Ārya Sarva Buddha Visayā Avatāra J˝ānā Lokā Lamkāra Nāma Mahāyāna Ratna Kuta Sūttram

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Ārya Sarva Buddha Visayā Avatāra J˝ānā Lokā Lamkāra Nāma Mahāyāna Ratna Kuta Sūttram

Post by skipper on Sun May 22, 2016 12:11 am

MAHAYANA TRIPITAKA SUTTRAM




Ārya Sarva Buddha Visayā Avatāra J˝ānā Lokā Lamkāra Nāma Mahāyāna Ratna Kuta Sūttram

Namo Buddhāya


Demikianlah telah kudengar, pada suatu ketika, sang Bhagavan sedang tinggal berdiam di Rājagrha, di atas puncak permata yang tidak terbatas dari gunung Grdhrakūta (grdhrakūte parvvate anantaratnaśikhare), di dalam Rahim dari Alam Dharma (dharmmadhātugarbhe), bersama-sama dengan perkumpulan besar Bhiksu samgha yang berjumlah dua puluh lima ribu Bhiksu (pa˝cavinśatibhir bhiksusahasraih), yang semuanya adalah para Arhat yang arus keluarnya telah dihabiskan (ksīnāśravair), yang terbebas dari kekotoran batin (nihkleśair), yang telah mencapai penguasaan (vvaśībhūtaih). yang pikirannya sempurna terbebaskan (suvimuktacittaih), yang kebijaksanaannya sempurna terbebaskan (suvimuktapraj˝aih). Mereka adalah Gajah besar berpengetahuan yang telah melaksanakan kewajiban yang perlu dilakukan (ājānaiyair mahānāgaih krtakrtyaih krtakaranīyaih), yang telah meletakkan beban mereka (apahrtabhārair), yang telah memperoleh hasil mereka sendiri (anuprāptasvakārathaih), yang telah menghancurkan belenggu dari keberadaan (pariksīnabhavasamyojanaih), yang pikirannya sepenuhnya terbebaskan oleh pengetahuan yang sempurna (samyagāj˝āsuvimuktacittaih), yang telah mencapai kesempurnaan tertinggi dalam penguasaan semua keadaan pikiran (sarvvacetovaśiparamapāramiprāptaih). Enam puluh delapan Mahā Srāvaka yang dipimpin oleh Āj˝ātakaundinya juga hadir disana.

Ada hadir tujuh puluh dua ratus ribu koti nayuta para Bodhisattvā Mahāsattvā, yaitu seperti : Manjuśri Kumārabhūta, Dhanaśri, Buddhiśri, Bhaisajyarāja, juga Bhaisajyasamudgata Bodhisattvā Mahāsattvā. Mereka semua memutar Roda Dharma yang tanpa kemunduran (avaivarttika dharmmacakra pravarttakaih). Mereka semua terampil di dalam menanyakan Sutra yang sangat luas dari gunung permata (ratnakūta vaipulyasūtra pariprcchā kuśalaih). Yang telah memperoleh tingkat Awan Dharma (dharmameghabhūmi). Yang memiliki kebijaksanaan seperti Sumeru. Mereka telah menembus Dharma kekosongan yang tiada tanda, áyang tiada nafsu keinginan, yang tidak dihasilkan, yang tidak dilahirkan, yang tiada keberadaan (śūnyatānimittāpranihitānutpādājādvatābhāvadharma). Dharma besar yang mendalam (mahā gambhīra dharma) muncul kepada Mereka. Yang memiliki sikap tubuh Tathāgata. Di sistem dunia yang tidak habis-habisnya, Mereka diutus oleh ratusan ribu koti nayuta para Tathāgata. Mereka semua memiliki pengetahuan super yang melihat perbuatan masa depan (abhij˝āparakarmanirjātaih) dan terdirikan di dalam sifat alami dari keberadaan diri dari semua gejala kejadian (sarvvadharmasvabhāvaprakrtipratisthitaih).

Pada waktu itu, sang Bhagavata berpikir demikian : "Saya, dalam rangka untuk membangkitkan ketangkasan yang besar (mahājava), kekuatan (bala), dorongan (vega), dan daya tahan (sthāma) pada para Bodhisattvā Mahāsattvā, akan membabarkan Dharma, mengumpulkan para Bodhisattvā Mahāsattvā yang berkekuatan besar diantara yang berkekuatan besar (mahaujaskamahaujaskā) dari sistem dunia yang banyaknya seperti butiran pasir di sungai gangga. Saya akan memperlihatkan tanda-tanda mengadakan ajaran Mahā Dharma. Saya akan memancarkan cahaya yang besar sehingga para Bodhisattvā Mahāsattvā akan datang dan menanyakan ajaran Mahā Dharma."

Kemudian sang Bhagavan memancarkan Sinar Awan Besar-Nya (mahā rasmi megha) menyinari sistem dunia yang banyaknya sama seperti butiran debu di trisāhasra mahā sāhasra lokadhātu yang tidak terhitung dan yang tidak terbayangkan di sepuluh penjuru arah. Kemudian pada saat itu, dari sepuluh penjuru arah, para Bodhisattvā Mahāsattvā yang banyaknya sama seperti seratus ribu koti nayuta butiran debu di dalam sepuluh wilayah Buddha (daśabuddhaksetrā) yang tidak terbayangkan datang mendekati-Nya. Masing-masing para Bodhisattvā Mahāsattvā itu datang dengan perubahan wujud Bodhisattvā yang tidak terbayangkan (acintyābhir bodhisatvavikurvvanā), melaksanakan pemujaan yang tidak terbayangkan dan yang tepat kepada sang Bhāgavato, duduk di hadapan sang Bhagavatah di atas kursi bunga teratai (padmāsana) yang muncul melalui kekuatan cita-cita (pranidhānabala) milik Mereka sendiri, tinggal berdiam menatap sang Bhagavanta dengan tanpa berkedip.

Pada waktu itu, ada terlihat muncul Tahta Singa Rahim Bunga Teratai Permata Yang Besar (mahāratnapadmagarbhasimghāsanam) di tengah-tengah Istana Rahim Alam Dharma (dharmadhātugarbhe prāsādamadhye), yang lebarnya adalah koti yojana yang tidak terhitung (asamkhyeyayojanakotīvistāram), tingginya belum pernah terjadi sebelumnya (anupūrvvasamucchritam). Yang tercipta dari semua permata Mani yang bercahaya (sarvaprabhāsamaniratnamayam), yang bersinar mengkilat (vidyutpradīpam), di sekeliling kursi itu terdiri dari permata Mani (maniratnavedikāparivrtam). Tongkatnya yang berpermata Mani ábersinar dengan tidak terbayangkan (acintyaprabhāsamaniratnadandam). Tertutupi dengan permata Mani yang tiada bandingan (anupamamaniratnaparivāram). Dimurnikan dengan karangan bunga permata Mani yang bersinar melampaui dan tiada bandingan (anupamātikrāntaprabhāvamaniratnadāmakrtaśobham). Terselimuti dengan jaring permata Mani dan Vasi Raja (vaśirājamaniratnajālasa˝channam). Terpasang dengan berbagai jenis permata Mani (nānāmaniratnapratyuptam), dengan spanduk - bendera - payung berdiri tegak (samucchritacchatradhvajapatākam).

Dari atas Tahta Singa Rahim Bunga Teratai Dari Permata Maha Mani itu (mahāmaniratnapadmagarbhasimhāsana), memancarkan sepuluh yang tidak terhitung dari seratus ribu koti nayuta sinar cahaya, menyinari sistem dunia yang sangat banyak di sepuluh penjuru arah dengan kecerahannya yang besar.

Pada saat itu, dari masing-masing sepuluh penjuru arah, para deva, nāga, yaksa, gandharvā, asura, garuda, kinnara, mahoraga, śakra, brahma, dan lokapālā berdatangan, yang banyaknya sama seperti yang tidak terkatakan dari seratus ribu koti nayuta butiran debu dari sepuluh wilayah Buddha. Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta 'dewi surga (apsara)' yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun tingkat atas yang terbuat dari permata (ratnakūtāgāra).

Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun tingkat atas yang terbuat dari bunga (puspamayaihkūtāgāra).

Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun tingkat atas yang terbuat dari cendana uragasara (uragasāracandanamayaihkūtāgāra).

Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun tingkat atas yang terbuat dari mutiara (muktāmayaihkūtāgāra).

Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun tingkat atas yang terbuat dari Vajra (vajramayaihkūtāgāra).

Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun tingkat atas yang terbuat dari permata Mani yang bercahaya Vajra (vajraprabhāsamaniratnamayaihkūtāgāra).

Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun tingkat atas yang terbuat dari emas dari sungai Jambu (jāmbūnadasuvarnamayaihkūtāgāra).

Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun tingkat atas yang terbuat dari kumpulan permata Mani yang bersinar semua warna (sarvaprabhāsasamuccayamaniratnarājamayaihkūtāgāra).

Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun tingkat atas yang terbuat dari permata Mani Vasi Raja (vaśirājamaniratnamayaihkūtāgāra).

Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun tingkat atas yang terbuat dari permata pengabul keinginan (cintāmaniratnamayaihkūtāgāra).

Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun tingkat atas yang terbuat dari permata Mani chakrābhilagna [Kalung Mutiara Sakra Deva Indra] (chakrābhilagnamaniratnamayaihkūtāgāra).

Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun tingkat atas yang terbuat dari permata besar Mani yang bersinar tiada batas dari susunan permata murni dari dasar lautan (sāgarapratisthānaviśuddharatnavyūhasamantaraśmiprabhāmanimahāratnamayakūtāgāra).

Setelah tiba, mereka memuja sang Bhagavato di dalam cara yang tidak terbayangkan, yang tiada bandingan, dan yang tiada batas, mengatur diri di satu sisi, duduk di kursi yang terwujud dari sumpah mereka sendiri, setelah duduk, tinggal berdiam menatap sang Bhagavanta dengan tanpa berkedip.

Lagi, kemudian pada saat itu, trisāhasramahāsāhasra lokadhātu berubah menjadi emas jambunada. Itu dihiasi dengan berbagai jenis pohon dari permata Maha Mani (nānāmahāmaniratnavrksair), pohon dari bunga surga (divyaih puspavrksair), pohon dari kain yang halus (vastravrksair), dan pohon dari wewangian uragasāra dan cendana (uragasāracandanagandhavrksair). Itu ditutupi dengan hiasan jaring permata mani yang bercahaya bulan dan matahari yang mengkilap (alamkrtacandrasūryāvidyutpradīpamaniratnajālasamcchannam). Spanduk, bendera, dan payung terangkat tinggi (ucchritacchatradhvajapatākah). Seratus ribu koti nayuta yang tidak terhitung dari para āpsara dengan setengah tubuh mereka terlihat memadati semua pohon, yang diselimuti oleh rangkaian kalung permata Maha Mani.

Lagi, kemudian pada saat itu, syair gāthā ini terdengar dari tahta singa dari rahim bunga teratai yang terbuat dari permata Maha Mani (mahāmaniratnapadmagarbhāt simhāsanā):

"Datanglah duduk, Raja yang terbaik di antara laki-laki (āgaccha nisīda narendrarājā) !
Saya hadir karena kekuatan kebajikan (aham hi te punyabalena udgatah).
Dengan seluruh keinginan terkabul, Saya hari ini mendukung Anda (sampūrnnasamkalpa aham tvam adya sandhārayisye),
Sang Pemenang di antara yang berkaki dua (dvipadottamam jinam).

"Tubuh saya ini terbuat dari permata (mamātmabhāvo ratanāmayo hy ayam).
Di tengah pusat saya ada bentuk satu bunga teratai permata yang indah (ratnaikapadmam mama madhyasamsthitam manoramam);
Demi kepentingan Anda, Pemandu (tubhya krtena nāyakāh),
Tolong kabulkanlah keinginan saya hari ini, Pelindung (samkalpa pūrehi mamādya tāyinah)!

"Duduk di atas bunga teratai yang terbuat dari permata ini (nisadya ratnāmayi padmi asmin),
Akan memperindah seluruh dunia ini dan saya (śobhehi mām sarvvam imam ca lokam).
Ajarkanlah Dharma kepada jutaan makhluk hidup yang sangat banyak (deśehi dharmam bahuprānikotinām).
Dengan mendengar Dharma itu, memperoleh tahta singa seperti ini (yam śruta simhāsana īdrśam labhet)!

"Ribuan sinar muncul dari tubuh Anda (raśmī sahasrā tava gātrasambhavāh)
Menerangi sistem dunia yang sangat banyak (prabhāsayanto bahulokadhātum).
Inilah tanda pasti dari Yang Melahirkan Kegembiraan (prāmodyajātasya hi laksanam imam).
Naiklah dengan kemulian, Pemandu (samākramā mahya krtena nāyakāh)!

"Cepat, dudukanlah diri Anda, berikanlah kebaikan hati Anda (ksipram nisīdasva kurusvanugraham)!
Di masa lalu, saya menjadi tempat duduk untuk delapan puluh juta (pūrvvam mayā dhārita astakotiyo),
Di tempat ini, para Muni yang muncul dengan sendirinya (asmim pradeśe muninām svayambhūvām).
Bhagavan, pada hari ini, limpahkanlah kebaikan hati (bhagavān pīhādya karotv anugraham) !"

Kemudian sang Bhagavān bangun dari tempat duduk-Nya yang sebelumnya (utthāyā pūrvvakād āsanāt) disana, duduk di atas tahta singa dari rahim bunga teratai permata yang besar (mahāratnapadmagarbhe simhāsane), dengan kaki disilangkan (paryankambaddhī), mengamati seluruh perkumpulan para Bodhisattvā, memberikan tanda-tanda kepada seluruh para Bodhisattvā Mahāsattvā itu tentang akan adanya pengajaran Dharma yang paling unggul (sāmutkarsikāyāś ca dharmadeśanāyāh).

Lalu pada saat itu, seluruh perkumpulan para Bodhisattvā itu memiliki pemikiran ini, "Sekarang, sang Ma˝juśrīh Kumārabhūta harus bertanya kepada sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha tentang yang tidak dilahirkan dan yang tidak berhenti (anutpādānirodhan). Kami telah lama tidak mendengar Dharmaparyāya seperti itu."

Kemudian Ma˝juśrīh Kumārabhūta setelah memahami isyarat sang Bhagavato, dan juga setelah memeriksa pikiran dari para Bodhisattvā Mahāsattvā, bangkit dari tempat duduk (utthāyasana) dan mengatur jubah atasnya (uttarasangam krtva), lalu berlutut di depan sang Bhagavan dengan lutut kanannya ditempatkan di tengah bunga teratai (daksinam janumandalam padmamadhye pratisthapya). Dengan telapak tangan beranjali, Dia kemudian menyapa sang Bhagavato: "Yang tidak dilahirkan dan yang tidak berhenti, itu Bhagavan, telah dikatakan. Kepada siapakah, Bhagavan, julukan dari kualitas yang tidak dilahirkan dan yang tidak berhenti itu? (anutpādo'nirodha iti bhagavann ucyate | katamasyaitad bhagavan dharmasyādhivacanam | anutpādo nirodha iti)"

Kemudian Ma˝jusrī yang ingin menyatakan maksudnya kembali lagi menyapa dalam syair-gātha, dengan mengatakan (atha khalu ma˝jusrīh kumārabhūta etam evārtham bhūyasyāmātrayāpradarsayamān-as tasyām velāyām imā gāthā abhāsata) :

"Yang tidak dilahirkan dan yang tidak berhenti telah dikatakan oleh Anda, sang Pemandu. (anirodham anutpādam bravīsi tvam vināyaka)
Bagaimanakah,Yang Maha Bijaksana, menjelaskan ciri-cirinya? (tat kīdrśam mahāprāj˝a tasya niruktilaksanam)"

"Yang tidak dilahirkan dan yang tidak berhenti, mengapa disebut begitu? (anirodham anutpādam katham esa nigadyate)
Beritahukanlah Saya contoh dan juga alasannya, Maha Muni ! (drstāntair hetubhiś caiva kathayasva mahāmune)"

"Telah hadir sangat banyak para Bodhisattva yang menginginkan pengetahuan dan memuja Anda, Tuanku (samāgateme bahubodhisatvā j˝ānārthinah tvām ca vibho bhivanditum)
Yang telah diutus oleh banyak para Pemandu dunia. Tunjukkanlah Saddharma yang mulia, yang tertinggi ! (sampresitā lokavināyakebhih deśehi saddharmmam udāran uttamam)"

Setelah itu dikatakan, sang Bhagavān berkata kepada Ma˝juśrī Kumārabhūta demikian : "Sangat baik, sangat baik, Ma˝juśrī, tentu sangat baik bahwa Anda Ma˝juśrī berpikir untuk bertanya kepada sang Tathāgata tentang makna ini. Anda, Ma˝juśrī, melakukannnya demi keuntungan orang banyak, demi kebahagiaan orang banyak, untuk belas kasihan kepada dunia, untuk kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak - para dewa dan manusia, agar pada saat ini para Bodhisattvā Mahāsattvā yang di masa depan dan yang telah datang mencapai tingkat Buddha. Dengan tiada kegentaran, Ma˝juśrī, terapkanlah diri dalam mengerjakan yoga ini tanpa rasa takut, tanpa rintangan. Bergantung kepada pengetahuan juga, Ma˝juśrī, adalah keharusan. Saat sang Tathāgata mengumumkan tentang Yang Tidak Dilahirkan dan Yang Tidak Berhenti, hal itu Ma˝juśrī, adalah julukan sang Tathāgata. (sādhu sādhu manjuśrīh sādhu khalu punas tvam manjuśrī tathāgatam eta artham pariprastavyam manyase | bahujanahitāya ya tvam ma˝juśrīh pratipanno bahujanasukhāya lokānukampayai mahato janakāyasyārthāya hitāya sukhāya devānā˝ ca manusyānā˝ ca etarhi anāgatāgatānā˝ ca bodhisatvānām mahāsatvānām buddhabhūmiprāpanārtham | anutrāsas te manjuśrīr aśmi sthāne yogah karanīyo na bhayan na stambhitvam | j˝ānapratisaranena ca te manjuśrir bhavitavyam | tathāgatasya itam arthan nirddiśatah | anutpādo'nirodha iti ma˝juśrī tathāgatasya itad adhivacanam)"

"Sebagai contoh, Ma˝juśrī, bayangkanlah bumi yang besar (mahā-prthivī) ini terbuat dari permata Mahā Vaidūrya, sehingga melalui Mahā Prthivi yang terbuat dari Vaidūrya itu, orang bisa melihat pantulan dari tempat tinggal Surga Tiga puluh tiga (trayastrimśadbhavanam) serta Istana Kemenangan (vaijayanta) dari Sakra devānām indra. Dan bayangkanlah bahwa Sakra devānām indra bisa terlihat ada disana, sedang bermain dan menikmati diri sendiri dengan lima objek kenikmatan surga (divyaih pa˝cabhih kāmagunaih). Pada saat itu, para devā akan memanggil semua pria, wanita, anak laki-laki, dan anak perempuan di jambūdvīpa : 'Datanglah oh, laki-laki dan perempuan ! Lihatlah Sakra devānām indra yang sedang bermain, menikmati, dan menghibur diri sendiri dengan lima objek kenikmatan surga di dalam Vaijayanta. Datanglah oh, laki-laki dan perempuan ! Berikanlah persembahan dan buatlah kebajikan. Terimalah disiplin śīla dan laksanakanlah. Maka anda juga akan bisa bermain, menikmati, dan menghibur diri sendiri di dalam Vaijayanta. Anda akan menjadi sama seperti Śakra dan memiliki kekayaan seperti ini. Sakra devānām indra memiliki kenikmatan surga, dan anda juga akan.'"

"Lalu, Ma˝juśrī, semua pria, wanita, anak laki-laki, dan anak perempuan itu yang melihat tempat tinggal Surga Tiga puluh tiga serta Vaijayanta dari Sakra devānām indra yang tercermin oleh Mahā Prthivi yang terbuat dari Vaidūrya, akan ber-anjali menghadap pantulan itu, menaburkan bunga-bunga dan mempersembahkan wewangian pada itu dengan berkata : 'Semoga kami juga akan memperoleh bentuk rupa yang sama seperti Sakra devānām indra; Semoga kami bermain, menikmati, dan menghibur diri di dalam Vaijayanta yang sama seperti dari Sakra devānām indra.'"

"Namun, para makhluk itu tidak akan mengerti bahwa ini hanyalah pantulan dari Mahā Prthivi yang terbuat dari Vaidūrya, pantulan yang terjadi karena kemurnian penuh dari Vaidūrya itu, dimana tempat tinggal Surga Tiga puluh tiga, bersama dengan Sakra devānām indra, dan Vaijayanta-nya, bisa terlihat. Berharap untuk tingkat Sakra (śakratvam), mereka memberikan persembahan dan membuat kebajikan, menerima disiplin śīla dan melaksanakannya. Mereka kemudian akan membaktikan akar-akar kebajikan (kuśalamūlāni) untuk menuju kelahiran di dalam pantulan dari tempat tinggal Surga Tiga puluh tiga itu."


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Sat Dec 24, 2016 4:32 pm, total 15 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 454
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Ārya Sarva Buddha Visayā Avatāra J˝ānā Lokā Lamkāra Nāma Mahāyāna Ratna Kuta Sūttram

Post by skipper on Sat Dec 24, 2016 4:33 pm

Selamat melakukan Bodhi Puja 2016.

Tolong jangan mereply di topic Sutra ini, masih dalam proses posting hingga selesai.

Namo Stu Buddhaya

skipper

Jumlah posting : 454
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik