yang tertinggi, dengan tanpa berlatih, mereka melihat wawasan (vipaśyanā) menjadi yang sepenuhnya tidak muncul. Pada yang tertinggi, pengetahuan mereka terlahir melalui tidak melihat ketidaktahuan sebagai sesuatu yang untuk dihabiskan. Pada yang tertinggi, tiada penghabisan ataupun kemunculan yang diamati."

"Walaupun mereka melihat semua makhluk dan semua Buddhaksetra dengan mata fisik, pada yang tertinggi, mereka tidak melihat apa pun. Walaupun mereka melihat semua kematian, perpindahan, dan kelahiran kembali dari semua makhluk dengan sangat jelas melalui mata surga, pada yang tertinggi, mereka tidak melihat apa pun. Walaupun mereka tahu semua pengalaman dan pergerakan dari pikiran semua makhluk dengan mata kebijaksanaan, pada yang tertinggi, mereka tidak tahu apa pun. Walaupun mereka melihat semua gejala kejadian dengan mata dharma, pada yang tertinggi, mereka tidak melihat apa pun. Walaupun mereka melakukan semua tindakan Buddha dengan mata Buddha, pada yang tertinggi, mereka tidak melakukan apa pun. Walaupun dengan telinga surga mereka mendengar ajaran dari semua Bhagavan Buddha, pada yang tertinggi, mereka tidak mendengar apa pun. Walaupun dengan pikiran tunggal mereka melihat pikiran dari semua makhluk, pada yang tertinggi, mereka tidak melihat apa pun. Walaupun dengan kebijaksanaan dari ingatan mereka pasti mengingat waktu yang sangat awal, pada yang tertinggi, mereka tidak mengingat apa pun. Walaupun mereka mengunjungi banyak Buddhaksetra yang tidak terbayangkan dengan kekuatan ajaib, pada yang tertinggi, tidak ada yang datang ataupun pergi. Walaupun kekotoran batin mereka dihabiskan, pada yang tertinggi, tidak ada yang untuk dihabiskan."




Terakhir diubah oleh skipper tanggal Fri Dec 02, 2016 11:22 pm, total 21 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Ārya Samvrti Paramārtha Satya Nirdeśa Nāma Mahāyāna Sūtra

Post by skipper on Tue Nov 29, 2016 11:08 pm

Namo Stu Buddhaya

Tolong bantuannya jangan mereply di positngan Sutra Mahayana ini agar dapat menjaga kesinambungan keteraturan hingga paripurna.

Om Ah Hum

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik