Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta Nama Mahayana Sutra

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta Nama Mahayana Sutra

Post by skipper on Mon Feb 29, 2016 10:21 pm

MAHAYANA TRIPITAKA SUTTRAM



Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta Nama Mahayana Sutra
BAB 1
Pertanyaan

Demikianlah telah kudengar, pada suatu waktu (evam maya srutam ekasmin samaye) : sang Bhagavān Buddha sedang berada di Rajagrha, di taman tupai Kalandaka, di hutan bambu veluvana dengan perkumpulan majelis besar yang berjumlah lima ratus Maha Sravaka Bhiksu Samgha, yang semuanya telah mencapai Arhan, yang arus keluarnya telah dihabiskan (ksinasrava), yang terbebas dari kekotoran batin (nihklesa), yang telah mencapai penguasaan (vasibhuta), yang telah melaksanakan kewajiban (krta-krtya), yang telah melaksanakan tugas (krta-karaniya), yang telah meletakkan beban (apahrta-bhara), yang telah 'memperoleh tujuan mereka sendiri (anuprapta-svakartha)', yang telah menghancurkan belenggu dari keberadaan (pariksina-bhavasamyojana), yang pikirannya sepenuhnya terbebaskan oleh pengetahuan yang sempurna (samyagajna-suvimukta-citta), yang telah mencapai keunggulan dari penguasaan keseluruhan atas pikiran (sarva-cetovasi-parama-parami-prapta), dan memperoleh delapan pembebasan (astavimoksa), dengan pengecualian tunggal sang Ayusma Ananda. Pada saat itu, sang Bodhisattva Mahasattva yang bernama Bhadrapala, telah meninggalkan kota Rajagrha, dan dalam rangka untuk mendengar Dharma, telah menjadi pengikut sang Bhagavān, bersama-sama dengan lima ratus Bodhisattva Mahasattva, yang semuanya adalah penghuni rumah (grhastha) dan menjaga latihan lima sila (panca-siksapada). Kemudian, Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva setelah keluar di sore hari dari meditasi teratur (sayahna-kala-samaye pratisamlayanad vyutthaya), pergi ke tempat di mana sang Bhagavān sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan (upasamkramya) dan memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang Bhagavāta (bhagavatah padau sirasa vanditva), dan berputar mengelilingi-Nya tujuh kali (saptakrtvah pradaksinikrtya), Mereka kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang Bhagavān.

Dengannya ada juga lima ratus Bhikshu, setelah keluar di sore hari dari meditasi teratur, pergi ke tempat di mana sang Bhagavān sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang Bhagavāta, dan berputar mengelilingi-Nya tujuh kali, Mereka kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang Bhagavān.

Pada waktu itu, Ayusma Sariputra dan Ayusma Mahamaudgalyayana, setelah melewatkan musim hujan (varsa) di kota besar Sravasti, mengadakan perjalanan pada waktunya melalui negeri itu dengan lima ratus Bhiksu, dan datang ke kota besar Rajagrha, ke taman tupai Kalandaka di hutan bambu veluvana, pergi ke tempat di mana sang Bhagavān sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang Bhagavāta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang Bhagavān.

Kemudian sang Bhagavān menampilkan kekuatan ajaib-Nya (rddhy-abhisamskaram abhisamskr), sehingga semua Bhiksu yang sedang tinggal dan hidup di wilayah berbeda datang ke kota besar Rajagrha, ke taman tupai Kalandaka di hutan bambu veluvana, ke tempat di mana sang Bhagavān sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang Bhagavāta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang Bhagavān, yang demikian itu adalah kekuatan ajaib yang Dia lakukan. Dan pada waktu itu, seratus ribu Bhiksu telah berkumpul bersama-sama dan duduk di taman tupai Kalandaka di hutan bambu veluvana.

Kembali lagi sang Bhagavān menampilkan kekuatan ajaib-Nya, sehingga sang Bhiksuni Mahāprajāpatī Gautamī, bersama-sama dengan tiga puluh ribu Bhiksuni, datang ke kota besar Rajagrha, ke taman tupai Kalandaka di hutan bambu veluvana, ke tempat di mana sang Bhagavān sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang Bhagavāta, dan berputar mengelilingi-Nya tujuh kali, Mereka kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang Bhagavān, yang demikian itu adalah kekuatan ajaib yang Dia lakukan.

Kembali lagi sang Bhagavān menampilkan kekuatan ajaib-Nya, sehingga Ratnakara Bodhisattva Mahasattva meninggalkan kota besar Vaisali, di dampingi (parivrta) dan diikuti (puraskrta) oleh dua puluh delapan ribu pemuda licchavi (licchavi-kumara astavimsatisahasra), dan datang ke kota besar Rajagrha, ke taman tupai Kalandaka di hutan bambu veluvana, ke tempat di mana sang Bhagavān sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang Bhagavāta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang Bhagavān.

Guhagupta Bodhisattva Mahasattva, juga meninggalkan kota besar Campa, di dampingi dan diikuti oleh dua puluh delapan ribu Makhluk (pranin), dan datang ke kota besar Rajagrha, ke taman tupai Kalandaka di hutan bambu veluvana, ke tempat di mana sang Bhagavān sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang Bhagavāta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang Bhagavān.

Naradatta Bodhisattva Mahasattva, juga meninggalkan kota besar Varanasi, di dampingi dan diikuti oleh dua puluh delapan ribu Makhluk, dan datang ke kota besar Rajagrha, ke taman tupai Kalandaka di hutan bambu veluvana, ke tempat di mana sang Bhagavān sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang Bhagavāta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang Bhagavān.

Susima Bodhisattva Mahasattva, juga meninggalkan kota besar Kapilavastu, di dampingi dan diikuti oleh dua puluh delapan ribu Makhluk, dan datang ke kota besar Rajagrha, ke taman tupai Kalandaka di hutan bambu veluvana, ke tempat di mana sang Bhagavān sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang Bhagavāta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang Bhagavān.

Mahasusarthavaha Bodhisattva Mahasattva bersama-sama dengan sang grhapati Anathapindika, juga meninggalkan kota besar Sravasti, di dampingi dan diikuti oleh dua puluh delapan ribu Makhluk, dan datang ke kota besar Rajagrha, ke taman tupai Kalandaka di hutan bambu veluvana, ke tempat di mana sang Bhagavān sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang Bhagavāta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang Bhagavān.

Indradatta Bodhisattva Mahasattva, juga meninggalkan kota besar Kausambi, di dampingi dan diikuti oleh dua puluh delapan ribu Makhluk, dan datang ke kota besar Rajagrha, ke taman tupai Kalandaka di hutan bambu veluvana, ke tempat di mana sang Bhagavān sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang Bhagavāta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang Bhagavān.

Varunadeva Bodhisattva Mahasattva, juga meninggalkan kota besar Saketa, di dampingi dan diikuti oleh dua puluh delapan ribu Makhluk, dan datang ke kota besar Rajagrha, ke taman tupai Kalandaka di hutan bambu veluvana, ke tempat di mana sang Bhagavān sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang Bhagavāta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang Bhagavān.

Raja Ajatasatru dari Rajagrha mahanagari, di dampingi dan diikuti oleh tiga puluh ribu orang, datang ke tempat dimana sang Bhagavān sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang Bhagavāta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang Bhagavān.

Dewa Cāturmahārājikā, Sakra devanamindra, Brahmā Sahāmpati, dan devaputra Sribhadra juga, di dampingi dan diikuti oleh banyak ratusan ribu koti nayuta dari para Dewa, datang ke tempat dimana sang Bhagavān sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang Bhagavāta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang Bhagavān.

Devaputra Mahesvara juga, di dampingi dan diikuti oleh banyak ribuan Dewaputra dari alam Suddhavasa, surga Akanistha, datang ke tempat dimana sang Bhagavān sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang Bhagavāta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang Bhagavān.

Para Raja Asura dari empat penjuru arah juga, dengan banyak ratusan ribu koti nayuta dari para Asura; Raja Naga Nanda dan Upananda juga, dengan banyak ratusan ribu koti nayuta dari para Naga; Raja Naga Anavatapta juga, dengan banyak ratusan ribu koti nayuta dari para Naga; Raja Naga Manasvin juga, dengan banyak ratusan ribu koti nayuta dari para Naga; Raja Naga Elapatra juga, dengan banyak ratusan ribu koti nayuta dari para Naga datang ke tempat dimana sang Bhagavān sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang Bhagavāta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang Bhagavān. Yang demikian itu adalah kekuatan ajaib yang Dia lakukan.

Pada waktu itu, di trisahasra-maha-sahasra-lokadhatu ini, dari sini ke atas hingga sejauh Brahmaloka, tidak ada ruang yang tidak terisi dengan yang sangat agung (mahesakhyamahesakhya) para Dewa, Naga, Yaksa, Gandharva, Asura, Garuda, Kinnara, dan Mahoraga, yang bahkan ujung tongkat tidak bisa dimasukkan kedalamnya.

Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubah bagian atasnya di satu bahu, menempatkan lutut kanannya ke tanah, menggabungkan tangan-Nya bersama-sama beranjali kearah sang Bhagavān, dan berkata kepada sang Bhagavāta (atha khalu bhadrapalo bodhisattvo mahasattva utthayasanad ekamsam uttarasangam krtva daksinam janumandalam prthivyam pratisthapya yena bhagavams tenanjalim pranamya bhagavantam idam avocat) : "Saya ingin mengajukan pertanyaan, kepada sang Bhagavata Tathagata Arhanta Samyaksambuddha tentang hal tertentu, jika kepada saya, sang Bhagavan mau memberi kesempatan untuk menjelaskan pertanyaan yang akan diajukan itu. (prccheyam aham bhagavantam tathagatam arhantam samyaksambuddham kamcid eva pradesam sacen me bhagavan avakasam kuryat prstaprasnavyakaranaya)."

Ketika itu dikatakan (evam ukte), sang Bhagavān berkata kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva : "Bertanyalah anda pada sang Tathagata Arhanta Samyaksambuddha, apapun yang dinginkan. Saya, dengan menjelaskan permintaan-permintaan itu, akan menyenangkan pikiran anda (prccha tvam tathagatam arhantam samyaksambuddham yad yad evakanksasi. aham te tasya tasya prasnasya vyakaranena cittam aradhayisye)."

Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada sang Bhagavān : "Bhagavān, apa jenis dari Samadhi yang harus para Bodhisattva praktekkan sehingga : kebijaksanaan yang Mereka capai dari pembelajaran (sruti) sama seperti lautan, atau sama seperti gunung Sumeru; Mereka memiliki himpunan pembelajaran (sruta-samnicaya); Mereka terbebas dari keraguan (kanksa) dari apa yang mereka dengar; Mereka terbebas dari ketidakpastian (samsaya); Mereka terbebas dari kebingungan (vimati); Mereka tidak kekurangan (ahina) dan tidak cacat (aparihina) untuk mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi, tanpa pernah mundur; Mereka tidak pernah dilahirkan di antara yang bodoh atau yang tidak menguntungkan (aksana); Mereka mengingat kelahiran (jati-smara) dan mengantisipasi apa yang akan datang; Mereka menjadi yang bahkan di dalam mimpi tidak pernah kehilangan penglihatan terhadap para Tathagata; Mereka memiliki bentuk yang bagus (abhirupa), indah (prasadika), tampan (darsaniya) dan di berkahi dengan keunggulan tertinggi dari kemegahan dan keindahan (paramaya subha-varna-puskarataya samanvagata); Saat anak-anak, Mereka selalu lahir dalam keluarga yang mulia (ucca-kula) dan keluarga yang besar (maha-kula); Mereka dihormati dan dicintai oleh semua orang tua, saudara, kerabat dan teman-teman; Mereka memiliki pengikut (parivara) yang sangat banyak, dan yang pengikutnya tidak dapat di pisah (abhedya-parivara); Mereka memiliki pemahaman (gati); Mereka memiliki kesadaran penuh (smrti); Mereka memiliki kecerdasan (mati); Mereka termasyhur (sri); Mereka memiliki keteguhan (dhrti); Mereka memiliki kekuatan ajaib (rddhi); Mereka memiliki kebijaksanaan (prajna); Mereka memiliki kebajikan (punya); Mereka memiliki kesopanan (hri); Mereka sangat berbakat dan memiliki pembelajaran yang luas; Mereka membebaskan diri sendiri dalam perdebatan sungguh berbeda dari orang banyak; Mereka menjaga diri sendiri terkendali; Mereka selalu merasakan rasa malu; Mereka tidak pernah sombong; Mereka selalu cinta kasih dan berbelas kasihan; Pengetahuan Mereka menembus; Mereka telah menghancurkan kebanggaan (mana); Mereka senang di dalam cinta kasih (maitriviharin); Mereka memiliki pengetahuan (jnana); Mereka memiliki bakat (buddhi); Diantara yang bijaksana tidak ada seorangpun yang menyamai Mereka dalam pemahaman; Mereka memiliki tampilan suci yang tiada bandingan; Semangat ketekunan (virya) Mereka sulit untuk ditandingi; Mereka membenamkan diri di dalam Dharma; Mereka terus-menerus membenamkan diri di dalam Dharma; Mereka memahami semua yang di dalam Dharma; Mereka mengambil kesenangan dalam membenamkan diri di dalam keadaan penuh sadar dan konsentrasi; Mereka membenamkan diri dalam kekosongan, yang tiada bentuk, dan tanpa kemelekatan, dan tidak takut dengan tiga hal ini; Mereka mengejar arti (artha); Mereka mengejar Dharma; Mereka mengejar ketenangan yang sunyi (samatha); Mereka mengejar wawasan kedalam sifat alami dari kenyataan (vipasyana); Mereka mengejar meditasi (dhyana); Mereka mengejar pemusatan konsentrasi (samadhi); Mereka mengejar kebijaksanaan (prajna); Mereka menjadi penjaga Dharma (dharma-dhara) dan pengajar Dharma (dharma-bhanaka); Mereka tidak jatuh kedalam lubang besar (mahaprapata); Mereka sering memberitakan Dharma kepada orang lain, dan Mereka menjaganya tetap aman sebagaimana yang dianggap cocok; Di Buddhaksetra mana pun Mereka ingin dilahirkan, selalu mendapatkan apa yang Mereka inginkan dan tidak ada yang lain; Mereka tidak terperangkap (parigrhita) oleh semua tempat tinggal orang sesat (tirthikavasatha); Kekuatan pahala kebajikan dan kekuatan keyakinan Mereka sungguh besar; Dimana pun Mereka pergi, kekuatan tubuh Mereka kuat; Mereka semua memiliki kekuatan cinta kasih; Mereka memiliki kekuatan penyebab (hetu-bala); Mereka memiliki kekuatan tekad (asaya-bala); Mereka memiliki kekuatan penerapan (prayoga-bala); Mereka semua memiliki kekuatan indera (indriya-bala); Mereka cerdas di dalam [pemahaman dan penggunaan] kekuatan obyek indera (arambana-bala); Mereka cerdas di dalam kekuatan perenungan pikiran (nidhyapti-bala); Mereka cerdas di dalam kekuatan ketenangan (samatha-bala); Mereka cerdas di dalam kekuatan wawasan kedalam sifat alami kenyataan (vipasyana-bala); Mereka cerdas di dalam kekuatan keyakinan (adhimukti-bala); Mereka cerdas di dalam kekuatan sumpah (pranidhana-bala); Mereka sama seperti lautan di dalam pembelajaran karena selamanya tidak habis-habisnya; Mereka sama seperti bulan purnama dari dharma yang murni (sukla-dharma) karena bersinar di mana-mana; Karena tidak ada yang tidak tersentuh oleh cahaya Mereka dan menghalau kegelapan dari ketidaktahuan, Mereka sama seperti matahari ketika terbit; Mereka sama seperti obor, karena ketika bersinar tiada halangan; Mereka tidak melekat, pikiran Mereka menjadi sama seperti ruang angkasa karena tidak menetap di manapun; Mereka sama seperti Vajra, karena bisa menembus apapun; Mereka stabil seperti gunung Meru, karena tidak dapat dipindahkan; Mereka sama seperti ambang gerbang karena tetap teguh dan benar; Pikiran Mereka adalah lembut sama seperti bulu angsa, karena tidak ada kekasaran di dalamnya; Mereka meninggalkan kepentingan pribadi, dan terbebas dari kerinduan; Mereka mengambil kesenangan di dalam pegunungan dan di sungai (aranya), sama seperti binatang buas, tidak mengambil kesenangan di desa (grama), kota (nagara), pasar kota (nigama), kota kerajaan (rastra) dan pusat kerajaan (rajadhani); Mereka selalu menjaga diri sendiri, dan tidak memiliki hubungan dengan orang lain; Mengenai para Pertapa dan para Orang yang dari sang Jalan, Mereka sering memberikan petunjuk dan menjaga mereka semua; Jika orang memperlakukan Mereka dengan penghinaan atau menganiaya, Mereka tidak pernah menghasilkan pikiran murka; Mereka adalah yang tidak bisa diguncang (aksobhya) oleh semua makhluk; Semua Mara tidak bisa memindahkan Mereka; Mereka memahami Dharma dan membenamkan diri di dalam berbagai macam kebijaksanaan; Mereka mempelajari semua Buddha-dharma, dan tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkan Mereka; Mereka tidak bisa dikuasai (durabhibhava) dan memiliki tekad yang teguh (drdhasaya) melalui cinta kasih yang besar (mahamaitri) yang tidak dapat diganggu; Kekuasaan dan kebijaksanaan Mereka tidak tergoyahkan; Mereka memiliki tekad yang mendalam (gambhiradhyasaya) karena mengembara di dalam yang tiidak dapat dipahami (anupalambha-carin) dan dalam wilayah yang tidak terungkapkan (anabhilapya-gocara); Mereka sangat teliti berhati-hati (apramada); Mereka memiliki tekad yang menyenangkan (madhurasaya) melalui bersukacita dikarenakan oleh pengaruh (vega) dari Dharma; Mereka memiliki tekad yang sangat luas (vipuladhyasaya) melalui melaksanakan pemujaan dan persembahan kepada semua Buddha; Mereka memiliki tekad yang bermacam-macam (vicitradhyasaya) melalui memenuhi akar-akar kebajikan yang bermacam-macam (vicitrakusalamula); Mereka memiliki tekad yang sangat baik (kalyanadhyasaya) melalui memurnikan penghiasan dengan penghiasan (alamkaralamkrta); Mereka memiliki tekad yang menguntungkan (bhadrasaya) melalui penolakan kebohongan dan kemarahan; Mereka memiliki tekad yang murni (parisuddhadhyasaya) melalui memperoleh sinar dari pengetahuan yang mengetahui semua (sarvajna-jnana); Mereka memiliki tekad yang riang-gembira (saumanasyadhyasaya) melalui menganut kebijaksanaan yang sangat luas dan memiliki pikiran yang murni (prasanna) dan tanpa kekasaran (khila); Mereka memiliki tekad untuk ikut serta dalam pertunjukkan besar (mahavyuha) melalui kemurnian penghiasan dengan perhiasan semua sistem dunia (lokadhatu); Perilaku Mereka, yang sangat terserap mendalam, selalu sesuai dengan ketidakberadaan; Perilaku Mereka selalu lembut dan Mereka selalu tergerak untuk berbelas kasihan melalui Dharma; Mereka melayani para Buddha tanpa mengenal lelah; Perilaku Mereka beranekaragam, dan mencapai semua jasa kebajikan; Perilaku Mereka selalu benar sempurna; Keyakinan Mereka selalu benar, dan tidak dapat diganggu; Perilaku Mereka selalu murni, dan dalam masa krisis Mereka dapat bertindak tegas tanpa kesulitan; Mereka murni dalam kebijaksanaan, yang mengerti semua; Mereka mencapai perilaku yang menyenangkan; Mereka melenyapkan lima halangan; Dalam pengetahuan dan perilaku, Mereka secara bertahap bekerja dengan cara Mereka menuju alam Buddha, menghiasi semua ksetra; Dalam disiplin sila, Mereka murni dari pikiran (manasikara) dari Arhat dan Pratyekabuddha; Mereka memiliki ketetapan hati yang kukuh (drdha-samadana) melalui kegigihan memikul sampai selesai (asthiti-kriya) semua yang dikerjakan (arambha); Dalam melakukan kebajikan (kusala-dharma), Mereka selalu memimpin dan mengajarkan orang untuk melakukan hal yang sama; Mereka tidak bosan dari apa yang diajarkan di antara para Bodhisattva, dan dalam perilaku, kelebihan Mereka adalah yang tidak terbatas di antara semua yang lain; Mereka tanpa takut di dalam aturan dari latihan (siksa) dan kesempurnaan (paramita) dari semua Bodhisattva; Mereka menjadi yang tidak bisa dimundurkan (avaivartika) dalam hubungan dengan semua Buddha-dharma; Mereka tidak bisa di kalahkan (anabhibhuta) oleh semua Mara, orang sesat (paratirthika) dan guru penentang (parapravadin); Mereka menerapkan diri pada semua Dharma (sarva-dharmadhimukta) melalui mengarahkan maksud pikiran (manasikara) pada Buddha-dharma; Tidak ada yang bisa menyentuh Mereka; Mereka tidak pernah terpisah dari Buddha, atau gagal melihat Buddha; Mereka selalu berpikir tentang para Buddha sebagai yang tidak berbeda dari orang tua Mereka; Secara bertahap Mereka mencapai kekuatan ajaib dari para Buddha dan memperoleh cahaya terang dari semua Dharma;
Penglihatan kesadaran Mereka tidak terhalang (anavarana-jnana), dan semua Buddha berdiri di depan Mereka; Mereka sama seperti ahli magis (maya-purusa), penguasa atas dharma yang Mereka timbulkan - tanpa berpikir tentang hal itu sebelumnya, Mereka menghasilkan dharma secara langsung; Dan ini tidak datang dari mana pun, dan tidak pergi ke mana pun, sama seperti ciptaan magis; Mereka berpikir tentang masa lampau, masa depan, dan masa sekarang sebagai yang sama seperti hal yang ada di dalam mimpi; Dengan membagi tubuh, Mereka pergi ke Buddhaksetra di mana-mana, sama seperti pantulan matahari yang bersinar dalam air dapat terlihat di mana-mana; Semua pikiran Mereka berhasil menjadi sama seperti gema (pratisrutka), yang tidak pergi (asamkranti) maupun tidak tinggal berdiam, namun tidak bertempat tinggal (aniketa); Bagi Mereka lahir dan mati sama seperti bagian dari bayangan (chaya); Mereka menyadari bahwa apa yang Mereka pikirkan adalah kosong; Mereka menjadi yang tinggal di dalam pengetahuan kesadaran dari yang tanpa keberadaan (abhava-jnana) melalui melenyapkan tanggapan penglihatan dari keberadaan (bhava-samjna); Mereka menjadi yang menggunakan 'gejala-kejadian (dharma)' yang tanpa tanda (alaksana-dharma-parayana) melalui ketiadaan dari yang mendua (dvayasamudacarata); Sehubungan dengan 'gejala kejadian (dharma)', Mereka terbebas dari pemikiran [yang membeda-bedakan]; Semua orang memandang Mereka; [Mereka menganggap] Semua adalah sama dan tidak berbeda; Mereka mengetahui semua Dharma, dan pikiran Mereka tidak dapat diukur; Mereka memiliki Bodhicitta yang tidak terukur bahwa dharmadhatu adalah ujung terakhirnya (paryanta-nistha); Mereka menjadi yang tidak bisa diguncang dalam semua sistem dunia melalui kelangsungan pikiran (citta-samtati) yang tidak bisa diguncang; Di dalam semua ksetra, pikiran Mereka terbebas dari kemelekatan dan Mereka tidak memiliki kegemaran; Mereka muncul di semua Buddhaksetra tanpa hambatan; Mereka memasuki pintu-pintu dari Dharani (dharani-mukha) melalui keahlian dalam menganalisa semua kata-kata Dharma (sarva-dharma-pada-prabheda); Tentang Dharma, Mereka hanya perlu mendengar satu untuk mengetahui sepuluh ribu; Mereka menjadi wadah Dharma (dharma-bhajana) melalui menjadi wadah dari semua Buddha-dharma; Mereka mampu menerima dan menyimpan semua Dharma yang diajarkan oleh para Buddha; Mereka menantikan para Buddha, mendapatkan semua kekuatan dari para Buddha, dan mendapatkan semua kekuatan ajaib dari para Buddha; Mereja menjadi ynag dipimpin oleh semua Tathagata (sarva-tathagata-adhisthita) melalui menjadi kukuh dengan kemuliaan (teja) dari semua Buddha; Mereka berani dan tidak takut apa pun; Gaya berjalan Mereka adalah sama seperti yang dari Singa yang ganas; Mereka tidak takut berbicara di semua negeri; Mereka tidak pernah melupakan apapun yang Mereka dengar; Dalam perdebatan Mereka adalah yang sama seperti semua Buddha, tidak berbeda, tidak terbingungkan (amoha); Mereka memahami kebenaran apa adanya (tathata) melalui terbebas dari keraguan dan tidak bisa dibuat menyimpang oleh orang lain (aparapraneya) sejauh semua dharma dihubungkan; Mereka memahami semua Dharma dari asal mula ketidakberadaan, dan tidak takut; Jika Mereka ingin mendapatkan Dharma maka Mereka segera mengetahuinya dengan sendirinya, dan mengajarkannya tanpa kenal lelah seperti para Buddha; Mereka adalah Guru dunia; Mereka mampu menjelaskan semua pertanyaan dan yang mampu mengajar tiga masa waktu (tryadhva); Mereka menjadi yang mengharapkan kesejahteraan kepada orang lain (hitaisin) melalui memperoleh belas kasih yang besar (maha-karuna);
Mereka tidak mengabaikan (aparityaga) semua makhluk; Mereka diandalkan oleh semua; Perilaku Mereka adalah tulus, terbebas dari kecurangan dan kepalsuan (amaya); Mereka bersinar terang di semua ksetra; Mereka tidak melekat pada 'tiga alam (traidhātuka)'; Mereka tinggal dalam kedamaian (arana-viharin) melalui pemeriksaan (vicara) dari ungkapan umum belaka (vyavahara-matra); Mereka tinggal dalam keadan yang tanpa cacat melalui kegembiraan dalam ketiadaan dari kemelekatan (analaya); Mereka tinggal pada batas kenyatan (bhuta-koti) dengan memiliki ciri dari yang tidak membeda-bedakan (avikalpa-dharmin); Tujuan Mereka tanpa rintangan, di antara orang banyak, Mereka tidak memiliki kegemaran; Mereka tidak memiliki kerinduan untuk dharma dari batas yang mendasar; Dengan cara dari 'mengetahui semua (sarvajńa)', Mereka mengajar orang lain bagaimana cara untuk memasuki Mahayana; Mereka telah mencapai keberanian melalui terbebas dari semua ketakutan dan kegentaran (roma-harsa); Mereka akrab dengan ucapan penyatuan (samdha-bhasita) dari para Tathagata dalam semua Sutra Pintu Gerbang Dharma (sarva-sutra-dharma-paryaya); Mereka mengetahui semua isi dari Dharma Buddha; Semua orang diberkati di dalam perkumpulan majelis yang ada Mereka didalamnya; Ketika Mereka melihat cinta kasih yang sangat besar dari para Buddha, Mereka bersukacita; Mereka cermat dalam memahami Dharma Buddha yang Mereka pelajari; Mereka memperlihatkan wajah (mukha-darsana) dimana-mana dengan masuk kedalam semua perkumpulan; Mereka tanpa takut di dalam perkumpulan majelis yang besar; Di dalam perkumpulan majelis yang besar, Mereka tidak dapat dilampaui; Mereka terkenal jauh dan luas; Mereka menjadi yang berada di dalam Mahayana, dipuja oleh semua dunia, dan adalah sang Penguasa Kebajikan sama seperti sang Sarvajna; Mereka menjadi yang layak diberikan persembahan (daksiniya) dari semua dunia, yang memiliki kualitas yang tidak habis-habisnya; Mereka menjadi yang mengalami kegembiraan besar dan keyakinan di kaki sang Tathagata; Mereka menjadi yang mampu fasih dengan baik (kusala-pratibhana) dalam menanyakan pertanyaan yang berhubungan dengan semua Buddha-dharma; Mereka melenyapkan semua ketakutan dan ancaman di dalam perkumpulan majelis, sehingga tidak patah semangat (anavasada); Mereka melenyapkan semua keraguan dan kesulitan sehingga semua orang mengerti; Mereka menghormati Dharma sungguh-sungguh; Mereka sama seperti singa yang mengaum mengalahkan semua guru penentang (parapravadin); Mereka mengalahkan semua sekte penentang (parapaksa), dengan tidak melanggar janji (anupahata-pratijna); Mereka mengeluarkan auman singa (simhanada), menempati tahta singa (simhasana) dengan mantap dan mengajarkan Dharma sama seperti para Buddha; Mereka memahami semua berbagai jenis pidato yang sangat banyak dari Buddha; Mereka membenamkan diri di dalam semua jutaan suara yang sangat banyak itu; Mereka penuh kesadaran dalam berbicara, tidak mengajarkan semua kebendaan duniawi (lokayatika); Mereka menjadi pengajar Dharma sejati (saddharma-bhanaka) dengan terdirikan di dalam penyebab KeBuddhaan (Buddha-hetu); Mereka mencintai dan menghormati Dharma dari para Buddha;
Mereka selalu berpikir sedang berada di dekat-Nya, dan tidak pernah terpisah dari cinta kasih dari Buddha; Mereka mengambil kesenangan di dalam menempatkan mempraktekkan Dharma Buddha; Dalam datang dan pergi, Mereka selalu mengikuti sang Buddha; Mereka selalu tinggal di sisi teman yang baik (kalyana-mitra), tanpa pernah melelahkan mereka; Di Buddhaksetra di sepuluh penjuru arah, tidak ada tempat yang Mereka ingin menetap; Mereka semua melakukan sumpah (pranidhana) dan tindakan untuk membebaskan orang-orang yang sangat banyak di sepuluh penjuru arah; Kebijaksanaan Mereka adalah hal yang berharga;
Mereka ahli dalam memberikan ketenangan dalam permata yang plaing unggul, telah terjun kedalam lautan dari Dharma; Mereka menghiasi semua sistem dunia dalam berbagai macam cara, tidak dapat diguncang di semua sistem dunia; Mereka menjadi yang mengalami keajaiban yang  besar (mahapratiharya) oleh perbuatan Buddha dari penguasaan yang mudah (vikridita) dari kekuatan ajaib (pratiharya); Mereka hanya perlu satu pikiran sekejap (eka-citta-ksana) untuk melihat para Buddha; Mereka menjadi yang setelah menghormati (gaurava) Dharma, terisi dengan pengetahuan (jnana-parivrta); Mereka semua memperoleh tubuh Dharma (Dharmakaya), yang tanpa bentuk sama seperti ruang angkasa (akasa); Mereka mengajar orang lain untuk bercita-cita mencari jalan bodhisattva, dan memastikan bahwa garis keturunan Buddha (Buddha-vamsa) tidak terputus; Mereka mengejar Jalan bodhisattva tanpa pernah meninggalkan Mahayana; Mereka mencapai persenjataan dengan perisai besar (mahasamnaha-samnaddha), dan Mahayana yang sangat luas; Mereka menjadi yang tidak pernah berhenti dari semua praktek Bodhisattva (sarva-bodhisattva-carya); Mereka dengan cepat mencapai kemahatahuan (sarvajnata), yang dipuji oleh para Buddha; Mereka mendekati tingkat (bhumi) dari sepuluh kekuatan (dasabala) dari Buddha; Mereka menembus semua pikiran; Mereka memahami semua 'perhitungan (ganana)', mengetahui segala sesuatu yang bergantung pada tanggapan penglihatan (sarva-samjna-gata); Mereka melalui pemeriksaan (upapariksana) dari segala sesuatu yang bergantung pada perhitungan (sarva-samkhya-gata), terampil dalam semua pembubaran dan pembentukan; Mereka memahami semua perubahan wujud dari dunia; Mereka memahami semua keberhasilan dan kegagalan, kelahiran dan kehancuran; Mereka melalui praktek (pratipatti) dari kedermawanan yang seluruhnya (sarva-tyaga), adalah tidak melekat ataupun tidak menggenggam; Mereka menjadi Tuan penyumbang (Danapati) yang tanpa penyesalan (avipratrisarin), terampil dalam kedermawanan (tyaga); Mereka terjun kedalam lautan dari Dharma dengan permatanya dan, membuka gudang harta terutama, Mereka menyebarkannya semua; Di semua ksetra, Mereka melaksanakan sumpah Mereka tetapi tidak menetap di dalamnya; Mereka memiliki kekuatan yang sangat besar dari perubahan wujud ajaib sama seperti yang para Buddha dengan senang menggunakan; Dalam sekejap pikiran Mereka memanggil ke pikiran, para Buddha semuanya berdiri di depan Mereka; Dalam semua kepergian [untuk kelahiran kembali], Mereka tidak lagi bercita-cita untuk pergi, dan tidak ada tempat kelahiran [yang khusus Mereka cita-citakan]; Mereka melihat semua Buddhaksetra yang tidak terhitung di sepuluh penjuru arah; Mereka mendengar Dharma yang dikhotbahkan oleh para Buddha, menyimpannya, tidak melupakannya; Mereka melihat masing-masing dan setiap Buddha dengan perkumpulan majelis para Bhiksu-Nya; Namun pada saat ini, itu bukanlah dengan cara penglihatan dari para Arhan atau para Pratyekabuddha dari Jalan keabadian bahwa Mereka melihat, juga bukanlah bahwa Mereka meninggal dunia di sini dan terlahir di dalam Buddhaksetra itu dan lalu baru melihat, tetapi langsung sambil duduk di sini, Mereka melihat semua Buddha dan mendengar semua Dharma yang dikhotbahkan oleh para Buddha dan menerimanya semua, sama seperti Saya sekarang, di hadapan sang Bhagavān, melihat wajah sang Bhagavān, demikian juga para Bodhisattva tidak pernah terpisah dari para Buddha dan tidak pernah gagal untuk mendengar Dharma, bahkan didalam mimpi? "

Sang Bhagavān berkata kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva : "Sangat baik ! Sangat baik ! Anda, Bhadrapala, telah mengemukakan demi keuntungan orang banyak (bahujana-hitāya), demi kebahagiaan orang banyak (bahujana-sukhāya), untuk belas kasihan kepada dunia (lokānukampāyai), untuk kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak, para dewa dan manusia (mahato janakāyasyārthāya hitāya sukhāya devānām ca manusyānām ca); Itu adalah bagus Bhadrapala, bahwa Anda telah berpikir untuk bertanya kepada sang Tathagata demikian pada hal ini. Anda, Bhadrapala, telah menyelesaikan tugas pada jaman para Jina masa lampau dan mempraktekkan apa yang telah dipelajari dan menanam akar kebajikan (kusala-mula); Anda telah membuat persembahan kepada banyak ratusan ribu koti nayuta para Buddha; Anda bercita-cita pada Dharma (Dharmathika), menginginkan Dharma (Dharma-kama); Anda melakukan praktek brahmacarya  , menjaga sila dan tanpa keinginan untuk merenggut apapun (anupalambha); Anda terus mengerahkan diri untuk praktik Dharma, murni dan tidak rusak; Anda selalu makan sendiri dengan berpindapatta; Anda melatih Bodhisattva, menyenangkan Bodhisattva, mengajar (samdarsayasi) Bodhisattva, mendorong (samadapayasi) Bodhisattva, mengobarkan semangat (samuttejayasi) Bodhisattva, memberi petunjuk kepada (upadisasi) Bodhisattva, dan membawa banyak Bodhisattva hingga pencapaian (sadhayasi); Anda menginginkan kesejahteraan untuk para Bodhisattva; Untuk alasan ini Anda memiliki belas kasihan yang sangat besar; Anda memiliki keseimbangan batin terhadap semua orang; Anda memiliki kesempurnaan yang unggul dari penguasaan yang lengkap atas pikiran (sarva-cetovasita-parama-paramita); Jika sewaktu-waktu Anda ingin melihat sang Buddha, maka Anda melihat sang Buddha; Sumpah Anda sangat besar; Wilayah kegiatan Anda sangat mendalam (gambhira-gocara); Anda selalu mengingat kebijaksanaan sang Buddha; Anda memiliki pikiran kemahatahuan (sarvajnata-citta); Anda menjaga semua Dharma dan Sila, menegakkan Bodhi; Anda berada dalam kepemilikan penuh pada garis keturunan Tathagata (tathagata-vamsa), memiliki Bodhicitta yang sama sebanding dengan Vajra; Anda ahli dalam mengetahui tekad (asaya) dan tingkah laku (samudacara) dari semua makhluk ; Anda dapat ditemukan di hadapan semua Buddha; Bhadrapala, jika orang akan menceritakan kualitas kebajikan Anda, orang itu tidak akan pernah mencapai akhir; Bhadrapala, ada Samadhi yang bernama Buddha sekarang berdiri dihadapan (pratyutpanna buddha sammukhāvasthita nama samādhi). Jika orang mempraktekkan Samadhi itu tanpa melupakannya, jika orang mendengarkannya dengan penuh perhatian (avahita-srotra) dan berhasil dalam menjadikan pikiran tidak terganggu (aviksipta-citta), maka kualitas-kualitas yang unggul itu (guna-visesa) tidak akan sulit di peroleh."

Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata kepada sang Bhagavān : "Saya mohon, Bhagavān, demi keuntungan orang banyak, demi kebahagiaan orang banyak, untuk belas kasihan kepada dunia, untuk kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak, para dewa dan manusia; Dan yang akan memancarkan cahaya terang yang besar demi para Bodhisattva Mahasattva di masa depan. "

Kemudian sang Bhagavān berkata kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva : "Oleh karena itu, Bhadrapala, dengarlah dengan baik dan pertimbangkan dengan teliti, Saya akan menjelaskannya kepada Anda (tena hi, bhadrapala, srnu sadhu ca susthu ca manasikuru. bhasisye 'ham te)."

Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata kepada sang Bhagavān : "Jadi begitulah, Bhagavan."

Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva dan dunia beserta para dewanya, manusianya, asuranya, dan gandharvanya mendengar pada sang Bhagavān.


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Sun Apr 03, 2016 10:51 pm, total 3 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

OM HRAM HRIM HUM PHAT

Post by skipper on Tue Mar 01, 2016 10:43 pm




BAB 2
Praktek

Kemudian Sang Bhagavān berkata kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva : "Bhadrapala, ada satu Dharma yang jika dipraktekkan (asevita), diolah (nisevita), dikembangkan (bhavita), dilatih (bahulikrta), dikuasai (yanikrta), secara aktif diupayakan (vastu-krta), dimunculkan (samutthapita), dibiasakan (paricita), sepenuhnya dimurnikan (suparyavadata), sepenuhnya dikonsentrasikan (susamahita), dan sepenuhnya dilakukan (susamarabdha), maka orang akan menjadi dikenal oleh semua kualitas (sarva-guna-visista). Apa satu Dharma itu? Yakni, pemusatan pikiran yang bernama Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita, yang mendatangkan pemenuhan kualitas yang pertama dari pembelajaran yang banyak (bahusrutya-purvakadharma)."

Kemudian Sang Bhagavān berkata kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva : "Lalu, Bhadrapala, apa Samadhi yang bernama Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita itu? Yakni, berniat melakukan perenungan pada pikiran yang menjadikan Buddha sebagai objek tujuannya (buddharambana-cittamanasikara); Setiap Bodhisattva yang pikirannya pada masa kini terkonsentrasi dan diarahkan menuju para Buddha dari sepuluh penjuru arah, akan, jika Mereka memiliki pikiran terkonsentrasi, mencapai semua praktik yang mulia dari Bodhisattva. Melalui kesesuaian dengan kondisi untuk perenungan pada Buddha, membuat pikiran diarahkan pada Buddha; Memiliki pikiran yang tidak terganggu (aviksipta-citta); Memiliki kesadaran penuh (upasthita-smrti sehingga memperoleh kebijaksanaan (prajna); Tidak menghentikan semangat ketekunan (virya); Bersama dengan teman-teman yang baik (kalyanamitropasthana) dalam berlatih, mengembangkan, dan mempraktekkan 'kekosongan (sunyata)'; Melenyapkan 'penghalang (nivarana)'; Melenyapkan keadaan hilang kesadaran dan ngantuk (styana-middha); Menghindari pembicaraan dan tidak berkumpul; Menghindari 'teman yang jahat (papa-mitra)'; Mendekati teman-teman yang baik; Memiliki indera yang tidak kacau (aviksiptendriya); Dalam makan, mengetahui kapan telah cukup (bhojana-matrajnata); Memiliki semangat untuk tidak tidur selama waktu pertama atau waktu terakhir dari malam; Tidak mendambakan jubah, makanan, tempat tidur dan kursi, obat penyembuh sakit, dan barang-barang pribadi (civara-pindapata-sayanasana-glanapratyayabhai sajya-pariskara); Tidak menyerah dari hidup dalam kesunyian di hutan (aranya-vasa); Menjadi penyendiri, dan menghindari kerabat; Menjauhi desa tempat tinggal; Tidak melekat pada kepentingan diri; Mengabaikan kehidupan sendiri (jivita); Penolakan duniawi dari diri sendiri (atma-parityaga); Melayani para makhluk; Meninggalkan sanak saudara; Menjauhi tempat kelahiran (janma-bhumi); Tekun mempraktekkan (asevana) cinta kebaikan (maitrī); Memperoleh belas-kasihan (karunā); Tinggal berdiam di dalam sukacita (muditā); Mengembangkan keseimbangan batin (upeksa); Melenyapkan penderitaan (upaklesa); Menguasai sikap praktek kehati-hatian; Melenyapkan penutup; Menyempurnakan Dhyāna dengan tanpa berpuas didalamnya (an-asvadanata); Tidak mengembangkan tanggapan penglihatan dari bentuk-rupa (rupa-samjna); Tidak mengejar bentuk-rupa; Mendapatkan tanggapan penglihatan dari kemuakkan (asubha-samjna); Memiliki kesadaran penuh yang teguh; Tidak menggenggam 'kumpulan (skandha)'; Tiada pemikiran yang percuma mengenai 'unsur (dhatu)'; Tidak melekat pada 'landasan indera (ayatana)'; Tidak kehilangan kesabaran; Tidak melekat pada kehidupan; Tidak membanggakan kelahiran yang tinggi; Melenyapkan kebanggaan; Tidak iri (irsya) pada kehidupan orang; Menjadi dasar untuk kesejahteraan para makhluk; Memiliki pikiran yang sama (sama-citta) terhadap semua makhluk; Tidak mengabaikan para makhluk dari sepuluh penjuru arah; Menyelamatkan para makhluk dari sepuluh penjuru arah; Menganggap semua makhluk dari sepuluh penjuru arah sebagai diri sendiri; Menganggap semua makhluk dari sepuluh penjuru arah sebagai ibunya sendiri; Menganggap semua makhluk dari sepuluh penjuru arah sebagai ayahnya sendiri; Menganggap semua makhluk dari sepuluh penjuru arah sebagai anaknya sendiri; Menganggap semua makhluk dari sepuluh penjuru arah sebagai sanak saudaranya sendiri; Menganggap semua makhluk dari sepuluh penjuru arah sebagai yang tidak terkotori (nihklesa); Tidak ingin merenggut apa pun yang ada (bhava); Tiada kemelekatan yang tidak wajar pada sila (a-sila-paramarsa); Pengolahan konsentrasi (samadhi); Ingin belajar sangat banyak (bahusrutya) namun tidak menjadi sombong karena itu; Sempurna tanpa cacat (acchidra) dalam mematuhi unsur sila (sila-skandha); Tetap tenang di dalam unsur konsentrasi (samadhi-skandha); Tidak meragukan Dharma; Tidak bertengkar dengan Buddha; Tidak menolak Dharma; Tidak menyebabkan kerusuhan dalam ketentraman para Bhiksu Sangha; Menghindari pembicaraan liar (paisunya); Masuk kedalam kehadiran para Arya dan melayani Mereka; Menghindari orang-orang bodoh; Tidak menikmati dan tidak ingin mendengar pembicaraan duniawi (laukika-katha); Ingin mendengar, menikmati, menyukai, dan melakukan semua pembicaraan yang malampaui dunia (lokottara-katha); Tidak ingin mendengar pembicaraan binatang (tiryagjana-katha); Berlatih enam dharma yang menyenangkan; Berbicara yang menyenangkan (priya-vacana); Melenyapkan lima halangan (panca nivarana)'; Mempraktikkan lima tahap pembebasan (vimoksayatana); Pemahaman (parijnana) lima kumpulan (panca-skandha); Menghindari sepuluh perbuatan jahat (dasa-akusala-karmapatha); Berlatih sepuluh perbuatan kebajikan (dasa-kusala-karmapatha); Menyempurnakan sepuluh kekuatan (dasa-bala); Melenyapkan sembilan landasan maksud jahat (aghata-vastu); Memahami sembilan gangguan dan sembilan tanggapan penglihatan; Membuang delapan landasan dari kemalasan (alasya-vastu); Berlatih delapan landasan dari pengerahan usaha (arambha-vastu); Mempraktekkan delapan tahap dari kekuasaan (abhibhvayatana); Mengembangkan delapan pembebasan (vimoksa); Memperoleh delapan perenungan dari Makhluk besar (mahapurusa-vitarka); Menjadi selaras dengan delapan jalan Arya (aryastangamarga); Tidak melekat pada Dhyana; Tidak menjadi sombong (manyana) tentang pembelajaran (sruti); Melenyapkan kebanggaan; Ingin mendengar Dharma; Menginginkan Dharma; Bercita-cita pada Dharma; Mendambakan Dharma; Menjadi cenderung pada Dharma (dharma-nimna); Bertekad pada Dharma (dharma-pravana); Condong kepada Dharma (dharma-pragbhara); Menerapkan diri pada Dharma (dharmabiyukta); Terbebas dari pikiran yang percuma yang disebabkan oleh tanggapan penglihatan diri (atma-samjna); Penolakan tanggapan penglihatan makhluk (sattva-samjna); Tidak menangkap tanggapan penglihatan hidup (jivita-samjna); Pelenyapan tanggapan penglihatan orang (pudgala-samjna); Penghapusan tanggapan penglihatan kumpulan (skandha-samjna); Tidak menghuni tanggapan penglihatan keberadaan (bhava-samjna); Tidak memperhitungkan hal-hal dalam hal tahunan; Tidak menerima gagasan diri; Menghindari orang-orang dari sepuluh penjuru arah, dan tidak ingin merenggut mereka; Tidak mendambakan umur panjang; Memahami 'yang gelap [lima kelompok/kumpulan skandha]'; Tidak menjadi tunduk pada angan-angan khayalan; Tidak menjadi tunduk pada apa yang ada; Mencari Nirvana; Tidak menginginkan kelahiran dan kematian, memiliki ketakutan besar pada lahir dan mati; Tidak menginginkan 'pańca-skandha (rūpa (bentuk), vedanā (perasaan), saṁjńā (gagasan), saṁskāra (pembentukan pikiran), and vijńāna (kesadaran)'; Menganggap 'siklus perpindahan (samsara)' sebagai yang sangat mengerikan; Menganggap kumpulan skandha sama seperti pencuri; Menganggap 'empat unsur yang besar (catur-dhātu : tanah, air, api, udara)' sebagai ular berbisa;
Menganggap 'dua belas bidang indera (sad-indriya : mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran) di tambah enam objek : pemandangan, suara, aroma, rasa, sentuhan, dan objek pikiran)' sebagai desa yang kosong; Berada di Tiga Dunia selama waktu yang lama tapi tidak menemukan kepuasan di sana; Tidak melupakan pencapaian Nirvana; Menganggap nafsu keinginan sebagai yang harus disingkirkan sama seperti gumpalan dahak (kheta-pinda); Menganggap makanan sebagai yang tidak menyenangkan; Menjadi cenderung untuk mengundurkan diri dari keduniawian (abhiniskramana); Tidak mengambil kesenangan dalam kehidupan rumah tangga; Menganggap putra dan putri sebagai belenggu; Menganggap istri sebagai raksasi; Memiliki keyakinan yang tidak putus (abhedya-prasada) dalam ajaran Buddha; Bercita-cita untuk pelenyapan kelahiran dan kematian; Tidak terlibat dalam perselisihan (vipratyanika) dengan orang-orang; Menjadi yang tidak memiliki rumah tinggal (aniketa) dalam semua bidang dunia; Menjadi yang bertatap-tatapan dengan semua Buddha (sarva-buddha-sammukhi-bhuta); Menjadi yang dinobatkan dengan patut (supasampanna) dan memimpin kehidupan suci (brahma-carya) dengan baik; Tidak ingin jatuh ke dalam kelahiran dan kematian; Selalu berdiri di kehadiran para Buddha; Menganggap tubuh yang diterima sebagai mimpi; Menjadi murni dalam kecenderungan (adhimukti); Menjadi yang berkebajikan dalam tekad yang tinggi (adhyasaya); Pikiran yang luwes (citta-karmaniya); Penolakan pada usaha keras yang tidak benar (ayuktarambha); Mengerahkan diri pada usaha keras yang benar (yuktarambha); Melenyapkan semua tanda (nimitta); Tidak ragu lagi, setelah memperoleh keyakinan; Melakukan sama persis seperti yang ditujukan; Menghancurkan semua gagasan; Memiliki kesamaan dari tiga masa waktu (tryadhva-samata); Perenungan pikiran mengingat semua Buddha (sarva-buddhanusmrti); Menimbulkan semua akar kebajikan (kusalamula); Selalu memikirkan kualitas kebajikan dari para Buddha; Kekuatan Pemberkatan (adhisthana) dari semua Buddha; Mencapai penguasaan konsentrasi pikiran (samadhi); Tidak mengikuti tanda-tanda tubuh Buddha; Menganggap semua 'gejala kejadian (dharma)' sebagai yang sama (sarva-dharma-samata); Tidak berdebat (avivada) dengan dunia; Tidak menentang (apratikula) tugas kewajiban; Memperoleh pemahaman dari kemunculan yang sesuai dengan sebab dan kondisi (pratitya-samutpada);
Memperoleh kesabaran dari tahap Tathagata pada jalan menuju pembebasan; Jalan masuk ke dharmadhatu; Pemahaman unsur dari ruang angkasa (akasa-dhatu); Ketiadaan kemelekatan pada alam makhluk (sattva-dhatu);

Dengan memahami kekosongan, memikirkan orang sebagai yang tidak dihasilkan (ajata), yang tidak binasa (aniruddha), dan yang tidak menghuni (asthita); Menyadari alam Nirvana (nirvana-dhatu); Pemurnian mata kebijaksanaan (prajna-caksu); Segala sesuatu menjadi yang tidak mendua (sarva-dharma-advaya); Memiliki pikiran kebangkitan tidak di tengah ataupun tidak di ujung (anantamadhya-bodhicitta); memusatkan pikiran ke satu titik (cetasa ekotibhava) menuju pintu masuk kedalam pengetahuan yang tidak terhalang (apratihata-jnana) dengan semua Buddha; Memasuki keadaan yang terbebas dari halangan (anavarana); Memiliki kebijaksanaan yang tiada cela; Dengan berhasil dalam menyadari pikiran kebangkitan (bodhicitta), memiliki kebijaksanaan Buddha tidak tergantung pada orang lain (aparapratyaya-buddha-jnana); Memperlakukan teman yang baik seolah-olah mereka adalah Guru (sasta), dan tidak berpikir mereka sebagai yang berbeda; Selalu berada di antara Bodhisattva dan tidak pernah berpisah dari mereka; Menjadi tidak tergoyahkan, bahkan oleh perbuatan semua Mara; Semua orang menjadi sama seperti pantulan di cermin (pratibhasa); Melihat semua Buddha sebagai yang sama seperti gambar; Mengikuti semua praktek dari Dharma; Mencari Bodhicitta; Memiliki pikiran yang tenang (samata-citta) terhadap kesempurnaan (paramita); Kesamaan dari penglihatan para Tathagata dan batas kenyataan (bhuta-koti); Kesamaan dari semua kualitas kebajikan (sarva-guna-dharma-samata); Memulai jalan Bodhisattva yang murni dengan cara ini. Ini, Bhadrapala, adalah Pemusatan pikiran terkonsentrasi yang bernama Buddha sekarang berdiri dihadapan (Pratyutpanna Buddha Sammukha Avasthita Nama Samadhi)."

Sang Bhagavān lanjut berkata kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva : "Berdasarkan kebajikan dari kualitas (dharma) dari perilaku ini, akan menghasilkan Samadhi, yaitu Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi. Dengan cara apa, Bhadrapala, orang menghasilkan Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi? Dengan cara ini, Bhadrapala, jika ada Bhiksu, Bhiksunī, Upāsaka, dan Upāsikā yang menjaga sila secara keseluruhan, mereka harus menetap di suatu tempat yang sunyi sendirian, untuk mengingat membayangkan dalam pikiran (cittam utpadayati) : kehadiran Amitabha Tathagata Arhan SamyaksamBuddha, sedang tinggal berdiam (tisthati), sedang dihormati (dhriyate), sedang mengisi waktu (yapayati) mengajarkan Dharma (dharmam ca desayati); kemudian, sesuai dengan apa yang telah dipelajari (yathasrutam), mereka harus merenungkan dengan saksama (manasikaroti) bahwa dari sini melewati sepuluh juta koti Buddhaksetra jauhnya ke penjuru barat, di dalam sistem dunia yang bernama Sukhavati (sukhavati-lokadhatu), Bhagavān Amitabha Tathagata Arhan SamyaksamBuddha sedang tinggal berdiam, sedang dihormati, sedang mengisi waktu mengajarkan Dharma, di tengah-tengah rombongan dari para Bodhisattva; Biarlah mereka semua terus-menerus memikirkan sang Tathagata dengan pikiran yang tidak terganggu (aviksipta-cittena). "

Sang Bhagavān lanjut berkata kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva : "Ini adalah sama seperti contoh (tadyathapi nama) laki-laki atau perempuan yang pergi tidur dan dalam mimpi melihat kemunculan dari bentuk (rupakara), melihat emas, perak, dan perhiasannya, orang tuanya, saudara, istri dan anak-anaknya, kerabat dan teman-temannya, hal-hal yang menyenangkan (manojna), yang disayangi (priya), yang tidak buruk (apratikula) dan bersama-sama dengan mereka ia bermain (kridati), sangat menikmati dirinya sendiri (ramati) dan menghibur dirinya sendiri (paricarayati), dari berbicara dan bergaul dengan mereka. Ketika ia bangun, ia memberitahukan orang lain tentang hal itu yang ia lihat, dengar, pikir, sadari, berbicara dan bergaul; dan setelah itu ia bahkan menitikkan air mata memikirkan apa yang ia lihat dalam mimpi itu. Dengan cara yang sama (evam eva), Bhadrapala, para Bodhisattva, apakah mereka menjadi pertapa (pravrajita) atau 'pemakai jubah putih [Upāsaka dan Upāsikā]', pergi ke suatu tempat yang sunyi dan duduk sendiri, setelah belajar tentang Buddhaksetra dari Amitabha Tathagata Arhan SamyaksamBuddha di penjuru barat, harus memikirkan dengan saksama sang Amitayus Buddha di penjuru arah itu. Mereka harus sempurna tidak melanggar sila (sila-skandha), dan memikirkan-Nya dengan perhatian penuh (smrti) dan dengan pikiran tunggal, baik untuk satu hari dan satu malam, atau dua atau tiga atau empat atau lima atau enam atau selama tujuh hari tujuh malam. Jika ia sungguh-sungguh merenungkan dengan pikiran yang tidak terganggu pada sang Amitayus Tathagata selama tujuh hari dan tujuh malam, maka, setelah tujuh hari dan tujuh malam penuh berlalu, ia akan melihat sang Bhagavān Amitayus Tathagata. Jika ia tidak melihat sang Bhagavān dalam keadaan sadar, maka sang Bhagavān Amitayus Tathagata akan memperlihatkan wajah-Nya kepada ia dalam mimpi ketika ia tidur."

"Bhadrapala, Itu adalah sama seperti hal-hal yang dilihat orang di dalam mimpi - ia tidak sadar pagi atau malam, juga tidak ia sadar sedang di dalam atau di luar; Ia tidak gagal melihat dikarenakan ada dalam kegelapan, juga ia tidak gagal melihat dikarenakan ada halangan. Dalam cara yang sama, Bhadrapala, untuk pikiran dari para Bodhisattva Mahasattva : Ketika mereka melaksanakan pemanggilan ke pikiran ini, ruang angkasa diantara dunia tidak menghalangi mereka. Raja gunung besar yang terkenal, Sumeru, dan lingkaran gunung dan lingkaran besar raja gunung, Cakravada (sumeru-parvataraja-cakravada-mahacakravada-parvataraja), dan sama juga pegunungan hitam di dalam semua Buddhaksetra, dan semua tempat-tempat yang gelap diantaranya adalah terungkap untuk mereka, tidak bisa menghalangi penglihatan mereka dan pikiran mereka tidak terhambat. Para Bodhisattva Mahasattva ini tidak melihat melalui 'mata surga (divyacaksu)' juga tidak mendengar Saddharma melalui 'telinga surga (divyasrota)', juga tidak berangkat menuju ke Buddhaksetra itu dengan cara 'kekuatan super (rddhiabhijnabala)', juga tidak mereka meninggal dunia disini untuk dilahirkan di dalam Buddhaksetra itu disana dan lalu kemudian melihat; Namun, Bhadrapala, sementara sedang duduk disini dimana Bodhisattva melihat (janati) dirinya sendiri sedang berada di dalam Buddhaksetra itu, dan melihat sang Bhagavān Amitayus Tathagata, mendengar Dharma yang Dia ajarkan, menerimanya semua, mempertahankannya (adharayati), menguasainya (paryavapnoti), menjaganya (dharayati). Bangkit dari Meditasi itu, sang Bodhisattva mampu mengajarkan Dharma itu kepada orang lain dalam keseluruhan (vistarena), sama seperti yang telah didengarnya, dipertahankannya dan dikuasainya."

"Sebagai persamaan, Bhadrapala, ada laki-laki tertentu yang tinggal di kota besar Rajagrha mendengar bahwa di kota Vaiśālī ada wanita penghibur yang bernama Sumanā. Laki-laki lain mendengar tentang wanita penghibur yang bernama Amrapali; dan laki-laki lainnya mendengar tentang Utpalavarna, yang bekerja sebagai wanita penghibur. Kemudian mereka semua merindukannya. Para laki-laki itu tidak pernah melihat tiga wanita tersebut, tetapi segera setelah mereka mendengar tentangnya nafsu mereka terangsang. Sementara secara berulang-ulang (bhuyo bhuyas) merenungkannya, mereka tidur dan dalam mimpi, mereka melihat diri mereka sendiri pergi mengunjungi para wanita itu. Jadi sama seperti para lelaki itu membayangkan pikiran yang bernafsu gairah itu saat mereka terjaga di kota besar Rajagrha, demikian juga ketika tidur para lelaki itu bermimpi melihat para wanita penghibur itu, menjadikannya istri, memanjakan diri dalam hubungan intim (maithuna), dan terlegakan dari nafsu gairah. Pada saat bangun, mereka mengingat apa yang telah mereka lihat, dengar, ketahui, rasa, dan alami dalam mimpi,  Bhadrapala, datang ketempat dimana Anda berada, mereka akan menceritakan hal itu kepada Anda. Setelah mendengar hal itu, gunakanlah contoh peristiwa ini untuk mengajarkan Dharma kepada mereka, sehingga mereka mengerti kebijaksanaan ini dan sampai pada tahap 'yang tanpa kemunduran (avinivartanīya)' dari pencapaian Anuttarā Samyaksambodhi. Saya juga meramalkan (vyakaromi) bahwa dimasa depan mereka akan menjadi Tathagata Arhan SamyaksamBuddha dengan nama 'Suvibuddha (Yang Terbangunkan Dengan Baik)'. Dengan memperoleh kesabaran (ksanti), para Lelaki itu hari ini melihat dan mengingat (anusmr-) tanda-tanda sebelumnya itu (purva-nimitta)."

"Dengan cara yang sama, Bhadrapala, para Bodhisattva yang memiliki Pratyutpanna Buddha Sammukha Avasthita Samadhi ini mendengar tentang sang Bhagavān Amitayus Tathagata Arhan SamyaksamBuddha ketika sedang tinggal di dunia ini. Hanya dengan mendengar nama, penampilan dan kualitas dari sang Tathagata, dengan pikiran yang tidak terganggu, Mereka mengingat kembali membayangkan (samanusmarati) sang Bhagavān Amitayus Tathagata Arhan SamyaksamBuddha. Dengan berulang-ulang merenungkan dengan saksama pada-Nya, Mereka melihat sang Tathagata. Dengan terdirikan di dalam Pratyutpanna Buddha Sammukha Avasthita Samadhi itu,  setelah melihat sang Tathagata, Mereka bertanya : 'Bhagavan, Dharma apa yang digunakan Bodhisattva Mahasattva untuk dilahirkan di sistem dunia Anda?'"

Dalam cara ini, kapanpun orang menginginkan untuk dilahirkan di setiap Buddhaksetra apapun, orang menanyakan kepada sang Tathagata. Ditanya demikian, sang Bhagavān Amitayus Tathagata berkata kepada Bodhisattva itu : 'Kulaputra, jika pemanggilan Buddha ke pikiran (buddhanusmrti) itu dipraktekkan (asevita), diolah (nisevita), dikembangkan (bhavita), dan dilatih (bahulikrta), maka orang dilahirkan dalam sistem dunia ini. Jika pemanggilan Buddha ke pikiran itu dipraktekkan, diolah, dikembangkan, dan dilatih, maka orang akan dilahirkan dalam Buddhaksetra ini. Lalu apa, Kulaputra, pemanggilan Buddha ke pikiran itu? Yaitu, ketika orang merenungkan dengan saksama pada sang Tathagata secara demikian : Dia adalah Yang Telah Datang, Yang Layak, Yang Terbangkitkan Sempurna, Yang Sempurna Pikiran Dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Yang Mengetahui Dunia, Penjinak Nafsu Makhluk Yang Tiada Tandingan, Guru Dewa and Manusia, Yang Tercerahkan, Mahluk Yang Tertinggi. (tathagato'rhan samyaksambuddho vidyacaranasampannah sugato lokavid anuttarah purusadamyasarathih sasta devanam ca manusyanam ca buddho bhagavan), memiliki tiga puluh dua tanda dari Makhluk besar (dvatrimsan-mahapurusa-laksana) dan tubuh yang berwarna sama seperti emas, menyerupai bentuk emas (suvarna-rupa) yang cerah, bersinar, dan terbentuk dengan baik (susthita), terhiasi dengan baik sama seperti pilar permata (ratna-stambha). Dia sangat indah dan dengan kemuliaan yang tiada bandingan dan sedang mengajarkan Dharma di tengah-tengah perkumpulan dari Bodhisattva dan murid pendengar (sravaka-sangha), sedang mengajarkan apapun yang sesuai dengan yang tidak bisa binasa (yathavipranasam tatha samdarsayati), bahwa 'gejala kejadian (dharma)' adalah kosong dan oleh karena itu tidak bisa binasa. Mengapa? Karena yang tidak bisa binasa itu adalah semua dharma, tanah adalah tidak bisa binasa, air, api, udara, bhuta, dewa, brahma dan prajapati adalah tidak bisa binasa, bentuk (rupa) adalah tidak bisa binasa, perasaan (vedana), tanggapan penglihatan (samjna), pembentukan (samskara) dan kesadaran (vijnana) adalah tidak bisa binasa. Ketika tidak berpikir dengan sia-sia (manyate), tidak salah memahami (upalabhate), tidak melekat (abhinivisate), tidak salah menyadari (samjanati), tidak salah membayangkan (kalpayati), tidak salah membedakan (vikalpayati), tidak salah mempertimbangkan (samanupasyati) sang Tathagata, ketika memperoleh 'meditasi dari kekosongan (sunyata-samādhi)' dengan sungguh-sungguh merenungkan sang Tathagata tanpa penangkapan landasan, Yang demikian Itu adalah pemanggilan sang Buddha kedalam pikiran."

"Setelah mengembangkan Samadhi itu dan berkonsentrasi pada Samadhi itu, sang Bodhisattva, ketika keluar dari Samadhi itu, akan datang ketempat dimana Anda berada, Bhadrapala, dan tiba disana akan memberitahukan Anda tentang Samadhi itu. Lalu, Bhadrapala, Anda mengajarkan Dharma itu sehingga Bodhisattva itu mencapai keadaan yang tanpa kemunduran dari pencapaian Anuttarā Samyaksambodhi. Lalu, Saya juga meramalkan bahwa di masa depan, Orang itu akan menjadi Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama 'Pratibhanaprapta (Yang Mencapai Kefasihan Berbicara).'"

Sang Bhagavān lanjut berkata kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva : "Siapa, Bhadrapala, yang telah menyaksikan Bodhisattva Samādhi ini? Murid Saya : Anda sendiri, Sthavira Mahākāśyapa, Indradatta Bodhisattva, Susima Devaputra, bersama-sama dengan para Bodhisattva yang saat ini mengetahui Samādhi ini. Siapapun yang telah berlatih dan memperoleh penguasaan (vasibhuta) pada Samādhi ini menyaksikannya. Apa yang mereka saksikan? Mereka menjadi saksi Samādhi ini, mengetahui itu menjadi konsentrasi dari kekosongan."

Sang Buddha berkata kepada Bhadrapala:. "Di masa lalu (bhutapurvam), Bhadrapala, ada Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang bernama Subodhi, pada jaman itu, ada seorang laki-laki melakukan perjalanan, yang membawanya ke sebuah padang gurun terpencil yang luas di mana ia tidak mampu untuk mendapatkan makanan atau minuman. Setelah kelaparan dan kehausan dan dikuasai mati suri dan kelesuan, ia tertidur, di dalam mimpi ia memperoleh makanan dan minuman yang banyak. Dengan memperolehnya, ia makan dan minum, lalu rasa lapar dan hausnya menghilang. Setelah ia bangun, baik perutnya maupun bekalnya tidak bertambah besar, ia berpikir : 'Dalam cara ini, seperti mimpi, demikian juga gejala kejadian (dharma)'. Dengan memahami itu menjadi demikian, ia memperoleh kesabaran menerima gejala kejadian sebagai yang tidak dihasilkan (anutpattikadharmaksānti); Ia juga menjadi 'yang tidak bisa dimundurkan (avaivartika)' dari Anuttarā Samyaksambodhi."

"Dengan cara yang sama, Bhadrapala, Bodhisattva apakah sebagai 'perumah tangga (grhastha)' atau 'yang meninggalkan kehidupan duniawi (Pravrajitah)', mendengar sang Tathagata berada di penjuru arah yang demikian, dan dengan saksama merenungkan pada sang Tathagata di penjuru arah itu, akan memperoleh penglihatan pada sang Buddha. Dia harus tidak memiliki tanggapan penglihatan dari segala sesuatu yang ada (bhava-samjna), tapi harus memiliki tanggapan penglihatan dari ruang angkasa (akasa-samjna). Dengan tepat terdirikan di dalam tanggapan penglihatan dari ruang angkasa dan dengan merenungkan terus-menerus pada tanggapan penglihatan Buddha (buddha-samjna), sang Bodhisattva akan melihat sang Tathagata, yang indah (subha) dan menyerupai patung dari permata beril (vaidurya-pratima); Sang Bodhisattva itu akan melihat sang Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang demikian itu."

"Hal itu sama seperti, misalnya, Bhadrapala, beberapa orang atau yang lainnya melakukan perjalanan dari tempat asalnya menuju ke negara lain, dan saat tiba di sana ia merenungkan ke pikiran tentang tempat asalnya; Setelah dengan saksama merenungkan pada hal-hal seperti yang ia biasanya lihat, dengar, tahu, dan rasakan, ia dikuasai oleh mati suri dan kelesuan, dan tertidur; Dalam mimpi ia melakukan perjalanan menuju ke tempat asalnya dan merasakan dirinya berada di sana, dan ia melihat hal-hal seperti yang sebelumnya ia biasanya lihat, dengar, rasa, dan sadari; Ia pergi ke sana dan juga kembali lagi. Setelah bangun, ia menceritakan hal-hal itu di antara kerabatnya, teman-temanya, sanak saudaranya, dan ibunya, dengan mengatakan : 'Demikian itu yang saya jalani, hal-hal ini yang saya lihat, hal-hal ini yang saya alami di tempat itu.'"

'Dalam cara yang sama, Bhadrapala, sang Bodhisattva, apakah sebagai grhastha atau Pravrajitah, ketika ia mendengar bahwa sang Tathagata berada di penjuru arah yang demikian, harus merenungkan dengan saksama pada Tathagata di penjuru arah itu dengan penuh kesadaran dan tanpa pikiran yang terganggu, agar untuk mendapatkan penglihatan Buddha. Dengan cara itu, sang Bodhisattva akan melihat sang Tathagata yang seperti patung dari permata beril yang berdiri dengan indah. "

"Hal itu sama seperti, misalnya, Bhadrapala, ketika Bhiksu melakukan meditasi pada yang menjijikkan (asubha-bhavana) melihat di depannya ada mayat yang membengkak (vyadhmataka), ketika ia melihat di depannya ada mayat yang telah membiru (vinilaka), yang membusuk (vipuyaka), yang berdarah (vilohitaka), yang termakan (vikhaditaka), bahwa daging telah pergi (udgata), atau yang tidak memiliki daging atau darah, atau berwarna putih, atau warna kerang, atau tulang kerangka (asthi), maka hal-hal itu yang dari mayat yang membiru hingga menjadi tulang kerangka, yang tidak datang dari mana pun, dan tidak pergi kemanapun. Yang tidak dibuat oleh siapa pun, yang tidak pula dihentikan (niruddha) oleh siapapun, namun, Bhadrapala, sang Bhiksu dengan penguasaan pikirannya pada satu titik (ekagrata), ia melihat kerangka tergeletak di depannya."

"Dalam cara yang sama, Bhadrapala, di penjuru arah apa pun sang Tathagata Arhan SamyaksamBuddha mungkin berdiam, para Bodhisattva, didukung (parigrhita) oleh Buddha, yang terdirikan pada Samadhi ini merenungkan dengan saksama (manasikaronti) pada penjuru arah itu, agar untuk mendapatkan penglihatan dari para Buddha. Dengan merenungkan secara saksama pada penjuru arah itu, Mereka melihat sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha di penjuru arah itu. Mengapa demikian? Yaitu, Bhadrapala, perolehan dari penglihatan dari para Buddha adalah hasil alami (nisyanda) dari Samadhi ini. Bodhisattva yang didirikan pada Samadhi ini melihat para Tathagata, dan Mereka muncul kepadanya, melalui gabungan dan persetujuan dari tiga hal ini : kekuatan dari Buddha (buddhanubhava), kekuatan akar kebajikan (kusala-mula) yang ditimbulkan diri sendiri, dan kekuatan dari Samadhi yang diperoleh itu."

"Hal itu sama seperti, misalnya, Bhadrapala, ada lelaki atau perempuan yang mencuci kepalanya dan memakai perhiasan, ingin melihat keberadaan dirinya sendiri, dan ia berpikiran untuk melihat dirinya di sebuah wadah yang berisi minyak yang jernih, atau wadah yang barisi air yang jernih, atau cermin bulat yang dipoles dengan baik (adarsa-mandala), atau sepotong kristal yang tanpa cacat. Saat ia melihat bentuk-rupanya sendiri, Bhadrapala, apa yang Anda pikirkan (tat kim manyase)? Apakah penampilan bentuk dari lelaki atau perempuan di dalam wadah yang berisi minyak yang jernih, atau wadah yang barisi air yang jernih, atau cermin bulat yang dipoles dengan baik, atau sepotong kristal yang tanpa cacat itu - apakah itu berarti bahwa lelaki atau perempuan itu pergi ke dalamnya atau memasukinya ? "

Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva mengatakan: 'Tidak, Devatideva, itu tidak terjadi. Devatideva, karena minyak dan air itu jernih dan tidak terganggu, atau cermin bulat itu dipoles dengan baik, atau sepotong kristal itu bersih, maka pantulan (pratibimba) itu muncul; Tubuh lelaki atau perempuan itu tidak muncul dari air, minyak, cermin, atau sepotong kristal, itu tidak datang dari mana pun juga tidak pergi ke mana pun, itu tidak dihasilkan dari mana pun, juga tidak dihentikan (niruddha) di mana pun."

Sang Bhagavan berkata : "Bagus, bagus, Bhadrapala. Anda benar, Bhadrapala. Jadi, Bhadrapala, sama seperti yang Anda katakan, ketika bentuk (rupa) adalah baik dan jelas (suparisuddha), pantulannya (pratibimba) muncul. Dalam cara yang sama, ketika Bodhisattva mengembangkan Samadhi ini dengan benar, Bodhisattva itu melihat sang Tathagata dengan sedikit kesulitan (alpa-krcchrena). Setelah melihat-Nya, Ia mengajukan pertanyaan, dan disenangkan dengan penjelasan dari pertanyaan itu. Setelah berpikir: "Apakah sang Tathagata ini datang dari suatu tempat? Apakah saya ada pergi ke mana pun?" Ia mengerti (prajanati) bahwa sang Tathagata tidak datang dari mana pun. Setelah memahami (samprajna) bahwa tubuhnya sendiri juga tidak pergi ke mana pun, Ia berpikir : "Apa pun yang dari tiga dunia ini (traidhatuka) tidak lain adalah pikiran (citta-matra). Mengapa demikian ? Yaitu, sebagaimana Saya membeda-bedakan hal (vikalpayati), jadi mereka muncul."

"Pikiran tidak dipahami sebagai yang di dalam, atau sebagai yang diluar, ataupun yang dari keduanya. Itu timbul secara berkondisi (pratitya) setelah memahaminya dalam cara yang berbeda (anyatha). Yang dihasilkan secara berkondisi (pratitya-samutpanna) tidak memiliki keberadaan (abhava). Yang tidak memiliki keberadaan adalah yang tidak dilahirkan (ajata). Yang tidak dilahirkan tidak bisa dipahami (anupalambha). Yang tidak bisa dipahami adalah yang kosong oleh sifat alaminya (svabhava-sunya). Yang kosong oleh sifat alaminya adalah yang tidak dapat ditentukan (aprajnapaniya). Yang tidak dapat ditentukan adalah yang tidak bisa dilihat, atau disadari (vijnata), atau dilekati (sakta), atau ditunjukkan (desita), atau dihancurkan (vipranasta), atau diungkapkan (prabhavita)."

"Pikiran menciptakan para Buddha, pikiran itu sendiri yang melihat Mereka. Para Buddha adalah pikiran, pikiran adalah para Tathagata. Pikiran adalah tubuh saya, pikiran melihat para Buddha. Pikiran tidak dirinya sendiri mengetahui pikiran, pikiran tidak dirinya sendiri melihat pikiran. Pikiran yang dengan gagasan (samjna) adalah kebodohan; Pikiran yang tanpa gagasan adalah Nirvana. dharma ini adalah 'yang tanpa intisari (asaraka)'. Mereka semua dihasilkan dengan berpikir (manyana). Karena pikiran adalah kosong (sunya), maka apa pun yang dipikirkan adalah yang pada akhirnya tidak ada. Yang demikian itu, Bhadrapala, adalah penglihatan dari Bodhisattva yang didirikan di dalam Samadhi."

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini (atha khalu bhagavams tasyam velayam ima gatha abhasata) :

'Melalui pikiran, sang Buddha dihasilkan;
Dan dengan pikiran itu sendiri (cittenaiva) Dia terlihat.
Bagi Saya, sang Buddha hanyalah pikiran,
Hanya pikiran adalah sang Tathagata.

Tubuh Saya hanyalah pikiran,
Dan sang Buddha dilihat oleh pikiran.
Bagi Saya, 'kebangkitan (bodhi)' hanyalah pikiran;
Pikiran hanyalah yang tanpa keberadaan diri (svabhava).

Pikiran tidak mengetahui pikiran,
Pikiran tidak melihat pikiran.
Gagasan pikiran (citta-samjna) adalah kebodohan,
Pikiran yang tanpa gagasan (a-citta-samjna) adalah Nirvana.

dharma ini adalah yang tanpa intisari (asara),
Mereka semua muncul dari pikiran.
Ketika memahami kekosongan (sunyata),
Maka terbebas dari pikiran yang bergagasan. '

Yang demikian itu, Bhadrapala, adalah pengetahuan (jnana) dari Bodhisattva yang di dirikan di dalam Samadhi ini.


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Sun Apr 17, 2016 12:40 am, total 7 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

OM AMI DEWA HRIH

Post by skipper on Tue Mar 08, 2016 9:54 pm




BAB 3
Empat Kualitas (catur-dharma)

'Jika memiliki empat dharma ini, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva akan dengan cepat memperoleh Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi ini. Apakah empat ini? Yaitu, keyakinan yang tidak dapat dicabut (asamharya-sraddha); semangat ketekunan yang tanpa kemunduran (avaivartika-virya); kebijaksanaan yang tidak dapat disesatkan (aprapransa-prajna); dan kehadiran (upasthana) teman yang baik. Jika Dia memiliki empat dharma ini, Bhadrapala, sang Bodhisattva Mahasattva akan dengan cepat memperoleh Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi ini."

"Lebih lanjut lagi, Bhadrapala, jika memiliki empat dharma ini, Bodhisattva Mahasattva akan dengan cepat memperoleh Samādhi ini. Apakah empat ini? Yaitu, selama tiga bulan, tidak memunculkan gagasan pikiran tentang diri (atma-samjna), bahkan diwaktu membunyikan jari (antasa acchata-samghata-matram); Selama tiga bulan tidak dikuasai oleh kemalasan dan kelesuan (styana-middha) bahkan di waktu membunyikan jari; Setelah memulai dengan semangat ketekunan (viryam arabhya) dan mengatur diri untuk berjalan (camkrama), tidak duduk di tanah selama tiga bulan, kecuali untuk buang air besar dan buang air kecil; Memberikan secara luas kepada orang lain dengan pemberian Dharma (dharma-dana) dan, sebagai tambahan (upari), tidak mengharapkan pendapatan, kehormatan atau pujian (labha-satkara-sloka). Jika Dia memiliki empat dharma ini, Bhadrapala, sang Bodhisattva Mahasattva akan dengan cepat memperoleh Samadhi ini."

"Lebih lanjut lagi, Bhadrapala, jika memiliki empat dharma ini, Bodhisattva Mahasattva akan dengan cepat memperoleh Samādhi ini. Apakah empat ini? Yaitu, mendorong para makhluk untuk melihat Buddha; Mendorong para makhluk untuk mendengarkan Dharma; Mendorong para makhluk untuk menghasilkan pikiran kebangkitan; dan bebas dari iri hati (irsya). Jika Dia memiliki empat dharma ini, Bhadrapala, sang Bodhisattva Mahasattva akan dengan cepat memperoleh Samadhi ini."

"Lebih lanjut lagi, Bhadrapala, jika memiliki empat dharma ini, Bodhisattva Mahasattva akan dengan cepat memperoleh Samādhi ini. Apakah empat ini? Yaitu, melalui keinginan untuk Samadhi ini, membuat patung (pratima) dari Tathagata, atau bahkan hanya membuat gambar yang dilukis; Melalui keinginan untuk Samadhi ini, demi membuat Samadhi ini bertahan untuk waktu yang lama (cira-sthiti-hetor) dan agar Samadhi ini dipertahankan, menyalin dengan baik dan menyajikannya sebagai buku (pustaka); Mendirikan orang-orang yang sombong (abhimanika-pudgala) di dalam Dharma yang bebas dari kesombongan (abhimana), yaitu, di dalam Anuttarā Samyaksambodhirabhisambuddhā; yang ditujukan untuk perlindungan, pelestarian, dan pemeliharaan ajaran Tathagata. Jika Dia memiliki empat dharma ini, Bhadrapala, sang Bodhisattva Mahasattva akan dengan cepat memperoleh Samadhi ini."

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

"Yakinlah dalam ajaran sang Sugata,
Jangan meremehkan penjelasan yang terperinci dari Dharma dari kekosongan (shunyata-dharma);
Setelah memulai dengan semangat ketekunan dan melenyapkan kelesuan,
Jangan sekalipun duduk selama tiga bulan penuh.

Tanpa kemelekatan untuk pendapatan, kehormatan, atau pujian
Anda harus menjelaskan secara terperinci Dharma yang diucapkan oleh sang Sugata;
Anda harus menyebarkan Ajaran yang tiada bandingannya.
Jika Anda tanpa kemelekatan, Anda akan mendapatkan Dharma ini.

Bebas dari iri hati, Anda harus tidak memberi jalan kepada kemarahan.
Dengan nafsu keinginan dihilangkan, dan pikiran dibebaskan,
Terkonsentrasi (samahita), dan senang di dalam meditasi (dhyana),
Jika Anda membuat usaha (prayuj), akan mendapatkan Dharma ini.

Renungkan sang Buddha dengan tanda-tanda terbaik dari kebajikan (varapunyalaksana),
Yang memiliki warna emas dan ratusan tanda dari kebajikan (satapunya-laksana),
Indah, di mana-mana diliputi dengan cahaya,
Dan yang menyenangkan untuk dilihat (darshaniya) seperti wujud emas.

Buatlah sikap beranjali (kritanjali), Renungkan
Para Buddha masa lampau, atau Mereka yang belum datang;
Dan renungkan sang Sugata, untuk menyembah
Yang terbaik diantara laki-laki (narottama) yang ada pada saat ini.

Dengan pikiran yang penuh bahagia (prasanna-citta) menyembah sang Sugata
Dengan bunga (puspa), karangan bunga (malya),
salep murni (vilepana), makanan dan minuman;
Samadhi ini tidak akan sulit untuk diperoleh.

Karena Anda menginginkan Samadhi yang paling unggul ini,
Dengan pikiran senang dan sukacita yang tanpa bandingan
Buatlah musik untuk peninggalan relik yang tiada tanding
Dengan musik (vadya) dari gendang (dundubhi), keong (samkha), dan tambur (mrdamga).

Karena Anda menginginkan Samadhi yang paling unggul ini,
Lukislah gambar (citra) dengan baik, dan buatlah patung yang tiada tandingan (atulyapratima),
Yang memiliki tanda (laksana) yang lengkap, menyerupai warna emas,
Besar, dan tanpa cacat.

Setelah menghormati (puraskrtya) dharma yang menyenangkan (sarayaniya-dharma),
Jika murni dalam moralitas (sila), berusaha belajar (sruti),
Dan telah menghilangkan landasan dari kemalasan (alasya-vastu),
Anda akan mendapatkan Samadhi ini tanpa waktu lama (na cirena).

Tidak mempunyai maksud jahat (aghata) terhadap siapa pun;
Jika tinggal berdiam di dalam cinta kebaikan (maitri) dan tinggal di dalam kasih sayang (karuna),
Dan menganggap kualitas nafsu (kama-guna) dengan mengabaikannya (upeksa),
Anda akan mendapatkan Samadhi ini tanpa waktu lama.

Jadi terhadap pengkhotbah Dharma (dharma-bhanaka) juga memelihara keramah-tamahan,
Dan selalu membangkitkan (upasthapayati) tanggapan penglihatan Guru (sastr-samjna);
Jangan bangga, lenyapkanlah nafsu keinginan,
Tidak pernah kikir dengan pemberian Dharma (dharma-dana).

Memperoleh pemberkatan yang sangat baik ini (anusamsa);
Pokok dari ajaran (upadesa-păda) diajarkan oleh sang Sugata
Ini adalah ajaran dari banyak Buddha;
Samadhi ini tidak akan sulit diperoleh.

"Lebih lanjut lagi, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva yang menginginkan Samadhi ini harus memiliki rasa hormat dan penghormatan kepada Bhiksu yang mengkhotbahkan Dharma (dharmabhanaka-bhiksu), Dia harus menerapkan diri-Nya pada Samadhi ini ketika telah membentuk tanggapan penglihatan dari Guru, tanpa niat apapun dari mencari-cari kesalahan (na uparambhabhiprayena). Jika, Bhadrapala, sang Bodhisattva mempunyai pikiran dari maksud jahat (agatha-citta), atau mempunyai pikiran yang bengis (khila-citta), atau mempunyai pikiran yang tidak senang (aprasanna-citta) terhadap Bhiksu yang mengajarkan Dharma, maka, Bhadrapala, tidak ada kemungkinan atau kesempatan (asthanam anavakaso) dari sang Bodhisattva untuk memperoleh Samadhi ini. Dan tidak ada kemungkinan seperti itu jika Dia tidak membentuk tanggapan penglihatan Guru kepada Bhiksu yang mengajarkan Dharma.'

"Mengapa begitu, Bhadrapala? Karena melalui ketidakhormatan, 'Dharma Sejati (Saddharma)' menghilang. '

"Itu adalah seolah-olah, Bhadrapala, misalnya, lelaki yang diberkahi dengan penglihatan (caksusmat) melihat ke atas langit di tengah malam yang cerah dan tak berawan dan melihat ada banyak wujud bintang (taraka-rupa).'

"Dalam cara yang sama, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva yang didukung oleh Buddha, didirikan di dalam Samadhi ini, karena Dia memiliki tanggapan penglihatan dari ruang angkasa yang didirikan dengan baik (supasthita-akasa-samjna) dan tanggapan penglihatan dari Buddha yang dikendalikan dengan baik (svadhisthitabuddha-samjna), dan dengan cara kemuliaan (anubhava) dari Buddha dan pengolahan (bhavana) dari Samadhi ini, jika Dia melihat ke timur ke sistem dunia yang lain, maka dengan sedikit kesulitan banyak Buddha akan muncul pada penglihatannya. Dengan sedikit kesulitan banyak ratusan Buddha, banyak ribuan Buddha, banyak ratusan ribu Buddha, banyak koti Buddha, banyak ratusan koti Buddha, banyak ribuan koti Buddha, banyak ratusan ribu koti Buddha, banyak ratusan ribu koti nayuta Buddha akan dengan sedikit kesulitan muncul pada penglihatannya. '

"Dengan cara yang sama, Dia harus meliputi penjuru selatan, barat, utara, empat arah menengah, titik terendah dan titik tertinggi, dan jika dengan cara itu Dia melihat di sepuluh penjuru arah, sang Bodhisattva Mahasattva akan dengan sedikit kesulitan membuat banyak Buddha muncul pada penglihatannya. Dengan sedikit kesulitan, banyak ratusan Buddha, banyak ribuan Buddha, banyak ratusan ribu Buddha, banyak koti Buddha, banyak ratusan koti Buddha, banyak ribuan koti Buddha, banyak ratusan ribu koti Buddha, banyak ratusan ribu kotinayuta Buddha akan dengan sedikit kesulitan muncul pada penglihatannya."

"Jadi, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva yang didukung oleh Buddha, yang didirikan di dalam Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi ini, akan dengan sedikit kesulitan membuat banyak Buddha muncul pada penglihatannya. Dengan sedikit kesulitan, banyak ratusan Buddha, banyak ribuan Buddha, banyak ratusan ribu Buddha, banyak koti Buddha, banyak ratusan koti Buddha, banyak ribuan koti Buddha, banyak ratusan ribu koti Buddha, banyak ratusan ribu koti nayuta Buddha akan muncul pada penglihatannya."

"Itu adalah sama, Bhadrapala, misalnya, sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha memiliki Mata Buddha (buddha-caksu), sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha dengan memiliki Mata Buddha mengetahui segala sesuatu dan melihat segala sesuatu. "

"Dalam cara yang sama, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva yang didukung oleh Buddha, yang didirikan di dalam Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi ini, dengan sedikit kesulitan sepenuhnya mencapai (paripurayanti) pembelajaran yang besar (bahu-srutya). Mereka sepenuhnya mencapai kesempurnaan memberi (danaparamita), kesempurnaan moralitas (sila), kesempurnaan kesabaran (ksanti), kesempurnaan semangat ketekunan (virya), kesempurnaan meditasi (dhyana), dan kesempurnaan kebijaksanaan (prajna). Mereka sepenuhnya menyelesaikan moralitas, samadhi, kebijaksanaan, pembebasan, dan pengetahuan terbebaskan yang melihat (sila-samadhi-prajna-vimukti-vimuktijnanadarsana). Mereka sepenuhnya mencapai semua kualitas kebajikan (guna) dari Bodhisattva. Mereka sepenuhnya mencapai indera dari kebijaksanaan tertinggi, dan Anuttara-Samyak-Sambodhi."

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

Seperti misalnya, lelaki yang diberkahi dengan penglihatan, ketika ia sendirian di malam hari,
Bangun di tengah malam, dan di langit yang cerah
Melihat banyak ratusan ribu bintang;
Memiliki ingatan, jika ia berpikir tentangnya, ia mengingatnya pada siang hari juga;

Dengan cara yang sama, Bodhisattva yang telah memperoleh Samadhi ini,
Melihat banyak ratusan ribu Buddha, para Pahlawan (vira);
Dia mengingat Mereka bahkan ketika keluar dari itu,
Dan mengumumkan kepada perkumpulan majelis: "Sang Penguasa Dunia (lokanatha) adalah seperti ini...."

Sama seperti mata Saya, yang murni, dan terang (vitimira),
Mata Buddha yang jelas melihat dunia,
Demikian juga mata dari para putra Jina, para Bodhisattva,
Dengan Samadhi yang murni (viraja) ini, melihat sang Penguasa Laki-laki (narendra).

Ketika Mereka melihat Dasa-bala dari sang Penguasa berkaki dua (dvipadendra), sang Lokanatha,
Para Muni tidak pernah membayangkan tanggapan penglihatan tentang hal yang ada.
Dengarlah kualitas yang unggul dari para Bodhisattva yang terkemuka,
Yang telah menghancurkan racun, yang murni, dan yang terbebas dari tanggapan penglihatan tentang hal yang ada.

Juga mendengar Dharma yang unggul dan sejuk (sitala).
Cepat renungkan Dharma kekosongan yang sangat baik.
Saya juga, setelah memperoleh kebangkitan dari Jina, akan menjelaskan
Dharma yang sangat baik ini untuk manusia, untuk banyak makhluk.

Sama seperti Bodhisattva dengan kehidupan yang tidak terbatas, setelah lahir,
Melihat banyak ratusan ribu Lokanatha,
Jadi jika orang memperoleh Samadhi Bodhisattva ini,
Orang akan melihat banyak ratusan ribu Buddha, para Vira.

Sama seperti Ananda sang Bhiksu yang baik, yang diberkahi dengan ingatan (smrtimat),
Menerima dan mempertahankan apa yang Dia dengar dari Saya,
Demikian juga sang Bodhisattva, jika Dia memperoleh Samadhi ini,
Mendengar banyak Dharma dan mempertahankannya semua.

Dengan mendengar Samadhi ini, mengalami sukacita,
Dan membuang semua berbagai macam mantra dari dunia;
Cepat memiliki keyakinan, dan berikanlah pemberian Dharma;
Dengan cara itu, Anda akan mencapai tahap (bhumi) dari kemurnian dan ketenangan ini. "

"Oleh karena itu, Bhadrapala, Bodhisattva harus mendapatkan Samadhi ini, dan harus menghasilkan usaha yang besar dan semangat ketekunan sehingga dapat menyempurnakannya. "


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Sun Apr 17, 2016 12:44 am, total 6 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Om Tara Siddham

Post by skipper on Thu Mar 10, 2016 9:20 pm




BAB 4
Persamaan Kiasan

"Itu adalah seolah-olah, Bhadrapala, misalnya, kapal penjelajah laut yang memuat perhiasan, setelah berlayar di laut dan menghindari semua bahaya, karam di pantai; maka orang-orang Jambudvipa itu akan menangis keras, berteriak keras, dan meratap. Melalui penderitaan besar mereka juga akan meratapi, dengan mengatakan: "Kami telah kehilangan (hina) perhiasan itu. '"'

'Dalam cara yang sama, Bhadrapala, setiap putra dari keluarga yang baik (kulaputra), atau putri dari keluarga yang baik (kuladuhitrā), atau Bhiksu, atau Bhiksunl, atau Upasaka, atau Upasika yang saat mendengar Permata Samadhi ini telah datang (samadhi-ratna sravanapatham agacchati), jika setelah mendengarnya mereka tidak menyalinnya dalam bentuk buku (pustakagatam likhanti), tidak mengajarkannya (desayanti), tidak mengucapkannya (vacayanti), tidak melestarikannya (dharayanti), tidak membacanya (pathanti), tidak menjelaskannya (uddisanti), tidak mengembangkannya (bhavayanti), atau tidak mempraktekkannya (pratipattya sampadayanti), maka, Bhadrapala, dunia dengan para Devanya akan menangis keras, berteriak keras, dan meratap. Melalui penderitaan besar mereka juga akan meratapi, dengan mengatakan:

"Setelah mendengar Permata Samadhi yang mendalam (gambhlra-samadhi-ratna) seperti ini, yang dipuji oleh Buddha, yang dipuja oleh Buddha, yang dimuliakan oleh Buddha, yang mengarah ke pencapaian semua kualitas Buddha, para makhluk itu yang tidak menyalinnya (likhanti), tidak mengajarnya (desayanti), tidak mengucapkannya (vacayanti), tidak melestarikannya (dharayanti), tidak membacanya (pathanti), tidak menjelaskannya (uddisanti), tidak mengembangkannya (bhavayanti), atau tidak mempraktekkannya (pratipattya sampadayanti), yang dikuasai dengan kebanggaan, kebodohan, dan tidak bertahan untuk penyelesaian yang lengkap dari pembelajaran yang besar, mereka telah kehilangan (parihina) Permata Samadhi ini."

"Para makhluk itu, Bhadrapala, yang tidak ingin mendengar Samadhi ini, dan yang tidak akan menerima Samadhi ini, mereka, Bhadrapala, telah dijelaskan oleh Saya sebagai yang tunduk pada kehilangan (parihani-dharmin)."

"Para makhluk itu, Bhadrapala, yang saat mendengar Permata Samadhi ini tidak menyalinnya, tidak mengajarnya, tidak mengucapkannya, tidak melestarikannya, tidak membacanya, tidak menjelaskannya, tidak mengembangkannya, atau tidak mempraktekkannya, lihatlah betapa besar kerugian mereka ! Saya, Bhadrapala, telah mengatakan bahwa makhluk semacam itu, pada Dharma ini, adalah yang tidak penting."

"Itu adalah seolah-olah, Bhadrapala, misalnya, orang yang aslinya bodoh (bala-jatiya) dan yang aslinya berpikiran lemah (dusprajna-jatiya) diberikan beberapa cendana merah yang segar, namun membentuk gagasan pikiran bahwa itu adalah yang tidak murni, dan membentuk gagasan pikiran bahwa itu adalah yang kotor. Orang yang aslinya pandai, pedagang cendana, mengatakan kepadanya: ''Tuan, jangan membentuk gagasan pikiran bahwa cendana yang segar ini adalah yang tidak murni, jangan membentuk gagasan pikiran bahwa itu adalah yang kotor. Tuan, hirup saja bagaimana menyenangkan wanginya itu. Dan lihatlah, Tuan, bagaimana menarik warnanya. "'

"Tetapi orang yang aslinya bodoh dan yang aslinya berpikiran lemah itu, saat melihat bahwa cendana merah itu, dirinya sendiri tidak memegangnya, karena ia tidak ingin menghirup baunya, dan ia menutup matanya, karena ia tidak ingin melihatnya. "

'Dalam cara yang sama, Bhadrapala, di masa depan, para Bhiksu yang secara salah berpikir diri mereka sendiri menjadi Bodhisattva (bodhisattva-manin), Yang belum mengembangkan tubuh (abhavita-kaya), belum mengembangkan pikiran, belum mengembangkan sila, belum mengembangkan kebijaksanaan, tidak bermoral, tidak menerima permata dari makna yang jelas dari Dharma sejati (saddharma-nitartha-ratna), menolak permata dari makna yang jelas dari Dharma sejati, bodoh, kekurangan kebijaksanaan, terlalu bangga pada pencapaian dari meditasi (dhyana) mereka, yang melekat pada perwujudan diri (pudgala), memegang pandangan dari perwujudan diri (pudgala-drsti), terdirikan di dalam perwujudan diri, melekat pada penangkapan landasan (upalambha) di dalam dharma, dan takut pada penjelasan tentang kekosongan (shunyata) -- ketika mereka mendengar Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi ini dijelaskan, jika mereka tidak mendengarkannya, tidak akan memiliki keyakinan di dalamnya, juga tidak menerimanya (udgrahisyanti), tidak menguasainya (paryavapsyanti), tidak menjaganya (dharayisyanti), serta tidak membacanya, apalagi (kah punar vadah) menjelaskan secara penuh kepada orang lain (parebhyo vistarena samprakasayisyanti)? Jika mereka pada usahanya tidak mengalami cinta kasih yang besar dan sukacita, apalagi mempraktikkannya sesuai dengan apa adanya (tathatvaya pratipatsyanti); dan puncaknya (uttari) ketika mereka mendengar hal itu, mereka akan menolaknya, tidak memiliki keyakinan di dalamnya, tidak menerimanya, dan tidak menerapkan diri sendiri (adhimoksyante) untuk itu."

"Dengan maksud untuk meremehkannya, dengan maksud mengejeknya, dan dengan maksud mencacinya, mereka akan berkata: "Kemunculan yang terang dari kitab ajaran ini (pravacana), kemunculannya di dunia sama seperti Bhiksu Ananda, dan munculnya Sutra yang seperti ini tentu adalah keajaiban besar!" Dan pergi ke tempat rahasia mereka akan mencacinya, dengan mengatakan satu sama lain: "Sutra yang seperti ini adalah buatan karangan, itu adalah puisi buatan, itu tidak diucapkan oleh Buddha, itu juga tidak diajarkan (anujnata) oleh Buddha !" Namun para orang bodoh seperti itu adalah mereka yang dikenal sebagai orang-orang yang telah kehilangan (parihina) Permata Saddharma, sebagai orang-orang yang telah menolak Permata Saddharma."

'Itu adalah sama seperti, Bhadrapala, misalnya, orang yang aslinya bodoh itu, setelah melihat cendana merah, menutup hidungnya agar tidak mencium baunya dan menutup matanya agar tidak melihatnya, dengan cara yang sama, Bhadrapala, para orang bodoh itu juga, setelah mendengar Permata Samadhi ini, tidak akan ingin mendengar lebih dan lebih lagi, dan tidak akan ingin menerimanya, menguasainya, menyimpannya, atau membacanya, dan puncaknya ketika mereka mendengar tentangnya, mereka akan pergi jauh dari tempat itu, hanya karena tidak ingin mendengarkannya. "

"Itu adalah seolah-olah, Bhadrapala, misalnya, orang yang menjual permata berpikiran untuk menunjukkan sebuah permata yang tak ternilai dari beril (anargha-vaidurya-mani ratna) kepada orang-orang yang aslinya bodoh itu, dan orang-orang yang aslinya bodoh itu, setelah melihat batu permata (mani-ratna) itu, kemudian berkata kepadanya: "Tuan, berapa besar permata ini layak dihargai?"

"Penjual Permata itu berkata kepada mereka: "Beri saya, tujuh jenis permata  (sapta-ratna) yang membentang menutupi empat penjuru arah, yang diterangi oleh cahaya dari Mani Ratna ini. Mengapa demikian? Itu adalah nilai penuh dari Mani Ratna ini.""

"Mendengar dari dia nilai dari Mani Ratna ini, para makhluk yang aslinya bodoh itu menertawakan dia, memaki dia dan mencemooh dia, dan mengukur Mani Ratna itu berdasarkan ukuran genggaman telapak tangan (panitala), mereka kemudian berkata : "Bisakah harganya sama dengan seekor sapi jantan? Bisakah anda menukarnya dengan seekor sapi jantan? Kami pikir ini tidak mungkin lebih dari ini. Jika anda mau kami akan senang dan jika tidak, maka ini berakhir." Demikian juga, Bhadrapala, mereka yang mendengar Permata Samadhi ini dan tidak memiliki keyakinan padanya, akan menertawakannya."

"Dalam cara yang sama, Bhadrapala, di masa depan, para Bhiksu yang sangat memahami, yang telah melakukan tugas mereka di bawah para Jina masa lalu, dan telah menanam akar kebaikan, ketika mereka mendengar Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi ini, dalam rangka untuk menyebarkannya, mereka akan mempelajarinya, menguasainya, menyalinnya, menyebabkannya disalin, menyimpannya, membacanya, dan menjelaskannya secara penuh kepada orang lain, mereka akan memiliki keyakinan, sangat memahami, cenderung bersemangat, murni dalam tingkah-laku (iryapatha), diberkahi dengan kerendahan hati (hri) dan pertobatan (kaukrtya), mereka akan menginginkan pelatihan (siksa), menjadi sangat condong kepada yang mendalam (gambhiradhimukti), akan memiliki kebijaksanaan, menjadi sangat terpelajar (bahusruta), tinggal di dalam cinta kasih dan memperoleh kasih sayang; karena mereka telah mendengar Samadhi ini, di mana pun mereka pergi, mereka akan mengajarkannya dan menunjukkannya. Mereka akan menghasilkan pikiran: 'Semoga Samadhi dari Bodhisattva ini, yang diucapkan oleh sang Buddha, dengan segala cara bertahan untuk waktu yang lama. Semoga itu menyebar! "'

"Kemudian juga, Bhadrapala, akan ada para makhluk lain tertentu yang memiliki sangat sedikit jasa kebajikan (punya), yang belum menanam akar kebaikan, yang belum melakukan tugas mereka di bawah para Jina masa lalu, tersiksa (pidita) oleh kebanggaan, tersiksa oleh rasa iri, tersiksa oleh pendapatan, kehormatan, dan pujian, yang tidak murni dalam sila, yang belum memperoleh Samadhi, yang belum memperoleh kebijaksanaan, yang sangat sedikit belajar (alpa-sruta), tidak bergaul dengan guru (acarya), memiliki pandangan perwujudan diri (pudgala-drsti), melekat pada perwujudan diri, tinggal berdiam di dalam perwujudan diri, dan melekat pada penangkapan landasan (upalambha) di dalam dharma, dan takut pada penjelasan tentang kekosongan (shunyata); dan ketika mereka mendengar Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi ini, mereka tidak akan mengerti, tidak memiliki keyakinan di dalamnya, tidak percaya, atau tidak condong kepadanya, dan di puncaknya, ketika mereka mendengarnya, mereka akan menertawakannya, mencemoohnya dan mencacinya. Pergi ke tempat rahasia mereka akan memakinya dan menolaknya di antara diri mereka sendiri dengan mengatakan : "Para Bhiksu ini sombong (pragalbha), para Bhiksu ini cerewet (mukhara). Ini tentu adalah sebuah keheranan besar yang mereka pastinya memberikan nama kepada 'Sutra' yang tidak diucapkan oleh sang Buddha, bahwa yang mereka buat sendiri dan merupakan puisi karangan, bahwa yang merupakan campuran kata-kata dan huruf (padaksara-nanatva) dan yang diucapkan di dalam percakapan belaka.'"

"Dan mengatakan: "Sutra ini tidak diucapkan oleh Buddha." Mereka akan membuat orang lain percaya begitu. Dengan cara itu, para orang bodoh itu, yang memiliki sangat sedikit jasa kebajikan, yang tidak menanam akar kebaikan, yang tidak melakukan tugas mereka di bawah para Jina masa lalu, telah menolak Permata Dharma yang tiada tanding (anuttara-dharma-ratna), dan menghindar (bahirbhuta) dari Permata Dharma, mereka akan mengolah (nigev), mengembangkan, dan meningkatkan (bahulikr) pengurangan jasa kebajikan (alpa-punyata). "

"Di hadapan perkumpulan majelis ini dengan para devanya, manusianya dan asuranya, Bhadrapala, Saya mengumumkan kepada Anda, Saya memberitahu Anda : 'Jika ada kulaputra atau kuladuhitrā yang mengambil satu Buddhaksetra dan menghaluskannya menjadi butiran terkecil dari debu, lalu mengambil satu butiran terkecil dari debu itu dan kembali lagi menghaluskannya menjadi butiran debu yang sama banyaknya dengan butiran debu di satu Buddhaksetra, akankah, Bhadrapala, itu menjadi butiran debu yang banyak?"

"Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata : "Sangat banyak, Bhagavān, sangat banyak, Sugata."

Sang Bhagavan berkata : "Saya mengucapkan persamaan kiasan ini untuk Kalian semua, jika ada kulaputra atau kuladuhitrā mengisi trisahasra-maha-sahasra-lokadhatu ini dengan tujuh jenis permata (sapta-ratna) sebanyak butiran debu itu dan mempersembahkannya kepada sang Tathagata Arhat Samyaksambuddha; dan jika ada kulaputra atau kuladuhitrā yang mendengar Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi ini, dan, setelah mendengarnya, memahaminya, memiliki keyakinan di dalamnya, dan percaya, dengan kuat meyakini "Ini adalah kebenaran, " dan juga mengumumkan : "Itu diucapkan oleh Buddha," maka pahala kebajikan dari kulaputra atau kuladuhitrā yang terakhir itu akan jauh melebihi lagi.'

Sang Bhagavan lanjut berkata : "Mereka yang menguasai Samadhi ini, yang menyalinnya, mempelajarinya, membacanya, menjaganya, dan memberitakannya kepada orang lain - jika pahala kebajikan untuk mereka adalah yang seperti itu, berapa lebih banyak lagi bagi mereka yang mengolah Samadhi ini dan menyempurnakannya?"

Kemudian pada saat itu, untuk memperjelas seluruh hal itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

'Dibandingkan dengan orang yang mengisi dengan permata
Di seluruh trisahasra
Dan mempersembahkannya kepada sang Lokanatha,
Demi memperoleh kebangkitan tertinggi (agrabodhi),

Jika orang, saat mendengar Sutra-Samadhi ini,
Yang dipuji oleh Buddha,
Sangat meyakininya,
Jasa kebajikannya akan sangat unggul (visista).

Jika dunia yang banyaknya seperti butiran debu di satu Buddhaksetra
Yang dihaluskan menjadi potongan dan diperkecil menjadi butiran debu,
Dan Buddhaksetra yang banyaknya melebihi jumlah itu
Diisi penuh dengan permata sebagai persembahan;

Dan jika ada orang yang mempelajarinya dan mengkhotbahkannya kepada orang lain
Arti dari empat baris dari sang Lokanatha ini,
Samadhi yang menjadi kebijaksanaan dari semua Buddha,
Pahala kebajikan dari mendengarnya akan melampaui perbandingan;

Belum lagi mereka yang menguraikan pada dirinya sendiri,
Mempelajarinya, membacanya, merenungkannya bahkan untuk sesaat,
Atau bahkan membuat kemajuan dalam mempraktekkannya:
Pahala kebajikan mereka akan melampaui ukuran.

Bahkan jika semua orang akan menjadi Buddha,
Murni dalam pengetahuan bijaksana, terunggul dalam kebijaksanaan,
Dan semua-Nya selama jutaan kalpa, dan lebih lagi,
Akan menjelaskan pahala kebajikan dari satu baitnya,

Dan akan memuji berkatnya sampai nirvana Mereka,
Menyanyikan pujiannya selama jutaan kalpa yang tidak terhitung jumlahnya,
Mereka tidak akan mampu menguras habis pahala kebajikan
Yang terhubung dengan satu bait dari Samadhi ini.

Jika wilayah dari semua Buddhaksetra
Dalam empat penjuru arah, empat pusat menengah, titik teratas dan titik terbawah,
Diisi dengan permata berharga sebagai dana,
Untuk membuat persembahan kepada Buddha Devatideva,

Dan jika ada orang yang mendengar Samadhi ini,
Berkat yang didapatkannya akan melebihi itu;
Bagi mereka yang membacanya dan menguraikannya dengan tenang dan hati-hati,
Pahala kebajikannya tidak bisa diungkapkan dengan persamaan apapun.

Kesombongan tidak pernah muncul dalam diri mereka,
Juga tidak pernah mengejar takdir jahat;
Mereka memahami Dharma yang mendalam, dan tidak terjebak dalam keraguan;
Demikian itu adalah hasil dari berlatih Samadhi ini.

Para pandita yang melihat dan menghormati Saya;
Dengan kebajikan besar dan semangat ketekunan, mereka tidak melekati apapun;
Mereka meningkatkan keyakinan dan pemahaman sebagai Bodhisattva;
Mereka berjuang untuk mempelajari Samadhi yang dipuji oleh Buddha.

Saya menyuruh dan mendorong Anda selalu:
Berusaha mengerjakan dengan penuh semangat, tanpa menganggur,
Bangkitkan dirimu dengan berani, berlatih dengan ketekunan,
Sehingga untuk mencapai Jalan Besar tidak akan jauh.

Mereka yang membaca dan menerima Samadhi ini
Telah bertatap muka melihat ratusan ribu Buddha.
Jika selama kengerian besar di akhir masa,
Dengan memiliki Samadhi ini, mereka tidak akan takut.

Bhiksu yang mempraktekkannya sehingga melihat Saya,
Dia selalu mengikuti Buddha dan tidak terpisah dari-Nya.
Bodhisattva yang mendengar dan mempraktikkan Samadhi ini,
Berkewajiban untuk melestarikannya dan memberitakannya kepada orang lain.

Jika para Bodhisattva memperoleh Samadhi ini,
Barulah Mereka disebut 'Dia yang dari kebijaksanaan yang meliputi semua';
Karena mereka telah mencapai Hrdaya yang dipuji oleh Buddha,
Mereka akan cepat menyempurnakan Jalan keBuddhaan dan kebijaksanaan yang seperti lautan.

Terus membaca dan mengajarkan Samadhi ini;
Mengikuti Buddha-Dharma, ajaran dari sang Lokanatha:
Mendengar garis keturunannya, mencapai Abhisambuddha,
Tepat sesuai dengan apa yang sang Buddha telah ajarkan.

Yang curang, penipu, dan tidak jujur,
Angkuh (uddhata), dengan indera yang tidak terhimpun,
Jatuh ke dalam cengkeraman teman yang jahat,
Yang berpikiran jahat tidak memiliki keyakinan.

Tidak bermoral (duhsila), sifat yang jahat (papa-dharmin),
Kukuh menetap dalam kebanggaan, mengatakan "Aku",
Ketika mereka telah berkumpul bersama-sama
Mereka menertawakan ajaran Jina ini.

Orang-orang tidak terkendali (asamvrta) itu,
Juga mengatakan kata-kata seperti :
"Sutra itu tidak diucapkan
Oleh sang Raja Dharma, Sang Buddha. "

Siapa pun, saat mendengar Samadhi-Sutra ini,
Tidak memahaminya
Adalah yang buruk (visama), yang kehilangan (vinasta), dan yang bodoh,
Berpandangan jahat (kudrsti), dan menangkap landasan.

Mereka yang memiliki sedikit kebajikan, terdirikan dalam ketakutan
Tidak akan mampu untuk memiliki keyakinan
Dalam Sutra seperti ini,
Yang telah diucapkan oleh sang Buddha.

Siapapun yang mendengar Sutra seperti ini
Dan bersukacita di dalamnya,
Janganlah ragu
Bahwa ia akan menjadi Lelaki Teragung (Narottama).

Siapapun yang murni di dalam sila,
Sungguh benar dalam pandangannya (drsti),
Dan menghormati Dharma ini,
Kepadanya Saya membabarkan Dharma ini.

Mereka yang telah melihat sang Pahlawan Besar (mahavira),
Sang Lokanatha, sang Pembawa Cahaya (prabhakara)
Demi kepentingan mereka itu telah dijelaskan;
Semoga mereka juga mempelajari Dharma ini.


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Sun Apr 17, 2016 12:52 am, total 2 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Namo Amituofo Om Ami Dewa Hrih

Post by skipper on Sat Mar 12, 2016 10:14 pm




BAB 5
Penerimaan

"Mereka, Bhadrapala, yang bertemu (aragayanti) dengan Saya yang sekarang sedang menjelaskan Samadhi ini, tidak ada kemungkinan atau kesempatan (asthanam anavakaso) dari mereka untuk menolak atau mencaci Samadhi ini ketika mendengarnya di saat terakhir, di jaman terakhir, di masa lima ratus tahun terakhir (pascime kale pascime samaye pascimayam pancasatyam vartamanayam), kecuali mereka jatuh kedalam pengaruh teman-teman yang jahat (papa-mitra), atau dipisahkan dari teman yang baik (Kalyana-mitra). '

'Dalam hal ini, Bhadrapala, jika orang bodoh tertentu setelah mendengar Samadhi ini tidak memiliki keyakinan di dalamnya, tidak percaya, atau tidak dengan kuat condong kepadanya, bahkan setelah jatuh kedalam pengaruh teman yang baik, apalagi bagi orang-orang yang telah jatuh ke dalam pengaruh teman yang jahat? Mengapa demikian, Bhadrapala? Pembelajaran yang besar itu sangatlah sulit untuk disempurnakan. Penglihatan pada Buddha sangatlah sulit untuk didapatkan. Itu sangalah sulit, Bhadrapala, untuk menerapkan diri (adhimucyate) kepada Buddha-Dharma. Ini, Bhadrapala, Bodhisattva Samadhi yang bernama Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita, yang menghasilkan semua Buddha-Dharma, juga sangat sulit untuk disempurnakan. '

"Setiap Bodhisattva, Bhadrapala, apakah sebagai grhastha atau pravrajita, yang setelah mendengar Samadhi seperti ini menjadi tidak khawatir, tidak takut, dan tidak gentar (nottrasyati na samtrasyati na samtrasam apadyate), yang tidak menertawakannya, mencacinya, memakinya, atau menolaknya, tapi lebih lanjut, setelah mendengarnya menjadi bersukacita, memiliki keyakinan, percaya, dan bercita-cita untuknya, dan memiliki keinginan untuk mengajar, mempelajari, menguasai, menyimpan, membaca, menyalin, menjelaskan dan mengembangkan Samadhi ini. Semuanya, Bhadrapala, baik kulaputra maupun kuladuhitrā yang seperti ini adalah dilihat oleh Tathagata; Mereka dikenal oleh Tathagata."

"Bagaimanakah, Bhadrapala, para Orang bijak yang baik itu (satpurusa) yang dilihat oleh Tathagata, dan bagaimanakah Mereka dikenal oleh Tathagata? Satpurusa yang seperti itu, yang akan mempelajari, menguasai, menyimpan, membaca, menyalin, mengajar, dan mengembangkan Samadhi ini, Bhadrapala, mereka bukanlah yang tidak bermoral (duhsila), bukan yang tanpa keyakinan, bukan orang-orang yang tidak menginginkan Dharma, tidak mempertahankan pandangan salah (mithya-drsti), dan tidak melekat pada penangkapan landasan (Upalambha); Mereka, Bhadrapala, kulaputra maupun kuladuhitrā yang seperti ini, adalah yang memiliki keyakinan seperti itu. Itu adalah, Kulaputra maupun kuladuhitrā yang menerima Dharma ini, memiliki pemahaman yang besar, memiliki keyakinan (adhimukti) yang besar, mempercayai, menginginkan Dharma, dan sangat kuat condong kepada yang mendalam (gambhiradhimukta). kulaputra maupun kuladuhitrā yang seperti ini, Bhadrapala, adalah yang tidak kurang jasa kebajikannya (alpapunya), yang tidak kurang akar kebaikannya (alpa-kusalamula), juga, Bhadrapala, kulaputra maupun kuladuhitrā yang seperti ini telah melakukan tugas mereka di bawah para Jina masa lalu dan telah memurnikan akar kebaikan (uttaptakusalamula). '

"Kulaputra maupun kuladuhitrā yang seperti ini, Bhadrapala, adalah yang tidak hanya menyembah satu Buddha, juga tidak hanya menanam akar kebajikan di bawah satu, dua, atau tiga Buddha; Mereka, Bhadrapala, kulaputra maupun kuladuhitrā yang seperti ini, adalah yang telah menyembah ratusan Buddha. Kulaputra maupun kuladuhitrā yang seperti ini, adalah yang telah menanam akar kebajikan di bawah ratusan Buddha. Setelah mendengar Samadhi ini dari para Tathagata itu, kulaputra maupun kuladuhitrā yang seperti ini, telah bersukacita olehnya dan sangat cenderung ke arahnya. Di saat terakhir, di jaman terakhir, di masa lima ratus tahun terakhir juga, ketika Mereka mendengar Samadhi ini, tidak akan menolaknya, melainkan ketika mendengarnya, akan bersukacita padanya, bersorak memujinya (sadhukaram da), menyimpannya, membacanya, mengajarkannya, menjelaskannya, dan mengerahkan diri dalam usaha untuk mengembangkannya. "

"Jika ada kulaputra atau kuladuhitrā, Bhadrapala, yang setelah mendengar Bodhisattva Samadhi yang bernama Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita ini, tidak khawatir atau takut atau gentar, dan tidak menolaknya, melainkan setelah mendengarnya menjadi bersukacita, memiliki keyakinan, percaya, dan sangat condong kepadanya, bersorak memujinya, dan setelah mendengarnya, menerimanya, menguasainya, menyimpannya, membacanya, menyalinnya, menyebabkannya untuk disalin, mengajarkannya, dan mengerahkan diri dalam usaha untuk mengembangkannya bahkan jika hanya untuk satu hari dan malam, maka, Bhadrapala, kulaputra atau kuladuhitrā akan atas dasar itu menimbulkan manfaat kebajikan yang sangat besar. Mereka akan menimbulkan kumpulan kebajikan (punya-skandha) yang tidak terukur, yang tidak terhitung. Para kulaputra atau kuladuhitrā itu akan menjadi yang tidak bisa dimundurkan (avaivartika) dari Anuttara-Samyak-Sambodhi. Mereka juga akan mendapatkan kepuasan sesuai dengan tekad mereka (yathasayam).

'Namun, Bhadrapala, agar untuk membuat seluruh hal ini secara khusus terselesaikan, Saya akan mengajarkan Anda sebuah persamaan kiasan. Jika, Bhadrapala, misalnya, ada orang, yang setelah muncul, menghancurkan trisahasra-maha-sahasra-lokadhatu ini menjadi butiran terkecil dari debu (paramanuraja), dan menghancurkan menjadi butiran terkecil debu pada semua rumput, cabang, dan daun, bahkan yang sebesar empat inci panjangnya, dari trisahasra-maha-sahasra-lokadhatu ini; dan jika orang itu kemudian mengambil dari sana sebutir debu tunggal, dan membelahnya menjadi sebanyak bagian yang ada dari butiran debu seluruhnya, dalam cara membelah semua butiran debu ke dalam banyak bagian itu, maka, Bhadrapala, apa yang Anda pikirkan? Apakah butiran debu itu akan banyak? '

Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata : "Itu akan sangat banyak, Bhagavān, itu akan sangat banyak, Sugata."

Sang Bhagavan berkata : "Jika, Bhadrapala, ada beberapa kulaputra atau kuladuhitrā akan mengisi dengan tujuh jenis permata (sapta-ratna) pada Buddhaksetra yang sebanyak bagian dari butiran debu itu, dan memberikannya sebagai persembahan kepada para Tathagata Arhat Samyaksambuddha, apakah dia atas dasar itu menghasilkan banyak pahala kebajikan? '

Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata : "Sangat banyak, Bhagavān, sangat banyak, Sugata."

Sang Bhagavan berkata : "'Saya, Bhadrapala, mengumumkan kepada Anda, memberitahu Anda, Bhadrapala, dibandingkan dengan kulaputra atau kuladuhitrā yang mengisi Buddhaksetra yang banyak itu dengan tujuh jenis permata dan memberikannya sebagai persembahan kepada para Tathagata, jika, Bhadrapala, kulaputra atau kuladuhitrā, yang setelah mendengar Bodhisattva Samadhi yang bernama Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita ini, memahaminya, meyakininya, mempercayainya, dan sangat condong kepadanya, dan setelah memahaminya, meyakininya, mempercayainya, dan sangat condong kepadanya, kemudian menerimanya, menguasainya, menyimpannya, membacanya, menyalinnya, menjelaskannya secara penuh kepada orang lain, mengajarkannya, dan mengumumkannya - jika kumpulan jasa kebajikan ini adalah lebih besar dari akar kebajikan yang sebelumnya, yang dihasilkan untuk kulaputra atau kuladuhitrā ini, apalagi bagi orang yang terus mengerahkan dirinya dalam usaha untuk mengembangkan Samadhi ini bahkan jika hanya selama jangka waktu yang dibutuhkan untuk menyusui sapi (pergi-doha-matram)? '

'Saya, Bhadrapala, tidak bisa menjelaskan sejauh mana kumpulan kebajikan dari para kulaputra atau kuladuhitrā itu, yang setelah mendengar Samadhi ini, menerimanya, menguasainya, menyimpannya, membacanya, menyalinnya, menjelaskannya (gamayante), mengajarkannya dan mengumumkannya kepada orang lain secara penuh, apalagi dari para kulaputra atau kuladuhitrā, Bhadrapala, yang menyempurnakannya, yang berlatih (siksanti) di dalamnya sesuai dengan kenyataan apa adanya (tathatvaya), dan yang mempraktekkannya sesuai dengan kenyataan apa adanya (tathatvaya pratipadyante)?'

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

"Dia yang mengisi mahasahassra ini
Dengan permata dan memberikannya sebagai persembahan,
Saya akan menggambarkan buahnya yang kecil,
Dibandingkan dengan orang yang mendengar Dharma ini.

Bodhisattva yang menginginkan banyak pahala kebajikan
Yang menyimpan dan membaca Samadhi ini,
Dan, setelah mendengarnya, mengajarkannya tanpa kenal lelah
Menjadi yang memiliki kumpulan kebajikan yang tidak terbatas.

Dibandingkan dengan dia yang memecah dan membelah sistem dunia ini
Menjadi butiran kecil (paramanu), menguranginya menjadi debu,
Dan, mengisi sistem dunia yang sangat banyak
Dengan permata, memberikannya sebagai persembahan,

Dia yang menguasai empat baris syair (gatha)
Dari Samadhi ini, yang diberikan oleh sang Buddha
Dan yang dipuji oleh sang Sugata
Memiliki pahala kebajikan yang melampaui perbandingan;

Apalagi dia yang untuk sesaat,
Atau bahkan selama waktu yang dibutuhkan untuk menyusui sapi,
Menguasainya, atau mempertahankannya dan membacanya
Pahala kebajikannya adalah tidak terukur bahkan melampaui itu.

Jika semua makhluk menjadi Sugata
Murni dalam pengetahuan dan mahir dalam kebenaran tertinggi (paramartha),
Dan jika Mereka selama banyak koti kalpa yang besar
Atau lebih, akan memuliakan kebajikan dari menjelaskan satu syair?;

Jika Mereka akan mencapai Nirvana
Setelah mengajarkan banyak koti Dharma selama itu,
Kebajikan dari dia yang menyimpan syair dari Samadhi ini
Masih tidak akan mudah untuk diukur.

Dibandingkan dengan mengisi dengan permata
Di sistem dunia sebanyak yang ada di empat penjuru arah,
Yang dibawah, dan juga yang diatas,
Dan memberikannya sebagai persembahan kepada sang lokavid
Dari keinginan untuk pahala kebajikan,

Kebajikan dari dia yang mengembangkannya dengan baik
Dan mengajarkannya kepada orang lain Samadhi yang tenang dan murni ini
Sistem dunia, dalam bentangan luasnya,
Tidak mendekati sebagian kecil atau perbandingan dengan itu (kalam apyupamam nopaiti).

Dia yang mengembangkan Samadhi yang tenang ini
Tidak pernah tidak yakin atau tidak pasti;
Dia tidak pernah merasa takut pada bencana (vinipata),
Juga tidak timbul padanya keraguan pada Dharma itu.

Dengan mengembangkan Samadhi ini, yang diucapkan oleh Buddha,
Dia telah menyembah Saya juga;
Dia juga telah memperoleh kebajikan yang luas dan tidak terbayangkan (acintya);
Bodhisattva menjadi terunggul (visista) untuk pembelajarannya.

Dia yang setelah mendengar Samadhi ini mempertahankannya
Di jaman terakhir, di masa kengerian besar,
Dia adalah yang telah menyembah Saya,
Para Buddha masa lalu, dan Mereka yang dari masa depan juga.

Saya mengumumkan kepada Anda, memberitahu Anda:
Terapkan kekuatan semangat dengan kewaspadaan (apramada).
Kerahkan diri sendiri secara kuat dengan pikiran yang bergembira.
Samadhi ini tidak akan sulit untuk didapatkan.

Jika Orang bertanya tentang Samadhi ini,
Dia telah disukai (aragayati) oleh ratusan Jina,
Dia yang di jaman terakhir, di masa kengerian besar,
Setelah mendengar Samadhi ini, memiliki keyakinan di dalamnya.

Dia yang menjelaskannya kepada orang lain, dengan pikiran percaya,
Samadhi yang suci dan tenang ini,
Dia melihat Saya, para Bhiksu ini,
Dan Anda juga, Bhadrapala, sang grhastha.

Jika dia telah memperoleh Samadhi yang besar ini,
Sang Bodhisattva menjadi dikenal sebagai yang sangat terpelajar (bahusruta).
Dharani dipuji oleh semua Buddha bersama-sama;
Belajar (Sruti) juga menghasilkan kebangkitan dari semua Buddha.

Jika orang telah belajar dengan baik (su-abhyas-) pada Samadhi ini
Diberi kuasa oleh para Buddha dan dipuji oleh para Bijaksana,
Kemudian orang mendengar (pratisrnoti) silsilah pembelajaran (sruti-kula)
Sama seperti yang diberi kuasa dan dipuji oleh sang Sugata. '


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Sat Apr 16, 2016 10:36 pm, total 2 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Om Ah Hum

Post by skipper on Mon Mar 14, 2016 8:48 pm




BAB 6
Perenungan

"Lalu bagaimanakah, Bhadrapala, Bodhisattva Samadhi yang bernama Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita ini dikembangkan? Itu adalah sama seperti, Bhadrapala, misalnya, Saya saat ini sedang duduk dihadapan Anda dan sedang mengajarkan Dharma, dengan cara yang sama, Bhadrapala, Bodhisattva harus membayangkan dengan saksama (manasikara) pada sang Tathagata Arhat Samyaksambuddha seperti sedang duduk di atas tahta Buddha dan sedang mengajarkan Dharma. Dia harus membayangkan dalam pikiran dengan saksama pada para Tathagata sebagai yang terberkahi dengan semua aspek yang terbaik (sarvakaravaropeta), tampan, indah, tampak bagus, dan terberkahi dengan kesempurnaan tubuh (kaya-parinispatti). Dia harus melihat bahwa masing-masing tanda dari Makhluk besar (mahapurusa-laksana) milik para Tathagata Arhan Samyaksambuddha telah dihasilkan oleh ratusan pahala kebajikan. Dia juga harus merenungkan khusus pada ciri-ciri itu (nimitta). Tidak melihat pada bagian atas puncak kepala (anavalokita-murdhata) karena mahkota Buddha (buddha-mukuta) adalah yang tidak bisa dilihat oleh siapapun. Lalu Dia harus mengajukan pertanyaan. Setelah mengajukan pertanyaan, Dia juga harus merenungkan khusus pada ciri-ciri (nimitta) dari tanda dari Makhluk besar. Setelah mengkhususkannya, Dia harus berlatih dengan cara ini: 'Sungguh menakjubkan keindahan dari para Tathagata Arhan Samyaksambuddha. Saya juga di masa depan akan terberkahi dengan kesempurnaan tubuh yang seperti itu. Saya akan menyempurnakan tanda-tanda itu. Saya juga akan terberkahi dengan moralitas (sila) seperti itu. Saya akan terberkahi seperti itu dengan samadhi, seperti itu dengan kebijaksanaan, seperti itu dengan pembebasan, dan seperti itu dengan pemahaman dan penglihatan dari pembebasan. Saya juga akan dengan cara yang sama sepenuhnya terbangkitkan pada kebangkitan yang tiada tandingan, yang sempurna dan lengkap (anuttaram samyak-sambodhim abhisambhotsyate). dan dengan sepenuhnya tercerahkan, Saya akan membabarkan Dharma kepada empat jenis perkumpulan majelis dan dunia dengan para Devanya. ' "

"Setelah merenungkan dengan saksama pada Mereka sebagai yang terberkahi dengan semua aspek yang terbaik (sarvakaravaropeta), Dia juga harus berlatih dengan cara ini: 'Apa dharma yang disebut 'Aku' itu? Juga apa dharma yang disebut 'Milikku' itu? Juga apa kebangkitan (bodhi) itu? Dan siapa yang sepenuhnya terbangkitkan pada kebangkitan itu? Apakah orang menjadi sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi melalui tubuh, ataukah orang menjadi sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi melalui pikiran (citta)?"

"Jika dikatakan bahwa orang sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi melalui tubuh, maka, karena tubuh adalah yang tidak memiliki kesadaran (jada), tidak bergerak (acala), tidak aktif (niscesta), tanpa pikiran (acetana), dan mirip dengan rumput, pohon, batu, dinding, dan pantulan (pratibhasa), sedangkan 'kebangkitan (bodhi)' adalah yang tidak berbentuk (arupya), yang tidak bisa dilihat (anidarsana), yang tiada penampilan (anabhasa), dan yang tidak dapat diungkapkan (avijnaptika), lalu bagaimana bisa orang menjadi sepenuhnya terbangkitkan pada 'yang tidak berbentuk', 'yang tidak bisa dilihat', 'yang tiada penampilan', dan 'yang tidak dapat diungkapkan' dengan cara melalui tubuh yang tidak memiliki kesadaran, tidak bergerak, tidak aktif, dan tanpa pikiran? "

"Jika, bagaimanapun, dikatakan bahwa orang sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi melalui pikiran, maka, karena pikiran adalah yang tidak berbentuk, tidak bisa dilihat, tiada penampilan, tidak dapat diungkapkan, dan seperti ilusi (mayopama), sedangkan kebangkitan adalah yang tidak berbentuk, yang tidak bisa dilihat, yang tiada penampilan, dan yang tidak dapat diungkapkan, maka bagaimana bisa orang menjadi sepenuhnya terbangkitkan pada 'yang tidak berbentuk', 'yang tidak bisa dilihat', 'yang tiada penampilan', dan 'yang tidak dapat diungkapkan' dengan cara melalui pikiran yang tidak berbentuk, tidak bisa dilihat, tiada penampilan, tidak dapat diungkapkan, dan seperti ilusi? "

"Maka, Bhadrapala, Bodhisattva harus berlatih dengan cara ini: "Orang tidak sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi melalui tubuh. Orang tidak sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi melalui pikiran. Yang tanpa pikiran (acitta) tidak sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi melalui pikiran (citta). Yang tanpa bentuk (arupin) tidak sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi melalui bentuk (rupa). Pikiran tidak sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi melalui pikiran. Bentuk tidak sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi melalui bentuk. "

"Mengapa demikian, Bhadrapala? Tubuh sang Tathagata (tathagatakaya) telah menolak semua pencengkraman yang berlebihan (anta-graha), dan oleh karena itu, sang Tathagata lanjut mengamati tubuh sebagai tubuh (kaye kayanupasyi Carati); Dia lanjut mengamati pikiran sebagai pikiran (citte cittanupasyi Carati)."

"Bahkan, Bhadrapala, kebijaksanaan (prajna) 'yang menyebabkan mengetahui (prajnapayati) semua dharma', 'yang tidak berbentuk', 'yang tidak bisa dilihat', 'yang tiada penampilan', 'yang tidak dapat diungkapkan', dan 'yang terbebas dari arus keluar (anasrava)' adalah tidak sepenuhnya terbangkitkan; juga bukan tidak sepenuhnya terbangkitkan. Mengapa demikian? Yaitu, jika tubuh sang Tathagata terbebas dari arus keluar; jika pikiran Tathagata terbebas dari arus keluar; jika bentuk (rupa) dari Tathagata Arhan Samyaksambuddha juga terbebas dari arus keluar; dan jika perasaan, tanggapan penglihatan, pembentukan, dan kesadaran (vedana-samjna-samskara-vijnana) dari  Tathagata Arhan Samyaksambuddha juga terbebas dari arus keluar, maka berapa banyak lagi yang terbebas dari arus keluar yaitu moralitas (sila), samadhi, kebijaksanaan, pembebasan, atau pemahaman dan penglihatan dari pembebasan dari Tathagata Arhan Samyaksambuddha? Bhadrapala, semua dharma dari Tathagata Arhan Samyaksambuddha juga terbebas dari arus keluar. Saddharma apapun, yang sedang, atau yang akan dijelaskan oleh Tathagata Arhan Samyaksambuddha juga terbebas dari arus keluar; dan sementara ini tidak diketahui oleh para orang bodoh dan yang tidak bijaksana, itu dapat dipahami oleh para bijaksana. '

"Pada saat itu, Bhadrapala, Bodhisattva harus beratih dengan cara ini: "Apakah orang menjadi sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi melalui tubuh, atau apakah orang menjadi sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi melalui kebijaksanaan? Orang menjadi sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi tidak melalui tubuh, atau melalui kebijaksanaan." Mengapa demikian? Karena kebijaksanaan adalah yang terbebas dari arus keluar, dan bahkan jika mencarinya dalam setiap cara, tidak dapat mengetahuinya; Untuk alasan ini, itu menjadi tidak tertarik (upeksaka) dalam mencari kebangkitan. Mengapa demikian? Karena kebangkitan itu juga terbebas dari arus keluar, dan bahkan jika mencarinya dalam setiap cara, tidak dapat mengetahuinya. Bahkan jika ia mencari tubuhnya sendiri dan pikirannya sendiri, ia tidak bisa mengetahui mereka. Dengan cara yang sama, bahkan jika ia mencari semua 'dharma (gejala kejadian)', ia tidak bisa mengetahui mereka."

"Tidak bisa mengetahui siapa saja yang sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi, juga tidak bisa mengetahui bahwa melalui mana yang sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi, juga tidak bisa mengetahui atau melihat apapun yang sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi. Jika ia memahami semua dharma dengan cara itu maka ia tidak melihat mereka dengan benar. Meskipun ia tidak meninjau (samanupasyati) semua dharma sebagai yang oleh diri mereka sendiri hening-tenang (svabhavena santa), mereka tidak oleh diri mereka sendiri hening-tenang. Mengapa demikian? Karena apa yang tidak dihasilkan (ajata) adalah yang tidak hening-tenang (asanta). Ia memahami semua dharma yang tidak hening-tenang menjadi dharma yang hening-tenang. Ia memahami semua dharma yang hening-tenang menjadi yang tiada hening-tenang. Setelah memahami begitu, ia harus tidak memahami bahwa dharma adalah yang hening-tenang, maupun juga ia harus tidak memahami bahwa mereka adalah yang tidak hening-tenang. Mengapa demikian, Bhadrapala? Karena semua dharma adalah yang tidak dihasilkan (ajata) dan yang tidak nyata (aparinispanna). '

"Jika, Bhadrapala, misalnya, ada orang tertentu yang akan mengatakan tentang api yang belum menyala dan yang tidak sedang membakar : "Saya harus memadamkan (samayati) kebakaran ini," maka, Bhadrapala, bagaimana menurut Anda? Apakah orang itu berbicara dengan benar '(samyag-vadamano vadet)?

Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata : 'Dia tidak benar, Bhagavān. "

Sang Bhagavān berkata: "Jadi begitulah, Bhadrapala, karena semua dharma tidak dapat ditangkap. Jika orang mengatakan: '' Setelah menghentikan kebiasaan duniawi (sthapayitva loka-samvrtim), saya akan mengetahui semua dharma. Saya akan menolak semua dharma. Saya akan menyadari (saksatkr) semua dharma. Saya akan mengembangkan semua dharma. Saya akan membuat semua dharma hening-tenang (samayati). Saya akan mendapatkan semua dharma. Saya akan mendapatkan buah dari yang memasuki arus (srota-apatti-phala). Saya akan mendapatkan buah dari yang kembali sekali (sakrdagami-phala). Saya akan mendapatkan buah dari yang tidak kembali (anagami-phala). Saya akan mendapatkan yang layak (Arhat). Saya akan mendapatkan kebangkitan sendiri (pratyeka-bodhi). Saya akan mencapai Anuttara Samyaksambodhim Abhisambhuddha. Setelah mencapai Anuttara Samyaksambodhim Abhisambhuddha, saya akan mengajarkan Dharma. saya akan menyelamatkan para makhluk dari siklus perpindahan (samsara)," maka, apakah dia berbicara dengan benar (samyag-vadamano vadet)?"

Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata : 'Dia tidak benar, Bhagavān. "

Sang Bhagavān berkata: "Oleh karena itu, Bhadrapala, para kulaputra atau kuladuhitrā yang menginginkan Samyaksambodhi, dan para kulaputra atau kuladuhitrā yang menginginkan Pratyekabodhi dan yang menginginkan Arhantah harus memahami dharma itu dengan cara itu. Setelah memahami dharma itu dengan cara itu, Mereka harus tidak memahami bahwa dharma adalah yang hening-tenang, juga Mereka harus tidak memahami bahwa dharma adalah yang tidak hening-tenang. "

'Mengapa demikian, Bhadrapala? Yaitu, jika berkaitan dengan semua dharma yang adalah yang tiada apapun (akimcana), yang tidak dihasilkan (ajata) dan yang tidak nyata (aparinispanna) orang akan memahami: "Semua dharma adalah yang hening-tenang", ini akan menjadi satu yang sangat berlebihan. Jika orang akan memahami: "Semua dharma adalah yang tidak hening-tenang", ini akan menjadi yang sangat berlebihan lainnya. Ketika, Bhadrapala, orang tidak memahami, tidak mengerti, tidak mengarang (vithapayati), tidak merenungkan, dan tidak mempraktekkan (samudacarati) dua hal yang sangat berlebihan dari 'yang hening-tenang' dan 'yang tidak hening-tenang', ini dikenal sebagai jalan tengah (madhyama pratipad) dalam cara pertimbangan (ganana) yang sesuai dengan ajaran dari kebiasaan duniawi (loka-samvrti), namun sejauh kebenaran tertinggi (Paramartha) dihubungkan, tidak yang sangat berlebihan maupun juga tidak yang menengah dapat dipahami di sini.'

'Mengapa begitu, Bhadrapala? Yaitu, semua dharma adalah sama seperti ruang angkasa (akasa) dan sama dengan Nirvana; mereka tidak dapat dimusnahkan (anuccheda), tidak bisa binasa (akuthita), tidak abadi (anitya), bukan yang tidak bisa diubah (akutastha), tidak bisa ditemukan (adesastha), tidak bisa ditempatkan (apradesastha), tanpa ciri-ciri (animitta), dan tidak terhitung (asamkhyeya), dan karena bahkan orang bijak tidak bisa memahaminya atau mendekatinya dengan perhitungan (samkhya), semua dharma dikenal sebagai yang tidak terhitung (asamkhyeya). Ketika, Bhadrapala, Bodhisattva telah melihat para Tathagata Arhan Samyaksambuddha dengan cara itu, Dia seharusnya tidak melekat (abhinivisate) pada mereka. Mengapa demikian, Bhadrapala? Semua dharma adalah yang terbebas dari kemelekatan (anabhinivesa), dan, dengan tidak melekat kepada mereka, disebut sebagai yang akarnya terputus (ucchinna-mula), yang akarnya berakhir (vigata-mula), dan tidak tersokong. Bhadrapala, Bodhisattva harus mengembangkan Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samadhi ini dalam cara sedemikian rupa sehingga, jika Dia melihat para Bhagavān Buddha, Dia akan terbebas dari 'perebutan (paramarsa)', 'penangkapan landasan', dan 'kemelekatan yang salah'. Mengapa begitu, Bhadrapala? Karena sang Tathagata telah mengatakan bahwa semua dharma adalah yang tidak bisa digenggam (agrahya), yang sungguh hening-tenang, yang sama seperti ruang angkasa, dan sama dengan Nirvana."

'Misalnya, Bhadrapala, orang bijak tidak memegang bongkahan emas yang telah dipanaskan dan dibuat merah membara, seperti bola besi. Mengapa demikian, Bhadrapala? Yaitu, itu pada dasarnya adalah panas, Bhadrapala, dan meskipun itu adalah emas, yang terbaik dari zat yang berharga, namun, Bhadrapala, mereka tidak akan memegangnya, tepatnya karena sangat panas. Dalam cara yang sama, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva melihat para Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Dia harus tidak melekati-Nya (abhinivisate). Dia juga harus tidak melekat pada bentuk, perasaan, tanggapan penglihatan, pembentukan, atau kesadaran. Dia juga harus tidak melekat pada sila, samadhi, kebijaksanaan, pembebasan, atau pemahaman dan penglihatan dari pembebasan. Dia juga harus tidak melekat pada semua Buddha-dharma; dan Dia harus tidak melekat pada semua hal (sarvakara). Mengapa demikian, Bhadrapala? Yaitu, 'melekat (abhinivesa)' menimbulkan semua dharma dari penderitaan yang bercirikan siklus perpindahan (samsaratmaka-duhkhadharma). "

"Namun, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva melihat para Tathagata Arhan Samyaksambuddha, kemudian berpikir demikian: "Alangkah menakjubkan (Ascarya), para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang terberkahi dengan kualitas kebajikan yang ajaib (adbhuta-guna-dharma), yaitu, pengetahuan besar (mahajnana), pengetahuan yang terbangkitkan (buddhajnana), pengetahuan Tathagata (tathagatajnana), pengetahuan yang muncul dengan sendirinya (svayambhujnana), pengetahuan yang sebanding dengan yang tiada bandingannya (asama-samajnana), pengetahuan yang lebih baik dari seluruh Tiga Dunia '", Dia harus menginginkan dalam cara itu terhadap kualitas kebajikan yang sangat unggul (visista-guna-dharma). Bodhisattva Mahasattva harus tidak melekat pada pengetahuan yang diinginkan di sini. Juga, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva harus tidak melekat pada Samadhi ini. Mengapa demikian, Bhadrapala? Dharma ini menjadi nyata terwujudkan (amukhi-bhavati) kepada Orang-orang yang bebas dari kemelekatan (anabhinivesa)."

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

Wanita, setelah menghiasi dirinya, mengamati wajahnya
Dalam cermin yang mengkilap atau bejana minyak,
Dan setelah memikirkan gairah untuk itu
Bergegas kesekitar untuk mencari keinginannya.

Wanita itu, tertipu (viparyasta) dengan 'gejala kejadian (dharma)' yang tanpa keberadaan,
Secara mengerikan tersiksa dan menderita oleh nafsu keinginan;
Wanita itu, tertipu oleh tubuhnya sendiri,
Tidak mengetahui bahwa dharma ini adalah yang kosong (tuccha);

"Saya akan terbangkitkan pada Bodhi, merasakan nektarnya,
Dan menyelamatkan para makhluk yang tersiksa penderitaan.
Bodhisattva yang gagasan pikirannya berjalan begitu,
Itu disebut 'tanggapan penglihatan pada perwujudan diri (pudgala-samjna)', disebabkan oleh ketidaktahuannya (avidya).

Dari sudut pandang kebenaran tertinggi tidak ada makhluk yang dipahami
Yang lahir, mati, dan mencapai Nirvana;
Gejala kejadian adalah yang tidak bisa dipahami, sama seperti bulan di air;
Bahkan ketika dicari, Kebangkitan tidak dapat ditemukan.

Seperti pantulan gambar (pratibimba) dari bulan di ruang angkasa,
Seperti ilusi, kekosongan, seperti pembayangan udara (marici),
Gejala kejadian adalah yang tanpa keberadaan (abhava), dan kosong oleh sifat alaminya;
Berkenaan dengan mereka yang bodoh selalu memiliki gagasan pikiran bahwa itu ada.

Jika Dia yang mahir dalam 'Kebangkitan (bodhi)' mengetahui
Bahwa di dunia ini Orang yang terbebas dari kekotoran batin (klesa),
Dan mengetahui kebenaran tertinggi, bahwa dunia adalah kesalahan (bhranti),
Dia menjadi seorang Buddha, yang terunggul di dunia (loka-jyestha).

Kebangkitan dari Buddha disadari oleh pikiran (citta),
Dan pikiran oleh sifat alaminya adalah murni dan bercahaya (prabhasvara),
Tidak tercemar (anavila) dan tak ternoda (asamsrsta) oleh semua keberadaan (sarva-gati).
Dia yang mengetahuinya akan terbangkitkan pada kebangkitan tertinggi.

Semua dharma adalah yang terbebas dari arus keluar (anasrava) dan tidak berbentuk,
Yang terpisah (vivikta), kosong, dan terbebas dari gagasan yang membeda-bedakan (avikalpa)
Dia yang, tanpa nafsu keinginan dan terbebaskan di dalam pikiran,
Dengan mengetahui ini, memperoleh Samadhi ini.

Setelah membuat tubuh Jina sebagai dasar perhatian (arambanikrtya),
Mendengar Dharma yang murni dalam sifat alaminya,
Tanpa menimbulkan gagasan pikiran maupun tanpa membeda-bedakan (bhavanavibhavana) sama sekali,
Samadhi ini tidak akan sulit untuk diperoleh.

Jika Orang telah mendirikan dirinya di dalam tanggapan penglihatan ruang angkasa (akasasamjna),
Tanggapan penglihatan butiran terkecil (paramanu) akan lenyap.
Dia memperoleh Samadhi ini,
Mengetahui yang tiada gagasan pikiran (akalpa), yang tidak diciptakan (akrta), dan yang tidak bisa dihancurkan (avinasita).

Dengan mengetahui bahwa semua bentuk adalah yang tiada gagasan pikiran (akalpa),
Di mana pun Dia melihat, penglihatannya tidak terhalang (asanga).
Jika Dia merenungkan para Buddha sama seperti kekosongan,
Dia telah melampaui cita-cita dunia.

Dia yang memiliki penglihatan yang murni dan pendengaran yang murni,
Yang telah mengusahakan semangat, adalah penuh perhatian dan sepenuhnya sadar (samprajana),
Dan telah mengembangkan Samadhi ini dengan baik,
Menerima pembelajaran yang besar, yang tidak terbayangkan (acintya).

Dengan mempraktekkan Samadhi ini menjadi terbebas dari kemelekatan,
Menghilangkan kegelapan, mencapai pikiran yang terkonsentrasi.
Ini tidak terlihat dan tidak dipahami oleh mereka,
Para tirthika yang mengalami kegagalan.

Jika Dia telah melenyapkan tanggapan penglihatan dari ciri-ciri (nimitta-samjna),
Dia melihat para Buddha, dengan pikiran yang murni (visuddha-citta);
Setelah melihat Mereka, Dia tidak melihat Mereka lagi,
Hingga Dia mencapai Samadhi ini.

Tanah, air, api, tidak ada yang bisa menghalanginya,
Udara dan ruang angkasa tidak bisa merintanginya juga,
Tapi Dia akan melihat para Buddha,
Yang sedang duduk dan menjelaskan Saddharma.

Sama seperti orang-orang yang menginginkan Dharma
Melihat Saya sedang duduk dan menjelaskan Dharma sekarang,
Jadi padanya, tidak ada pemahaman lain yang akan timbul
Kecuali para Buddha dan juga Dharma tertinggi.

Bagi mereka yang diberkahi dengan kualitas itu,
Tiada penglihatan atau suara (sravana-darsana) lain yang akan ditangkap,
Kecuali untuk Samadhi yang tanpa noda ini, yang tersempurnakan dengan baik (susamapta),
Dan yang dijelaskan secara terperinci oleh banyak Buddha.

Tidak satupun para Buddha yang telah muncul di masa lalu,
Dan Mereka yang akan datang di masa depan,
Yang tidak menjelaskan dan yang tidak akan menjelaskan,
Samadhi yang tenang dan suci ini.

Saya juga, yang telah muncul di dunia pada saat ini,
Yang terbaik diantara lelaki (Narottama), demi kepentingan para makhluk,
Telah merenungkan para Buddha pembimbing (nayaka) ini,
Menjelaskan Samadhi yang tenang ini, yang sulit untuk dilihat.

Ketika Orang telah mendirikan dirinya di dalam Samadhi ini,
Dari keinginan untuk mencari kualitas Buddha,
Tanpa memperhatikan dirinya atau kehidupannya,
Kebangkitan Buddha menjadi tidak sulit untuk diperoleh.

Jika Dia melihat banyak Makhluk mulia, yang sifat alaminya tunggal,
Orang bijaksana ini ingin menasehati mereka;
'Cepat, cepat, semua bergegaslah,
Kembangkanlah Samadhi yang tanpa noda dan murni ini!'

Pada Dia yang telah menetapkan untuk menguntungkan para makhluk
Dan mencari pembelajaran yang besar hingga tingkat yang tidak terbayangkan,
'Cepat, cepat, semua bergegaslah,
Kembangkanlah Samadhi yang tanpa noda dan murni ini!'

Disini tidak ada nafsu keinginan dan tidak ada kebencian,
Disini tidak ada angan-angan khayalan dan tidak ada iri hati,
Disini tidak ada pengetahuan juga tidak ada kebodohan,
Oleh karena itu dikenal sebagai Samadhi yang hening-tenang.

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Om Nama Sri Vajra Maha Kalaya

Post by skipper on Fri Mar 18, 2016 9:21 pm



Namo Ratna Trayaya, Namah Arya Amitabhaya Tathagataya Arhate Samyaksambuddhaya! Tadyatha :
Om Amrta Amrto Bhave, Amrta Sambhave, Amrta Garbhe, Amrta Siddhe, Amrta Teje, Amrta Vikrante, Amrta Vikranta Gamini, Amrta Gagana Kirti Kare,
Amrta Dundubhi Svare, Sarvatha Sadhane. Sarva Karma Klesa Ksayam Kare Svaha !
(Terpujilah Tiga Permata, Terpujilah Yang Mulia Sang Cahaya Tanpa Batas, Yang Telah Datang, Yang Layak, Yang Murni Terbangkitkan Sempurna ! Yaitu :
Om Nektar, Yang Menghasilkan Nektar, Yang Melahirkan Nektar, Sang Rahim Nektar, Sang Keberhasilan Nektar, Sang Kecemerlangan Nektar, Sang Keperkasaan Nektar, Yang Mencapai Keperkasaan Nektar, Yang Melakukan Keajaiban Langit Nektar,
Sang Suara Genderang Nektar, Pencapaian Semua, Yang Melenyapkan Semua Karma Dan Penderitaan, Svaha!)

BAB 7
Pencapaian Samadhi

Setelah ini dikatakan, Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata kepada sang Bhagavān: "Bhagavān, alangkah menakjubkan Samadhi yang mendalam ini, yang telah diuraikan secara terperinci oleh sang Bhagavān! "Bhagavān, jika para Bodhisattva Mahasattva yang telah meninggalkan (abhiniskranta) kehidupan rumah tangga, ketika Mereka mendengar Samadhi ini, untuk menerima ajaran ini atau mengembangkannya, maka, Bhagavān, harus didirikan di dalam 'kualitas (dharma)' apakah para Bodhisattva itu, untuk menerima ajaran ini atau mengembangkan Samadhi ini?"

Setelah ini dikatakan, Bhagavān berkata kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva: "Bodhisattva itu, Bhadrapala, yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga dan yang ingin, setelah mendengar Samadhi ini, untuk menerima ajaran ini atau mengembangkannya, harus murni di dalam sila; Dia harus sempurna (acchidra) di dalam sila."

Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva mengatakan: "Bhagavān, dengan cara apakah Bodhisattva itu yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga, murni di dalam sila dan sempurna di dalam sila?"

Sang Bhagavān berkata: "Bhadrapala, seorang Bodhisattva yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga, setelah mendengar Samadhi ini, ingin menerima ajaran ini atau mengembangkannya, sang Bodhisattva harus terkendalikan oleh kekangan dari Pratimoksha (Pratimoksha-samvara-samvrta); Dia harus sempurna dalam tingkah laku dan wilayah tindakannya (acara-gocara-sampanna), harus melihat bahkan kesalahan terkecil sebagai yang berbahaya (anumatresv avadyesu bhayadarsin), dan menjadi murni di dalam 'iryapatha (sikap tubuh)'; Dengan mengambil itu pada dirinya (samadaya), Dia harus melatih dirinya di dalam aturan pelatihan (siksapada); Dia harus secara kuat condong kepada yang mendalam dan memiliki kesabaran (ksanti) menerima yang tidak bisa dipahami (anupalambha); ketika Dia mendengar dharma dari kekosongan, tanpa tanda, dan tanpa nafsu keinginan (sunyatanimittapranihita), Dia harus tidak khawatir, tidak takut, dan tidak gentar. Dengan cara itu, Bhadrapala, seorang Bodhisattva yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga, murni di dalam sila dan sempurna di dalam sila."

Bodhisattva Bhadrapala mengatakan: "Bhagavān, dalam cara apakah Bodhisattva yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga, menjadi tidak murni di dalam sila, cacat di dalam sila?"

Sang Bhagavān berkata: "Kapanpun, Bhadrapala, Bodhisattva yang telah keluar dari kehidupan rumah tangga memimpin kehidupan suci (brahmacaryam carati) yang didirikan di dalam 'bentuk (rupa)', memimpin kehidupan suci yang didirikan di dalam perasaan, tanggapan penglihatan, pembentukan, dan kesadaran, dan mengatakan: "Dengan kebajikan dari sila, pertapaan, dan kehidupan suci dari saya ini, semoga saya menjadi Deva atau Cakravarti!" Ini, Bhadrapala, adalah sila yang tidak murni, ini adalah sila yang cacat pada bagian dari Bodhisattva yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga. Artinya, Dia tidak murni di dalam sila karena terlekati (paramrsya) dengan tanggapan penglihatan keberadaan (bhavasamjna), Dia ingin menumbuhkan keinginan (kama), dan ingin mendapatkan kesempatan untuk kelahiran kembali (upapatti-sthana) di dalam keberadaan."

'Oleh karena itu, Bhadrapala, Bodhisattva yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga dan yang ingin, setelah mendengar Samadhi ini, menjelaskannya atau mengembangkannya harus murni di dalam sila; Dia harus menjadi yang sempurna di dalam sila; Dia harus tidak bernoda di dalam sila; Dia harus tidak rusak (anupahata) di dalam sila; Dia harus tidak tercemar di dalam sila. Dia harus menjadi orang yang silanya tidak dibantu, yang silanya terbebas dari kemelekatan (paramrsti), yang silanya terbebas dari penangkapan/pemahaman landasan (---'landasan' disini adalah objek indera, setelah melihat, maka memahami sesuai dengan tangkapan objek tersebut--), yang silanya tidak terbengkokkan (akuthita), yang silanya dipuji oleh para bijaksana, dan yang silanya dipuji oleh para Arhat. Dia harus bersukacita di dalam pemberian sumbangan (dana), yaitu, Dia harus mengusahakan semangat yang  berkaitan dengan permberian tertinggi (agradana), pemberian terunggul (uttamadana), pemberian Dharma. Dia harus tinggal berdiam di dalam kesadaran penuh. Dia harus memiliki keyakinan. Dia harus memiliki kelembutan (sauratya) dan kerendahan hati (hri), dan memiliki sifat malu (apatrapya-sampanna). Dia harus tidak melekat pada pendapatan, kehormatan, dan pujian (labha-satkara-sloka). Dia harus terbebas dari kekejaman (matsarya) dan kecemburuan (irsya), dan memiliki kualitas praktek pertapaan dan pengendalian diri (dhutaguna-samlekha). Dia harus tidak menginginkan percakapan duniawi (laukika-katha), namun, dengan menolak percakapan duniawi, harus menginginkan percakapan yang melampaui dunia (lokottara-katha). Dia harus berterimakasih (krta-jna) dan menghargai (krtavedin). Dia harus menjaga suaranya rendah dan ucapannya sedikit. Dia harus memiliki hormat dan penghormatan. Artinya, karena teman-teman yang baik adalah sulit diperoleh (durlabha), Dia harus berusaha kuat (utsahate) dalam melakukan penghormatan kepada Acarya dan Guru (acaryopadhyaya). Orang itu yang akan Dia dengarkan, yang menerima, dan yang menyalin dalam bentuk buku untuk Dharma seperti ini, dan yang akan Dia andalkan untuk penjelasan kata-kata itu, dan Orang itu yang darinya Dia menjadi menguasai atau akan menguasai, menyalin dalam bentuk buku atau akan menyalin dalam bentuk buku untuk Sutra seperti ini, kepadanyalah Dia harus menimbulkan tanggapan penglihatan seorang Ayah; Dia harus menimbulkan tanggapan penglihatan seorang Teman baik; dan Dia harus menimbulkan tanggapan penglihatan seorang Guru. Demi Dharma seperti ini dan untuk tujuan mendatangkan Kebangkitan hingga kematangan, Dia harus menimbulkan ke arahnya 'sukacita yang besar', 'keyakinan yang besar', dan 'rasa hormat yang besar'. "

"Jika, Bhadrapala, para kulaputra atau kuladuhitrā yang menganut Bodhisattvayana, atau yang menganut Sravakayana, atau yang menganut Pratyekabuddhayana, tidak menimbulkan sukacita, keyakinan, dan rasa hormat terhadap Bhiksu yang mengajarkan Dharma dari kualitas seperti ini, dan jika mereka tidak menimbulkan tanggapan penglihatan seorang Teman baik dan tidak menimbulkan tanggapan penglihatan seorang Guru, maka, Bhadrapala, tidak akan ada kemungkinan atau peluang bagi para kulaputra atau kuladuhitrā, yang menganut Bodhisattvayana atau yang menganut Sravakayana atau yang menganut Pratyekabuddhayana, menguasai kualitas seperti ini. Kualitas yang mereka belum kuasai, atau kualitas yang mereka telah kuasai akan tidak menetap, akan menghilang (vipranasyanti) dan lenyap. Juga tidak akan ada kemungkinan bagi kulaputra atau kuladuhitrā itu yang menganut Bodhisattvayana memperoleh Samadhi ini. Mengapa demikian, Bhadrapala? Yaitu, karena melalui ketidakhormatan, Saddharma menghilang."

"Jika, Bhadrapala, para kulaputra atau kuladuhitrā itu yang menganut Bodhisattvayana, atau yang menganut Sravakayana, atau yang menganut Pratyekabuddhayana, menimbulkan sukacita, keyakinan dan rasa hormat, dan juga membangkitkan tanggapan penglihatan seorang Teman baik dan membangkitkan tanggapan penglihatan seorang Guru terhadap para Bhiksu yang mengajar Dharma seperti ini dan terhadap Orang-orang yang darinya mereka menguasai, yang telah menguasai, dan telah menyalin dalam bentuk buku untuk Pintu Gerbang Dharma (dharma-paryaya) seperti ini, maka, Bhadrapala, kemungkinan akan ada, itu akan ada kemungkinan bagi para kulaputra atau kuladuhitrā itu yang menganut Bodhisattvayana, atau yang menganut Sravakayana, atau yang menganut Pratyekabuddhayana, menguasai kualitas yang mereka belum kuasai, dan kualitas yang mereka telah kuasai akan tetap, tidak akan menghilang, dan tidak lenyap."

"Oleh karena itu, Bhadrapala, Saya mengumumkan kepada Anda, Saya memberitahu Anda (arocayami vah prativedayami vah): Orang harus menimbulkan dalam cara ini, sukacita, keyakinan, dan rasa hormat terhadap para Bhiksu yang mengajar kualitas seperti ini, orang harus menimbulkan tanggapan penglihatan seorang Teman baik, dan menimbulkan tanggapan penglihatan seorang Guru -- Ini adalah peringatan dari Saya (anusasani)."

Selanjutnya, Bhadrapala, Bodhisattva itu yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga dan yang ingin menerima ajaran ini dan mengembangkan Samadhi ini harus terbebas dari tindak kejahatan (kaukrtya). Dia harus menikmati kehidupan di hutan (aranya), cenderung kepada kehidupan hutan (aranya-nimna), bertekad pada kehidupan hutan (aranya-prahvana), condong pada kehidupan hutan (aranya-pragbhara). Dia harus tidak berkenan pada daerah yang berpenduduk (janapada). Dengan tidak berharap untuk rumah dari teman atau rumah dari pemberi makanan, Dia harus tidak memperhatikan kehidupannya sendiri. Melalui melepaskan tubuh, Dia harus menjadi tidak melekat kepada tubuh dan mendapatkan tanggapan penglihatan kehidupan hutan (aranya-samjna). Dia harus tidak bertahan untuk pendapatan, kehormatan, atau pujian, dan harus berpegang teguh pada Saddharma. Dia harus tidak melekat, atau menabung mangkuk atau jubah (patra-civara). Dia harus melakukan pindapatra tanpa memerlukan undangan (upanimantrana). Dia harus memiliki rasa malu dan penuh pertobatan (vipratisarin). Dia harus tidak mengambil emas untuk dirinya sendiri. Melalui tanpa gangguan pikiran (paryutthana), Dia harus terbebas dari tindak kejahatan (kaukrtya). Melalui melenyapkan kemarahan, Dia harus tinggal di dalam keramahan. Melalui melenyapkan keinginan membunuh (himsa), Dia harus tinggal di dalam kasih sayang. Melalui melenyapkan ketidakgembiraan, Dia harus tinggal di dalam kegembiraan simpatik (muditā). Melalui melenyapkan semua ciri-ciri (nimitta), Dia harus tinggal di dalam kenetralan. Melalui menimbulkan semangat, Dia harus menginginkan latihan (siksa). Tidak dikalahkan oleh kemalasan atau kelesuan, Dia harus berjalan (cankrama). Oleh karena itu, Bhadrapala, Bodhisattva itu yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga dan yang ingin, setelah mendengar Samadhi ini, untuk menerima ajaran ini dan mengembangkannya, Dia harus menerima ajaran ini dan mengembangkan Samadhi ini dengan cara terdirikan di dalam kualitas-kualitas itu. "

Ketika hal ini dikatakan, Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata kepada sang Bhagavān: "Bhagavān, alangkah menakjubkan kualitas-kualitas ini yang begitu besar dan sangat unggul, yang diajarkan dan diucapkan oleh sang Tathagata."

"Bhagavān, para Bodhisattva yang malas itu akan khawatir atau takut atau gentar ketika Mereka mendengar Samadhi ini. Mereka tidak akan merasakan sukacita yang besar, kegembiraan, dan keyakinan berkaitan dengan Orang-orang yang menjelaskan secara terperinci kualitas-kualitas itu yang sangat unggul. Mereka akan berpikir: "Kami akan menyempurnakan Samadhi ini di bawah para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang lainnya. Sekarang ini kami lemah secara tubuh dan memiliki banyak kelemahan," dan ketika mereka mendengar Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samadhi ini, mereka akan menjadi patah semangat dan cemas, dan mereka tidak akan mengerahkan semangat untuk menyempurnakan Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samadhi ini."

"Bhagavān, para Bodhisattva Mahasattva yang muncul itu - yang akan mengerahkan semangat (arabdha-virya), menjadi terdirikan di dalam kesadaran penuh, mencari Dharma, menghormati Dharma, menerima Dharma, mengajarkan Dharma, memberitakan Dharma, mempelajari Dharma, mengejar kualitas itu bersamaan dengan Dharma (dharmanudharma-carin), meninggalkan orang dan kehidupan, tidak tergantung pada pendapatan, kehormatan atau pujian, tidak mencari kemasyhuran karena kualitas mereka, tidak melekat pada mangkuk dan jubah, tidak bersukacita di desa, kota, pasar kota, daerah berpenduduk, kota kerajaan dan pusat kerajaan, cenderung kepada kehidupan hutan, bertekad pada kehidupan hutan, dan condong pada kehidupan hutan, ketika mereka mendengar Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samadhi ini, mereka tidak akan menjadi patah semangat dan cemas, tidak khawatir, tidak takut, dan tidak gentar, Namu sebaliknya (uttari), mereka akan merasakan sukacita yang besar, kegembiraan, dan keyakinan. Dan mereka akan mengerahkan semangat agar untuk menerima, menguasai, menyimpan, membaca, menyalin, mengajar, dan mengembangkan Samadhi ini. '

"Bhagavān, para kulaputra atau kuladuhitrā ini tidak akan berpikir : "Kami akan mencari pembelajaran yang besar ini dari para Buddha masa depan dan lalu kemudian mengerahkan diri demi mencapai Mantra, dharma, atau kualitas yang sangat unggul (dharma-visesa)." Mengapa begitu? Bhagavān, di masa depan, para kulaputra atau kuladuhitrā ini yang akan muncul setelah melakukan tugas mereka di bawah para Jina  masa lalu dan mengerahkan semangat, mereka akan, setelah mendengar Samadhi seperti ini yang diucapkan oleh sang Tathagata, berpikir : "kami lebih suka di seluruh tempat ini tubuh, kulit, daging, darah, tulang, otot dan sumsum kami menjadi kering dan mengerut dari pada kami mati dengan kemalasan, atau bahwa kami harus menolak semangat tanpa telah menguasai, menjelaskan, dan mengembangkan kualitas yang besar dan sangat unggul seperti ini !"; dan jadi mereka akan mengerahkan semangat. Orang yang sangat baik (satpurusa) seperti itu, yang sungguh mengerahkan semangat, saat mendengar Sutra seperti ini diucapkan oleh sang Tathagata, akan, segera setelah mereka mendengarnya, merasakan sukacita yang sangat besar, kegembiraan, dan keyakinan."

Ketika hal ini dikatakan, sang Bhagavān berkata kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva: "Sangat baik, sangat baik, Bhadrapala !' Penjelasan Anda, Bhadrapala, tentang setiap kualitas (anudharma) itu adalah tanpa kesalahan (aviparyasa), persis seperti yang Anda katakan, benar, dan sangat baik. Saya juga turut bersukacita (anumodami) untuk itu, dan apa pun yang Saya bersukacitakan, pada saat itu juga, para Buddha Bhagavan dari masa lalu, masa depan, dan sekarang juga bersukacita."

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

"Jika orang berlatih di dalam semua pokok pelatihan (siksa) dari Pratimoksha
Yang telah dijelaskan oleh Saya, terus menetap dalam kehidupan hutan,
Dan selalu mengejar kualitas kebajikan dari aturan moralitas (dhuta-guna),
Samadhi ini tidaklah sulit untuk diperoleh.

Setelah menolak semua undangan,
Dan setelah melenyapkan semua keinginan untuk rasa,
Hasilkan tanggapan penglihatan seorang Guru terhadap Dia yang darinya itu terdengar,
Bangkitkan tanggapan penglihatan dari kesamaan dan kesetaraan.

Dia yang membaca dan mempraktekkan Samadhi ini
Harus bersemangat, dan tidak malas;
Tidak dendam dengan Sutra-Dharma,
Dia tidak mencari persembahan, namun memberikan Dharma.

Dia yang menerima Samadhi ini,
Maka Dia adalah putra dari Buddha ini;
Dia yang mempelajari dan mempraktikkannya begitu,
Akan memperoleh Samadhi itu dalam waktu singkat.

Terus-menerus mengerahkan ketekunan, jangan malas,
Hilangkan kelesuan, bebaskan pikiran;
Anda harus menghindari teman yang jahat,
Kemudian mengejar praktek dari Dharma ini.

Buanglah kesenangan, jangan beristirahat,
Selalu menghindari pertemuan orang banyak,
Bhiksu yang mencari Samadhi ini
Harus melakukan ini, mengikuti ajaran sang Buddha.

Setelah melenyapkan iri hati, nafsu keinginan, dan kebanggaan,
Dan setelah melenyapkan nafsu birahi, kebencian, dan angan-angan khayalan,
Dan setelah mengembangkan pikiran yang terhubung dengan meditasi (dhyanasamprayukta-citta),
Orang harus masuk ke dalam Samadhi ini.

Terbebas dari dengki, setelah melenyapkan nafsu,
Menjadi terkendali dengan baik, dan setelah melenyapkan kemarahan,
Dan setelah memurnikan objek perhatian (arambana), yaitu tubuh Jina,
Orang harus masuk ke dalam Samadhi ini.

Tanpa membuang semangat dan tidak sedang dikuasai oleh kelesuan,
Tanpa bergaul dengan kerabat dan teman-teman,
Berjalan (sacankrama), Menolak orang banyak dan kumpulan teman,
Dan mengembangkan Samadhi yang tanpa noda (viraja) ini.

Ketika hal ini dikatakan, Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata kepada sang Bhagavān: "Bhagavān, jika ada Bhiksuni yang telah berangkat kedalam Mahayana (Mahayana-samprasthita), yang berkeinginan, ketika dia mendengar Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samadhi ini, untuk menerima ajaran ini dan mengembangkannya, maka, Bhagavān, harus didirikan di dalam 'kualitas (dharma)' apakah, dia, untuk menerima ajaran ini dan mengembangkan Samadhi ini?"

Ketika hal ini dikatakan, sang Bhagavān berkata kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva: "Bhadrapala, setiap Bhiksuni yang telah berangkat kedalam Mahayana, yang berkeinginan, ketika dia mendengar Samadhi ini, untuk menerima ajaran ini dan mengembangkannya harus selalu penuh hormat. Dia harus selalu terbebas dari rasa iri, dan tidak marah. Dia harus menaklukkan kebanggaan, terbebas dari kesombongan, dan mengerahkan semangat. Dia harus terbebas dari kemalasan, dan melenyapkan ketidakcekatan dan kelesuan. Dia harus mengerahkan dirinya dalam usaha untuk tidak tidur, dan melenyapkan semua usaha yang mengejar pendapatan, kehormatan, pujian (labha-satkara-sloka), jubah, makanan persembahan, tempat tidur dan kursi, obat untuk menyembuhkan penyakit, dan perhiasan (civara-pindapata-sayanasanaglanapratyaya-bhaisajya-pariskara). Dia harus murni dalam kehidupannya, dan tidak melekat pada orang atau kehidupannya. Dia harus selalu menginginkan Dharma, dan mengerahkan dirinya dalam upaya untuk pembelajaran yang besar. Dia harus memiliki pikiran yang terbebas dari nafsu berahi, kebencian, dan kebodohan. Dia harus menolak para pengikut Mara (mara-paksa). Dia harus menyingkirkan diri dari memijat, perhiasan, dan menghias tubuh. Dia harus tidak melekat pada mangkuk atau jubah. Dia harus tidak berminat pada ketenaran, dia harus terbebas dari memfitnah (paisunya) dan melenyapkan sifat plin-plan yang selalu berubah-rubah. '

'Oleh karena itu, Bhadrapala, Bhiksuni yang telah berangkat kedalam Mahayana, yang berkeinginan, setelah mendengar Samadhi ini, untuk menerima ajaran ini dan mengembangkannya harus menerima ajaran di dalam Samadhi ini ketika membangkitkan tanggapan penglihatan Guru terhadap Gurunya (Acarya); Dia harus mengembangkan Samadhi ini ketika terdirikan pada kualitas-kualitas itu. "

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

'Jika Bhiksuni, melalui berkeinginan pada Samadhi ini,
Telah menunjukkan rasa hormat dan melenyapkan iri hati, kemarahan,
Kebanggaan, dan juga kesombongan,
Samadhi ini tidak akan sulit untuk diperoleh.

Jika dia telah datang untuk mencari Samadhi ini,
Ketika dia telah mengerahkan semangat, melenyapkan kemalasan,
Dan melenyapkan semua pengejaran,
Biarlah dia menginginkan Dharma tanpa kemelekatan bahkan untuk hidup.

Dia yang ingin mempelajari Samadhi ini
Harus tidak menetap dengan pikiran dari nafsu berahi dan kebencian,
Atau menderita oleh kekotoran batin (klesa);
Dan biarlah dia tidak pernah tertangkap dalam jerat Mara.

Dia yang ingin mempelajari Samadhi ini
Harus tidak mengerjakan dirinya dengan tipu daya (maya),
Dan harus menolak semua pijatan, perhiasan,
Fitnah, dan sifat plin-plan yang selalu berubah-rubah.

Menolak keramahan yang kecil, selalu sangat ramah,
Menghormati teman yang baik tanpa henti,
Dia harus menghindari semua kejahatan,
Dengan begitu Dia harus mencari Samadhi itu.

Dia tidak memiliki pikiran, bahkan untuk sekejap,
yang mengharapkan mangkuk dan yang mengharapkan pujian;
Dengan memiliki tanggapan penglihatan Guru terhadap Dia yang darinya itu terdengar,
biarlah dia membangkitkan tanggapan penglihatan dari kesamaan dan kesetaraan.

Ketika hal ini dikatakan, Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata kepada sang Bhagavān: "Bhagavān, jika Bodhisattva perumah tangga yang memakai pakaian putih dan yang menetap dalam kehidupan rumah, yang berkeinginan, setelah mendengar Samadhi ini, untuk menerima ajaran ini dan mengembangkannya bahkan untuk satu atau dua hari, maka, Bhagavān, harus didirikan di dalam 'kualitas (dharma)' apakah, dia, untuk menerima ajaran ini dan mengembangkan Samadhi ini?"

Sang Bhagavān berkata: "Oleh karena itu, Bhadrapala, jika Bodhisattva perumah tangga yang memakai pakaian putih dan yang menetap dalam kehidupan rumah, yang berkeinginan, setelah mendengar Samadhi ini, untuk menerima ajaran ini dan mengembangkannya bahkan untuk satu atau dua hari, atau bahkan selama jangka waktu yang dibutuhkan untuk menyusui sapi, maka Bodhisattva perumah tangga yang memakai pakaian putih dan yang menetap dalam kehidupan rumah itu harus memiliki keyakinan. Dia harus terbebas dari ketamakan, dan menjadi bebas dalam penolakan duniawinya (mukti-tyaga). Dia harus senang dalam menyalurkan pemberian, dan harus memberikan semua kekayaannya tanpa mengharapkan balasan (vipakapratikanksin). Dia harus berlindung pada Buddha. Dia harus berlindung pada Dharma. Dia harus berlindung pada Sangha. Dia harus murni dalam sila. Dia harus melakukan Lima Aturan Pelatihan (panca-siksapada : Tidak membunuh, Tidak mengambil yang tidak diberikan, Tidak melakukan kesenangan seksual, Tidak berkata salah, Tidak minum minuman keras yang memabukkan). Dia harus tidak memiliki perlindungan yang lain, dan tekadnya harus mengikuti Buddha. Dia harus sempurna dalam sila, dan ketika Dia telah mengambil dan memenuhi Jalan Sepuluh Perbuatan Baik (dasa-kusala-karmapatha), Dia harus mendorong orang lain untuk melakukannya juga; dan Dia harus tidak minum minuman keras. Dia harus tidak menggoda orang lain untuk itu. Dia harus menjelaskan kepada orang lain ketidaknyamanan dari minuman keras dan tidak memberikan minuman yang memabukkan kepada orang lain; Dia harus menganggap nafsu keinginan kepada orang lain sebagai hal yang rendah dan harus menjalani kehidupan suci (brahmacarya). Dia harus tanpa iri. Dia harus murni dalam kehidupannya."

"Dia harus tidak mendambakan putra. Dia harus tidak mendambakan putri. Biarlah dia tidak mendambakan istrinya. Dia harus tidak mendambakan kekayaan. Dia harus tidak mendambakan rumah tangga. Dia harus senang dalam meninggalkan keduniawian (pravrajya), dan membuat pikirannya cenderung untuk meninggalkan keduniawian. Dia harus berniat pada Samadhi ini melalui Delapan Bagian Pantangan (astangopavasa : 1.Tidak membunuh, 2.Tidak mengambil yang tidak diberikan seperti merampas atau mencuri, 3.Tidak melakukan hubungan seksual, 4.Tidak berkata salah seperti memakai atau berbohong, 5.Tidak makan atau minum yang memabukkan, 6.Tidak memakai wewangian atau perhiasan serta tidak menyanyi atau menari atau melihat hiburan pertunjukan dari menyanyi dan menari, 7.Tidak tidur atau duduk di tempat yang mewah, 8.Tidak makan setelah makan siang hingga pagi hari), dan Dia harus tinggal di dalam Vihara. Dia harus memiliki rasa malu dan kerendahan hati, membuat pikirannya condong pada kebangkitan, dan tidak menginginkan kendaraan lain (yana). Dia harus tidak memaki para Bhiksu yang terberkahi dengan sila. Dia harus memiliki rasa hormat dan menghormati mereka yang memimpin kehidupan suci. Terhadap guru (Acarya) yang darinya Dia telah menerima ajaran dalam samadhi ini, Dia harus memiliki pikiran bahwa Dia sangat sayang, Dia harus memiliki keyakinan dan rasa hormat; Dia juga harus membangkitkan tanggapan penglihatan Teman yang baik; Dia juga harus membangkitkan tanggapan penglihatan Guru. Dia harus memberinya dengan segala sesuatu yg diperlukan untuk kenyamanan (sukhopadhana). Dia harus terus berterimakasih, menghargai, dan penuh hormat - dengan cara itu, Bhadrapala, Bodhisattva perumah tangga yang menetap dalam kehidupan rumah harus menerapkan dirinya sendiri pada Samadhi ini; dan terdirikan dalam kualitas itu, Dia harus mengembangkan Samadhi ini."

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

Bodhisattva yang hidup dalam kehidupan rumah tangga
Yang, telah berkeinginan untuk mempelajari Samadhi ini,
Harus menjadi selalu murni di dalam sila,
Dan telah mendorong pikiran yang kuat untuk berangkat,

Ketika Dia telah melakukan Lima Aturan Pelatihan
Dan melakukan Delapan Uposatha (astanga-posadha = astangopavasa),
Tinggal di vihara dengan meninggalkan kehidupan rumah tangganya,
Dia harus memasuki Samadhi ini.

Dia harus tidak memberikan kepada orang minuman yang memabukkan,
Dan setelah menolak semua jenis minuman yang tidak dipuji oleh sang Buddha,
Dan mendirikan dirinya sendiri dalam pokok-pokok pelatihan ini,
Dia harus menerima ajaran dalam Samadhi ini.

Tidak menginginkan putra, tidak menginginkan putri,
Tidak menginginkan istri, atau menginginkan kehidupan rumah tangga,
Ketika Upasaka terberkahi dengan rasa malu,
Dia harus memasuki Samadhi ini.

Dia harus tanpa nafsu berahi (araga), Dan tidak berhubungan seksual,
Atau berbicara dengan siapa pun, menolak semua kumpulan orang banyak;
Setelah mendirikan dirinya dalam kesempurnaan dan kesabaran,
Dia harus memasuki Samadhi ini.

Jika Orang memasuki Samadhi yang suci ini,
Biarlah Dia selalu hormat kepada Buddha dan Dharma,
Dan biarlah Dia, dengan pikiran yang setia, teguh, dan terbebas dari iri hati,
Bersedia melakukan penghormatan kepada Sangha.

Ketika hal ini dikatakan, Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata kepada sang Bhagavān: "Bhagavān, jika Upasika yang telah berangkat kedalam Mahayana (Mahayana-samprasthita), yang berkeinginan, setelah mendengar Samadhi ini, untuk menerima ajaran ini dan mengembangkannya, maka, Bhagavān, harus didirikan di dalam 'kualitas (dharma)' apakah, dia, untuk menerima ajaran ini dan mengembangkan Samadhi ini?"

Ketika hal ini dikatakan, sang Bhagavān berkata kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva: "Oleh karena itu, Bhadrapala, Upasika yang telah berangkat kedalam Mahayana, yang berkeinginan, setelah mendengar Samadhi ini, untuk menerima ajaran ini dan mengembangkannya harus melakukan Lima Aturan Pelatihan. Upasika itu, Bhadrapala, harus berlindung kepada Triratna, dan tidak memiliki perlindungan yang lain. Upasika itu, Bhadrapala, harus menolak keajaiban dan tanda-tanda keberuntungan (kutuhalamangala), dan terbebas dari penipuan (maya). Upasika itu, Bhadrapala, harus tanpa kepura-puraan dalam kelakukan sikap tubuh (iryapatha : berdiri, berjalan, duduk, berbaring), dan bebas dari ketamakan. Upasika itu, Bhadrapala, harus bersukacita dalam menyalurkan pemberian, dan menginginkan Dharma. Upasika itu, Bhadrapala, yang harus diberikan jawaban untuk bertanya (pariprcchana-jatiya), dan menjadi penuh hormat dan khidmat. Jika Dia melihat para Bhiksu atau Bhiksuni, Dia harus menawarkan Mereka duduk. "

"Maka dari itu, Bhadrapala, jika Upasika yang telah berangkat kedalam Mahayana, yang berkeinginan, setelah mendengar Samadhi ini, untuk menerima ajaran ini dan mengembangkannya, maka Upasika itu harus menerima ajaran ini dan mengembangkan samadhi ini ketika sedang didirikan pada kualitas itu."

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

Upasika yang bercita-cita untuk Samadhi ini
Yang diajarkan (anujnata) oleh Buddha dan dipuji oleh Sugata,
Harus memasuki Samadhi ini,
Setelah melakukan Lima Aturan Pelatihan.

Dengan penuh hormat, dan tidak memiliki Tuhan yang lain
Yang terpisah dari Buddha, Dharma, dan juga Sangha,
Setelah menolak semua jalur yang salah,
Dia harus memasuki Samadhi ini.

Tidak membunuh makhluk hidup, tidak mengambil apa yang tidak diberikan,
Dan tidak mengucapkan kebohongan,
Tidak pernah melakukan perbuatan seksual,
Dia harus menerima ajaran dalam Samadhi ini.

Terbebas dari keserakahan, tidak mengharapkan balasan,
Setelah menyingkirkan kepura-puraan dalam iryapatha,
Melenyapkan rasa iri, bangga, dan kemarahan,
Dia harus menerima ajaran dalam Samadhi ini.

Jika Dia melihat para Bhiksu dan juga Bhiksuni,
Dia harus berdiri dengan hormat dan menawarkan Mereka duduk;
Menginginkan Dharma, dan bertanya: "Apa yang bermanfaat?",
Dia harus menerima ajaran dalam Samadhi ini.


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Thu Apr 21, 2016 12:04 am, total 6 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Om Mayura Kramte Svaha

Post by skipper on Mon Mar 21, 2016 9:49 pm




BAB 8
Ramalan

Ketika hal ini dikatakan, Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata kepada sang Bhagavān: "Bhagavān, alangkah menakjubkan bahwa demi para Bodhisattva yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga, demi para Bodhisattva yang bertekad besar, yang diberkahi dengan tekad tinggi (adhyasaya-sampanna), orang-orang yang telah mengerahkan semangat, mereka yang tidak berhenti mengerahkan semangat, dan mereka yang telah ditetapkan untuk kebangkitan yang tertinggi dan sempurna, sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha telah demikian menjelaskan kualitas-kualitas yang besar dan sangat baik yang didirikan di mana mereka harus menerima ajaran ini dan mengembangkan Samadhi ini. "

"Bhagavān, pada masa depan, di jaman setelah Parinirvana dari sang Tathagata, akankah Samadhi ini beredar (pracarati) dan menyebar di sini, di Jambudvipa ini?"

Sang Bhagavān berkata: "Bhadrapala, selama empat ribu tahun setelah Parinirvana Saya, Samadhi ini akan beredar dan tersebar di Jambudvipa. Setelah itu, ia akan masuk kedalam gua di dalam tanah. Selanjutnya, ketika lima ratus tahun terakhir, masa terakhir, jaman terakhir, lima abad terakhir akan muncul, ketika kehancuran Saddharma terjadi, kehancuran Sramana terjadi, penolakan Saddharma terjadi, kehancuran makhluk terjadi, keadaan yang dalam kekacauan, ketika waktu itu tiba saat kumpulan orang-orang yang berkebajikan berkurang, ketika waktu itu tiba saat kumpulan orang-orang yang tidak bermoral meningkat, ketika waktu itu tiba saat kumpulan Saddharma berkurang, ketika waktu itu tiba saat kualitas dari kelompok ketidakbenaran meningkat, ketika waktu kehancuran (ksaya-kala) tiba, beberapa Makhluk akan muncul, yang demi mendapatkan Sutra seperti ini, akan telah memurnikan akar kebajikan (uttapta-kusalamula), yang telah melakukan tugas Mereka di bawah para Jina masa lalu, menanam akar kebajikan, mematangkan akar kebajikan, dan menanam benih, dan demi kepentingan Makhluk seperti itu, yaitu, dengan kekuatan dari sang Buddha (buddhanubhavena), Samadhi ini akan beredar dan tersebar di Jambudvipa.

"Dan mereka, setelah mendengar Samadhi ini, akan merasakan sukacita yang besar, kegembiraan, dan keyakinan. Setelah mendengarnya, mereka akan menerima, menyimpan, membaca, menguasai, menyalin, menjelaskan, menyebarkan, dan mengerahkan diri mereka dalam usaha untuk mengembangkannya; Mereka bahkan akan menyalinnya dalam buku-bentuk dan menyimpannya."

Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva dan Ratnakara Bodhisattva Mahasattva sang pemuda Licchavi (licchavi-kumara), setelah mendengar dari sang Bhagavān bahwa dalam masa terakhir ketika kehancuran Saddharma ini terjadi, menangis dan meneteskan air mata melalui pengaruh dari Dharma (dharma-vega); Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva dan Ratnakara Bodhisattva Mahasattva sang pemuda Licchavi, menyeka air mata Mereka, dan setelah bangkit dari kursi dan mengatur pakaian bagian atas di satu bahu, dengan menempatkan lutut kanan ke tanah, mengulurkan telapak tangan beranjali kearah sang Bhagavān, dan berkata kepada sang Bhagavān:

"Bhagavān, bahkan ketika lima ratus tahun terakhir setelah Parinirvana sang Tathagata terjadi, di masa terakhir, di jaman terakhir, di lima abad terakhir yang terjadi, ketika Saddharma ditolak, Kami akan menerima, menguasai, menyalin, melestarikan, membaca, menyebarkan, dan mengerahkan diri kami sendiri dalam usaha untuk mengembangkan Sutra seperti ini. Mengapa demikian? Bhagavān, kami tidak pernah bosan mendengar, menyalin, menerima, menguasai, melestarikan, membaca, menjelaskan, menyebarkan, dan mengembangkan Sutra yang mendalam seperti ini, yang diucapkan oleh sang Tathagata."

Kemudian sang Bodhisattva Mahasattva, sang perumah tangga (grhapati) Mahasusarthavaha; sang Bodhisattva Mahasattva, sang anak pedagang (sresthiputra) Guhagupta; sang Bodhisattva Mahasattva, sang pelajar muda (manavaka) Naradatta ''; sang Bodhisattva Mahasattva Susima; sang Bodhisattva Mahasattva Indradatta; dan sang Bodhisattva Mahasattva Varunadeva, setelah mendengar dari sang Bhagavān bahwa dalam lima ratus tahun terakhir, di masa terakhir, di jaman terakhir, di lima abad terakhir ketika kehancuran Saddharma ini terjadi, menangis dan meneteskan air mata melalui pengaruh dari Dharma. Kemudian Mahasusarthavaha sang Bodhisattva Mahasattva perumah tangga; Guhagupta sang anak pedagang; Naradatta sang pelajar muda; Susima sang kulaputra; Indradatta; dan Varunadeva Bodhisattva Mahasattva menyeka air mata Mereka, dan setelah bangkit dari kursi  dan mengatur pakaian bagian atas di satu bahu, dengan menempatkan lutut kanan ke tanah, mengulurkan telapak tangan beranjali kearah sang Bhagavān, dan berkata kepada sang Bhagavān:

"Bhagavān, di masa depan, bahkan ketika lima ratus tahun terakhir setelah Parinirvana sang Tathagata terjadi, di masa terakhir, di jaman terakhir, di lima abad terakhir terjadi, dan ketika Saddharma ditolak, Kami juga akan menerima, menguasai, menyalin, melestarikan, membaca, menjelaskan secara luas kepada orang lain, dan mengembangkan Sutra seperti ini."

"Bhagavān, Kami akan mengabadikan, memperbesar, dan menyebarkan Kebangkitan tertinggi yang sempurna ini, yang telah dicapai oleh para Tathagata Arhan Samyaksambuddha selama lebih dari ratusan dari ribuan kotinayuta kalpa. Mengapa demikian, Bhagavān? Kami menerima dan mengumumkan Dharma yang belum pernah terdengar sebelumnya (asrutapurvadharma)."

"Bhagavān, Kami akan mengembangkan dan mengajarkan Dharma yang mendalam ini di mana seluruh dunia tidak akan percaya."

Kemudian dari perkumpulan majelis dari lima ratus Makhluk : para Bhiksu, Bhiksuni, Upasaka, dan Upasika - bangkit dari kursi Mereka, dan menjadi penuh hormat dan khidmat, ketika Mereka mendengar dari sang Bhagavān tentang masa saat kehancuran Saddharma ini dan saat Saddharma ini tidak akan diterima, ketika lima ratus tahun terakhir telah terjadi, di masa terakhir, di jaman terakhir, di saat lima abad terakhir telah terjadi, mereka menangis dan meneteskan air mata melalui pengaruh dari pematangan (viparinama) dari 'Saddharma (Dharma Sejati)'.

Kemudian lima ratus Makhluk itu menyeka air mata Mereka, dan mengatur pakaian bagian atas pada satu bahu dan dengan menempatkan lutut kanan ke tanah, mengulurkan telapak tangan beranjali kearah sang Bhagavān dan berkata kepada sang Bhagavān :

"Bhagavān, ketika lima ratus tahun terakhir setelah Parinirvana sang Tathagata terjadi, di masa terakhir, di jaman terakhir, di lima abad terakhir yang terjadi, Kami akan menerima, mengembangkan, dan memberitakan secara luas kepada orang lain Sutra seperti ini. Kami juga akan melayani secara khusus (vaiyavrtya) pada orang-orang yang baik ini. Pada saat itu Kami juga akan mendengarkan Sutra seperti ini, yang diucapkan oleh sang Tathagata. Juga Kami akan mempelajari Saddharma. Dengan Permata dari Saddharma ini, Kami juga akan melayani orang lain yang adalah bejana yang cocok (bhajana-bhuta) untuk menampung Saddharma. Bhagavān, Kami meminta Anda untuk mempercayakan Samadhi ini kepada orang-orang yang baik ini. Bhagavān, kami meminta Anda untuk memberitahukan Samadhi ini kepada orang-orang yang baik ini."

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān tersenyum dan memancarkan sinar cahaya berwarna emas yang mengisi seluruh sistem dunia yang tidak terbatas; Setelah naik sampai ke Brahmaloka yang bahkan melampaui cahaya matahari dan bulan; Saat kembali, sinar cahaya itu berputar melingkari sang Bhagavān tiga kali dari sisi kanan, dan menghilang ke dalam batas (siman) dari puncak mahkota (usnisa) sang Bhagavān.

Kemudian Ayusma Ananda, setelah bangkit dari tempat duduknya dan mengatur pakaian bagian atas pada satu bahu, dan dengan menempatkan lutut kanannya ke tanah, mengulurkan telapak tangan beranjali kearah sang Bhagavān, dan memuji sang Bhagavān dengan syair-gatha yang sesuai berikut ini:

Murni dalam sila, murni dalam wilayah perbuatan (gocara),
Besar dalam kekuatan ajaib bahkan di antara mereka yang berkekuatan besar,
Paling unggul atas semua makhluk,
Terang seperti matahari yang tanpa noda,

Dengan pengetahuan yang tidak terikat, dengan pikiran sepenuhnya terbebaskan,
Dengan suara burung Kalavinka, Devatideva,
Tidak gentar oleh semua guru penentang (parapravadin),
Apa alasan untuk senyuman ini?

Demi keuntungan (hitaya), demi belas kasihan (anukampaka), Penguasa berkaki dua (dvipadendra),
Saya memohon Anda untuk mengajar dengan kebenaran tertinggi bercahaya;
Jika orang mendengar suara Anda yang menyenangkan,
Orang memperoleh kegembiraan yang suci dan terbebas dari nafsu keinginan (niramisa).

Karena sang Jina, sang Pemandu, sang Makhluk Tertinggi
Tidak tersenyum tanpa alasan,
Demi belas kasihan kepada dunia, Saya meminta Anda, yang berbelas kasih:
Apa alasan untuk senyuman ini?

Lokanatha, karena Anda telah tersenyum,
Akan menjadi keuntungan besar siapakah hari ini?
Siapa yang akan didirikan secara kukuh di dalam pengetahuan Buddha?
Siapa yang hari ini akan mendapatkan pangkat raja tertinggi?

Siapa yang hari ini akan didirikan di dalam jasa kebajikan?
Siapa yang akan mempelajari harta dari Dharma ini?
Siapa yang hari ini akan mengenakan mahkota (mukuta),
Mengatur di atas kepala mereka sendiri dengan tangan mereka sendiri?

Kemudian sang Bhagavān menjawab Ananda dengan syair-gatha ini:

Ananda, lihatlah lima ratus sahabat yang berkumpul ini,
Berdiri di depan Saya dengan pikiran bergembira
Dan mengumumkan:
"Biarlah Kami memperoleh Dharma ini!"

Mereka juga menatap Saya,
Mengatakan: "Kapan Kami akan menjadi seperti ini?"
"Kami menerima kebangkitan yang tertinggi ini,"
Mereka mengumumkan, sambil berdiri di depan Saya.

Dalam rangka untuk mengumumkan Sutra ini
Di masa depan, di jaman terakhir, ketika hal seperti ini telah terjadi,
Kelima ratus ini telah berdiri ke depan
Dipimpin oleh delapan Orang bijak itu.

Saya mengumumkan kepada Anda, Saya memberitahu Anda:
Dalam pengetahuan Saya yang tiada kemelekatan (asanga);
Orang-orang ini tidak hanya telah maju berdiri,
Setelah membuat penghormatan (anjali) kepada satu Jina.

Saya ingat Mereka telah lama, ketika, dalam kelahiran sebelumnya,
Dengan penuh, delapan puluh ribu para Buddha muncul;
Di depan Mereka juga Orang-orang ini, yang dipimpin oleh Delapan itu, berdiri kedepan
Dalam rangka untuk mengumumkan kualitas ini.

Jauh lebih lama lagi, bahkan dari itu
Ada muncul delapan puluh ribu kotinayuta
Dari Mereka yang murni dalam sila, yang sangat terkenal,
Dan dari Mereka juga Orang-orang ini menerima Dharma yang luas ini.

Bercita-cita untuk mempelajari
Ajaran Saya yang besar (pravacana) juga,
Dengan pikiran yang bergembira dan sukacita yang tiada bandingan
Mereka mendorong banyak orang ke pikiran kebangkitan (bodhi-citta).

Pada masa terakhir, setelah Saya masuk Nirvana,
Dan semua relik (sarira) telah dibagikan,
Mereka, setelah mempelajari dengan baik kebangkitan Buddha ini,
Setelah menyalinnya dan menempatkannya dalam keranjang (pitaka),

Dan setelah meletakkan Sutra ini ke dalam Stupa,
Dalam bumi, dan batu, dan pegunungan,
Dan kedalam tangan para Deva dan juga para Naga,
Mereka akan melanjutkan kehidupan di alam para Deva.

Di waktu dan jaman terakhir, di keluarga yang berbeda
Memiliki turun lagi, menyerahkan segalanya,
Mereka, mempelajari dengan baik kebangkitan dari Buddha ini,
Akan bertindak sesuai dengan tekad mereka (yathasaya).

Melalui keinginan untuk Dharma ini, Mereka akan melanjutkan
Kesana-kemari (dese dese), dan memperoleh Sutra yang sangat unggul ini;
Setelah memperolehnya, dengan pikiran bersukacita
Mereka akan memberikannya kepada banyak orang tanpa kemelekatan.

Setelah meninggalkan orang dan juga kehidupan,
Mereka yang bijaksana, dengan keinginan yang tidak pernah puas pada Dharma,
Tidak akan setuju dengan para guru penentang,
Dan akan memberikan Dharma yang sangat baik (pranita) dan luas (vipula).

Diluar dari semua lima ratus ini,
Yang telah berdiri di hadapan Saya,
Tidak ada orang lain yang akan menerima,
Melestarikan, atau membaca Sutra ini.

Delapan Bodhisattva : Bhadrapala,
Ratnakara, Naradatta,
Mahasusarthavaha, Varunadeva,
Indradatta, Sushma, Guhagupta.

Demikian juga yang di utara (uttare)
Banyak yang menerima dan bersukacita dalam melestarikan Dharma,
Dan yang menginginkan Dharma, yang berbelas kasih dan peduli kepada dunia,
Akan muncul, agar untuk menerimanya.

Mereka yang akan muncul di sana, tidak melekat pada pujian dan keuntungan,
Dan melestarikan ajaran ini yang luas (vaipulya),
Akan meliputi semua ini,
Lima ratus Bhiksu, yang dipimpin oleh Delapan itu.

Para Bhiksu yang bijaksana dan tidak tamak ini,
Para Bhiksuni, upasaka, dan upasika,
Yang telah berdiri kedepan sebagai penegak Dharma di jaman terakhir,
Mereka semua akan menjadi Makhluk tertinggi, Jina.

Dengan memiliki semua kualitas yang tidak terbayangkan,
Berwarna emas, dan tanda-tanda dari seratus kebajikan (sata-punyalaksana),
Dengan prihatin dan belas kasihan, Mereka akan menyelamatkan banyak makhluk,
Memberikan kebahagiaan dan menghapus semua kekotoran batin (klesa).

Ketika mereka telah meninggal dari sini, akan setelah itu
Tidak pernah jatuh ke wilayah kejahatan (vinipata-bhumi);
Bertemu bersama-sama di semua kelahiran kembali Mereka,
Mereka akan berjumpa dengan sang Makhluk tertinggi (agrasattva).

Mereka telah menyingkirkan delapan kelahiran kembali yang tidak menguntungkan (aksana),
Mereka telah menyingkirkan semua keadaan sengsara (apaya),
Mereka telah memperoleh sangat banyak pahala kebajikan yang tidak terukur,
Itu adalah yang tidak dapat dijelaskan sejauh mana kualitasnya.

Sang Buddha yang mereka akan jumpai
Setelah bertemu bersama-sama di Buddhaksetra ini,
Mereka akan memuliakan-Nya, mencari jalan kedamaian tertinggi,
Dengan penuh perhatian dan belas kasihan.

Dengan bertindak dalam satu kesesuaian, setelah bertemu bersama-sama
Dan menyembah sang Penguasa berkaki dua,
Mereka akan terbebas dari nafsu keinginan (niramisa) dan memperoleh kesabaran (ksanti)
Demi kebangkitan tertinggi yang murni.

Mereka juga, sebagai penjunjung Dharma,
Setelah menjalani kehidupan suci ini (brahmacarya),
Dalam masa terakhir dan juga masa menengah
Akan berjumpa dengan Buddha usia tanpa batas (aparimitayus).

Namun banyak Dermawan Dunia (lokahitakara), Pemancar Cahaya
Yang muncul di Bhadrakalpa ini,
Ajaran dari para Pembimbing Dharma (dharma-netri) itu, mereka juga menjunjungnya,
Seperti para Pahlawan (vira) yang tinggal di dalam tiga masa waktu.

Ketika mereka telah melakukan pemujaan besar,
Kepada banyak koti para Buddha dari masa depan itu,
Yang tidak terbayangkan dan tidak terukur,
Mereka akan memperoleh (aragayati) kebangkitan dari Buddha.

Mereka akan mengalami kebangkitan yang penuh kedamaian;
Setelah tiba di situ, mereka akan disembah.
Ketika banyak nayuta kalpa telah berlalu,
Selama waktu itu benih akan menjadi matang.

Sang perumah tangga, Bhadrapala ini,
Serta Ratnakara, Naradatta,
Susarthavaha, dan Guhagupta
Akan melihat para Buddha yang banyaknya seperti pasir di Sungai Gangga.

Mereka akan menjunjung Saddharma-Nya
Dan menyebar luaskan ajaran dari banyak koti para Buddha,
Yang jumlahnya jika dijelaskan selama banyak koti kalpa
Masih belum mencapai akhir.

Para Mahasattva itu,
Yang bahkan di dalam mimpi,
Mendengar nama dan cara bijaksana (upaya) dari para Pahlawan itu
Akan menyebabkan menjadi Maha Jina.

Jika ada makhluk tertentu mendengar nama,
Baik saat terjaga atau di dalam mimpi,
Dan dapat mengucapkannya dengan auman Singa,
Mereka semua akan menjadi dihormati oleh para Deva dan Manusia.

Jika orang-orang yang, setelah melihat atau bahkan mendengar Mereka,
Menginginkan Mereka atau memiliki keyakinan di dalamnya
Akan pasti semuanya mencapai kebangkitan -
Berapa lebih banyak lagi untuk orang-orang yang menyembah Mereka?

Jika orang-orang yang marah dan memaki Mereka,
Dan memiliki niat jahat memukul Mereka,
Melalui kasih karunia dan kekuatan (anubhava) dari delapan Orang ini
Dibawa mencapai keBuddhaan, berapa lebih banyak lagi untuk orang-orang yang menghormati Mereka?

Mereka mempelajari Dharma yang tidak terbayangkan ini;
Nama-nama yang tidak terbayangkan dan juga masa hidup;
Cahaya yang tidak terbayangkan, kualitas yang tidak terbayangkan,
Kebijaksanaan dan pengetahuan yang juga tidak terbayangkan.

Mencari kebangkitan tertinggi
Mereka juga telah memberikan pemberian besar
Kepada para Buddha masa lalu, murni di dalam sila,
Yang telah muncul, seperti pasir di sungai Gangga yang tidak terbayangkan.

Bahkan dijelaskan oleh banyak koti Buddha,
Pahala kebajikan Mereka tidak akan dapat diukur;
Tidak ada keraguan bahwa anak-anak dan teman-teman seperti mereka,
Akan mencapai kebangkitan.

Ananda, bergembiralah pada Dia
Yang menerima atau mempertahankan atau membaca Sutra ini,
Tanpa meragukan,
Dalam kelima ratus orang ini, salah satunya adalah Dia.

Ananda, siapapun yang memperkuat semangat
Untuk tujuan mencari Sutra ini
Dan mengerahkan semangat setelah melenyapkan kemalasan,
Akan dengan mudah memperoleh Samadhi ini. '

'Menurut Pratimoksha yang dijelaskan oleh Saya dalam Vinaya,
Para Bhiksu yang sambil belajar tinggal didalam kesunyian hutan (aranya);
Jika mereka mampu tidak menolak kualitas praktek pertapaan itu,
Mereka pasti akan memperoleh Samadhi ini.

Mampu menolak semua undangan yang benar-benar khusus,
Menyingkirkan semua rasa selera yang baik,
Selalu membangkitkan pikiran Buddha terhadap Guru mereka
Siapa yang bisa mengatakan Mereka tidak akan mencapai Samadhi ini?

Pertama, memahami penderitaan dari nafsu berahi, kemarahan, dan angan-angan khayalan,
Menghindari kesombongan dan iri hati,
Dengan perasaan yang terbebas dari kemelekatan yang tidak murni, merenungkan pada yang tidak terbentuk oleh sebab dan kondisi (asamskrta),
Mereka membaca dan mengembangkan Samadhi yang sangat unggul.

Pikiran mereka murni, tinggal di dalam yang tiada kemelekatan;
Mengendalikan indera (indriya) dan menghentikan kebencian;
Dengan pikiran tunggal, Mereka merenungkan tubuh sang Tathagata;
Mereka membaca dan menerima Samadhi yang sesungguhnya.

Jika Bodhisattva hidup dalam rumah tangga,
Pikirannya selalu tegas ditetapkan untuk meninggalkan kehidupan rumah;
Menerima dan membacanya, mencapai dalam kata dan perbuatan,
Pikirannya selalu berpikir tentang mempelajari Samadhi ini.

Terus-menerus Dia harus mengolah ajaran lima sila,
Dan terus melakukan delapan uposatha;
Sungguh tinggal di dalam Vihara dan menolak rumah,
Dia membaca dan mengembangkan Samadhi ini.

Dia harus tidak melekat pada istri dan selir,
Juga tidak mengharapkan putra dan putri atau harta;
Upasaka harus berlatih rasa malu;
Dia harus mengingat dalam pikiran hanya Samadhi ini.

Dia harus tidak menimbulkan pikiran untuk menyakiti yang lain,
Hanya memikirkan melenyapkan semua nafsu kesenangan;
Tanpa tinggal di dalam kemelekatan, terdirikan pada kesabaran;
Dia harus mengembangkan Samadhi ini.

Dia harus tidak memiliki kemelekatan pada harta benda,
Bunga, wewangian, salep, bubuk, atau karangan bunga;
Tanpa tinggal di dalam kemelekatan, terdirikan pada kesabaran;
Dia harus menerima Samadhi ini.

Jika Bhiksuni mencari Sutra ini
Dia harus penuh hormat dan melenyapkan iri hati,
Nafsu berahi, kesombongan, dan kebanggaan,
Dan itu tidak akan sulit untuk mencapai Bodhi.

Dia harus mengerahkan semangat dan menghancurkan kelesuan,
Memotong putus semua pengejaran;
Pikirannya bersukacita dalam Dharma, murni di dalam kehidupannya,
Dia harus membaca Samadhi ini.

Pikirannya harus tidak disertai dengan nafsu keinginan;
Dia harus tidak menimbulkan kemarahan, tetapi terbebas dari penderitaan;
Dia harus tidak terjerat dengan ikatan Mara;
Dia harus menerima Samadhi ini.

Dia harus tidak melakukan apapun dengan penipuan;
Dia harus tidak menginginkan jubah halus atau kosmetik;
Dia harus tidak menjadi pembohong, dan harus menghindari orang lain;
Dia harus menerima Samadhi ini.

Tiada pemikiran untuk kesenangan sensual, laki-laki dan perempuan,
Sungguh tenang, terbebas dari semua pikiran yang salah;
Membangkitkan tanggapan penglihatan Buddha terhadap gurunya,
Dia harus menerima Samadhi ini.

Setelah menerima Sutra seperti ini,
Mereka menjadi orang-orang yang telah mendapatkan keuntungan yang sesungguhnya, melenyapkan nasib buruk,
Yang mutlak sempurna (amogha) di dalam ajaran sang Sugata ini,
Dan telah menyingkirkan semua kelahiran kembali yang tidak menguntungkan (aksana).


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Sun Apr 17, 2016 12:59 am, total 3 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Om Muni Muni Maha Muniye Svaha

Post by skipper on Wed Mar 23, 2016 8:46 pm

 


BAB 9
Perlindungan

Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva, Ratnakara Bodhisattva Mahasattva sang pemuda Licchavi, Guhagupta Bodhisattva Mahasattva sang anak pedagang, Naradatta Bodhisattva Mahasattva sang pelajar muda, Susima Bodhisattva Mahasattva sang kulaputra, Susarthavaha Bodhisattva Mahasattva sang kepala rumah tangga, Indradatta Bodhisattva Mahasattva, dan Varunadeva Bodhisattva Mahasattva, bersama-sama dengan lima ratus Bodhisattva itu, sangat bersukacita oleh kata-kata sang Bhagavān, menutupi tubuh sang Bhagavān dengan lima ratus jubah ganda dari kain katun (dusya-yuga); Mereka juga menebar permata kepada sang Bhagavān; dan bertanya kepada sang Bhagavān apakah mereka bisa melayani-Nya.

Kemudian, dengan cara dari pidato Dharma, sang Bhagavān menggembirakan (sampraharsayati), mendorong (samadapayati), membangkitkan semangat (samuttejati), dan menyenangi lima ratus Bodhisattva Mahasattva yang dipimpin oleh Bhadrapala. Dan mereka beranjali dan duduk di hadapan sang Bhagavān dengan pikiran yang bergembira, pikiran yang tanpa noda, pikiran yang lembut, pikiran yang diinginkan, pikiran yang penuh keyakinan, dan pikiran yang tidak terhalang (niravarana).

Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata kepada sang Bhagavān: "Bhagavān, berapa banyak dharma yang harus dimiliki Bodhisattva Mahasattva untuk mendapatkan Samadhi ini?"

Ketika hal ini dikatakan, sang Bhagavān berkata kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva: "Bhadrapala, seorang Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini jika Dia memiliki empat dharma. Apakah empat itu? Yaitu, tidak bergantung pada Mantra yang dari kaum tirthika; Tidak melekat pada kesenangan sensual (kama-guna); Tidak terkalahkan (Ajita) dalam kualitas pertapaan dan pengendalian diri (dhuta-guna-samlekha); dan merendahkan kesempatan kelahiran kembali (upapatti-sthana) dalam perpindahan keberadaan (bhava-gati). Jika Dia memiliki empat dharma ini, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva itu memperoleh Samadhi ini."

"Bhadrapala, jika ada Bodhisattva yang menyimpan, membaca, menyalin, mempertahankan, menguasai, atau menjelaskan secara luas kepada orang lain Samadhi ini, maka harus diketahui, Bhadrapala, bahwa ada lima ratus kualitas untuk Bodhisattva itu yang akan diperoleh dalam kehidupan ini (drstadharme). Apa lima ratus itu? Sama seperti, Bhadrapala, misalnya, tubuh dari penghuni cinta kebaikan (maitri-viharin) adalah yang tidak bisa terluka oleh racun, yang tidak bisa terluka oleh senjata, tidak bisa tenggelam, tidak bisa dibakar oleh api, dan raja-raja tidak bisa mencari kesempatan dari Dia (avatarapreksin) juga tidak dapat menangkapnya (na avataram labh), dengan cara yang sama, Bhadrapala, Bodhisattva yang mempertahankan Samadhi ini juga tidak bisa terluka oleh racun, tidak bisa terluka oleh senjata, tidak bisa tenggelam, tidak bisa dibakar oleh api, dan raja-raja tidak bisa mencari kesempatan dari Dia dan juga tidak dapat menangkapnya."

"Selanjutnya, Bhadrapala, jika, ketika kalpa kehancuran oleh kebakaran, Bodhisattva yang mempertahankan Samadhi ini jatuh ke tengah-tengah kumpulan api (agni-skandha), maka kumpulan api itu akan padam, sama seperti, misalnya, kendi besar berisi air yang memadamkan kumpulan api kecil."

"Juga, Bhadrapala, untuk Bodhisattva yang melindungi Samadhi ini, jika para raja, atau perampok, atau api, atau air, atau makhluk hidup, atau naga, atau vetala, atau yaksa, atau raksasa, atau singa, atau harimau, atau anjing, atau rubah, atau serigala, atau manusia, atau makhluk bukan manusia, atau preta, atau kumbhanda mengganggu Dia, tidak ada kemungkinan atau kesempatan, adalah tidak mungkin bagi mereka untuk mengganggu dirinya, atau hidupnya, atau mangkuk pindanya, atau jubahnya, atau kehidupan sucinya, atau khotbahnya, atau pembacaannya (svadhyaya), atau meditasinya (dhyana), atau perenungannya yang mendasar (yoniso-manasikara). Mengesampingkan pematangan tindakan masa lalunya (purva-karma-vipakam sthapayitva)."

"Juga, Bhadrapala, untuk Bodhisattva yang melindungi Samadhi ini, tidak ada kemungkinan atau kesempatan, adalah tidak mungkin bahwa Dia harus menderita penyakit mata, atau menderita penyakit telinga, atau menderita penyakit hidung, atau menderita penyakit lidah, atau menderita penyakit tubuh, atau menderita penyakit pikiran, atau bahwa kehidupan sang Bodhisattva itu harus berhenti oleh bentuk lain dari penyakit selain itu. Mengesampingkan pematangan tindakan masa lalunya."

"Selanjutnya, Bhadrapala, jika kulaputra atau kuladuhitrā itu telah memperoleh Sutra ini, telah mendengarnya, telah melihatnya, telah mengetahuinya, telah mencapainya, adalah tidak mungkin bahwa mereka akan tidak berjumpa dengan Buddha, atau memaki Saddharma, atau menghancurkan perkumpulan Bhiksu, atau menolak Bodhi dari Buddha. Maka harus diketahui, Bhadrapala, bahwa para kulaputra atau kuladuhitrā itu yang mempertahankan Sutra itu tidak dapat terrintangi. Mengesampingkan pematangan tindakan masa lalunya."

"Selanjutnya, Bhadrapala, para deva juga melindungi (raksam kr-) Bodhisattva yang mempertahankan Samadhi ini. Para Naga juga melindunginya. Para Dewa Caturmaharajika juga melindunginya. Para Sakra juga melindunginya. Brahma Sahampati juga melindunginya. Devaputra Susima juga melindunginya. Para Yaksa juga melindunginya. Para Gandharva juga melindunginya. Para Asura juga melindunginya. Para Garuda juga melindunginya. Para kinnara juga melindunginya. Para Mahoraga juga melindunginya. Para manusia juga melindunginya. Para makhluk bukan manusia juga melindunginya. Para Dewa berkekuatan besar lainnya juga melindunginya. Para Bodhisattva Mahasattva dan Bhagavān Buddha juga melindungi Bodhisattva yang mempertahankan Samadhi ini."

"Selanjutnya, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva itu menjadi yang disukai (priya) oleh para Deva, yang disukai oleh para Naga, yang disukai oleh para Yaksa, yang disukai oleh para Asura, yang disukai oleh para Garuda, yang disukai oleh para kinnara, yang disukai oleh para Mahoraga, yang disukai oleh para Sakra, yang disukai oleh para Brahma, yang disukai oleh para Caturmaharajika, yang disukai oleh para Bodhisattva, dan yang disukai oleh para Bhagavān Buddha."

"Selanjutnya, Bhadrapala, para Deva juga menyanyikan pujian (varnam bhasante) kepada Bodhisattva Mahasattva yang mempertahankan Samadhi ini. Para Naga juga menyanyikan pujiannya. Para Yaksa juga menyanyikan pujiannya. Para Gandharva juga menyanyikan pujiannya. Para Asura juga menyanyikan pujiannya. Para Garuda juga menyanyikan pujiannya. Para Kinnara juga menyanyikan pujiannya. Para Mahoraga juga menyanyikan pujiannya. Para Sakra juga menyanyikan pujiannya. Para Brahma juga menyanyikan pujiannya. Para juga Caturmaharajika juga menyanyikan pujiannya. Para Manusia juga menyanyikan pujiannya. Para makhluk bukan manusia juga menyanyikan pujiannya. Para Bodhisattva dan Bhagavān Buddha juga menyanyikan pujian kepada Bodhisattva Mahasattva yang mempertahankan Samadhi ini."

"Selanjutnya, Bhadrapala, para Deva juga ingin melihat Bodhisattva Mahasattva yang melindungi Samadhi ini. Para Naga juga ingin melihat Dia. Para Yaksa juga ingin melihat Dia. Para Gandharva juga ingin melihat Dia. Para Asura juga ingin melihat Dia. Para Garuda juga ingin melihat Dia. Para kinnara juga ingin melihat Dia. Para Mahoraga juga ingin melihat Dia. Para manusia juga ingin melihat Dia. Para makhluk bukan manusia juga ingin melihat Dia. Para Bodhisattva dan Bhagavān Buddha, juga, bahkan dalam mimpi, menunjukkan wajah Mereka kepada Bodhisattva yang melindungi Samadhi ini, dan Mereka menyatakan nama Mereka."

"Selanjutnya, Bhadrapala, para Bodhisattva juga ingin menatap Bodhisattva yang melindungi Samadhi ini. Para Bhagavān Buddha juga ingin menatap Dia. "

"Selanjutnya, Bhadrapala, para Deva juga pergi untuk menemui Bodhisattva yang mempertahankan Samadhi ini. Para Naga juga pergi menemuinya. Para Yaksa, Asura, Garuda, kinnara, Mahoraga, dan manusia juga pergi menemuinya. Sakra devendra, Brahma Sahampati, dan Devaputra Susima juga pergi menemuinya. "

"Selanjutnya, Bhadrapala, kepada Bodhisattva yang melindungi Samadhi ini, Sutra-Sutra yang belum pernah diajarkan dan yang belum pernah terdengar olehnya akan diucapkan dan pengucapannya terdengar bahkan di dalam mimpi."

"Jika, Bhadrapala, Saya bisa menyanyikan pujian dan mengumumkan kualitas selama satu kalpa atau lebih dari satu kalpa dari Bodhisattva yang mempertahankan Samadhi ini, yang mempelajari, menguasai, menyimpan, membaca, menyalin, atau menjelaskan Samadhi ini, maka berapa banyak lagi bagi Mereka yang mencapainya?"

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

Untuk menggambarkan kualitas
Dari Bodhisattva yang menjelaskan
Samadhi ini yang diucapkan oleh sang Sugata
Akan menjadi sama seperti mengambil sebutir dari seluruh pasir di sungai Gangga.

Dia yang menjelaskan Samadhi ini,
Api dan senjata tidak bisa membahayakan dia,
Perampok tidak bisa melukai dia,
Para raja menunjukkan kepadanya tiada ketidakbaikan.

Jika ular-ular berbisa, yang marah dan mengerikan,
Mengepung dia dengan maksud jahat,
Mereka menjadi tidak berbisa melalui kekuasaan
Dari dia yang memulai pada Samadhi ini.

Para manusia, naga, yaksa, dan raksasa,
Para musuh yang marah dan mengerikan,
Tidak pernah bisa menahan kekuatan
Dari dia yang memulai pada Samadhi ini.

Apapun binatang buas yang ganas dari hutan,
Serigala, anjing hutan, dan juga singa dan harimau,
Mereka juga menjadi sahabat dan pelayan
Dari dia yang tinggal berdiam di hutan.

Jika para yaksha dan pisaca, pencuri kekuatan vital yang mengerikan,
Mengepung dia dengan maksud jahat,
Mereka menjadi tertunduk dikarenakan oleh kekuasaan
Dari dia yang memulai pada Samadhi ini.

Dia yang menjelaskan Samadhi ini
Terbebas dari penyakit telinga atau penyakit dari tubuh;
Organ penglihatannya tidak pernah terganggu;
Kata-katanya jernih, dan dia berbicara dengan kefasihan yang menjiwai.

Pada dia yang memulai pada Samadhi ini
Tidak pernah ada neraka atau takdir jahat;
Penyakit tidak menimpa tubuhnya;
Baginya tidak pernah ada ketakutan pada kejatuhan.

Jika, setelah membacanya, dia mengajarkan kepada orang lain,
Para Deva, Naga, Kumbhanda,
Asura, dan Mahoraga melindunginya;
Bahkan mereka yang berniat jahat menjadi ramah kepadanya.

Jika, setelah membacanya, dia mengajarkan kepada orang lain,
Para Deva, manusia, Naga, dan Asura,
Yaksa dan kinnara menyanyikan pujiannya dengan sungguh-sungguh;
Para Buddha juga memujinya seolah-olah dia adalah anak tunggal.

Jika, setelah membacanya, dia mengajarkan kepada orang lain,
Keraguan pada Dharma tidak terjadi kepadanya;
Keraguan pada Kebangkitan tidak terjadi kepadanya;
Dan tidak ada yang muncul sebanding dengan keindahannya.

Pada dia yang membaca Samadhi ini
Bahaya dan kelaparan tidak akan datang,
Bahkan ketika para raja sedang kacau dan juga para makhluk dalam kekacauan,
Dan kelaparan dan kehancuran telah terjadi.

Dia yang membaca Samadhi ini,
Bahkan ketika Mara berdiri di atas para makhluk,
Dia tidak takut, juga tidak rambut di tubuhnya berdiri tegak;
kualitasnya adalah yang tidak terbayangkan.

Sebanyak siksaan, bencana, dan penderitaan,
Seperti yang telah dijelaskan oleh Saya,
Itu tidak bisa melukai dia,
Mengesampingkan pematangan tindakan masa lalunya.

Mereka yang mewariskan Sutra yang besar ini
Pada saat jaman terakhir dari kehancuran,
Akan ditempatkan kedepan sebagai anak-anak Saya,
Mereka dipuji, disanjung, dan dinyanyikan pujian.

Dengan kewaspadaan mengerahkan semangat.
Mempraktekkan Dharma dengan sesuai.
Mereka yang melestarikan, membaca, dan mengajarkannya,
Demi Anda adalah hal ini dijelaskan secara terperinci.


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Sun Apr 17, 2016 12:56 am, total 5 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

OM HRAM HRIM HUM PHAT

Post by skipper on Wed Mar 23, 2016 9:15 pm




BAB 10
Buddha Ksemaraja

Kemudian sang Bhagavān berkata kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva : "Saya ingat (abhijanati), Bhadrapala, bahwa di masa lalu, di jaman dan waktu yang tidak terhitung, yang luas, yang tidak terukur, yang tidak terbayangkan, dan kalpa yang tidak terbatas yang telah berlalu, ada muncul di dunia seorang Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang bernama 'Ksema Raja (Raja Perlindungan)', Yang Sempurna Pikiran Dan Perbuatan (vidyacaranasampannah), Yang Terbahagia (sugato), Yang Mengetahui Dunia (lokavid), Penjinak Nafsu Makhluk Yang Tiada Tandingan (anuttarah purusadamyasarathih), Guru Dewa and Manusia (sasta devanam ca manusyanam), Yang Tercerahkan (buddho), Sang Penguasa Tertinggi (bhagavan)."

"Pada saat itu, Bhadrapala, ada anak seorang pedagang (sresthi-putra) yang bernama 'Sudatta (yang terlindungi dengan baik)', yang didampingi (parivrta) dan diikuti (puraskrta) oleh dua puluh ribu orang, pergi ke tempat di mana sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha Ksemaraja sedang berada; dan setelah tiba, bersujud di kaki dari sang Bhagavān Tathagata Arhan Samyaksambuddha Ksemaraja dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, lalu dia duduk di satu sisi. Dan setelah duduk di satu sisi, Sudatta sang anak pedagang itu bertanya kepada sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha Ksemaraja tentang Samadhi ini."

"Kemudian, Bhadrapala, sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha Ksemaraja juga, setelah mengetahui tekad tinggi (adhyasaya) dari Sudatta sang anak pedagang itu, mengajarkan dan menjelaskan Samadhi ini secara lengkap (vistarena)."

"Kemudian, Bhadrapala, setelah mendengar Samadhi ini, Sudatta sang anak pedagang itu mempertahankannya. Setelah mempertahankannya, dia mengembangkannya. Setelah mengembangkannya, dia mencukur rambut dan jenggotnya, mengenakan jubah kuning kemerahan (kasayavasana), berangkat dari kehidupan rumah tangga ke kehidupan tanpa rumah, dan mengejar kehidupan suci di bawah bimbingan dari sang Bhagavān Tathagata Arhan Samyaksambuddha  Ksemaraja. 80.000 tahun dia terus mengembangkan Samadhi ini. Setelah mempertahankan semua yang dia dengar dari sang Bhagavān Tathagata Arhan Samyaksambuddha Ksemaraja, dan juga setelah mempertahankan semua yang dia dengar dari para Tathagata Arhan Samyaksambuddha masa lalu, dia menjadi memiliki pembelajaran yang besar, yang tidak terbayangkan (acintya-bahusrutya)."

"Pada waktu yang lama kemudian (aparena kalena), dia meninggalkan keberadaannya (jati-vyativrt-), tubuhnya binasa dan dia meninggal dunia, dan dia dilahirkan kembali ke perkumpulan (sabhagata) dewa dari surga Tiga puluh tiga (trayastrimsa-deva), dalam kebahagiaan dari dunia surga (sugati-svargaloka). Dan setelah dilahirkan kembali kedalam dunia itu, dia berjumpa dengan sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang bernama 'Vidyuddeva (Dewa Kecemerlangan)'. Dalam seluruh kalpa itu, dia dilahirkan kedalam rumah yang besar dari keluarga bangsawan (ksatriya-mahasalakula), dan setelah berangkat dari keluarga bangsawan yang besar, dia pergi di bawah bimbingan dari sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha Vidyuddeva, dan selama 80.000 tahun dia mengembangkan Samadhi ini dan menjalani kehidupan suci."

"Dia berjumpa dengan sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang bernama 'Rasmi Raja (Raja Sinar)'. Dalam seluruh kalpa itu, dia dilahirkan dalam rumah yang besar dari keluarga brahmana (brahmina-mahasalakula), dan setelah berangkat dari keluarga brahmana yang besar, dia pergi di bawah bimbingan dari sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha Rasmiraja, dan selama 84.000 tahun, dia mengembangkan Samadhi ini dan menjalani kehidupan suci. Dan delapan kalpa kemudian, Sudatta sang anak pedagang itu mencapai Anuttarā Samyaksambodhi Abhisambudha."

"Mungkin sekarang Anda, Bhadrapala, memiliki keraguan, ketidakpastian, atau kecurigaan bahwa anak pedagang yang bernama Sudatta, yang muncul pada masa itu, di jaman itu, adalah orang yang lain, maka sekarang harus tidak melihatnya begitu (syat khalu punas te Bhadrapalaivam kanksa va vimatir va vicikitsa vanyah sa tena kalena tena samayena Sudatto nama sresthiputro 'bhut na khalu punas tvayaivam drastavyam). Mengapa demikian? Karena sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha Dipamkara adalah, pada masa itu, sang anak pedagang yang bernama Sudatto itu (tat kasya hetoh? ayam eva sa Dipamkaras tathagato 'rhan samyaksambuddhas tena Kalena tena samayena Sudatto nama sresthiputro' bhut)."

"Lihatlah, Bhadrapala, bagaimana Sudatta sang anak pedagang berjuang untuk Dharma, menginginkan Dharma, dan bersemangat untuk Dharma, dan untuk alasan itu dengan cepat menjadi mencapai Anuttarā Samyaksambodhi Abhisambudha! Lihatlah, Bhadrapala, alangkah sangat bermanfaat Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi ini untuk para Bodhisattva Mahasattva dalam menimbulkan pengetahuan Buddha dan menjadi sama dengan lautan dalam pembelajaran Mereka!"

"Oleh karena itu, Bhadrapala, Anda harus mempelajari, menguasai, menyalin, melestarikan, dan membaca Samadhi ini. Setelah mempelajarinya dan menguasainya, Anda harus menjelaskan, mengajar, dan mengumumkannya secara penuh kepada orang lain, dan Anda harus mengerahkan diri dalam usaha untuk mengembangkannya. Mengapa demikian, Bhadrapala? Itu adalah demikian: Jika Orang mengolah, mengembangkan dan berlatih Samadhi ini lebih dan lebih (bhuyo bhuyas) lagi, Orang memperoleh pengetahuan Buddha, Orang memperoleh pengetahuan Tathagata, pengetahuan yang muncul dengan sendirinya (Svayambhu-jnana), pengetahuan dari kemahatahuan, pengetahuan yang tidak terbayangkan (acintya-jnana), pengetahuan yang sama dengan yang tiada bandingannya (asamasama-jnana), pengetahuan tertinggi, dan pengetahuan tanpa tandingan - Orang tidak mendapatkan dharma apapun yang terpisah dari itu."

"Selanjutnya, Bhadrapala, ketika orang-orang yang berbicara kebenaran (samyagvadamana) mengatakan: "Itu adalah mata dari Bodhisattva. Itu adalah Ibu dari Bodhisattva. Itu menghasilkan Buddha-dharma, itu adalah Samadhi ini, Bhadrapala, bahwa mereka sedang berbicara kebenaran."

"Selanjutnya, Bhadrapala, ketika orang-orang yang berbicara kebenaran mengatakan: "Itu adalah keturunan dari para Buddha (buddha-vamsa). Itu adalah keturunan dari Dharma. Itu adalah keturunan dari Sangha. Itu adalah tingkat dari Buddha (buddha-bhumi). Itu adalah keturunan dari pembelajaran. Itu adalah lautan pembelajaran. Itu adalah himpunan dari pembelajaran. Itu adalah dasar dari pembelajaran. Itu adalah himpunan dari kualitas. Itu adalah penghasil kesabaran (ksanti). Itu adalah penghasil cinta kebaikan (maitri). Itu adalah perolehan dari belas kasih (karuna). Itu adalah dharma yang menghasilkan kebangkitan (bodhi), itu adalah Samadhi ini, Bhadrapala, bahwa mereka sedang berbicara kebenaran."

"Selanjutnya, Bhadrapala, ketika orang-orang yang berbicara kebenaran mengatakan: "Itu adalah dharma yang menghalau kegelapan dari dunia dengan devanya, manusianya, dan asuranya. Itu adalah Dharma yang memancarkan cahaya yang besar," itu adalah Samadhi ini, Bhadrapala, bahwa mereka sedang berbicara kebenaran."

"Selanjutnya, Bhadrapala, ketika orang-orang yang berbicara kebenaran mengatakan: "Itu adalah dharma yang menghasilkan sepuluh kekuatan dari Tathagata, empat kepastian (vaiśāradya) dari Tathagata, empat pengetahuan khusus (pratisamvidā) dan delapan belas kualitas khusus pada Buddha (astadasa-avenika-buddha-dharma)," itu adalah Samadhi ini, Bhadrapala, bahwa mereka sedang berbicara kebenaran."

"Lihatlah, Bhadrapala, betapa besar Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi ini, yang memungkinkan para Bodhisattva Mahasattva, sambil duduk di sini, untuk melihat para Buddha dari sistem dunia lain, untuk mendengar Dharma, dan untuk melihat Sangha juga!"

"Oleh karena itu, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva yang ingin menyempurnakan Permata Samadhi (samadhi-ratna) ini harus memperkuat praktek dari empat kediaman penuh kesadaran (smrtyupasthana). Bagaimana seharusnya, Bhadrapala, seorang Bodhisattva Mahasattva memperkuat praktek dari empat kediaman penuh kesadaran? Dalam hal ini, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva harus mengamati tubuh di dalam tubuhnya sendiri, tetapi harus tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan tubuh (dhyatmakaye kayanudarsi viharati, na ca kayasahagatan vitarkan vitarkayati). Dia harus mengamati perasaan di dalam perasaan, tetapi harus tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan perasaan (vedanasu vedananudarsi viharati, na ca vedanasahagatan vitarkan vitarkayati). Dia harus mengamati pikiran (citta) di dalam pikiran, tetapi harus tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan pikiran. Dia harus mengamati dharma di dalam dharma, tetapi harus tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan dharma."

"Siapakah, Bhadrapala, yang bisa memiliki keyakinan di dalam Samadhi ini, selain dari para Tathagata Arhan Samyaksambuddha, para Bodhisattva Mahasattva yang avaivartika, dan para Sravaka yang adalah saksi langsung (kaya-saksin)? Mengapa begitu, Bhadrapala? Semua orang awam yang bodoh (bala-prthag-jana) berada dalam kekeliruan sehubungan dengan Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi ini. Mengapa demikian, Bhadrapala? Meskipun orang akan merenungkan dengan penuh perhatian pada seluruh dharma itu, dan akan melihat seluruh dharma itu, dan akan merenungkan dengan penuh perhatian pada Bhagavān Buddha dan akan melihat sang Tathagata, dan akan mendengar Dharma, orang harus tidak terpaku melekatinya."

"Mengapa demikian, Bhadrapala? Semua 'dharma (gejala kejadian)' ini adalah yang kosong oleh sifat alaminya (svabhavena sunya), yang murni (parisuddha) oleh sifat alaminya, dan yang hening-tenang dari awalnya (adyupasanta). Semua dharma ini, Bhadrapala, yang diperoleh (upalabdhi), adalah yang tanpa tanggapan penglihatan (anupalambha). Semua dharma ini terpisah (vivikta) melalui tindakan perenungan pikiran (manasikara). Semua dharma ini adalah yang tidak dapat dipahami (agrahya) karena oleh sifat alaminya mereka tidak dapat dipahami. Semua dharma ini adalah yang tidak melekat (alipta) karena mereka sama dengan ruang angkasa. Semua dharma ini murni sempurna (suvisuddha) karena mereka tanpa tanggapan penglihatan diri (atman) dan makhluk (sattva). Semua dharma ini adalah yang tanpa kekotoran batin (nihklesa) karena mereka telah muncul oleh perintah dari penyebab (hetu-vasat). Semua dharma ini adalah yang tidak terhitung (asamkhyeya) karena baik kehidupan (jivita) maupun juga perwujudan tubuh (pudgala) itu tidak bisa dipahami. Semua dharma ini sama dengan Nirvana karena melalui sifat alami mereka sendiri yang bercahaya. Semua dharma ini ada seperti kilatan petir (asanni-bhuta) Karena tidak ada keberadaan (bhava) yang dipahami."
                                                           
"Jika, Bhadrapala, ada kulaputra atau kuladuhitrā yang ingin mengembangkan Samadhi ini, dia harus memasuki pintu masuk dari ketiadaan tanda (animitta-mukha) dengan cara masuk melalui berbagai macam tanda, sehingga dalam cara ini bahwa dia melihat para Bhagavān Buddha dan mengembangkan faktor kebangkitan sempurna dari kesadaran penuh (smrti-sambodhyanga) terhubung dengan perenungan Buddha ke pikiran (buddhanusmrti), bahwa dia mendengar Dharma dan mengembangkan faktor kebangkitan sempurna dari menyelidiki Dharma (dharma-pravicaya-sambodhyanga) sehubungan dengan Dharma, tanpa penangkapan diri atau menjadi sombong dengan Dharma."
                                                     
"Mengapa begitu, Bhadrapala? Karena, dia yang memiliki tanggapan penglihatan keberadaan (bhava-samjna) tidak akan melihat Buddha. dia yang memiliki tanggapan penglihatan dharma (dharma-samjna) tidak akan melihat dharma. dia yang mengharapkan pematangan (vipaka-pratikanksin) tidak akan menjadi sempurna dalam pembebasan (tyaga). dia yang senang di dalam pengembangan meditasi (dhavana) demi mengharapkan imbalan tidak akan menjadi murni di dalam sila. dia yang kikir dengan Dharma tidak akan menjadi yang sangat terpelajar (bahusruta). dia yang melekat pada 'perwujudan diri (pudgala)' tidak akan mencapai Parinirvana. dia yang senang pada pembicaraan yang tidak berguna (pralapa) tidak akan melihat kebijaksanaan sejati (viveka). dia yang bersenang-senang dalam tinggal berdiam tidak akan mendapatkan buah. dia yang memiliki kemelekatan (anusaya) tidak akan melihat kesalahan. dia yang senang pada niat jahat (vyapada) tidak akan mencapai penerimaan kesabaran dan kelembutan (ksanti-sauratya). dia yang mempunyai kebencian dan permusuhan tidak akan berhasil mengumumkannya (anusamsa). Kulaputra atau kuladuhitrā yang mengikuti Sravakayana tidak akan mencapai Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samadhi ini yang dimana orang memperoleh kesabaran. Dalam Bodhisattva kedengkian (matsarya) tidak muncul. Dia yang menangkap landasan (upalambhika) tidak akan mengembangkan kekosongan. Dia yang malas tidak akan mendapatkan pencapaian yang sesungguhnya (abhisamaya). Mereka yang melekat pada nafsu keinginan tidak akan mencapai ketenangan yang sunyi (samatha). Mereka yang melekat tidak akan menyempurnakan pengembangan meditasi."

"Oleh karena itu, Bhadrapala, supaya Samadhi itu tidak akan menghilang, Saya mempercayakannya kepada dunia dengan para Devanya."

"Seperti saat sang Bhagavān menjelaskan pintu gerbang Dharma (dharmaparyaya) ini, delapan belas nayuta Devaputra dari alam nafsu keinginan (kamavacara) dan alam bentuk rupa (rupavacara) membangkitkan pikiran kebangkitan yang sempurna, murni dan tiada tandingan (anuttara-samyak-sambodhi-citta). Dan delapan ribu makhluk, terdiri dari Deva, Manusia, dan Asura, juga membangkitkan pikiran kebangkitan yang sempurna, murni dan tiada tandingan."

"Jika Mereka yang telah membangkitkan pikiran kebangkitan yang sempurna, murni dan tiada tandingan, setelah pikiran menjadi terbebaskan (vimukta-citta) di bawah bimbingan dari para Tathagata yang banyaknya seperti butiran pasir di sungai Gangga, akan semuanya mencapai Anuttara Samyaksambodhi Abhisambhuddha dengan nama Suvimukta dan dengan satu jangka kehidupan yang sama, maka, Bhadrapala, apalagi bagi Mereka yang menggembirakan Saya saat masih mengejar 'kegiatan Bodhisattva (bodhisattvacarya)' di masa lalu? Apalagi bagi Mereka yang berteman dengan Saya saat masih mengejar Bodhisattvacarya di masa lalu? Mereka akan secara cepat mencapai Anuttara Samyaksambodhi Abhisambhuddha."

"Pada saat ini, Bhadrapala, selama pengajaran Dharma ini, para makhluk yang tidak terhitung jumlahnya juga membangkitkan pengetahuan dan penglihatan (jnana-darsana); dan delapan ratus Bhiksu membuat pikiran mereka terbebas dari arus keluar, yang tanpa kemelekatan lebih lanjut (anupadaya asravebhyas cittani vimuktani)."

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

"Mereka yang telah mempertahankan Samadhi ini,
Kebijaksanaannya menjadi sepenuhnya tidak terukur;
Sila mereka tidak terukur, bersih, dan tanpa noda (vimala).
Sila menjadi murni, pikiran juga murni.

Mereka yang telah mempertahankan Samadhi ini,
Kebijaksanaannya tidak pernah berkurang;
Setelah mendengar Samadhi itu, mereka tidak pernah kekurangan;
Mereka menampilkan semua kualitas seperti bulan.

Mereka yang telah mempertahankan Samadhi ini
Akan memuji para Buddha yang tidak terbayangkan;
Mereka juga akan melihat Dharma yang tidak terbayangkan;
Para Deva yang tidak terbayangkan akan melindungi mereka.

Para Buddha masa lalu yang tidak terbayangkan telah muncul,
Menjelaskan Dharma yang tidak terbayangkan;
Dia yang telah mempertahankan Samadhi ini
Telah melihat Mereka, menyembah Mereka semua.

Dia yang telah mempertahankan Samadhi ini,
Telah memuja para Jina itu.
Yang, sebagai Penyelamat dari segala penderitaan,
Telah muncul, tinggal berdiam demi dunia.

Bodhisattva yang ingin melihat,
Banyak Buddha yang tidak terbayangkan dari masa depan,
Demi untuk menyembah Mereka dengan pikiran penuh keyakinan,
Biarlah Dia mempertahankan Samadhi yang paling unggul ini.

Mereka yang telah mempertahankan Samadhi ini,
Orang-orang itu memiliki pendapatan yang tidak terbayangkan;
Mereka disambut (svagata) di dunia manusia;
Mereka telah melaksanakan keberangkatan dengan baik, telah memakan makanan persembahan (pindapata) dengan baik.

Mereka yang menerima Samadhi yang paling unggul ini,
Di dalam jaman terakhir,
Akan memperoleh dengan sangat baik penguasaan yang unggul,
Juga akan menerima dharma yang tidak terbayangkan.

___________________________________________________________________________________________________________________________________________
Vaiśāradya : Adalah Keberanian pada empat kepastian dari Tathagata, kebangkitan (bodhi) adalah yang tidak dapat diubah, semua kekotoran batin (āśrava) telah dilenyapkan, semua rintangan telah diatasi, cara untuk mengatasi siklus kelahiran (samsāra) telah diumumkan.

Pratisamvidā (Mahāyāna-Sūtrālankāra) : Adalah pengetahuan menyelidiki tentang arti (artha), pengetahuan menyelidiki tentang ajaran (dharma), pengetahuan menyelidiki tentang asal mula kata (nirukti), pengetahuan menyelidiki tentang kecerdasan yang memahami secara jelas hal-hal dari tiga penyelidikan tadi (pratibhāna).

Astādaśa-āvenika-dharma : Adalah delapan belas kualitas yang hanya dimiliki oleh Buddha, (1-3) tindakan dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang tanpa noda. (4) sikap kesamaan terhadap semua. (5) berdiam di dalam ketenangan meditasi yang tetap. (6) kesetaraan terhadap tanggapan senang atau sakit. (7) Keinginan yang tidak pernah berhenti untuk menyelamatkan makhluk hidup. ( 8 ) Semangat yang tidak pernah habis untuk menyelamatkan makhluk hidup. (9) Ingatan yang tidak pernah padam pada Buddha-dharma. (10) Kebijaksanaan sempurna dalam segala sesuatu. (11) Pembebasan sepenuhnya dari penderitaan dan kebiasaan. (12) Pengetahuan dan penglihatan yang sempurna tentang pembebasan. (13-15) Seluruh perbuatan tubuh, perbuatan ucapan, perbuatan pikiran yang sempurna di pimpin oleh kebijaksanaan. (16-18) Pengetahuan yang sempurna tentang masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Sun Apr 17, 2016 1:00 am, total 2 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Om Ah Hum

Post by skipper on Wed Mar 30, 2016 9:46 pm




BAB 11
Undangan Kepada Sang Buddha


"Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva, setelah bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubah bagian atasnya di satu bahu, menempatkan lutut kanannya ke tanah, menggabungkan tangan-Nya bersama-sama beranjali kearah sang Bhagavān, dan berkata kepada sang Bhagavāta: "Akankah Anda, Bhagavān, dengan belas kasihan (anukampam upadaya), menerima undangan Saya untuk makan malam besok bersama-sama dengan kumpulan Bhiksu?"

Dengan belas kasihan, sang Bhagavān menunjukkan persetujuan-Nya kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva dengan tetap diam (tusnimbhavena).

Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva, setelah mengetahui bahwa dengan tetap diam sang Bhagavān telah memberikan persetujuan, bersujud ke kaki sang Bhagavān, berpradaksina kepada-Nya tiga kali, dan menarik diri dari hadapan sang Bhagavān; Dia pergi ke tempat Bhiksuni Mahaprajapati, dan setelah tiba, bersujud ke kaki sang Bhiksuni Mahaprajapati Gautami, lalu duduk di satu sisi. Dan setelah duduk di satu sisi, Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata kepada sang Bhiksuni Mahaprajapati Gautami: "Akankah Anda, Arya, dengan belas kasihan, menerima undangan Saya untuk makan malam besok bersama-sama dengan kumpulan Bhiksuni (bhiksuni-sangha)?'

Dengan belas kasihan, sang Bhiksuni Mahaprajapati Gautami menunjukkan persetujuan-Nya kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva dengan tetap diam.

Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva, setelah mengetahui bahwa dengan tetap diam sang Bhiksuni Mahaprajapati Gautami telah memberikan persetujuan, bersujud ke kaki sang Bhiksuni Mahaprajapati Gautami, berpradaksina kepadanya tiga kali, dan pergi. Dan setelah pergi, Dia menuju ke tempat sang pemuda Licchavi, Ratnakara, dan setelah tiba, berkata kepada Ratnakara Licchavikumara: "Kerabat (jnati), karena banyak upasaka dari sini di Rajagrha atau yang dari daerah lain yang telah berkumpul di Rajagrha, di hutan bambu, di taman kalandaka, bersama-sama dengan para pengiring mereka, tolong undanglah mereka semua dalam nama Saya (mama vacanena) untuk makan malam besok siang."

Kemudian Ratnakara Licchavikumara berkata kepada semua Upasaka yang telah berkumpul di dalam perkumpulan itu: "Sang Bodhisattva Mahasattva Bhadrapala telah mengundang Anda untuk makan malam besok, bersama dengan pengiring Anda."

Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva, Ratnakara Bodhisattva Mahasattva sang pemuda Licchavi, Guhagupta Bodhisattva Mahasattva sang anak pedagang, Naradatta Bodhisattva Mahasattva sang pelajar muda, Susima Bodhisattva Mahasattva sang kulaputra, Mahasusarthavaha Bodhisattva Mahasattva sang kepala rumah tangga, Indradatta Bodhisattva Mahasattva, dan Varunadeva Bodhisattva Mahasattva, dan kepala rumah tangga lainnya juga, setelah masing-masing bangkit dari tempat duduknya sendiri, bersujud ke kaki sang Bhagavān, berpradaksina kepada-Nya tiga kali, dan juga bersujud ke kaki perkumpulan Bhiksu; meninggalkan hutan bambu, Mereka menuju ke kota besar Rajagrha, ke rumah Bhadrapala, dan setelah tiba di sana, Mereka menyiapkan pada malam itu juga banyak minuman yang menyenangkan, makanan, sayuran lezat, dan makanan lezat; Mereka menyiapkan dan membuat makanan seratus rasa (sata-rasa-bhojanam) untuk semua, dan bahkan untuk pengemis. Mengapa demikian? Para Bodhisattva Mahasattva didirikan pada kemurahan hati (udarasaya) dan tiada penghinaan, dan telah mencapai keseimbangan batin terhadap semua makhluk.

Kemudian Sakra Deva Indra, Brahma Sahampati, Devaputra Susima, dan Catur Maha Raja, melakukan kemagisan pemunculan (abhinirmaya) banyak orang, membuat diri mereka sendiri dalam penjelmaan untuk membantu dan mematangkan Bodhi dari para perumah tangga itu.

Kemudian sang Bodhisattva Bhadrapala, sang pemuda Licchavi Ratnakara, dan para perumah tangga lainnya, masing-masing dengan kerabatnya sendiri, membersihkan dengan baik apa yang harus dibersihkan di seluruh Rajagrha Mahanagari, menggantung pita sutra (daman), mewangikannya dengan pembakaran dupa, dan menabur bunga yang mekar (mukta-puspa).

Kemudian, setelah Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva dengan para kerabatnya telah dengan baik menghiasi kota besar Rajagrha dan menyiapkan makanan dari seratus rasa, ketika malam itu telah berlalu, Dia berjalan, disertai dan diikuti oleh para kerabatnya, menuju ke tempat sang Bhagavān, dan setelah tiba, bersujud ke kaki sang Bhagavān, berpradaksina kepada-Nya tiga kali, Dia memberitahu kepada-Nya bahwa telah tengah hari, mengatakan: "Bhagavān, waktu untuk makan telah tiba. Bhagavān, sudah saatnya makan, makanan telah disiapkan, dan Saya ingin Anda tahu bahwa waktu untuk itu sekarang telah datang."

Kemudian di awal waktu (purvahna-kala), sang Bhagavān mengenakan jubah-Nya (civara) dan pakaian bagian dalam-Nya (nivasana), mengambil mangkuk, dan disertai dan diikuti oleh kumpulan Bhiksu, kumpulan Bhiksuni, dan kumpulan Upasaka dan Upasika, Dia berjalan menuju ke rumah sang Bodhisattva Mahasattva Bhadrapala.

Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berpikir: '"Ini akan baik jika sang Bhagavān melakukan perbuatan pembentukan dari kekuatan ajaib (rddhyabhisamskaram abhisamskr-) bahwa dengan melakukan perbuatan ajaib itu, rumah Saya akan menjadi luas, besar, dan sama seperti permata beryl berwarna biru (Vaidurya), sehingga semua orang di kota bisa melihat dan bahwa kumpulan majelis yang sangat banyak ini juga bisa duduk sesuka hati (yathestam)."

Kemudian sang Bhagavān, mengetahui pikiran dari sang Bodhisattva Mahasattva ini, melakukan perbuatan ajaib seperti itu, dengan perbuatan ajaib-Nya, rumah sang Bodhisattva Mahasattva Bhadrapala menjadi luas, besar, dan sama seperti permata beryl berwarna biru, sehingga bahwa semua orang di kota bisa melihat dan semua kumpulan majelis bisa duduk sesuka hati.

Kemudian sang Bhagavān memasuki rumah sang Bodhisattva Mahasattva Bhadrapala. Dan setelah masuk, Dia duduk sendiri di kursi yang disiapkan, bersama-sama dengan kumpulan dari para Bhiksu dan Bhiksuni dan kumpulan dari para upasaka dan upasika.

Kemudian sang Bodhisattva Mahasattva Bhadrapala, sang Licchavikumara Ratnakara, sang grhapati Mahasusarthavaha, sang sresthiputra Guhagupta, sang manavaka Naladatta, sang grhapati Indradatta, dan sang grhapati  Varunadeva, memahami bahwa sang Bhagavān telah duduk sendiri, dan memahami bahwa kumpulan Bhiksu, kumpulan Bhiksuni, dan kumpulan upasaka dan upasika juga telah duduk sendiri, dengan tangan sendiri Mereka makan dan terpuaskan dengan banyak minuman yang menyenangkan, makanan, sayuran yang lezat, dan makanan dari seratus rasa, dan kumpulan Bhiksu, kumpulan Bhiksuni, dan kumpulan upasaka dan upasika, dimulai dengan sang Buddha.

Ketika Mereka telah dengan tangan Mereka sendiri makan dan terpuaskan dengan banyak makanan yang menyenangkan, minuman, sayuran yang lezat, dan makanan dari seratus rasa, Mereka melihat bahwa sang Bhagavān telah selesai makan, mencuci tangan dan menepikan mangkuk; Dengan kesesuaian (yathayogam), Mereka duduk di depan sang Bhagavān, di hadapan sang Bhagavān.

Kemudian dengan wacana Dharma (dharma-katha), sang Bhagavān menyenangi, menjiwai, menyemangati, dan menggembirakan sang Bodhisattva Mahasattva Bhadrapala, sang Licchavikumara Ratnakara, sang grhapati Mahasusarthavaha, sang sresthiputra Guhagupta, sang manavaka Naladatta, sang grhapati Indradatta, dan sang grhapati  Varunadeva, dan empat kelompok majelis. Dan setelah Dia menyenangi, menjiwai, menyemangati, dan menggembirakan Mereka dengan wacana Dharma, Dia bangkit, dan diikuti kumpulan para Bhiksu mulai berjalan kembali.

Kemudian, setelah selesai makan (bhaktakrtyam krtva), Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva, bersama-sama dengan teman-temannya, kerabatnya, dan sanak saudaranya, dan disertai dan diikuti oleh seratus ribu makhluk, berjalan ke tempat sang Bhagavān, dan setelah tiba, bersujud di kaki sang Bhagavān dan berpradaksina kepada-Nya tiga kali, duduk di satu sisi.

Ratnakara Bodhisattva Mahasattva, Mahasusarthavaha Bodhisattva Mahasattva, Guhagupta Bodhisattva Mahasattva, Naladatta Bodhisattva Mahasattva, Susima Bodhisattva Mahasattva, Indradatta Bodhisattva Mahasattva, dan Varunadeva Bodhisattva Mahasattva, setelah bersujud di kaki sang Bhagavān bersama-sama, dan setelah berpradaksina kepada-Nya tiga kali, duduk di satu sisi.

Kemudian Bodhisattva Mahasattva Bhadrapala, memahami bahwa semua perkumpulan telah duduk, berkata kepada sang Bhagavān: "Bhagavān, berapa banyak 'kualitas (dharma)' yang harus Bodhisattva Mahasattva miliki untuk mendapatkan Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi, untuk mendengarnya, untuk mengambilnya melalui kebajikan dari pikiran yang tidak terganggu (aviksipta-citta), untuk tidak melupakannya, dan, setelah menerimanya, menguasainya?"

Setelah ini dikatakan, sang Bhagavān berkata kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva: "Jika, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva memiliki lima dharma, Dia memperoleh Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi ini, mendengarnya, mengambilnya melalui kebajikan dari pikiran yang tidak terganggu, tidak melupakannya, dan setelah menerimanya, menguasainya."

"Apa lima itu? Bhadrapala, jika di sini Bodhisattva Mahasattva memiliki penerimaan kesabaran pada dharma yang mendalam (gambhira-dharmaksanti), jika Dia memiliki kesabaran menerima gejala kejadian sebagai yang tidak dihasilkan (anutpattika-dharma-ksanti), yang tidak bisa hancur (aksaya), yang tiada kerusakan (ksayapagata), yang tidak bisa binasa, yang sepenuhnya tidak bisa binasa, yang tanpa noda (anavila), yang melampaui noda (avila-samatikranta), yang tidak kotor (vimala), yang tanpa kotoran (vigata-mala), yang tanpa debu (araja), yang murni (viraja), yang melampaui debu , yang bebas dari semua debu -- jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma pertama ini, maka Bodhisattva Mahasattva memperoleh Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi ini. "

'Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva merendahkan segala pembentukan yang berkondisi (samskara), dan, kecuali sebagai dasar untuk Kebangkitan, tidak menginginkan setiap kesempatan untuk kelahiran kembali (jati-sthana); jika Dia ingin melihat para Bhagavān Buddha dan tidak bergantung pada setiap hal yang para tirthika tergantung (tirthyayatana) atau pada setiap Mantra dari tirthika; jika Dia tidak menginginkan kenikmatan nafsu keinginan (kama-bhoga); jika Dia bersuka cita dalam kehidupan suci dan telah menghentikan hubungan seksual (maithuna-dharma), menjadi tidak melekat pada nafsu keinginan bahkan di dalam pikirannya; jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma kedua ini, maka Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini.

"Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva telah mengembangkan pikiran ketidakterbatasan (apramana-citta), dan, setelah dengan baik mengkonsentrasikan (susamgrah-) pikirannya, memiliki pikiran yang bebas dari niat jahat (vyapada); jika Dia memiliki pikiran dari kesamaan (sama-citta) untuk semua makhluk dan menarik semua makhluk dengan empat cara penarikan (catur-samgraha-vastu) - apa empat itu? Adalah memberi (dana), ucapan yang ramah (priya-vacana), perbuatan yang menguntungkan (artha-carya), dan kesamaan derajat (samanarthata); jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma ketiga ini, maka Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini."

"Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva memiliki cinta kasih yang besar (mahamaitri), mengembangkan kasih sayang yang besar (mahakaruna), kegembiraan simpatik yang besar (mahamudita), dan keseimbangan batin yang besar (mahopeksa); jika Dia tidak memaksa (codayati) Bhiksu atau Bhiksuni yang telah melakukan kesalahan (apanna apattim), tetapi menerima mereka dengan sabar melalui sifat alami yang menerima (adhivasana-svabhava); jika Dia dengan penuh hormat terhadap penasehatnya (upadhyaya) dan gurunya (acarya) dan menganggapnya mereka sebagai Guru; jika Dia bukan penuntut (vadin) 'Aku' dan 'Milikku', bukan penuntut 'Keberadaan', bukan penuntut 'Hidup (jiva)', bukan penuntut 'Perwujudan diri (pudgala)', bukan penuntut 'Kekayaan (posa)', bukan penuntut 'Makhluk (purusa)', bukan penuntut 'Perempuan (manuja)', bukan penuntut 'Laki-laki (manava), dan menasehati orang lain tentang dharma ini; jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma keempat ini, maka Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini."

"Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva mempraktekkan (pratipadyate) kualitas yang sesuai dengan Dharma (dharmanudharma); jika Dia murni dalam kegiatan tubuh, murni dalam kegiatan ucapan, murni dalam kegiatan pikiran, murni dalam penglihatan (drsti), murni dalam penghidupan (ajiva), dan sangat terpelajar (bahusruta); jika, sama dengan para Bhagavān Buddha, Dia terampil dalam pidato penyatuan (samdha-bhasya); jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma kelima ini, maka Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini."

"Jika Dia, Bhadrapala, memiliki lima dharma ini, sang Bodhisattva Mahasattva itu memperoleh Samadhi ini."

"Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva memiliki lima dharma lainnya, Dia memperoleh Samadhi ini. Apakah lima itu? Jika, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva memberikan pemberian sama seperti Penguasa pemberi (danapati), adalah tidak kikir dan tidak pelit dalam pikirannya, dengan kebebasan yang berlimpah, dengan tangan terisi (pratata-pani), bersukacita dalam memberikan pemberian, memberikan segala kekayaannya tanpa mengharapkan balasan apapun (vipakapratikanksin), penyayang yang bermurah hati (anukampin) terhadap para makhluk, bebas dari penyesalan (avipratisarin), dan tidak menyesal setelah memberikan pemberian; jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma pertama ini, maka Bodhisattva Mahasattva berhasil dengan yang terkecil pasti mendengar Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi ini."

"Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva memberikan pemberian sama seperti danapati, yaitu, jika Dia memberikan Dharma tertinggi, jika Dia telah mendirikan dirinya sendiri dalam memberikan pemberian tertinggi dari Dharma yang diucapkan oleh Tathagata, ajaran bijaksana (naya) dari kebenaran tertinggi yang mendalam (gambiraparamartha) dengan kata dan hurufnya yang diucapkan dengan baik (sunirukta-padaksara), dengan kata dan huruf yang tidak terhalang (apratihata-padaksara), dan asal mula kata (nirukti) yang jelas; jika Dia sempurna dalam kesabaran (ksanti-sampanna) dan sempurna dalam kelembutan (sauratya-sampanna); jika, meskipun diusir (utpatita) dan dicaci maki oleh orang lain, Dia tidak marah, atau mencerca mereka, juga tidak menyakiti mereka, atau menjadi bingung, atau putus asa, atau menjadi murka, namun tetap penuh pengendalian diri (visarada); jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma kedua ini, Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini.

"Selanjutnya, Bhadrapala, saat mendengar Samadhi ini, Bodhisattva Mahasattva harus, dalam rangka untuk mengabadikan dan menyebarkan Saddharma, menerimanya, menguasainya, mempertahankannya, dan membacanya, Dia harus menjelaskannya secara penuh kepada orang lain, menyalinnya dalam bentuk buku dan melestarikannya, dan tidak kikir dengan Dharma; jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma ketiga ini, Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini."

"Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva terbebas dari iri hati, terbebas dari kegelisahan, terbebas dari kemalasan dan kelesuan (styana-middha), terbebas dari penghalang (nivarana), dan tidak memuji dirinya sendiri atau merendahkan orang lain; jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma keempat ini, Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini."

"Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva memiliki keyakinan, penuh keyakinan; jika Dia penuh hormat terhadap orang tua, orang-orang dari usia menengah, dan orang-orang muda; jika Dia berterimakasih dan menghargai, dan menghargai bahkan tindakan terkecil, apa lagi yang lebih besar; jika Dia terdirikan dalam ucapan yang jujur, dan mengatakan tanpa ada kesalahan; jika, Bhadrapala, Dia memiliki lima dharma ini, Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini."

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

"Dia yang membangkitkan kesabaran dari Dharma yang mendalam,
Menjauhi (vijugupsate) semua perpindahan keberadaan (gati),
Dan tidak menginginkan salah satu dari enam perpindahan keberadaan,
Orang seperti ini cepat memperoleh Samadhi itu.

Dia yang tidak mematuhi setiap guru penentang (parapravadin),
Dan tidak mendengarkan mantra mereka, jauh lebih tidak lagi (kutas) untuk menerimanya;
Dan menolak lima jenis nafsu (panca-kama-guna: nafsu keinginan, percintaan, kesenangan, kecantikan, penggodaan),
Orang seperti ini cepat memperoleh Samadhi itu.

Dia yang murni dalam sila, berdiam di dalam kehidupan suci,
Tidak pernah berpikir tentang wanita,
Telah menolak nafsu keinginan, dan menjadi anak dari sang Sugata,
Orang seperti ini cepat memperoleh Samadhi itu.

Memberikan pemberian tanpa mengharapkan imbalan,
Setelah memberi tanpa kemelekatan, Dia tidak gelisah;
Dalam memberikan pemberian, Dia tidak memiliki keinginan sedikit pun,
Terlepas dari mengalami pengetahuan Buddha.

Dalam memberikan pemberian dengan belas kasih kepada makhluk,
Dia tidak menderita atau menyesal;
Dia selalu terdirikan pada pemberian, pengendalian diri, dan pengekangan nafsu (dana-dama-samvara),
Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.

Dia yang memberi sama seperti Danapati tanpa kekikiran
Memberikan pemberian yang sangat baik (pranita) dan menyenangkan;
Saat memberi, Dia juga bergembira (attamanas),
Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.

Mereka yang adalah Penguasa pemberi Dharma (dharma-danapati),
Yang menjelaskan Sutra ini yang sangat baik,
Yang mendalam dan damai, yang diucapkan oleh sang Sugata,
Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.

Diberkahi dengan Sadparamita, dan merangkul semua makhluk,
Memiliki empat pikiran kesamaan dari maitri, karuna, mudita, dan upeksa,
Dengan upayakaulsalya menyelamatkan para makhluk,
Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.

Dia yang telah mendirikan dirinya sendiri selalu di dalam Dharma,
Yang, terbebas dari rasa iri, terdirikan dalam kesabaran dan kelembutan,
Dan tidak marah jika orang lain marah,
Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.

Mereka yang membaca Samadhi ini
Dan, demi meneruskan Dharma ini,
Mengajarkannya kepada orang lain dan, setelah menyalinnya, melestarikannya,
Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.

Tidak pernah kikir dengan Dharma,
Tidak menjelaskannya untuk setiap keuntungan atau kehormatan,
Kecuali untuk menjadi anak dari sang Sugata,
Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.

Terbebas dari iri hati, penghalang (nivarana) dilenyapkan;
Terbebas dari ngantuk, terbebas dari kesusahan (samtapa);
Tidak memuji dirinya sendiri atau meremehkan orang lain,
Dia dengan mudah memperoleh tanggapan penglihatan ketiadaan diri (anatma-samjna).

Setia, jujur, dan tidak tergoyahkan,
Dia percaya kepada Buddha, Dharma, dan Sangha;
Dia berterimakasih dan menghargai,
Baginya tidak ada kesulitan sedikitpun dalam memperoleh itu.

Dia selalu berbicara kata-kata kebenaran,
Apakah yang kecil atau yang sedikit, yang banyak atau yang baik,
Kelakuan baiknya tidak pernah bisa rusak,
Untuk Pencinta Dharma ini, tidaklah sulit untuk memperoleh itu.

Dengan pikiran tenang yang terkonsentrasi, gagasan tidak muncul,
Maka Dia dapat memahami kebijaksanaan dari Samadhi ini.
Dengan menyingkirkan ketidakjujuran, pikirannya murni,
Oleh karena itu, Dia cepat mencapai anutpattikadharmaksānti.

Murni di dalam sila, berterimakasih.
Dia yang mempertahankan Dharma ini
Tidak akan menemui kesulitan dalam memperoleh Kebangkitan,
Paling sedikit, Samadhi yang damai ini.

"Saya ingat (abhijanati), Bhadrapala, di masa lalu, Saya memperoleh Samadhi ini dari Dipamkara Tathagata saat seketika melihat-Nya. Segera setelah Saya memperoleh Samadhi ini, pada saat itu juga, para Bhagavān Buddha yang tidak terhitung dan tidak terbatas jumlahnya muncul pada penglihatan Saya (darsana-patha). Saya mendengar Saddharma yang Mereka jelaskan dan mempertahankannya semua sama seperti yang Saya dengar. Para Bhagavān Buddha itu juga memberikan ramalan kepada Saya: "Manavaka, di masa depan, Anda akan menjadi Tathagata Arhan Samyaksambuddha bernama Sakyamuni, Yang Sempurna Pikiran Dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Yang Mengetahui Dunia, Penjinak Nafsu Makhluk Yang Tiada Tandingan, Guru Dewa and Manusia, Yang Tercerahkan, Penguasa Tertinggi.'"

"Oleh karena itu, Bhadrapala, Anda harus berlatih di dalam Dharma ini, yang suci, yang ditolak oleh orang-orang bodoh, dan yang tanpa semua tanda (nimitta). Sehingga tidak akan sulit bagi Anda yang terdirikan pada Samadhi ini untuk mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi."

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

Setelah melihat sang Buddha Dipamkara,
Saya mengembangkan Samadhi juga;
Dan setelah melihat banyak Buddha,
Saya memperoleh Dharma tertinggi juga.

Sama seperti orang yang berbuat kebajikan (punyakrt),
Memenuhi tekad yang baik,
Anda juga harus belajar di dalam Dharma,
Dan Anda akan mendapatkan Kebangkitan Tertinggi.

Yang tanpa ujung, tidak terbatas,
Tidak terbayangkan adalah para koti Buddha,
Yang dimasa lalu saya puja,
Mencari Kebangkitan yang damai.

Memperoleh Kebangkitan itu,
Saya memutar Roda Dharma;
Banyak para koti makhluk,
Yang Saya dirikan pada Kebangkitan.

Para Deva, Naga, Yaksa,
Gandharva dan Kinnara,
Menyembah Saya dengan puja,
Mengatakan: "Ah! Sang Buddha sungguh tidak terbayangkan."

Para orang bijaksana,
Yang ingin mengolah Buddhadharma,
Harus mengajar dengan semangat
Demi menjadi yang sangat terpelajar (bahusrutya).

Tiga puluh koti adalah banyaknya para Buddha,
Yang Saya, sang Sakyasimha, sang Narottama,
Di masa lalu menyembah,
Saat sedang mencari Kebangkitan yang damai.

Jika para Buddha yang tidak terbayangkan itu,
Tidak membuat ramalan untuk Saya,
Maka Saya tidak akan menjadi terdirikan,
Di dalam pengetahuan yang tanpa kemelekatan.

Secara ringkas (samksiptena) hal ini diumumkan,
Para Bhagavān Buddha, Lokanatha,
Yang nayuta koti banyaknya Mereka,
Yang di masa lalu Saya sembah.

Bahkan saat para Tathagata, mengetahui tekad Saya,
Telah membuat ramalan itu,
Saya masih belum terdirikan,
Di dalam pengetahuan Buddha yang tidak terbayangkan.

Oleh karena itu, orang harus membuat
Usaha yang baik untuk kebenaran tertinggi,
Dan juga harus berlatih di dalam pengetahuan tertinggi,
Dari para Buddha yang tidak terbayangkan.

Setelah berlatih di dalam Sutra ini,
Dalam wilayah (gocara) dari Lokanatha,
Orang akan memahami yang tertinggi,
Pengetahuan tertinggi yang tidak terbayangkan.

Berpikir: "Ah! Sungguh tidak terbayangkan,
Pengetahuan tertinggi, pengetahuan dari Buddha."
Pikiran Bhadrapala sangat bergembira,
Dan Dia telah menjadi yang penuh hormat.

Berpikir: "Di masa depan, Kami juga,
Akan menjadi pembawa Dharma itu di jaman terakhir."
Lima ratus itu juga begitu,
Sangat bergembira di dalam pikiran Mereka dan penuh hormat."

Ketika hal ini dikatakan, Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata kepada sang Bhagavān: "Bhagavān, bagaimana Bodhisattva mengembangkan Samadhi ini?"

Sang Bhagavān berkata: "Jika, Bhadrapala, ada kulaputra atau kuladuhitrā yang ingin mengembangkan Samadhi ini, Dia harus tidak melekat pada bentuk (rupa); Dia harus tidak melekat pada suara (śabda); Dia harus tidak melekat pada bau (gandhaih); Dia harus tidak melekat pada rasa; Dia harus tidak melekat pada sentuhan (sparśa); Dia harus tidak melekat pada semua gejala kejadian (sarva-dharma); Dia harus tidak melekat pada kelahiran (jati); Dia harus tinggal berdiam di dalam kekosongan (shunya); Dia harus tinggal berdiam di dalam ketiadaan tanda; Dia harus tinggal berdiam di dalam ketiadaan nafsu keinginan; Dia harus tinggal berdiam di dalam cinta kebaikan yang besar (mahamaitri). Lalu apa, Bhadrapala, Samadhi itu? Itu adalah memperoleh kualitas ini (etesu dharmesu pratipatti), dan bukan yang salah (vipratipatti)."

"Selanjutnya, Bhadrapala, Bodhisattva yang tinggal berdiam harus mengamati tubuh di dalam tubuhnya sendiri, tetapi harus tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan tubuh (dhyatmakaye kayanudarsi viharati, na ca kayasahagatan vitarkan vitarkayati), Dia harus mengamati perasaan di dalam perasaan, tetapi harus tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan perasaan. Dia harus mengamati pikiran di dalam pikiran, tetapi harus tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan pikiran. Dia harus mengamati gejala kejadian (dharma) di dalam dharma, tetapi harus tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan dharma. Dengan begitu, Bodhisattva memperoleh Samadhi ini. Mengapa demikian, Bhadrapala? Yaitu: Jika Bodhisattva Mahasattva tinggal berdiam mengamati tubuh di dalam tubuhnya sendiri, namun tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan tubuh; Dan jika mengamati perasaan di dalam perasaan, namun tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan perasaan; Dan jika mengamati pikiran di dalam pikiran, namun tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan pikiran; Dan jika mengamati dharma di dalam dharma, namun tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan dharma, maka Dia tidak memperoleh (upalabhate) semua gejala kejadian (sarva-dharma). Dia yang tidak memperoleh semua dharma adalah yang tidak menebak atau tidak berpikir (na tarkayati na vitarkayati). Bhadrapala, Dia yang tidak menebak atau tidak berpikir adalah yang tidak melihat dharma apapun. Bhadrapala, ketika orang tidak melihat dharma apapun, itu disebut pengetahuan yang tidak terhalang (anavarana-jnana). Pengetahuan yang tidak terhalang, Bhadrapala, adalah yang disebut  Samadhi."

"Bhadrapala, Bodhisattva yang memiliki Samadhi ini melihat para Buddha yang tidak terukur dan yang tidak terhitung, dan Dia juga mendengar Saddharma. Saat mendengarnya, Dia menguasainya, juga memperoleh pengetahuan dan penglihatan yang terbebaskan (vimukti-jnana-darsana) dan pengetahuan yang tidak terhalang (apratihata-jnana) dari para Tathagata Arhan Samyaksambuddha itu."

"Selanjutnya, Bhadrapala, Bodhisattva tinggal berdiam mengamati tubuh di dalam tubuhnya sendiri, dengan demikian tinggal berdiam Dia tidak melihat dharma apapun. Dengan tidak melihatnya, Dia tidak menebak atau berpikiran yang berubah-rubah, meskipun Dia tidak buta atau tuli. Dengan cara yang sama mengamati perasaan, pikiran, dan dharma, Dia tinggal berdiam mengamati dharma, dengan demikian tinggal berdiam Dia tidak melihat dharma apapun. Dengan tidak melihatnya, Dia tidak bergantung; Dengan tidak bergantung, Dia mengembangkan Jalan (marga); Dengan kebajikan dari telah mengembangkan Jalan, Dia tidak memiliki keraguan berkaitan dengan dharma; Dan dengan menjadi tanpa keraguan, Dia melihat para Buddha. Dan ketika Dia telah melihat para Buddha, 'pembebasan (vimoksa)' dihasilkan berdasarkan kenyataan bahwa 'yang tidak dihasilkan adalah semua dharma (sarvadharmanutpada)."

"Mengapa demikian, Bhadrapala? Jika bodhisattva harus menyetujui tanggapan penglihatan dharma (dharma-samjna), itu sendiri akan menjadi baginya pandangan yang salah dari penangkapan landasan (upalambha-drsti). Itu sendiri akan menjadi pandangan keberadaan, pandangan diri, pandangan makhluk, pandangan kehidupan, dan pandangan perwujudan diri (pudgala). Itu sendiri akan menjadi pandangan 'kumpulan (skandha)', pandangan unsur, pandangan bidang indera, pandangan tanda-tanda (nimitta), pandangan keberadaan (bhava), pandangan penyebab (hetu), pandangan kondisi ketergantungan (pratyaya), dan mengenggam pada penangkapan landasan."

"Mengapa demikian, Bhadrapala? Para Bodhisattva melihat semua dharma sebagai yang kosong oleh sifat alaminya (svabhavena sunya), semua dharma sebagai yang tiada tanda (animitta), yang tidak diperoleh (agrhita), yang tidak digenggam (agrahya), dan Mereka tidak menangkap semua dharma, tidak berpikir sia-sia tentangnya (na manyante), dan tidak melihatnya. Bagaimana, Bhadrapala, bahwa Mereka tidak menangkapnya, atau berpikir sia-sia tentangnya, atau melihatnya? Sama seperti, misalnya, kaum sesat (paratirthika) atau murid dari kaum sesat yang terdirikan pada tanggapan penglihatan diri, yang terdirikan pada tanggapan penglihatan makhluk, tanggapan penglihatan kehidupan, tanggapan penglihatan pudgala, dan yang terdirikan dalam tanggapan penglihatan semua dharma, menangkap, berpikir sia-sia tentangnya, dan melihat 'gejala kejadian (dharma)'; Dalam hal itu, Bhadrapala, Bodhisattva tidak melihatnya."

"Lalu bagaimana, Bhadrapala, cara Bodhisattva melihat? Sama seperti, Bhadrapala, misalnya, para Tathagata, Bodhisattva yang avaivartika, Pratyekabuddha, dan Arhat Sravaka melihat semua dharma, dengan cara itu, Bhadrapala, harus Bodhisattva menganggap semua dharma. Dengan melihatnya, Dia harus tidak bersenang-senang di dalamnya. Bodhisattva yang, dengan terbebas dari kesenangan, tidak mengambil kesenangan, yang tanpa kesenangan dan dengan telah menghilangkan kesenangan, mengembangkan Samadhi ini."

"Sama seperti, misalnya, Bhadrapala, ruang angkasa (akasa) adalah yang tidak berbentuk (arupin), yang tidak terlihat (anidarsana), yang tidak menghuni (aniketa), yang murni sempurna (suvisuddha), dan yang tanpa noda (nihklesa), demikian juga Bodhisattva menganggap semua dharma, dan yang berkenaan dengan dharma yang terbentuk oleh kondisi dan yang tidak berkondisi (samskrtasamskrta-dharma), penglihatannya menjadi tanpa hambatan."

"Bodhisattva dengan penglihatan yang tanpa hambatan melihat dharma yang segera menjadi jelas terwujud (amukhi-bhu-), dan jika Dia merenungkan dengan saksama padanya, Dia melihat Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang seperti Pilar emas terhiasi; yang seperti Matahari (rasmi-raja) terbit; seperti Bulan purnama yang dikelilingi oleh bintang-bintang; seperti Raja pemutar roda (cakravarti-raja) yang dikelilingi oleh rombongan orang yang kuat; seperti Sakra sang Raja Deva yang dikelilingi oleh para dewa dari surga Tiga puluh tiga; seperti Brahma yang duduk di atas takhta Brahma di alam-Brahma; seperti Api menyala pada puncak gunung; seperti Raja penyembuh (vaidya-raja) yang sedang membagikan obat; seperti Singa bersurai, sang raja binatang buas yang tanpa rasa takut menakuti semua serigala; seperti Pemimpin angsa yang dalam penerbangan melalui langit; seperti Salju menumpuk di gunung yang tinggi di bawah bulan musim dingin, terlihat jelas di keempat sisinya; seperti Gunung Vajra sang batas langit dan bumi, yang menangkal ketidakmurnian; seperti Sumeru, sang raja gunung yang naik dari laut; seperti Himalaya, sang raja gunung yang penuh dengan bunga dan tanaman obat (osadhi); seperti Pegunungan Cakravada yang didukung oleh tiupan angin (maruta-suta); seperti massa air (vari-rasi) yang didukung oleh massa udara; seperti massa tanah yang didukung oleh massa air."

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

Puncak yang indah dari gunung Sumeru,
Yang tidak bernoda, bersih, dan murni,
Sama seperti ruang angkasa,
Terhiasi dengan baik oleh para Deva.

"Dengan cara itu, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva, setelah mengambil sebagai objek perenungannya (arambanikrtya) para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang cemerlang (vasanta), yang bercahaya (tapanti), yang menyinari (virocanti) dengan kemuliaan dan kemegahan di seluruh trisahasra-maha-sahasra-lokadhatu, melihat Mereka dan mendengar Dharma yang Mereka jelaskan. Setelah mendengarnya, Dia menerima, menguasai, dan menyimpannya. Dan saat bangun dari Samadhi ini, sang Bodhisattva mengajarkan dan menjelaskan kepada orang lain secara penuh Dharma yang Dia telah dengar, yang Dia telah terima, dan yang Dia telah kuasai itu."

Dengan demikian, Bhadrapala, Samadhi ini memberikan manfaat besar bagi para Bodhisattva. Artinya, itu menghasilkan banyak kualitas dari dharma baik yang duniawi maupun yang melampaui duniawi (loka-lokottara-dharma). Oleh karena itu, Bhadrapala, kulaputra atau kuladuhitrā yang menginginkan Kebangkitan harus menerima, menguasai, menyimpan, membaca, dan menyalin Samadhi ini; Harus menjelaskan, mengajar, dan mengumumkan itu secara penuh kepada orang lain; Dan harus mengerahkan dirinya dalam usaha untuk mengembangkannya.

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

Bersih, tanpa noda, dan murni adalah para Buddha,
Tidak melekat dan disembah oleh banyak makhluk;
Para Dermawan itu harus dihormati oleh ratusan alat musik,
Dengan pemukulan genderang, dan dengan suara gong dan alat musik surgawi.

Setelah menaburi Mereka dengan bunga yang mekar (mukti-puspa),
Banyak orang menyembah Stupa relik (dhatu-stupa);
Dalam mencari Samadhi ini, mengundang Mereka datang (prajnapayanti),
Dengan karangan bunga surgawi, wewangin, dan payung.

Dia yang, setelah mendirikan diri di dalam kebenaran umum (samvrti-satya),
Meneliti Dharma yang luas (vaipulya-dharma), yang unggul dan sulit dilihat,
Dia merenungkan Jina, yang pengetahuannya tidak melekat,
Dan tidak pernah jatuh dari kekosongan.

Dengan pikiran yang murni, Dia menvisualisasikan para Jina
Yang seperti bulan bersih, matahari terbit,
Atau Brahma yang bertahta di alam Brahma;
Dan Dia tidak pernah menolak kekosongan.

Seperti Raja Deva dari surga Tiga puluh tiga
Melampaui surga Tiga puluh tiga dengan penampilannya,
Demikian juga Jina melampaui dunia,
Yang cemerlang, bercahaya, dan bersinar dengan kemuliaan.

Seperti Api yang menyebar melalui hutan terbesar,
Seperti Lampu yang menyala, seperti Api yang naik,
Seperti naiknya ratusan matahari (sata-rasmi),
Jadi lihatlah para Jina sebagai yang agung dalam tanda-tanda.

Seperti para ahli kesembuhan, para penyembuh penyakit,
Mengobati penyakit dari orang yang sakit,
Demikian juga para Jina, sang Narasimha, sang Vaidyottama,
Mengumumkan ajaran dari Sugata dengan sesuai.

Mengumumkan auman singa dalam perkumpulan majelis,
Para Banteng, para Buddha tanpa takut di dunia;
Mereka menundukkan semua guru penentang,
Seperti Singa yang tinggal di hutan menaklukkan serigala.

Seperti raja angsa yang unggul
Berwarna putih, murni dan indah dalam penerbangannya melalui udara,
Demikian juga para anak tertua dari Sugata merenungkan,
Para Sugata yang berwarna emas.

Seperti raja gunung, Himalaya, atau seperti raja ksatriya,
Yang cemerlang dan bercahaya,
Dan seperti pilar yang dihiasi dengan berbagai macam permata,
Demikian juga melihat para Jina yang terhiasi dengan tanda-tanda.

Seperti vajra, yang tidak bisa dipindahkan dan tidak bisa dihancurkan,
Seperti Cakravada, yang didukung oleh tiupan angin,
Demikian juga para Sugata menggunakan kalpa,
Dermawan, baik hati, dan mulia di dalam Dharma.

Seperti tanah bumi yang bertumpu pada air,
Seperti air yang bertumpu pada udara,
Seperti udara yang bertumpu pada ruang angkasa kosong,
Demikian juga para Jina terdirikan di dalam semua kualitas.

Seperti di dalam surga tiga puluh tiga, raja gunung sumeru,
Membayangi segala sesuatu, bersinar dan berseri-seri,
Demikian juga para Sugata, seperti gunung Sumeru,
Indah, duduk di tengah-tengah kumpulan permata.

Jika orang merenungkan para Jina, yang pikirannya tidak melekat,
Samadhi itu, yang terbebas dari ketidakjelasan dan kegelapan,
Yang bersih, dan murni, menjadi mata;
Tanpa tanggapan penglihatan dari semua keberadaan (sarvabhava-samjna).

Jika orang merenungkan para Jina, yang pikirannya murni,
Orang terbebas dari noda atau kotoran, dan melenyapkan kemarahan;
Terbebas dari kebodohan, pengetahuannya menjadi murni;
Padanya, pengetahuan yang sempurna akan timbul.

Jika orang merenungkan para Jina, yang silanya murni,
Pengetahuannya akan hening tenang (vitimira) dan murni;
Padanya, tidak ada lagi pandangan yang salah dari Aku dan Milikku;
Juga tanggapan penglihatan dari keberadaan tidak akan pernah muncul.

Dia terbebas dari pandangan salah tentang perputaran keberadaan (bhava-samtati);
Terbebas dari keraguan, murni dalam pengetahuan,
Tidak pernah memiliki tanggapan penglihatan bentuk (rupa-samjna),
Dan mendengarkan Dharma kesejukan (sitibhava) dan jalan kedamaian.

Tanah bumi, air, api dan udara
Tanpa diri, semuanya kosong;
Ketika Dia telah mendengar ajaran terbaik dari para Jina,
Tanggapan penglihatan keberadaan tidak terjadi padanya.

Melenyapkan semua gagasan tentang landasan objek tujuan (vastu),
Dan mengetahui bahwa semua perpindahan keberadaan (gati) adalah kosong,
Seperti burung yang tidak melekat di langit,
Pikirannya tidak pernah melekat.

Dia yang telah memuja para Jina yang terbaik,
Dengan terdirikan pada kekuatan ajaib (rddhi-bala) dan pikiran yang tajam,
Menerangi dunia di mana-mana di sepuluh penjuru,
Dan memiliki semua kualitas yang beragam.

Meskipun Dia menyerahkan tangan, kaki, juga kepala dan mata,
Seluruh kerajaannya, kudanya, dan sapinya,
Dan semua hal yang berharga di dunia,
Dia tidak membuang kelompok moralitas (sila-skandha).

Dengan belas kasihan, demi seluruh dunia,
Dia mengungkapkan permata yang paling penting dari Dharma (dharma-pradhana-ratna);
Meskipun Dia meninggalkan semua hal yang berkondisi, tanpa sisa,
Dia tidak membuang pikiran kebangkitan (bodhicitta).

Para Bhiksu dan Anak-anak dari Jina yang telah memulai dengan baik,
Demikian juga para Bhiksuni, Upasaka,
Dan Upasika yang memiliki keyakinan dan bebas dari kemelekatan,
Jika Mereka telah melakukan perenungan itu, Mereka mendapatkan keadaan ini.

Siapapun yang menjelaskan Samadhi yang damai ini,
Untuk anak dari Sugata, yang terampil dalam Samadhi,
Kualitas yang banyak itu akan bertambah,
Keadaan unggul yang sangat banyak akan bertambah. "


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Sun Apr 17, 2016 11:43 am, total 10 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Om Mani Padme Hum

Post by skipper on Wed Mar 30, 2016 9:47 pm




BAB 12
Tiada Tanda


"Oleh karena itu, Bhadrapala, Bodhisattva yang ingin menjelaskan atau memperoleh Samadhi ini harus dari awal melepaskan dirinya sendiri dari tanggapan penglihatan tanda (nimitta-samjna). Setelah melepaskan dirinya sendiri dari tanggapan penglihatan tanda, Dia harus tidak bangga; ketika telah melenyapkan kebanggaan dan membuat pikiran tanpa tanda, Bodhisattva harus menerima ajaran dalam Samadhi ini, dan harus tidak membantah. Lalu bagaimana cara Dia tidak membantah (avivada)? Dia yang tidak menolak kekosongan, adalah yang tidak membantah. Bodhisattva itu, Bhadrapala, yang mengutamakan tanpa membantah (avivada-pradhana) akan menerima ajaran dalam Samadhi ini."

"Jika, Bhadrapala, ada kulaputra atau kuladuhitrā yang ingin menerima ajaran dalam Samadhi ini, Dia harus memiliki sepuluh kualitas (dharma), diajarkan dalam Samadhi ini. Apa sepuluh itu? Yaitu, Bhadrapala, kulaputra atau kuladuhitrā (1) yang telah menaklukkan kebanggaan, (2) yang tidak iri terhadap pendapatan, kehormatan, dan pujian orang lain, (3) yang penuh hormat menghormati dan tidak berkata salah, (4) yang berterimakasih dan menghargai, (5) yang bersih dari kekikiran dan terbebas dari penyesalan, (6) yang penuh keyakinan dan tidak memiliki gagasan yang membeda-bedakan, (7) yang telah mengerahkan semangat dalam berjalan (cankrama), ( 8 ) yang berpindapatta tanpa memancing undangan, dan (9) yang sangat condong pada yang mendalam (gambhiradhimukta) akan menerima ajaran dalam Samadhi ini. (10) Menimbulkan tanggapan penglihatan Guru terhadap orang yang darinya dia ingin menerima ajaran dalam Samadhi ini; kulaputra atau kuladuhitrā harus diajarkan, membaca, dan melestarikan Samadhi ini; jika Dia memiliki sepuluh dharma ini, Bhadrapala, kulaputra atau kuladuhitrā itu akan menerima Samadhi ini."

"Dia yang telah begitu memulainya (evam pravrtta) menerima delapan dharma. Apa delapan itu? Yaitu, (1) kemurnian moralitas (sila-visuddhi) karena pemurnian yang menyeluruh (vyavadana); (2) kemurnian penglihatan (drsti-visuddhi) melalui memiliki kebijaksanaan; (3) kemurnian kebijaksanaan melalui tidak tunduk kepada kelahiran kembali (punarbhava); (4) kemurnian penolakan duniawi (tyaga-parisuddhi) melalui tidak bercita-cita untuk semua perpindahan lahir dan mati (sarva-samsaranarthikata); (5) kemurnian belajar melalui tidak kehilangan apapun (asampramosa); (6) kemurnian semangat melalui mencapai kebangkitan; (7) menerima penghormatan (satkara) melalui tanpa kemelekatan (anasraya); ( 8 ) tidak bisa diubah oleh semua makhluk dari Anuttara-Samyak-Sambodhi - Bhadrapala, Bodhisattva itu menerima delapan dharma ini."

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

'Orang bijak tidak akan menimbulkan tanggapan penglihatan tanda;
Dia akan menolak kebanggaan (mana) dan kesombongan diri (asmimana);
Ketika telah menghasilkan kesabaran (ksanti), yang sempurna dan tidak terbentuk oleh sebab dan kondisi (asamskrta),
Dia akan menerima ajaran dalam Samadhi ini juga.

Orang bijak memiliki pikiran yang jelas, tidak bertentangan dengan kekosongan,
Yang tiada tanda, atau ketenangan dan Nirvana;
Memiliki sifat yang tidak tergoyahkan (aksobhya-dharmin), dan sesuai dengan Guru,
Orang seperti itu pasti menerima ajaran dalam Samadhi ini.

Orang bijak tidak bangga atau iri;
Berterimakasih, Dia memiliki keyakinan pada Buddha,
Dharma, dan Sangha, dan tidak tergoyahkan;
Dia pasti cepat menerima ajaran dalam Samadhi ini juga.

Tidak kikir, tidak bodoh (vigata-tamas), tidak mencacimaki,
Tidak memiliki keraguan dan selalu memiliki keyakinan,
Setelah mengembangkan berjalan (cankramabhirudha), mengerahkan semangat;
Dia harus menginginkan Samadhi ini.

Bhiksu harus selalu ber-pindapatra,
Menolak undangan, apalagi menimbun makanan;
Mahir dalam kebenaran tertinggi (paramartha) dan tidak takut,
Biarlah orang seperti itu menerima Samadhi ini.

Jika Dia menyalin Samadhi yang suci ini dari orang,
Atau menjaganya atau mengajarkannya kepada orang lain,
Maka terhadap orang itu yang darinya Dia pertama kali memperolehnya
Orang bijak menaruh tanggapan penglihatan Guru.

Dia yang, terdirikan dalam pencapaian kualitas ini,
Menerima ajaran dalam Samadhi ini,
Dengan cepat memperolehi delapan dharma,
Yang dipuji oleh para Jina, yang sempurna dan murni.

Orang bijak yang kualitas ini muncul,
Menjadi murni juga di dalam Sila;
Murni di dalam Samadhi, juga murni di dalam pandangan,
Dia telah memurnikan seluruh keberadaan.

Orang bijak yang kualitas ini muncul,
Tidak tunduk pada kelahiran kembali (punarbhava), murni di dalam kebijaksanaan;
Tanpa sokongan, kebebasannya adalah murni,
Dia sangat terpelajar dan tidak kehilangan [apa yang dia pelajari].

Orang bijak yang kualitas ini muncul,
Telah mengerahkan semangat dan tidak jatuh jauh dari Kebangkitan;
Tidak bergantung pada atau paling sedikit pada keuntungan atau kehormatan,
Dia akan mencapai ke Kebangkitan tertinggi.


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Thu Apr 21, 2016 12:12 am, total 3 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Hum

Post by skipper on Tue Apr 05, 2016 10:48 pm




BAB 13
Sepuluh Kekuatan

"Jika, Bhadrapala, Dia memiliki delapan dharma itu, sang Bodhisattva memperoleh sepuluh kekuatan dari Tathagata (tathagata-dasabala). Apa sepuluh itu? Yaitu, Bhadrapala, sang Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan (yathabhutam prajanati), yang mungkin sebagai yang mungkin (sthanam ca sthanatah) dan mengetahui sesuai dengan kenyataan, yang tidak mungkin sebagai yang tidak mungkin (asthanam casthanatah), dan, Bhadrapala, ketika sang Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan, yang mungkin sebagai yang mungkin, dan yang tidak mungkin sebagai yang tidak mungkin; ini, Bhadrapala, adalah Tathagata-bala yang pertama dari sang Tathagata; atas dasar (nisritya) kekuatan itu, sang Tathagata mengetahui lokasi pemimpin rombongan (arsabham sthanam pratijanati), masuk kedalam perkumpulan itu dan mengaumkan auman singa dengan benar (samyak simha-nadam nadati), dan memutar Roda Dharma (dharman-cakram-varta-yati) yang tiada Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma."

"Selanjutnya, Bhadrapala, sang Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan, pemahaman dari lokasi (sthana), penyebab (hetu), dan pematangan (vipaka) dari tindakan (karma) masa lalu, masa depan, dan masa sekarang dan usaha dari tindakan (karma-samadana); ini, Bhadrapala, adalah Tathagata-bala yang kedua dari sang Tathagata; atas dasar kekuatan itu, sang Tathagata mengetahui lokasi pemimpin rombongan, masuk kedalam perkumpulan itu dan mengaumkan auman singa dengan benar, dan memutar Roda Dharma yang tiada Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma."

"Selanjutnya, Bhadrapala, sang Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan, pemahaman dari jalan yang mengarah ke semua (sarvatragamini pratipad), dan, Bhadrapala, ketika sang Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan, pemahaman dari jalan yang mengarah ke semua; ini, Bhadrapala, adalah Tathagata-bala yang ketiga dari sang Tathagata; atas dasar kekuatan itu, sang Tathagata mengetahui lokasi pemimpin rombongan, masuk kedalam perkumpulan itu dan mengaumkan auman singa dengan benar, dan memutar Roda Dharma yang tiada Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma."

"Selanjutnya, Bhadrapala, sang Tathagata  mengetahui sesuai dengan kenyataan, pemahaman dari dunia dengan unsurnya (dhatu) yang sangat banyak dan unsurnya yang beranekaragam, dan, Bhadrapala, ketika sang Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan, pemahaman dari dunia dengan unsurnya yang sangat banyak dan unsurnya yang beranekaragam; ini, Bhadrapala, adalah Tathagata-bala yang keempat dari sang Tathagata; atas dasar kekuatan itu, sang Tathagata mengetahui lokasi pemimpin rombongan, masuk kedalam perkumpulan itu dan mengaumkan auman singa dengan benar, dan memutar Roda Dharma yang tiada Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma."

"Selanjutnya, Bhadrapala, sang Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan, pemahaman dari kecenderungan (adhimukti) yang beranekaragam dari para makhluk, dan, Bhadrapala, ketika sang Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan, pemahaman dari kecenderungan yang beranekaragam dari makhluk lain; ini, Bhadrapala, adalah Tathagata-bala yang kelima dari sang Tathagata; atas dasar kekuatan itu, sang Tathagata mengetahui lokasi pemimpin rombongan, masuk kedalam perkumpulan itu dan mengaumkan auman singa dengan benar, dan memutar Roda Dharma yang tiada Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma."

"Selanjutnya, Bhadrapala, sang Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan, pemahaman dari yang lebih tinggi dan yang lebih rendah dari indera (indriya-paraparata) dari para makhluk, dan, Bhadrapala, ketika sang Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan, pemahaman dari yang lebih tinggi dan yang lebih rendah dari indera dari para makhluk; ini, Bhadrapala, adalah Tathagata-bala yang keenam dari sang Tathagata; atas dasar kekuatan itu, sang Tathagata mengetahui lokasi pemimpin rombongan, masuk kedalam perkumpulan itu dan mengaumkan auman singa dengan benar, dan memutar Roda Dharma yang tiada Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma."

"Selanjutnya, Bhadrapala, sang Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan, kekotoran batin (samklesa), pemurniannya (vyavadana), dan kemunculan (yutthana) dari meditasi (dhyana), pembebasan (vimoksa), konsentrasi (samadhi), dan pencapaian (samapatti), dan, Bhadrapala, ketika sang Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan, kekotoran batin, pemurniannya, dan kemunculan dari meditasi, pembebasan, konsentrasi, dan pencapaian; ini, Bhadrapala, adalah Tathagata-bala yang ketujuh dari sang Tathagata; atas dasar kekuatan itu, sang Tathagata mengetahui lokasi pemimpin rombongan, masuk kedalam perkumpulan itu dan mengaumkan auman singa dengan benar, dan memutar Roda Dharma yang tiada Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma."

"Selanjutnya, Bhadrapala, sang Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan, pemahaman dari ingatan kehidupan masa lampau (purva-nivasanusmrti), dan, Bhadrapala, ketika sang Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan, pemahaman dari ingatan kehidupan masa lampau; ini, Bhadrapala, adalah Tathagata-bala yang kedelapan dari sang Tathagata; atas dasar kekuatan itu, sang Tathagata mengetahui lokasi pemimpin rombongan, masuk kedalam perkumpulan itu dan mengaumkan auman singa dengan benar, dan memutar Roda Dharma yang tiada Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma."

"Selanjutnya, Bhadrapala, sang Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan, pemahaman dari mata surga (divya-caksu), dan, Bhadrapala, ketika sang Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan, pemahaman dari mata surga; ini, Bhadrapala, adalah Tathagata-bala yang kesembilan dari sang Tathagata; atas dasar kekuatan itu, sang Tathagata mengetahui lokasi pemimpin rombongan, masuk kedalam perkumpulan itu dan mengaumkan auman singa dengan benar, dan memutar Roda Dharma yang tiada Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma."

"Selanjutnya, Bhadrapala, sang Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan, pemahaman dari kehancuran arus keluar kekotoran batin (asrava-ksaya), dan, Bhadrapala, ketika sang Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan, pemahaman dari kehancuran arus keluar kekotoran batin; ini, Bhadrapala, adalah Tathagata-bala yang kesepuluh dari sang Tathagata; atas dasar kekuatan itu, sang Tathagata mengetahui lokasi pemimpin rombongan, masuk kedalam perkumpulan itu dan mengaumkan auman singa dengan benar, dan memutar Roda Dharma yang tiada Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma."

"Ini, Bhadrapala, sepuluh kekuatan dari Tathagata akan didapatkan oleh sang Bodhisattva."

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

Jika Dia mendirikan dirinya sendiri di dalam Samadhi ini,
Sang Bodhisattva akan mendapatkan,
Tahap (bhumi) dari kekuatan yang dijelaskan,
Oleh sang Lokanatha.

Pemahaman yang sesuai dengan kenyataan,
Dari yang mungkin, juga yang tidak mungkin,
Adalah kekuatan pertama dari Buddha,
Sang Lokanatha.

Itu adalah kekuatan pertama dari Yang muncul dengan sendirinya (svayambhu),
Sang Lokanatha;
Terdirikan di dalamnya, sang Sambuddha,
Mengajarkan Dharma kepada para makhluk.

Pemahaman dari tindakan masa lalu, masa depan, dan sekarang,
Dengan kemungkinannya dan penyebabnya,
Adalah kekuatan kedua dari Buddha,
Sang Lokanatha.

Ke tempat manapun (tatra),  
Di Jalan yang mengarah ke semua,
Dan mengetahuinya semua,
Adalah kekuatan tidak terbayangkan yang ketiga.

Pemahaman dari unsur (dhatu),  
Yang beranekaragam dari dunia,
Ini adalah kekuatan keempat,
Dari sang Svayambhu.

Pemahaman dari kecenderungan yang lebih rendah, lebih tinggi,
Atau yang menengah dari para makhluk;  
Itu adalah kekuatan kelima,
Dari Samyaksambuddha.

Keterampilan dalam membedakan indera,  
Yang lebih tinggi, dan yang lebih rendah,
Adalah kekuatan keenam dari Buddha,
Sang Maha Resi, sang Samyaksambuddha.

Untuk mengetahui kekotoran batin,
Pemurniannya, dan kemunculan dari meditasi,
Pembebasan, konsentrasi dan pencapaian,
Disebut kekuatan ketujuh.

Pemahaman kehidupan masa lampau,
Di mana orang-orang sebelumnya telah berada,
Banyak koti dari kembalinya mereka,
Itu adalah kekuatan kedelapan.

Memperoleh penglihatan surga,
Yang mengetahui kematian dan kelahiran kembali (cyutyupapada),
Dan melihat surga (svarga) dan alam sengsara (apaya),
Ini adalah kekuatan kesembilan.

Deva atau manusia manapun :
"Semua arus keluar kekotoran batin Saya telah lenyap,
Pada saya kelahiran kembali telah lenyap,"
Ini adalah kekuatan kesepuluh yang tidak terbayangkan.

Kekuatan dari sang Svayambhu ini,
Sang Lokanatha,
Semuanya adalah tidak sulit untuk diperoleh,
Jika orang menetapkan diri di dalam Samadhi ini.


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Sun Apr 17, 2016 1:28 am, total 1 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

HUM

Post by skipper on Tue Apr 12, 2016 10:18 pm




BAB 14
Empat Jaminan Kepastian

"Apa, Bhadrapala, jaminan kepastian (vaisaradya) dari Tathagata yang Bodhisattva akan peroleh jika Dia memasuki Samadhi ini? Ada empat, Bhadrapala, dari jaminan kepastian dari Tathagata yang Bodhisattva akan peroleh jika Dia memasuki Samadhi ini. Apakah empat itu? Yaitu, Saya tidak melihat alasan apapun (nimitta) mengapa Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia bisa dengan benar menuduh (sahadharmena codayed) Saya, dengan mengatakan bahwa untuk Saya yang sempurna terbangkitkan di sini adalah dharma ini tentang yang Saya tidak sepenuhnya terbangkitkan; Tidak melihat alasan seperti itu, Saya dengan senang tetap dalam hati terhibur (asvasaprapto viharami), tetap tiada takut (abhayaprapta), tetap tenang (ksemaprapta), dan tetap yakin (vaisaradyaprapta). Pergi kedalam perkumpulan majelis, Saya akan mengaumkan auman singa dengan benar. Saya akan memutar Roda Dharma yang tiada Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma. Itu, Bhadrapala, adalah vaisaradya yang pertama dari sang Tathagata yang Bodhisattva akan mendapatkannya jika Dia memasuki Samadhi ini."

"Selanjutnya, Bhadrapala, Saya tidak melihat alasan apapun mengapa Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia bisa dengan benar menuduh Saya, dengan mengatakan bahwa untuk Saya yang arus kekotoran batin telah lenyap (ksinasrava), ada arus kekotoran batin ini yang belum lenyap; Tidak melihat alasan seperti itu, Saya dengan senang tetap dalam hati terhibur, tetap tiada takut, tetap tenang, dan tetap yakin. Pergi kedalam perkumpulan majelis, Saya akan mengaumkan auman singa dengan benar. Saya akan memutar Roda Dharma yang tiada Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma. Itu, Bhadrapala, adalah vaisaradya yang kedua dari sang Tathagata yang Bodhisattva akan mendapatkannya jika Dia memasuki Samadhi ini."

"Selanjutnya, Bhadrapala, Saya tidak melihat alasan apapun mengapa Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia bisa dengan benar menuduh Saya, dengan mengatakan bahwa hal-hal yang Saya umumkan sebagai dharma penghalang (antarayika-dharma) ternyata tidak menjadi dharma penghalang jika orang mengikutinya (pratisev-); Tidak melihat alasan seperti itu, Saya dengan senang tetap dalam hati terhibur, tetap tiada takut, tetap tenang, dan tetap yakin. Pergi kedalam perkumpulan majelis, Saya akan mengaumkan auman singa dengan benar. Saya akan memutar Roda Dharma yang tiada Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma. Itu, Bhadrapala, adalah vaisaradya yang ketiga dari sang Tathagata yang Bodhisattva akan mendapatkannya jika Dia memasuki Samadhi ini."

"Selanjutnya, Bhadrapala, Saya tidak melihat alasan apapun mengapa Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia bisa dengan benar menuduh Saya, dengan mengatakan bahwa Dharma yang Saya jelaskan sebagai yang mulia (arya), yang menyebabkan pembebasan (nairyanika), dan yang menyebabkan kehancuran total penderitaan (samyag-duhkha-ksaya) untuk orang yang melaksanakannya (tatkarasya) ternyata bukan yang mulia, tidak menyebabkan pembebasan, dan tidak menyebabkan kehancuran total penderitaan untuk orang yang melaksanakannya; Tidak melihat alasan seperti itu, Saya dengan senang tetap dalam hati terhibur, tetap tiada takut, tetap tenang, dan tetap yakin. Pergi kedalam perkumpulan majelis, Saya akan mengaumkan auman singa dengan benar. Saya akan memutar Roda Dharma yang tiada Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma. Itu, Bhadrapala, adalah vaisaradya yang keempat dari sang Tathagata yang Bodhisattva akan mendapatkannya jika Dia memasuki Samadhi ini."

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

'Apapun yang menjamin (visarada) sang Buddha,
Menjelaskan jaminan kepastian,
Setelah mengaumkan auman singa,
Dia juga mengajarkan Dharma kepada perkumpulan majelis.

Dia tidak melihat ada yang bisa menuduh-Nya,
Yang mengumumkan sempurna terbangkitkan,
Mengatakan: "Pada dharma ini Anda tidak terbangkitkan"
Oleh karena itu sang Buddha terjamin.

Di dunia dengan para Deva nya
Dia tidak melihat ada yang bisa menuduh-Nya,
Yang mengumumkan arus kekotoran batin telah lenyap,
Mengatakan: "Arus keluar ini tidak lenyap."

Dia tidak melihat ada yang bisa menuduh-Nya,
Mengatakan: "Apapun dharma penghalang,
Yang orang pernah lakukan,
Ternyata tidak menjadi penghalang."

Dharma terunggul yang dijelaskan oleh Saya,
Untuk tujuan memenangkan Nirvana,
Adalah tempat terunggul dari Nirvana,
Oleh karena itu tidak ada yang bisa menuduh Saya.

Bodhisattva yang terdirikan dalam Samadhi ini,
Akan memperoleh,
Jaminan kepastian yang telah dijelaskan,
Oleh sang Lokanatha.


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Sun Apr 17, 2016 12:02 pm, total 2 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta Nama Mahayana Sutra

Post by skipper on Tue Apr 12, 2016 10:20 pm




BAB 15
Delapan Belas Kualitas Khusus Pada Buddha

"Apa, Bhadrapala, delapan belas kualitas khusus Buddha (astadasavenika-buddha-dharma) yang dimiliki para Tathagata, yang Bodhisattva akan peroleh jika Dia memasuki Samadhi ini? Yaitu, Bhadrapala, antara malam di mana sang Tathagata sepenuhnya mencapai kebangkitan sempurna yang lengkap dan tiada tandingan dan malam di mana Dia menjalani Parinirvana di dalam alam Nirvana tanpa ada rupa yang tersisa (yan ca ratrim tathagato anuttaram samyaksambodhim abhisambuddho yan ca ratrim nirupadhisese nirvanadhatau parinirvasyaty etasminn antare), (1) sang Tathagata tidak terganggu (nasti tathagatasya skhalitam); (2) suara-Nya tidak rusak (nasti ravitam); (3) ingatan-Nya tidak hilang (nasti musitasmrtita); (4) pikiran-Nya tidak pernah tidak tenang (nasti asamahitam cittam); (5) Dia tidak memiliki tanggapan penglihatan yang berbeda-beda (nasti nanatvasamjna); (6) keseimbangan batin-Nya tidak pernah tidak diamati (nasti apratisamkhyayopeksa); (7) Dia tidak kehilangan kesenangan (nasti chandaparihanir); ( 8 ) Dia tidak kehilangan semangat (nasti viryaparihanir); (9) Dia tidak kehilangan kesadaran penuh (nasti smrtiparihanir); (10) Dia tidak kehilangan konsentrasi (nasti samadhiparihanir); (11) Dia tidak kehilangan kebijaksanaan (nasti prajnaparihanir); (12) Dia tidak kehilangan penglihatan dan pengetahuan yang terbebaskan (nasti vimuktijnanadarsanaparihanih); (13) berkaitan dengan yang di masa lampau, jalannya penglihatan dan pengetahuan-Nya tanpa kemelekatan dan tidak terhalang (atite 'dhvany apratihatam asangam jnanadarsanam pravartate); (14) berkaitan dengan yang di masa depan, jalannya penglihatan dan pengetahuan-Nya tanpa kemelekatan dan tidak terhalang (anagate 'dhvany apratihatam asangam jnanadarsanam pravartate); (15) berkaitan dengan yang di masa sekarang, jalannya penglihatan dan pengetahuan-Nya tanpa kemelekatan dan tidak terhalang (pratyutpanne 'dhvany apratihatam asangam jnanadarsanam pravartate); (16) semua kegiatan tubuh sang Tathagata berdasarkan pengetahuan dan diikuti pengetahuan (sarvam tathagatasya kayakarma jnanapurvamgamam jnananuparivarti); (17) semua kegiatan ucapan sang Tathagata berdasarkan pengetahuan dan diikuti pengetahuan (sarvam tathagatasya vakkarma jnanapurvamgamam jnananuparivarti); (18) semua kegiatan pikiran sang Tathagata berdasarkan pengetahuan dan diikuti pengetahuan (sarvam tathagatasya manaskarma jnanapurvamgamam jnananuparivarti)."

"Ini, Bhadrapala, adalah delapan belas kualitas khusus pada Buddha yang dimiliki sang Tathagata yang Bodhisattva akan peroleh jika Dia menetapkan dirinya di dalam Samadhi ini."

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

'Dengarkan saat Saya menjelaskan,
Kualitas yang khusus pada Buddha,
Yang terdirikan di mana sang Tathagata,
Memutar Roda Dharma.

Malam di mana sang Sambuddha,
Sang Tathagata, mencapai Bodhi,
Dan malam di mana Dia menjalani,
Nirvana tanpa rupa yang tersisa,

Diantara itu, apapun yang telah dikatakan,
Sedang dikatakan, dan yang akan dikatakan,
Adalah semuanya sesuai dengan kenyataan (yathabhutam);
Itu adalah kekhususan yang pertama (pratamah-avenika).

Tidak terganggu pada hal terkecil sekalipun,
Tidak salah dalam berkata;
Tidak kekurangan dalam berkata,
Juga tidak sedih.

Tidak pelupa,
Keseimbangan batin tidak pernah tidak diamati;
Tidak membuat perbedaan diantara gejala kejadian (dharma),
Dan selalu tenang.

Semangat tidak hilang,
Kesadaran penuh juga tidak hilang;
Tidak tergoyahkan dari konsentrasi,
Dan itu tidak pernah berhenti bagi Saya.

Kebijaksanaan tidak pernah berhenti,
Pembebasan juga tidak pernah berhenti,
Pengetahuan dan penglihatan yang terbebaskan,
Juga tidak pernah berhenti bagi Saya.

Berkenaan dengan masa lalu juga,
Pengetahuan Saya tanpa hambatan.
Berkenaan dengan masa depan juga,
Tak ada halangan (avarana) bagi Saya.

Berkenaan dengan saat ini juga,
Saya tanpa kemelekatan;
Saya, sang Natha, memiliki pengetahuan yang tidak terhalang,
Berkenaan dengan semua dharma.

Semua kegiatan dari tubuh Saya
Disertai oleh pengetahuan;
Semua kegiatan dari ucapan dan pikiran Saya,
Didahului oleh pengetahuan.

Ini adalah delapan belas kualitas khusus,
Pada Yang sempurna terbangkitkan (Sambuddha),
Terdirikan di mana para Tathagata,
Memutar Roda Dharma.

Jika orang telah mengembangkan Samadhi ini,
Delapan belas kualitas khusus pada Buddha,
Sepuluh kekuatan dari sang Guru,
Dan jaminan kepastian itu tidak sulit untuk diperoleh.


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Tue Apr 12, 2016 10:34 pm, total 1 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

HUM

Post by skipper on Tue Apr 12, 2016 10:23 pm




BAB 16
Kegembiraan

"Selanjutnya, Bhadrapala, Bodhisattva harus bergembira di dalam Samadhi ini dengan empat kegembiraan (anumodana). Apakah empat itu? Yaitu: 'Seperti para Tathagata Arhan Samyaksambuddha masa lalu, ketika Mereka sebelumnya berjuang dalam kegiatan Bodhisattva, saat mendengar dan menerima ajaran dalam Samadhi ini, bergembira untuk menyempurnakan pembelajaran yang besar demi mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi, jadi demikian juga dengan Saya, saat mendengar Samadhi ini, bergembira untuk menyempurnakan pembelajaran yang besar demi mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi.' Ini, Bhadrapala, adalah kegembiraan pertama dari sang Bodhisattva."

"Selanjutnya, Bhadrapala: "Seperti para Tathagata Arhan Samyaksambuddha masa depan, ketika Mereka berjuang dalam kegiatan Bodhisattva, akan, saat mendengar dan menerima ajaran dalam Samadhi ini, bergembira untuk menyempurnakan pembelajaran yang besar demi mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi, jadi demikian juga dengan Saya, saat mendengar Samadhi ini, bergembira untuk menyempurnakan pembelajaran yang besar demi mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi.' Ini, Bhadrapala, adalah kegembiraan kedua dari sang Bodhisattva."

"Selanjutnya, Bhadrapala, Bodhisattva harus mengumumkan: "Seperti Tathagata Arhan Samyaksambuddha masa sekarang, ketika dulu berjuang dalam kegiatan Bodhisattva, saat mendengar dan menerima ajaran dalam Samadhi ini, bergembira, menyempurnakan pembelajaran yang besar, telah mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi, dan seperti para Bodhisattva di masa sekarang bergembira di dalam Samadhi ini, jadi demikian juga dengan Saya, saat mendengar Samadhi ini, bergembira untuk menyempurnakan pembelajaran yang besar demi mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi.' Ini, Bhadrapala, adalah kegembiraan ketiga dari sang Bodhisattva."

"Selanjutnya, Bhadrapala, Bodhisattva harus mengumumkan: "Semoga semua pahala kebajikan ini yang terhubung dengan kegembiraan, yang dibagikan (sadharani-kr-) oleh Saya dengan semua makhluk, menyebabkan kebangkitan yang tertinggi dan sempurna; semoga itu mengarah pada memperoleh Samadhi ini; semoga itu mengarah pada penyempurnaan belajar yang besar! " Ini, Bhadrapala, adalah pahala kebajikan keempat yang terhubung dengan kegembiraan dari sang bodhisattva."

"Ketika, Bhadrapala, para Bodhisattva yang memperoleh Samadhi ini dan pahala kebajikan yang terhubung dengan kegembiraan, telah memenuhi dharma yang memungkinkan untuk kebangkitan (bodhipaksa-dharma), Mereka akan cepat mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi."

"Bhadrapala, Saya akan memberikan sebuah persamaan (upama) dari betapa besar kumpulan pahala kebajikan yang akan didapatkan oleh Bodhisattva ketika Dia bergembira di dalam Samadhi ini dengan kegembiraan-kegembiraan itu dan pembagian (parinamayati) jasa kebajikan itu."

"Itu adalah seolah-olah, Bhadrapala, misalnya, ada orang yang hidupnya berakhir setelah selama banyak ratusan tahun, yang hidup selama banyak ratusan tahun, dan yang cepat dan kuat sama seperti angin; jika ia melakukan perjalanan ke timur tanpa beristirahat selama ratusan tahun penuh, dan juga melakukan perjalanan ke selatan, barat, utara, dan ke titik terendah dan puncak tertinggi juga, maka, Bhadrapala, bagaimana menurut Anda? Akankah ada orang yang mampu (utsahate) untuk menghitung, mengukur, memahami, atau menilai berapa banyak yojana telah dijalani oleh ia yang hidupnya berakhir selama ratusan tahun, yang hidup selama ratusan tahun, dan yang cepat dan kuat sama seperti angin, ia yang telah melakukan perjalanan tanpa beristirahat dalam enam penjuru arah, menjelajah selama seratus tahun di dalam setiap penjuru arah?"

Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata kepada sang Bhagavān :"Bhagavān, itu adalah tidak mungkin, kecuali untuk Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Sariputra, dan Bodhisattva yang avaivartika."

Sang Bhagavān berkata: "Jika ada kulaputra atau kuladuhitrā yang akan mengisi dengan emas dan perak di daerah dalam cakupan wilayah (gocara) dari orang itu yang hidup selama ratusan tahun dan yang bepergian secepat kecepatan angin, dan akan mempersembahkannya kepada para Tathagata Arhan Samyaksambuddha, namun belum mendengar Samadhi ini; dan jika ada Bodhisattva yang akan, saat mendengar Samadhi ini, bergembira dengan empat kegembiraan itu, dan setelah bergembira juga menyalurkan pahala kebajikan, dengan keinginan untuk pembelajaran yang besar, demi mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi; Maka, Bhadrapala, kumpulan pahala kebajikan yang sebelumnya itu tidak akan mendekati bahkan bagian seperseratus dari pahala kebajikan ini! Itu tidak akan mendekati bahkan bagian seperseribu, seperseratus-ribu, seperseratus koti, seperseratus ribu kotinayuta, angka (samkhya), pecahan angka (kala), penghitungan (ganana), persamaan (upama), atau perbandingan (upanisad)."

"Lihatlah, Bhadrapala, betapa berharga untuk para Bodhisattva kumpulan pahala kebajikan yang terhubung dengan kegembiraan di dalam Samadhi ini. Oleh karena itu, Bhadrapala, itu harus dipahami bahwa kumpulan pahala kebajikan yang terhubung dengan kegembiraan di dalam Samadhi ini dalam cara ini (paryayena anena) adalah hal yang berharga untuk para Bodhisattva. "

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

Berhubungan dengan ajaran dari Sutra ini,
Mereka memiliki empat kualitas kegembiraan (anumodana-dharma),
Dari para Bhagavān masa lalu, masa depan,
Dan saat ini.

Praktek kebajikan dari kegembiraan,
Membebaskan yang ada di sepuluh penjuru arah;
Bahkan para makhluk yang terbang dan menggeliat,
Semuanya akan mencapai Kebangkitan yang sama.

Misalnya, di sekitar sini
Dalam empat penjuru arah, serta atas dan bawah,
Seorang pria, setelah lahir, menempuh perjalanan ratusan tahun,
Melakukan perjalanan tanpa istirahat sampai akhir hidupnya.

Jika orang ingin mengukur jarak itu,
Luasnya akan sulit untuk dihitung;
Hanya Buddha, dan Murid-Nya akan tahu,
Serta Bodhisattva yang avaivartika.

Untuk mengisi dengan permata berharga dan membuat persembahan,
Tidak akan sebanding dengan mendengar Dharma ini;
Tentang empat kualitas kegembiraan,
Jasa kebajikannya melampaui yang lain.

Lalu, Bhadrapala, dengan mengamati,
Empat kualitas dari kegembiraan;
Persembahan yang koti banyaknya,
Tidak sebanding dengan Kegembiraan ini.

_________________________________________________________________

Bodhipaksya-dharma adalah dharma yang memungkinkan untuk kebangkitan ada 37: 4 smrtyupasthāna, 4 samyakpradhāna, 4 rddhipāda, 5 indriya, 5 bala, 7 bodhyanga, 8 āryāstāngika-mārga.
Empat pemusatan tumpuan dari kesadaran penuh (catvari-smrtyupasthāna) :
1. Kesadaran penuh pada tubuh (kāyânupasthāna);
2. Kesadaran penuh pada perasaan (vedanā'nupasthāna);
3. Kesadaran penuh pada pikiran (cittânupasthāna);
4. Kesadaran penuh pada gejala kejadian (dharmanupasthāna).
Empat usaha yang benar (catvari-samyakpradhāna) :
5. usaha tekun untuk mencegah keadaan-keadaan jahat yang belum muncul dari kemunculan (samvara pradhāna);
6. usaha tekun untuk meninggalkan keadaan-keadaan jahat yang muncul (paravrna pradhāna);
7. usaha tekun untuk menghasilkan kondisi bajik yang belum muncul (bhavana pradhāna);
8. usaha tekun untuk mempertahankan kondisi bajik yang muncul (anurakkhanā pradhāna).
Empat jalan kekuatan ajaib (rddhipāda) :
9. keinginan untuk bertindak (chanda);
10. Semangat ketekunan (viriya);
11. kesadaran pikiran (citta);
12. Menyelidiki (yaitu kebijaksanaan) (vimamsa).
Lima indera batin (panca indriya) :
13. Indera Keyakinan (sraddha indriya);
14. Indera Usaha Tekun (viriya indriya);
15. Indera Kesadaran (smrtih indriya);
16. Indera Pemusatan Pikiran/Konsentrasi (samadhi indriya);
17. Indera Kebijaksanaan (prajna indriya).
Lima kekuatan batin (panca bala)
18. Kekuatan Keyakinan (sraddha bala);
19. Kekuatan Usaha Tekun (viriya bala);
20. Kekuatan Kesadaran (smrtih bala);
21. Kekuatan Pemusatan Pikiran/Konsentrasi (samadhi bala);
22. Kekuatan Kebijaksanaan (prajna bala).
Tujuh faktor kebangkitan (sapta bodhyanga)
23. Faktor Kesadaran (smrtih sambodhyanga);
24. Faktor Penyelidikan Dharma (dharmavicaya sambodhyanga);
25. Faktor Semangat Ketekunan (viriya sambodhyanga);
26. Faktor Kegembiraan (prīti sambodhyanga);
27. Faktor Keheningan Tenang (praśrabdhi sambodhyanga);
28. Faktor Konsentrasi (samadhi sambodhyanga);
29. Faktor Keseimbangan Batin (upeksā sambodhyanga).
Jalan mulia berunsur delapan (āryāstāngamārgah) :
30. Pandangan Yang Benar (samyagdrstih);
31. Niat Yang Benar (samyaksamkalpah);
32. Ucapan Yang Benar (samyagvāk);
33. Perbuatan Yang Benar (samyakkarmāntah);
34. Pencaharian Penghidupan Yang Benar (samyagājīvah);
35. Usaha Yang Benar (samyagvyāyāmah);
36. Perhatian Kesadaran Yang Benar (samyaksmrtih);
37. Konsentrasi Yang Benar (samyaksamādhiriti).


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Sun Apr 17, 2016 12:13 pm, total 4 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

HUM

Post by skipper on Tue Apr 12, 2016 10:24 pm




Bab 17
Buddha Simhamati

"Jauh di masa lalu, Bhadrapala, pada masa lampau dan di kalpa yang tidak terhitung, yang melampaui perhitungan, yang luas, yang tidak terukur, yang tidak terbayangkan, yang telah berlalu (bhutapurvam bhadrapalatite' dhvany asamkhyeye kalpe 'samkhyeyatare vipule' prameye 'cintye yadaslt tena Kalena tena samayena) ada muncul di dunia Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang bernama Simhamati, Yang Sempurna Pikiran Dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Yang Mengetahui Dunia, Penjinak Nafsu Makhluk Yang Tiada Tandingan, Guru Dewa and Manusia, Yang Tercerahkan, Sang Penguasa Tertinggi."

"Pada saat itu, Bhadrapala, Jambudvipa ini makmur (samrddha), luas, bahagia, kekayaan berlimpah (subhiksa), menyenangkan (ramaniya), banyak penduduknya, dan padat dihuni. Saat itu, Bhadrapala, di sini di Jambudvipa, ada 68.000 kota besar, semuanya terbuat dari tujuh jenis permata berharga, berisi sembilan koti perumah tangga, dan berukuran dua belas yojana. Saat itu, Bhadrapala, Jambudvipa ini adalah luas dan besar, menjadi yaitu 68.000 yojana luasnya. Saat itu, Bhadrapala, di sini, di dalam Jambudvipa, di tempat di mana sang Tathagata itu dilahirkan, ada sebuah kota besar yang bernama Bhadramkara, dan di kota besar itu, hidup enam puluh koti para makhluk."

"Selanjutnya, Bhadrapala, pada waktu itu, pada perkumpulan pertama dari para Murid (sravaka-samnipata) dari sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha Simhamati, sembilan puluh koti Arhat berkumpul. Setelah tujuh hari, pada perkumpulan kedua dari para murid, sembilan puluh koti Arhat berkumpul. Setelah tujuh hari, pada perkumpulan ketiga dari para murid, sembilan puluh koti Arhat berkumpul. Sembilan puluh koti Bodhisattva yang murni juga berkumpul. Setelah itu, para Murid dari sang Bhagavān telah melampaui perhitungan banyaknya."

"Pada saat itu dan pada jaman itu, Bhadrapala, orang-orang itu sepenuhnya patuh pada jalan dari sepuluh perbuatan baik (dasa-kusala-karmapatha), sama persis seperti, misalnya, para makhluk yang dibawah pengajaran (pravacana) dari sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha Maitreya, yang akan diberkahi dengan jalan dari sepuluh perbuatan baik. Saat itu, Bhadrapala, rentang kehidupan dari para makhluk adalah sebesar 84.000 tahun."

"Pada saat itu, Bhadrapala, ada di kota besar itu Raja Pemutar Roda (cakravarti-raja) yang bernama Visesagamin, yang diberkahi dengan tujuh permata berharga dan memiliki seribu putra, Dia pergi menemui sang Bhagavān Tathagata Simhamati, dan menyembah-Nya. Kemudian, Bhadrapala, sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha Simhamati, mengetahui tekad dari raja Visesagamin, mengajarkan dan menjelaskan Samadhi ini. Setelah itu, Bhadrapala, dengan mendengar Samadhi ini, raja Visesagamin bergembira. Dan setelah bergembira, Dia menaburkan segenggam permata kepada sang Bhagavān, sambil berpikir :'Melalui pahala kebajikan ini, semoga semua makhluk disepuluh penjuru arah menjadi tentram.'"

"Kemudian setelah Dia meninggal, dan melalui kebajikan dari akar kebaikan itu, Dia terlahir kembali di sini di Jambudvipa ke dalam rumah kerajaan, setelah Parinirvana dari sang Tathagata itu. Pada saat itu, Bhadrapala, telah ada muncul di bawah pengajaran sang Tathagata itu seorang Bhiksu pengkhotbah Dharma (dharmabhanaka) yang bernama 'Ratnavara (Yang Terbaik Dari Permata)', yang mengajar secara penuh dan mengumumkan Samadhi ini kepada empat kelompok majelis. Pada saat itu, Bhadrapala, Raja yang bernama Visesagamin itu telah menjadi seorang pangeran dengan nama Brahmadatta, dan Dia mendengar sang Bhiksu itu menjelaskan Samadhi ini. Mendengar hal itu, segera setelah mendengarnya, Dia mengalami keyakinan, dan dengan pikiran penuh keyakinan, Dia menaburkan permata yang senilai ratusan ribu keping emas dan jubah ganda dari kain katun (dusyayuga) kepada sang Bhiksu itu."

"Kemudian, Bhadrapala, sang pangeran Brahmadatta, setelah mendengar Samadhi ini dari sang Bhiksu itu, dan setelah menaburi sang Bhiksu dikarenakan oleh penjelasannya yang sangat baik, membangkitkan Pikiran Kebangkitan Yang Sempurna Dan Tiada Tanding (Anuttarā Samyaksambodhicitta). Setelah membangkitkan pikiran kebangkitan yang sempurna dan tiada tanding, berkeinginan untuk Samadhi ini, Dia dan seribu orang dengannya, yang menginginkan Dharma, mencukur rambut dan jenggot, mengenakan jubah merah kekuningan (kasaya), dengan setia berangkat dari kehidupan rumah tangga ke keadaan yang tidak berumah di bawah pengajaran sang Bhiksu pengkhotbah Dharma itu. Setelah berangkat, menyembah dan mengikuti sang Bhiksu selama 8.000 tahun bersama-sama dengan rombongannya sebanyak seribu orang, Dia memperoleh Samadhi ini dengan hanya satu kali mendengarnya dari sang Bhiksu. Setelah mendengarnya tidak dua kali, tapi hanya sekali, Dia bersukacita dengan empat kegembiraan."

"Melalui akar kebaikan itu, Dia, bersama dengan seluruh seribu orang itu, bertemu (aragayati) 68.000 Buddha. Dengan menjelaskan secara penuh Samadhi ini dan mengumumkannya secara penuh kepada orang lain di seluruh kelahiran kembalinya, Dia juga bertemu 68.000 Buddha dalam urutan (anupurvena). Melalui memperoleh Samadhi ini dan akar kebaikan yang terhubung dengan kegembiraan, Dia menyempurnakan dharma yang memungkinkan untuk kebangkitan (bodhipaksikadharma); Setelah mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi, Dia menjadi sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang bernama Drdhavirya, Yang Sempurna Pikiran Dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Yang Mengetahui Dunia, Penjinak Nafsu Makhluk Yang Tiada Tandingan, Guru Dewa and Manusia, Yang Tercerahkan, Sang Penguasa Tertinggi. Dia mendirikan ratusan ribu kotinayuta makhluk yang tidak terhitung ke dalam Anuttara-Samyak-Sambodhi."

"Seribu orang itu juga, melalui kebajikan dari akar kebaikan yang sama ini, dimatangkan oleh Samadhi ini, menyempurnakan dharma yang memungkinkan untuk kebangkitan, mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi; Mereka semua menjadi Tathagata Arhan Samyaksambuddha dengan nama Drdhasura, Yang Sempurna Pikiran Dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Yang Mengetahui Dunia, Penjinak Nafsu Makhluk Yang Tiada Tandingan, Guru Dewa and Manusia, Yang Tercerahkan, Sang Penguasa Tertinggi. Mereka mendirikan ratusan ribu kotinayuta makhluk yang tidak terhitung ke dalam Anuttara-Samyak-Sambodhi."

"Lihatlah, Bhadrapala, betapa berharganya kumpulan pahala kebajikan yang terhubung dengan kegembiraan dalam Samadhi ini. Jika orang mungkin demikian, hanya dengan pengumuman terhubung dengan kegembiraan, mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi, maka, Bhadrapala, betapa lebih lagi bagi Bodhisattva yang saat mendengar Samadhi ini, menerimanya, menguasainya, menjaganya, membacanya, dan mengumumkannya secara penuh kepada orang lain, dan terus mengerahkan dirinya sendiri dalam usaha untuk mengembangkannya? Dan siapa, Bhadrapala, yang akan, saat mendengar Samadhi ini, tidak akan bersukacita di dalamnya, tidak menerima ajaran di dalamnya, tidak menguasainya, tidak menjaganya, tidak memberitakannya secara penuh kepada orang lain, dan tidak terus mengerahkan dirinya dalam usaha untuk mengembangkannya? Mengapa demikian, Bhadrapala? Ini karena, melalui mendengar Samadhi ini, semua dharma yang memungkinkan untuk kebangkitan dari para Bodhisattva menjadi tersempurnakan."

"Oleh karena itu, Bhadrapala, Saya mengumumkan (arocayami) kepada Anda, Saya memberitahukan (prativedayami) kepada Anda: Jika para Bodhisattva yang memiliki tekad tinggi dan yang bercita-cita untuk kebangkitan mendengar bahwa Samadhi ini satu yojana jauhnya, maka, Bhadrapala, para Bodhisattva itu yang memiliki tekad tinggi dan yang bercita-cita untuk kebangkitan harus melakukan perjalanan sejauh satu yojana itu untuk mendengar Samadhi ini. Setelah mendengarnya, Mereka harus menerimanya, menguasainya, menyimpannya, dan membacanya; Mereka harus mengajarkannya, menjelaskannya, dan mengumumkannya secara penuh kepada orang lain, dan Mereka harus bergembira dalam mengembangkannya."

"Bhadrapala, tidak memperdulikan satu yojana, tidak memperdulikan dua yojana, atau tiga yojana, atau empat yojana, atau dari lima yojana hingga sepuluh yojana, bahkan jika, Bhadrapala, para Bodhisattva mendengar bahwa Samadhi ini seratus yojana jauhnya, bahwa di dalam daerah seperti ini, Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi ini sedang beredar, maka, Bhadrapala, jika para Bodhisattva itu yang memiliki tekad tinggi dan yang bercita-cita untuk kebangkitan akan tidak henti-hentinya mengerahkan semangat dan pikiran yang terbebas dari keputusasaan, ketidakpedulian, ketakutan, kemalasan, dan kesusahan, melakukan perjalanan ratusan yojana itu bahkan untuk mendengar hanya sedikit tentang Samadhi ini, maka betapa lebih lagi bagi Mereka agar untuk menerima ajaran di dalamnya, menguasainya, mengumumkannya, dan mengembangkannya? Mengapa demikian, Bhadrapala? Yaitu, karena dharma yang memungkinkan untuk kebangkitan dari para Bodhisattva tergantung pada Samadhi ini."

"Dalam hal itu, Bhadrapala, para Bodhisattva itu yang memiliki tekad tinggi dan yang bercita-cita untuk kebangkitan harus memikirkan tanggapan penglihatan Guru terhadap Pengajar (acarya) yang darinya Mereka mendengar Samadhi ini setelah menempuh ratusan yojana itu. Mereka harus melayani anak dari keluarga yang baik itu yang mengajarkan Dharma dengan segala bentuk layanan, dan Mereka harus mengikutinya. Jika mereka akan mengikutinya selama satu tahun, atau dua, atau tiga, atau empat, atau lima, atau sepuluh tahun, atau seratus, atau selama Mereka hidup hanya untuk mendengar Samadhi ini, betapa lebih lagi yang harus Mereka lakukan agar untuk menerima ajaran di dalamnya, menguasainya, menyalinnya, menyimpannya, mengumumkannya, dan mengembangkannya?"

"Bhadrapala, kulaputra atau kuladuhitrā itu harus melepaskan pikirannya sendiri, dan setelah melepaskannya, harus menjadi pikiran yang sama seperti dengan sang Guru. Dia harus mengikuti sang Guru dengan hormat dan menghargai. Dia harus mengikutinya dengan ketaatan. Dia harus mengikutinya dengan tidak menjadi tidak patuh, dengan keteguhan pengabdian, dengan melenyapkan sifat yang berubah-rubah, dan dengan ketiadaan pandangan salah. Dia harus memikirkan tanggapan penglihatan teman baik; terhadapnya Dia juga harus membangkitkan tanggapan penglihatan Guru. Jika, Bhadrapala, sang Bodhisattva melakukan (pratipadyate) dalam cara itu terhadap sang Guru, maka tidak akan ada kemungkinan atau kesempatan, tidak mungkin bahwa Dia tidak akan paling tidak berhasil mendengar Samadhi ini, mengesampingkan tindakan masa lalu yang telah dilakukan dan dikumpulkannya yang mengarah ke kerusakan Dharma (dharma-vyasana-samvartaniya)."

"Bodhisattva itu harus memiliki rasa malu, penuh terima kasih, dan penghargaan terhadap sang Guru. Jika dalam cara itu baginya bahwa kata-kata dan huruf dari Samadhi ini akan bertahan lama dan menjadi tidak terhalang, maka, Bhadrapala, betapa lebih lagi untuk Bodhisattva yang, ketika Dia mendengar bahwa Samadhi ini ada di kota lain, atau mendengar bahwa ada di dalam wilayah kota lain, setelah mendengar begitu akan pergi ke sana, bahkan jika hanya demi mendengarnya? Dan betapa lebih lagi juga, jika itu adalah demi menerima ajaran di dalamnya, menguasainya, menjaganya, membacanya, menyalinnya, mengembangkannya, dan mengumumkannya kepada orang lain?"

"Jika, Bhadrapala, Bodhisattva yang dalam usahanya mencari Samadhi ini berjuang bahkan hanya untuk mendengar Samadhi ini; Bhadrapala, Saya mengumumkan kepada Anda, Saya memberitahu Anda - Bodhisattva itu akan dikenal sebagai yang tidak dapat diubah dari Kebangkitan tertinggi yang sempurna dan tiada tanding melalui kebajikan dari akar kebaikan dari mencari Samadhi ini, akar kebaikan dari bercita-cita untuk Dharma itu, akar kebaikan dari menginginkan Dharma itu, dan akar kebaikan dari mengerahkan semangat ketekunan; maka, Bhadrapala, betapa lebih lagi untuk Bodhisattva yang menerima ajaran di dalamnya, menguasai, menyimpan, dan membaca Samadhi ini, dan setelah itu, mengajarkannya, mengumumkannya, dan menyatakannya kepada orang lain, dan terus mengerahkan dirinya sendiri dalam usaha untuk mengembangkannya?"

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

Saya ingat di masa lalu ada Tathagata,
Sang Lelaki Tertinggi yang bernama Simhamati,
Di bawah asuhan-Nya, ada Raja, sang penguasa,
Yang mendengar pada waktu itu, Samadhi ini.

Saat mendengar Samadhi ini, sang Raja,
Menerimanya dengan pikiran bergembira yang tiada bandingan,
Dan menabur segenggam permata,
Kepada sang Narottama, sang Buddha Simhamati.

"Semoga Samadhi ini, yang diucapkan oleh sang Bhagavān,
Menjadi keuntungan untuk semua makhluk!
Hari ini Saya berlindung kepada-Mu! "
Dengan berpikir begitu, Dia juga mengumumkan hal itu.

Berdasarkan kebajikan dari tindakannya, sang Raja itu,
Setelah meninggal, terlahir kembali di tempat yang sama,
Dan melihat Bhiksu yang bernama Ratnavara,
Yang terkenal dan berkekuatan besar.

Dia mendengar Samadhi yang sama lagi dari-Nya,
Setelah mendengarnya, mengalami sukacita yang besar;
Setelah mengalaminya, Dia bergembira bertekad pada kebangkitan,
Menaburi sang Bhiksu dengan permata dan jubah.

Berkeinginan untuk Samadhi ini,
Dia berangkat, bersama-sama dengan seribu makhluk,
Dan selama 8.000 tahun penuh;
Mereka semua mengikuti sang Bhiksu itu.

Tidak dua kali, tapi hanya sekali mereka mendengar,
Samadhi ini, yang sama seperti lautan pembelajaran;
Dengan tanpa bosan mengingatnya,
Mereka mencari Samadhi yang damai ini.

Karena Mereka semua telah melakukan tindakan ini,
Mereka bertemu dengan 68000 penuh,
Para Buddha yang berkekuatan besar;
Dari-Nya Mereka mendengar Samadhi ini.

Kemudian mereka juga menyembah,
68.000 penuh para Sugata yang lainnya,
Mengumumkan: ''Kami bersukacita
Di bawah pengajaran dari sang Sugata Simhamati!

Dengan tindakan kebajikan itu, sang Raja,
Menjadi Buddha dengan nama Drdhavirya;
Para makhluk sebanyak kotinayuta yang tidak terbayangkan,
Semuanya diselamatkan oleh Dia dari kelahiran dan kematian.

Seribu makhluk itu juga,
Mengikuti teladan-Nya (anusiksitva),
Menjadi Buddha dengan nama Drdhasura,
Terkenal di dunia dengan para Devanya;

Jika Mereka mencapai Bodhi hanya melalui suara Samadhi ini,
Apalagi Mereka yang tanpa ragu,
Yang mengajar Samadhi ini secara penuh,
Tanpa bergantung pada semua keberadaan?

Bahkan jika Samadhi yang damai ini,
Yang diucapkan oleh Sang Buddha,
Akan seratus yojana jauhnya,
Bodhisattva, tanpa istirahat siang atau malam harus pergi dan mendengarnya.

Jika, setelah pergi, Dia tidak mendapatkannya,
Pahala kebajikannya adalah tetap tidak terukur;
Dan jika itu menghasilkan Kebangkitan untuknya,
Apalagi bagi yang pergi dan mendapatkannya?

Oleh karena itu, Dia yang menginginkan Samadhi ini
Pertama harus mengingat Brahmadatta itu.
Kepada Bhiksu yang memiliki Samadhi ini,
Harus mengajarkannya dengan pikiran yang tidak kenal lelah.



_____________________________________________________________________________________________________
Dasa-Kusala-Karmapatha :
Tiga perbuatan tubuh:
(1) tidak membunuh,
(2) tidak mencuri,
(3) tidak ada perbuatan asusila seksual,
Empat perbuatan ucapan:
(4) tidak ada ucapan salah,
(5) tidak ada ucapan memecah belah,
(6) tidak ada cacian,
(7) tidak ada pidato yang menimbulkan pikiran jahat tidak senonoh,
Tiga perbuatan pikiran:
( 8 ) tidak ada keserakahan,
(9) tidak ada amarah,
(10) tidak ada pandangan salah.


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Sun Apr 17, 2016 12:15 pm, total 4 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

HUM

Post by skipper on Wed Apr 13, 2016 10:47 pm


Bhagavan Satyanama Tathagata


Bab 18
Buddha Satyanama

Kemudian sang Bhagavān kembali menyapa sang Bodhisattva Bhadrapala, dengan mengatakan: "Saya ingat, Bhadrapala, dimasa lalu, lebih dari banyaknya asamkhyeya-kalpa yang telah berlalu, ada muncul di dunia Buddha yang bernama Satyanama, sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha, yang diberkahi dengan semua sepuluh julukan (dasadhivacana). Pada waktu itu, ada seorang Bhiksu yang bernama Varuna, yang setelah Nirvana sang Buddha itu, mengumumkan dan menjelaskan Samadhi Sutra ini. Pada saat itu, Saya adalah Raja dari kerajaan besar, dan dengan pikiran tunggal hanya untuk mencari Samadhi yang luhur ini. Kemudian dalam mimpi, Saya mendengar lokasi Samadhi ini diumumkan. Saat bangun, Saya kemudian pergi sendiri ke tempat sang Bhiksu pengajar itu, mencari Samadhi ini, dan kemudian meminta sang Guru Dharma jika Saya bisa mencukur rambut dan meninggalkan kehidupan rumah tangga demi mencari, mendengar, dan menerima Samadhi ini. Dalam melayani secara pribadi sang Guru Dharma Varuna, Saya menghabiskan 36.000 tahun, namun, karena dihalangi oleh Mara, Saya tidak berhasil mendengarnya."

Kemudian sang Bhagavān kembali menyapa para Bhiksu, Bhiksuni, Upasaka, dan Upasika, dengan mengatakan: "Saya sekarang memberitahu anda bahwa anda harus segera mendengar dan menerima Raja Samadhi ini tanpa penundaan dan tanpa lupa, melayani sang Guru dengan baik dan tanpa gagal, mencari Samadhi ini dan membuat perolehannya sebagai tujuan anda. Apakah itu membutuhkan satu kalpa atau hingga seratus ribu, jika anda tidak menjadi yang berpikiran malas, tidak ada yang tidak akan diperoleh. Jika, Bhadrapala, orang berusaha mencari Samadhi ini dengan pikiran tunggal, dia harus terus mengikuti Gurunya dan tidak pernah meninggalkannya, dia harus membuat persembahan kepadanya, yaitu sup obat, minuman dan makanan, pakaian, tempat tidur, dan berbagai peralatan, bahkan semua emas, perak, dan permatanya. Semua kekayaannya, dia harus mempersembahkan kepada Gurunya tanpa penyesalan, dan jika dia tidak ada memiliki apapun pada dirinya sendiri, dia harus meminta sumbangan untuk itu dan kemudian mempersembahkannya. Dia akan secara cepat mendapatkan Samadhi ini dan tidak menimbulkan pikiran ketidakpuasan. Bhadrapala, mengesampingkan persembahan biasa ini, jika sang Guru membutuhkannya, sang pencari Dharma itu harus pergi sejauh seperti memotong tubuhnya sendiri, dagingnya, anggota tubuhnya dan badannya, dan mempersembahkannya untuk Gurunya. Jika Gurunya membutuhkan hidupnya, dia harus tetap tidak menyesalinya, jadi bagaimana bisa dia tidak mempersembahkan hal-hal luar yang umum itu untuk Gurunya? Begitulah caranya, Bhadrapala, di mana pencari dari Dharma ini, dalam melayani sang Guru Dharma, akan membantunya dan mematuhinya. Selanjutnya, dia akan melayani Gurunya sama seperti pelayan mematuhi tuannya; sama seperti menteri melayani pangerannya demikian juga dia akan melayani Gurunya. Jadi Orang ini akan secara cepat memperoleh Samadhi ini. Setelah memperoleh Samadhi ini, dia harus mengingatnya dan mempertahankannya dalam pikiran, menjadi penuh berterima kasih kepada Gurunya dan terus-menerus memikirkan bagaimana membayar kembali."

"Ini, Bhadrapala, permata dari Samadhi ini, adalah tidak mudah untuk didengar. Bahkan jika ada orang yang selama lebih dari seratus ribu kalpa hanya bertujuan untuk mendengar namanya, dia mungkin masih belum berhasil mendengarnya, apalagi menyalinnya, membacanya, menyimpannya, dan kemudian menjelaskannya kepada orang lain saat dia telah mendengarnya. Jika, Bhadrapala, sebanyak Buddhaksetra yang jumlahnya seperti butiran pasir di Sungai Gangga, diisi penuh dengan permata dan digunakan untuk melakukan persembahan, meskipun pahala kebajikan dari itu akan besar, itu masih tidak akan sebanding dengan mendengar nama dari Sutra ini, dan pahala kebajikan yang diperoleh dengan menyalin satu gatha-nya akan melampaui diluar perbandingan."

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

"Saya ingat bagaimana, di kelahiran sebelumnya,
Meskipun terus menunggu pengkhotbah dari Dharma ini,
Selama 36.000 tahun penuh,
Saya tidak pernah mendengar Samadhi ini.

Buddha masa lalu, sang Satyanama muncul;
Kemudian mengikuti ajaran sang Sugata,
Bhiksu Varuna, yang sangat terpelajar,
Memiliki pada waktu itu Samadhi ini.

Lalu Saya, sebagai Raja ksatriya,
Mendengar di dalam mimpi tentang Samadhi ini:
"Bhiksu Varuna memiliki Samadhi ini;
Dalam kehadirannya, dengarlah dengan baik! "

Segera bangun, Saya mencari dengan tergesa-gesa,
Bhiksu yang memiliki hal ini;
Mencarinya, Saya berangkat (pravraj-), dan kemudian
Bertanya jika Saya bisa mendengarnya.

Selama 36.000 tahun penuh,
Saya menyembah Bhiksu itu dengan sukacita,
Tapi karena Saya dikendalikan oleh Mara,
Saya tidak pernah mendengarnya.

Oleh karena itu, Saya mengumumkan, dan Saya memberitahukan,
Bhiksu dan Bhiksuni, Upasaka dan upasika:
Saat mendengar Samadhi ini,
Terimalah dengan cepat!

Dan setelah menetap di sana selama seluruh kalpa,
Menyembah dan menunggu pembawa Samadhi ini,
Setelah menyembah Dia dengan baik selama seribu kalpa,
Dia menjelaskan Samadhi ini.

Kepada Bhiksu itu, yang terlibat dalam Samadhi yang murni ini,
Jubah, tempat tidur, makanan, minuman,
Persembahkanlah itu dengan penuh semangat,
Anda akan menguasai Samadhi ini.

Mengesampingkan semua jubah, tempat tidur
Makanan, minuman dan juga permata berharga,
Jika orang sampai memberikan dagingnya sendiri,
Betapa lebih lagi makanan dan minuman, jika orang bertindak benar?

Setelah menjadi pelayan tetapnya, hadir kepadanya,
Dan juga mencari Samadhi yang damai ini;
Orang bijak itu, saat bertemu Dharma ini, menerimanya dengan cepat,
Dan sangat berterima kasih kepadanya.

Meskipun orang mencari selama berkoti kalpa,
Sangat sulit untuk mendapatkan Samadhi ini,
Mari membaca (svadhyayati) dan mengajarkannya,
Ketika telah mendengar kata-katanya pada akhirnya.

Jika dunia yang banyaknya seperti pasir sungai gangga,
Diisi penuh dengan permata dan dijadikan persembahan,
Dan jika ada orang yang menerima satu gatha ini dan mengajarkannya,
Pahala kebajikannya akan jauh melampaui yang sebelumnya itu.

Jika selama koti kalpa yang banyaknya seperti pasir sungai gangga,
Terus-menerus mengerahkan semangat ketekunan,
Dan jika ada orang yang menerima satu gatha ini dan mengajarkannya,
Pahala kebajikannya akan jauh melampaui yang sebelumnya itu.

Jika selama koti kalpa yang banyaknya seperti pasir sungai gangga,
Mengasingkan diri dan mengolah Dhyana,
Dan jika ada orang yang menerima satu gatha ini dan mengajarkannya,
Pahala kebajikannya akan jauh melampaui yang sebelumnya itu.

Jika selama koti kalpa yang banyaknya seperti pasir sungai gangga,
Terus-menerus terdirikan di dalam kebijaksanaan,
Dan jika ada orang yang menerima satu gatha ini dan mengajarkannya,
Pahala kebajikannya akan jauh melampaui yang sebelumnya itu.

Jika Dia yang dengan benar menjelaskan satu gatha,
Pahala kebajikannya melampaui nayuta kalpa;
Apalagi Orang yang, saat mendengarnya, menyebarluaskannya,
Pahala kebajikannya adalah yang tidak dapat dibayangkan.

Jika ada Orang bergembira dalam mengejar Kebangkitan,
Dia harus mencari Dharma ini demi kepentingan semua;
Setelah mendengarnya, tinggal berdiam di dalam Samadhi ini,
Pasti, Dia mencapai Kebangkitan sempurna yang tiada tanding.


skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

HUM

Post by skipper on Thu Apr 14, 2016 10:22 pm


Bhagavan Rasmi Raja Tathagata


Bab 19
Mudra Buddha

"Oleh karena itu, Bhadrapala, kulaputra atau kuladuhitrā harus mendengar Samadhi ini dengan penuh hormat (satkrtya). Dan setelah mendengarnya, Dia harus menerimanya, menguasainya, menyalinnya, menyimpannya dan membacanya. Dan setelah menerimanya dan menguasainya, Dia harus mengumumkannya secara penuh kepada orang lain; Dia harus menyalinnya dengan baik dan menyimpannya. Mengapa demikian, Bhadrapala? Pada masa depan, setelah Saya Parinirvana, akan muncul banyak Bodhisattva yang memiliki keyakinan, yang percaya, dan sangat pandai, dan Mereka akan mencari pembelajaran yang besar untuk kepentingan dan kebahagiaan makhluk. Mencari pembelajaran yang besar, Mereka akan melakukan perjalanan ke penjuru arah dan ke penjuru menengah demi mencari Saddharma ini, dan, Bhadrapala, itu adalah demi keuntungan dan kepentingan para makhluk seperti Mereka, para Makhluk yang bercita-cita untuk Dharma, cenderung kuat terhadap Dharma, menginginkan Dharma, menjunjung tinggi Dharma, dan menjunjung tinggi Vaipulya Dharma; Dia harus memberikan ajaran itu dan mengajarkan Samadhi ini, dan, dengan didukung oleh kuasa (adhisthita) dari kekuatan pemberkatan (adhisthana) dari para Tathagata, menyalinnya menjadi Buku yang besar, menyegelnya dengan Mudra dari para Tathagata, dan menyimpannya."

"Apa itu, Bhadrapala, Mudra dari para Tathagata? Yaitu, semua gejala kejadian (dharma) adalah yang tidak berdaya untuk bertindak (niscesta), yang tanpa aktivitas (akriya), yang tidak dihasilkan dari sebab dan kondisi (anabhisamskrta), yang tanpa kemelekatan (asanga), yang tanpa tanggapan penglihatan (anupalambha), yang kosong (sunyata), yang tanpa tanda (animitta), yang tanpa nafsu keinginan (apranihita), yang tanpa ciri-ciri (alaksana), yang tidak mendua (advaya), yang tanpa tindakan (apravrtti), yang tidak bergantung (niralamba), yang tidak terhitung (asamkhyeya), yang tidak dibedakan (avyavasthapita), yang tidak dapat dipahami (agrahya), yang tidak bisa ditolak (aniryuha), yang tidak menetap (aniketa); bahwa semua dharma adalah yang tidak kekal (anitya), yang tidak terganggu (anuccheda), yang melenyapkan penyebab (ksina-hetu), yang melenyapkan penderitaan (ksina-duhkha), yang melenyapkan keberadaan (kslna-bhava), yang tidak dilahirkan (ajata), yang tidak berhenti (aniruddha), yang tidak berakhir (asthita), yang tidak bisa dihancurkan (avinasa), yang tiada jalan (amarga), yang tiada buah dari jalan (amarga-phala), yang tidak dikelirukan oleh semua Arya, yang ditolak oleh semua orang bodoh, yang diabaikan oleh orang bodoh, yang dianut oleh para bijaksana; Ini, Bhadrapala, adalah Mudra dari semua Tathagata, Simbol yang para Tathagata pasangkan pada apa yang telah diucapkan oleh para Tathagata."

"Oleh karena itu, Bhadrapala, kulaputra atau kuladuhitrā yang bercita-cita untuk Kebangkitan, yang mungkin ingin di saat terakhir dan di jaman terakhir, untuk diajarkan di dalam Samadhi ini harus, ketika Dia telah diajarkan di dalamnya dan telah menghafalnya, mengumumkannya secara penuh kepada orang lain juga."

"Dalam hal itu, Bhadrapala, jika Dia memiliki empat dharma, sang Bodhisattva akan berusaha paling tidak untuk mendengar Samadhi ini, apa lagi untuk menerima ajaran di dalamnya dan menghafalnya. Apa empat itu? Yaitu,  pemurnian tekad tingginya di masa lalu (purvadhyasaya); telah membuat sumpah di masa lalu (purva-pranidhana); kecenderungan kuat (adhimukti) terhadap pengetahuan yang mengetahui semua (sarvajna-jnana); dan penerimaan semua bimbingan Dharma (dharma-netri). Setelah berpikir bagaimana orang dapat melestarikan dan mengajarkan harta dari permata Dharma ini (dharma-ratna-kosa), yang telah disempurnakan oleh para Tathagata Arhan Samyaksambuddha selama lebih dari banyaknya ratusan ribu kotinayuta kalpa, jika, Bhadrapala, Dia memiliki empat dharma ini, Dia akan berusaha untuk mendengar, menerima, dan menjaga Bodhisattva Samādhi ini."

"Selanjutnya, Bhadrapala, jika Dia memiliki empat dharma, sang Bodhisattva akan mengerahkan dirinya sendiri dalam mencari Samadhi ini, bahkan jika itu hanya untuk menyalinnya. Apa empat itu? Yaitu, merenungkan dengan saksama (manasikara) pada Buddha; keterampilan dalam mengingat kembali Dharma (dharma-anusmrti); bersungguh-sungguh merenungkan pada arti yang tepat (pariccheda) dari penangkapan landasan (upalambha) di dalam semua dharma; dan keterampilan dalam penghancuran semua tanda (nimitta), jika, Bhadrapala, Dia memiliki empat dharma ini, sang Bodhisattva akan mengerahkan dirinya sendiri dalam mencari Samadhi ini, bahkan jika itu hanya untuk menyalinnya."

"Dalam hal itu, Bhadrapala, jika Dia memiliki empat dharma, sang Bodhisattva dikenal sebagai yang mengerahkan dirinya sendiri dalam mencari Samadhi ini. Apa empat itu? Yaitu, melalui pengetahuan yang secara tepat mengartikan (paricchid-) keadaan yang tidak dapat dipahami (agrahyabhava) dari semua dharma adalah Bodhisattva yang dikenal sebagai yang mengerahkan dirinya sendiri untuk Samadhi ini; Melalui keterampilan di dalam memunculkan (vibhavana) objek tujuan perhatiannya (arambana) yang adalah tubuh Buddha adalah Bodhisattva yang dikenal sebagai yang mengerahkan dirinya sendiri untuk Samadhi ini; Melalui bersungguh-sungguh merenungkan, dari antara semua landasan tujuan, membuat Buddha sebagai objek tujuan perhatiannya (buddharambana) adalah Bodhisattva yang dikenal sebagai yang mengerahkan dirinya sendiri untuk Samadhi ini; Melalui keterampilan di dalam keyakinan yang kuat (adhimukti) bahwa semua dharma adalah yang tiada keberadaan adalah Bodhisattva yang dikenal sebagai yang mengerahkan dirinya sendiri untuk Samadhi ini; Jika Dia memiliki empat dharma ini, Bhadrapala, sang Bodhisattva dikenal sebagai yang mengerahkan dirinya sendiri dalam mencari Samadhi ini."

"Bhadrapala, di saat terakhir, di jaman terakhir, ketika Saddharma dalam gangguan di dalam lima ratus tahun terakhir, jika ada yang telah mengerahkan dirinya sendiri dalam mencari Samadhi ini demi kesejahteraan semua makhluk dan belas kasihan kepada semua makhluk, dan telah memikirkan: 'Bagaimana caranya supaya Samadhi ini menjadi tersebar luas, terkenal, dan abadi?", maka untuk anak dari keluarga yang baik itu, pahala kebajikan yang banyak akan dihasilkan, dan akan menjadi tidak mungkin untuk mengetahui batas dari kumpulan pahala kebajikan itu. Selain itu, harus dipahami bahwa kumpulan pahala kebajikan itu mengarah pada kemahatahuan (sarvajnata-nimna)."

"Kumpulan pahala kebajikan dari Mereka itu akan dengan cepat mengarah pada kemahatahuan melalui kekuatan sumpah (pranidhana) Mereka, dan Mereka semua akan memenuhi segala sesuatu sesuai dengan tekad Mereka (yathasaya), Mereka semua akan disampaikan (niryati) sesuai dengan jenis-jenis kegiatan (carya-visesa) Mereka dan sesuai dengan sumber daya (sambhāra) Mereka, kecuali untuk Mereka yang memiliki sumber daya dari akar kebaikan yang besar (maha-kusalamula-sambhāra), yang mahir (niryata) dalam tinggal berdiam di dalam ketiadaan diri, yang telah dipersenjatai dengan baju perisai besar (mahasamnaha-samnaddha) melalui kalpa yang tidak terukur, yang tidak terhitung, dan yang tidak terbayangkan, atau bahkan lebih lama dari itu."

"Bhadrapala, di saat terakhir, di jaman terakhir, ketika ketakutan besar muncul dan Saddharma dihancurkan, kulaputra atau kuladuhitrā yang telah berangkat ke dalam Bodhisattvayana, yang ingin mendapatkan kesempurnaan semua dharma (sarva-dharma-pararnita) dan kesempurnaan pengetahuan yang maha tahu semua, dan yang ingin mendapatkan pemurnian akar kebaikan (kusalamula-visuddhi) harus berusaha untuk menyalin, memberikan ajaran itu, menghafal Samadhi ini, dan mengumumkan itu secara penuh kepada orang lain. Mengapa demikian? Pengetahuan dari pemahaman dari semua aspek dari semua dharma (sarva-dharma-sarvakara-jnata-jnana?), Bhadrapala, berkumpul (sankshipta) di dalam Samadhi ini."

"Memahami bahwa semua 'gejala kejadian (dharma)' adalah yang sifat alaminya tanpa keberadaan (abhava-svabhava) melalui setelah menyempurnakan keterampilan di dalam perenungan Buddha di pikiran, ini adalah pemanggilan Buddha ke pikiran; para Bodhisattva yang membangun diri di dalamnya menghindarkan diri Mereka sendiri (adhimucyante) dari penangkapan landasan di dalam seluruh perenungan Buddha. Mereka menyebabkan semua penangkapan landasan untuk memiliki Tathagata menjadi berakhir (nistha). Mereka tahu bahwa semua objek (vastu) dari penangkapan landasan adalah yang kosong (vasika) oleh sifat alaminya sendiri. Mereka membuat para Tathagata sebagai dasar objek tujuan (arambana) Mereka dan merenungkan dengan saksama pada-Nya sedemikian rupa bahwa Mereka murni di dalam penglihatan tentang para Tathagata, dan dengan terdirikan di dalam itu, Mereka tidak akan gagal untuk membuat para Tathagata mewujudkan Diri-Nya ke segala penjuru arah; dan di semua penjuru arah, Mereka memurnikan penglihatan Mereka tentang para Tathagata. Begitu Mereka telah memurnikan penglihatan tentang para Tathagata, maka dengan sedikit kesulitan, jika Mereka membuat tanggapan penglihatan di dalam seluruh sistem dunia ini, Mereka akan melihat para Tathagata itu bertatapan dengan wajah Mereka di sini. Dengan ketidakterbatasan (apramana), penglihatan langsung Mereka terhadap para Tathagata akan dimurnikan, dan para Tathagata yang tidak terbatas jumlah-Nya akan muncul pada penglihatan Mereka."

"Karena sifat alami (svabhava) dari semua penangkapan landasan adalah yang tidak dapat dipahami (agrahya), semua penangkapan landasan tidak dapat dipahami melalui satu penangkapan landasan, juga tidak bisa satu penangkapan landasan dipahami melalui semua penangkapan landasan. Jika sifat alami dari semua dharma diamati (upalaks-), itu terdirikan (siddha) sebagai yang tiada keberadaan (abhavatva) karena itu adalah yang sungguh hening tenang (atyupasanta)."

"Mereka, Bhadrapala, yang terdirikan di dalamnya, memurnikan penglihatan Mereka tentang semua Tathagata, namun setelah memurnikannya, mereka tidak memikirkannya (na manyante), tidak membeda-bedakannya (na prapancayanti); Mereka akan menyempurnakan pengembangan dari Pratyutpanna Buddha Sammukhāvasthita Samādhi ini. Mereka juga akan membangun diri Mereka sendiri di dalam kesempurnaan dari semua dharma yang memungkinkan untuk kebangkitan."

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

Apa pun yang telah diucapkan oleh sang Tathagata
Adalah jalan masuk kedalam pengetahuan yang sesuai dengan kenyataan (yathabhuta-jnana);
Jadi, para anak dari sang Lokanatha, sang Guru,
Terapkanlah pikiran Kalian untuk Samadhi ini.

Dia yang merenungkan sang Buddha sebagai objek pikirannya,
Akan melihat banyak objek tanggapan penglihatan;
Untuknya, Samadhi yang damai ini, yang sulit dilihat,
Akan juga muncul di dalam jaman terakhir kali.

Para orang bijak yang tidak melekat pada semua dharma,
Dan yang menerapkan pikiran demi kesejahteraan makhluk,
Akan mengerahkan diri untuk Samadhi ini,
Di jaman terakhir, di saat kengerian yang besar.

Mereka yang menerapkan diri terus-menerus, dan teguh,
Mengarahkan perhatian Mereka ke dharma ini, yang sulit dilihat,
Demi keuntungan dan bantuan kepada makhluk,
Kepada Merekalah Samadhi ini akan diwariskan.

Mereka yang terus-menerus mengarah ke perenungan Buddha,
kesadaran, kecerdasan, dan pemahaman mereka (smrti-mati-gati),
Cenderung ke disiplin (yoga) dan tidak bergantung pada orang lain,
Mereka akan didirikan di dalam Samadhi yang besar ini.

Tinggal berdiam di dalam keadaan yang sulit dilihat, dengan ketiadaan diri
Menolak untuk seluruh keduniawian,
Orang bijaksana tidak menginginkan semua keberadaan,
Mereka berusaha untuk Samadhi yang besar ini.

Mereka yang menginginkan kebangkitan dan berbelas kasih, dengan perhatian,
Memahami tubuh para Tathagata;
Membuat sumpah untuk Dharma yang penuh ketenangan,
Mereka berusaha atas dasar Samadhi ini.

Damai, tidak suka bertengkar atau berdebat,
Mencari Dharma yang dipuji oleh sang Sugata,
Sungguh terdirikan di dalam tanggapan penglihatan Buddha,
Mereka berusaha memahami Samadhi ini.

Mereka yang berada di jaman kejahatan terakhir,
Berusaha untuk Samadhi ini,
Dan tinggal berdiam di dalam kualitas yang tidak terbatas dari perilaku,
Kualitas Mereka dikenal oleh sang Lokanatha.

Mereka yang mengetahui dharma yang terbebas dari arus kekotoran batin,
Dan tahu secara menyeluruh (yonisas) arus kekotoran batin itu,
Tidak membeda-bedakan dan tinggal berdiam di dalam kesamaan (samata),
Mereka berusaha untuk memahami Samadhi ini.

Mereka yang membuat semua sumpah yang sesuai dengan pengetahuan,
Berkenaan dengan Dharma yang tidak terukur dari sang Sugata,
Dan dengan kukuh tinggal berdiam di dalam Sarvajna-jnana,
Kepada Mereka, Samadhi yang tenang ini diajarkan.

Mereka yang mengetahui dharma yang adalah kosong oleh sifat alami,
Yang tiada ciri-ciri (alaksana) dan yang tanpa tanda,
Terbebas dari kekotoran,
Mereka melihat para Sugata yang tidak terhitung.

Mereka yang, bahkan ketika menerapkan diri pada tanggapan penglihatan yang tidak terbatas,
Tahu bahwa semua tanggapan penglihatan adalah yang kosong,
Dan terbebas dari pikiran sia-sia setelah melihat hal yang sulit dilihat,
Mereka melihat para Sugata yang tidak terhitung.

Mereka yang melihat makna (artha-darsin) dan yang pikirannya juga murni,
Yang bebas dari kekotoran batin dan tinggal berdiam di dalam keadaan yang tenang,
Yang mengajarkan Dharma yang bermakna tanpa noda dan sama,
Kepada Mereka, Samadhi yang hening-tenang ini dijelaskan.

Para anak dari sang Sugata, yang telah melenyapkan siksaan (abrdha-salya),
Yang tidak terhalang di dalam kebenaran, terbebas dari keraguan,
Yang mengolah cinta kebaikan demi keuntungan makhluk,
Kepada Mereka, arti yang berharga ini dijelaskan.

Mereka yang oleh sifat alami yang tanpa ketidaktahuan (avidya),
Yang melenyapkan peluang (sthana) bagi kebodohan melalui pengetahuan,
Dan mengerahkan diri dalam memperjuangkan makna yang berharga ini,
Kepada Mereka, Samadhi yang hening-tenang ini dijelaskan.

Terdirikan di dalam kemurnian, terbebas dari kekotoran batin (samklesa),
Menginginkan pengetahuan yang tidak terbatas,
Mengalami sukacita (pramodya) di dalam arti yang jelas ini (nitartha),
Kepada Mereka, pembebasan (vimoksa) yang hening-tenang ini dijelaskan.

Mereka yang dibebaskan dari semua belenggu (samyojana),
Teguh, penuh belas kasihan kepada semua makhluk,
Terbebas dari kebencian, dan berpegang pada sukacita dari jalan yang damai,
Kepada Mereka, Samadhi yang hening-tenang ini dijelaskan.


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Sat Apr 16, 2016 10:45 pm, total 2 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

HUM

Post by skipper on Thu Apr 14, 2016 10:23 pm




BAB 20
Kesunyataan


"Empat dharma ini, Bhadrapala, akan menyebabkan para Bodhisattva untuk mendapatkan Samadhi ini. Apa empat itu? Yaitu, (1) menghormati sang Buddha; (2) sungguh merenungkan (manasikara) dengan keyakinan yang tidak bisa dihancurkan (abhedyaprasada); (3) menghormati Dharma dan berkeinginan untuk mendengarnya; (4) berkata-kata sesuai dengan Dharma; empat dharma ini, Bhadrapala, akan menyebabkan para Bodhisattva untuk mendapatkan Samadhi ini."

"Selanjutnya, Bhadrapala, ada empat dharma yang olehnya para Bodhisattva akan mendapatkan Samadhi ini. Apa empat itu? Yaitu, (1) pikiran yang objek tujuannya (arambana) adalah Buddha, dengan menjadi terbebas dari kesalahan (viparyasa); (2) memahami bahwa sifat alami dari objek tujuan (arambana-svabhava) adalah yang baik oleh sifat alami awalnya (prakrti-kusala) dengan menjadi terbebas dari keraguan berkaitan dengan Dharma; (3) pemahaman (samavasarana) dari semua dharma yang kosong olehnya sendiri, yang kosong oleh sifat alaminya, dan yang sepenuhnya kosong, melalui pemahaman dari keterampilan yang berkaitan dengan keberadaan (bhava-kusala); (4) Tanggapan penglihatan yang jelas (vibhavana) pada kekosongan (vasika) dari keberadaan (bhava) melalui keterampilan dari tanggapan penglihatan (samjna) dan memahami pengetahuan dari arti yang akurat (pariccheda-jnana); empat dharma ini, Bhadrapala, akan menyebabkan para Bodhisattva untuk mendapatkan samadhi ini."

'Selanjutnya, Bhadrapala, ada empat dharma yang olehnya para Bodhisattva akan mendapatkan Samadhi ini. Apa empat itu? Yaitu, (1) membantu (parigraha) semua Buddha; (2) melindungi dan menjaga Saddharma, menjadi terampil dalam menegakkan Saddharma; (3) menjadi dasar untuk kebahagiaan semua makhluk (sukhopadhana), dan memiliki pikiran belas kasihan kepada semua makhluk; (4) Terampil di dalam tanggapan penglihatan makhluk (sattva-samjna); empat dharma ini, Bhadrapala, akan menyebabkan para Bodhisattva untuk mendapatkan Samadhi ini. '

"Oleh karena itu, Bhadrapala, di saat terakhir, jaman terakhir, ketika di dalam lima ratus tahun terakhir saat Saddharma terganggu, sang Bodhisattva harus terus meninggalkan orang dan kehidupannya, dan menerima, menguasai, dan menjaga Samadhi ini."

"Para Bodhisattva, Bhadrapala, yang berusaha untuk menjadi terampil dalam menegakkan semua Dharma akan, demi melestarikannya, menyimpan harta dari permata Dharma ini, yang dicapai oleh para Tathagata lebih dari koti kalpa yang tidak terbatas, dan Mereka juga akan mampu mengajar, menjelaskan, dan memberitakan Dharma seperti ini. Bhadrapala, hunian dari semangat (virya-sthana) ada pada Mereka, dan para Bodhisattva itu akan melakukan sumpah untuk mematangkan akar kebaikan dari para makhluk dengan dukungan pemberdayaan (adhisthana) dari kekuatan semangat."

"Jika, Bhadrapala, para kulaputra atau kuladuhitrā yang di saat terakhir, di jaman terakhir, akan menyimpan dan melestarikan Dharma ini, telah berangkat demi kepentingan semua makhluk, menjadi pembantu (parigraha) semua makhluk, dan pelindung (samgraha) semua makhluk, Mereka akan didukung (parigrhita) oleh para Tathagata Arhan Samyaksambuddha. Bahkan jika para Bodhisattva itu tinggal berdiam di dalam sistem dunia lain, para Bhagavān Buddha, yang berada di dalam sistem dunia lain akan mengingat (samanvaharati) Mereka. Karena Mereka menginginkan Dharma, bercita-cita pada Dharma, dan memenuhi Dharma, Mereka akan berjuang untuk Samadhi ini di masa terakhir, di jaman terakhir."

'Mereka yang mempelajari pintu gerbang Dharma (dharma-paryaya) ini di saat terakhir, di jaman terakhir, akan disokong oleh dharma Bodhisattva dan oleh kekayaan Bodhisattva. Mereka yang akan menetap dalam rangka mendukung Dharma ini di saat terakhir, di jaman terakhir, juga akan dengan cepat memperoleh Tathagata-dasa-bala, catur-vaisaradya, astadasavenika-buddha-dharma, dan semua Buddhadharma. '

Kemudian pada saat itu, sang Bhagavān mengucapkan syair-gatha berikut ini:

Mereka yang teguh memikirkan Dharma (dharma-cintin),
Dan menetap demi menegakkan Saddharma,
Ketika jaman terakhir tiba,
Kepada Mereka, Dharani ini dijelaskan.

Mereka yang berjuang tanpa takut,
Untuk permata dari Dharma sejati ini (saddharma-ratna),
Berbelas kasih dan penuh kasih sayang,
Mereka tinggal berdiam di dalam penegakan Dharma juga.

Teguh, waspada, dan bergembira,
Para pembawa harta dari Dharma sang Muni,
Demi Mereka, Samadhi ini,
Yang dipuji oleh sang Buddha, diajarkan.

Mereka yang disokong
Oleh Raja Dharma, sang Pelindung,
Di jaman terakhir, di masa yang mengerikan,
Mereka akan menegakkan sifat alami dari kenyataan (dharmata) ini.

Para orang yang penuh kesadaran, yang tahu,
Bahwa oleh sifat alaminya sendiri,
Gejala kejadian adalah yang seluruhnya kosong dan terbebas dari penggandaan (nisprapanca),
Mereka juga akan menegakkan Dharma itu.

Mereka yang mengetahui kepastian kebenaran,
Syair gatha yang tidak terbayangkan,
Mengenai sifat alami dari semua dharma,
Mereka juga akan menegakkan Dharma itu.

Mereka yang terdirikan pada pengetahuan dari kepunahan (ksaya),
Dan yang juga tinggal berdiam di dalam yang tidak dilahirkan,
Terkendali dalam pikiran dan sederhana,
Mereka juga akan menegakkan Dharma itu.

Mereka yang telah berangkat di jalan tertinggi,
Dari kebahagiaan, jalan yang mulia,
Diberkahi dengan kekuatan semangat ketekunan,
Mereka menetap di dalam penegakan Dharma itu.

Mereka yang memahami sifat alami dari kenyataan (dharmata),
Dan makna (artha) dari kenyataan apa adanya (tathata) dan tiada perbedaan (avikalpa),
Bagi Mereka, tidak ada penggandaan (prapanca) sama sekali;
Mereka juga akan menegakkan Dharma itu.

Mereka yang lembut, yang tahu,
Bahwa semua dharma adalah yang tanpa kegiatan,
Mereka akan mengumumkan bahwa sifat alami dari dharma,
Adalah yang kosong dan terbebas dari kemelekatan (nirupadana).

Mereka yang tahu bahwa semua dharma,
Adalah yang tidak bisa dipahami dan tanpa tanggapan penglihatan,
Dan yang murni dari awalnya,
Mereka tinggal berdiam di dalam lingkup dharma (dharma-gocara).

Mereka yang mengetahui demikian, sehubungan dengan dharma,
Bahwa semua dharma adalah yang tanpa diri,
Mereka akan mengajarkan sifat alami dari dharma ini;
Yang dikatakan menjadi pintu masuk.

Mereka yang memahami sifat alami dari dharma,
Sebagai yang tidak bernama, tanpa nama,
Yang terbebas dari penggandaan, dan yang tidak dilahirkan,
Mereka juga mengumumkan kekosongan.

Mereka yang mengetahui dharma ini,
Yang tidak menghuni, tidak bergerak,
Dan murni sama seperti ruang angkasa,
Kepada Mereka, Samadhi ini akan dihasilkan.

Mereka yang tanpa tanggapan penglihatan dan pembeda-bedaan,
Yang tidak dilahirkan dalam sifat alami mereka sendiri,
Dan tanpa tanggapan penglihatan keberadaan,
Mereka akan mengungkapkan sifat alami dari dharma.

Yang disegel tidak memiliki segel,
Ini diucapkan dalam pidato penyatuan (samadha-bhasya);
Mereka yang tahu begitu,
Akan menjunjung tinggi ini, sifat alami dharma.


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Sun Apr 17, 2016 12:46 am, total 2 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

HUM

Post by skipper on Fri Apr 15, 2016 11:51 pm




BAB 21
Perintah

"Oleh karena itu, Bhadrapala, para kulaputra atau kuladuhitrā harus melaksanakan (samudanayati) Dharma ini, penuh kewaspadaan (apramada-para); Mereka juga harus mengerahkan diri untuk berkat yang sangat baik ini (anusamsa); harus memiliki semua ini (yonisa); harus menolak cara yang tidak bijaksana (ayonisa), dan dengan cara itu tidak akan sulit untuk mendapatkan Dharma yang mendalam ini, yang sulit dilihat, yang sulit diketahui, yang menimbulkan semua Buddhadharma dan memberikan kepada orang, pengetahuan dari Svayambhu, pengetahuan yang tanpa hambatan."

Kemudian pada waktu itu, sang Bhagavān berkata kepada Ayusma Ananda, Ayusma Mahakasyapa, Bodhisattva Mahasattva Bhadrapala, Licchavi kumara Ratnakara, Grhapati Mahasusarthavaha, Sresthiputra Guhagupta, Manavaka Naradatta, Bodhisattva Mahasattva Indradatta, Bodhisattva Mahasattva Varunadeva, lima ratus Bodhisattva itu, semua orang yang telah datang bersama-sama dari empat kelompok majelis, dan dunia dengan para Devanya, Manusianya, dan Asuranya: "Anak-anak dari keluarga yang baik, Saya percayakan dan serahkan kepada Anda harta tertinggi dari permata Dharma ini, yang telah Saya sempurnakan lebih dari seratus ribu kotinayuta kalpa, dan Sutra ini yang seluruh dunia tidak akan mempercayainya, yang mendalam, dari makna yang mendalam, pertunjukkan dari ajaran tiga pintu pembebasan (vimoksa-mukha), yang mendalam dan murni, sulit dilihat, sulit dipahami, dikenal oleh para orang bijak dan cerdas, yang mulia, yang sangat unggul, dan yang sempurna dalam artinya."

"Untuk kedua kalinya, Saya serahkan kepada Anda semua, hal-hal itu yang merupakan dasar yang tepat (asraya-bhuta) untuk Kebangkitan tertinggi dan sempurna, sehingga Anda juga harus menyalinnya, mendengarnya, menerimanya, menguasainya, menyimpannya, dan membacanya, harus menjelaskannya, mengajarkannya, dan mengumumkannya secara penuh agar untuk menyebarkannya dan memuliakannya. Anda harus mengerahkan diri dalam usaha untuk mengembangkannya, agar untuk menunjukkan kebaikan (anugraha) untuk semua makhluk. Anda harus menyempurnakan 'kualitas (dharma)' yang sesuai dengan Dharma (dharmanudharma) sama seperti itu telah diajarkan, sebarkanlah itu dan jangan biarkan itu berakhir."

"Jika, Bhadrapala, ada kulaputra atau kuladuhitrā mendengar Samadhi ini dan saat mendengarnya, menerima ajaran di dalamnya, mengingatnya, menguasainya, maka Dia harus dengan tekad tinggi (adhyasayena) dan tekun (satkrtya) mendengarnya, menerima ajaran itu, dan menjelaskannya. Jika ada yang mengajarkannya kepada orang lain, atau menyebabkannya untuk dibaca, maka Dia juga harus dengan tekad tinggi mengajarkannya kepada orang lain, dan menyebabkannya untuk dibaca, agar untuk menyebarluaskannya, sehingga Samadhi ini akan bertahan lama, dan tersebar luas dan dimuliakan; Ini adalah perintah Saya (anusasani) kepada Anda."

Ketika wacana pada Dharma ini telah dijelaskan, para makhluk yang tak terhitung dan tidak terbatas banyaknya, membangkitkan akar kebaikan untuk mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi. Para Bodhisattva yang telah berkumpul dari banyak Buddhaksetra yang tidak terhitung, seperti banyaknya butiran pasir di Sungai Gangga, memperoleh Samadhi ini dan menjadi yang tidak bisa mundur dari Anuttara-Samyak-Sambodhi. Trisahasra-maha-sahasra-lokadhatu ini juga berguncang dalam enam cara yang berbeda; Para Deva juga menurunkan hujan bunga surga dari langit; Alat musik dan genderang besar bergemuruh tanpa dipukul.

Setelah sang Bhagavān telah mengucapkan begitu, Bodhisattva Mahasattva Bhadrapala, Para Bhiksu, Bhiksuni, Upasaka dan Upasika itu, para Bodhisattva itu, dan dunia dengan para Dewa, Naga, Yaksa, Gandharva, Asura, Garuda, Kinnara, Mahoraga, Manusia dan Makhluk bukan Manusia bersukacita, dan menjunjung tinggi apa yang telah dikatakan oleh sang Bhagavān.






HUM, Sutra Mahayana Yang Bernama Pemusatan Pikiran Dari Perenungan Buddha Yang Berdiri Dihadapan Dari Yang Maha Luas Dari Pertemuan Yang Besar Oleh Bhadrapala Telah Terselesaikan, HUM


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Sun Apr 17, 2016 11:38 am, total 1 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

OM VAJRA PANI HUM

Post by skipper on Sun Apr 17, 2016 10:24 pm

HUM

Buku ke 26 :

[26] Maha Vaipulya Maha Samnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta Nama Mahayana Suttram ---> [BARU/NEW]
https://drive.google.com/file/d/0BxccXyKASl7pSjU4bzYteFVvWFk/view?usp=sharing

Namo Stu Buddhaya

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta Nama Mahayana Sutra

Post by Sponsored content Today at 5:12 pm


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik