Ananta Nirdesa Mahayana Suttram

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Ananta Nirdesa Mahayana Suttram

Post by skipper on Tue Jun 11, 2013 10:37 am




Ananta Nirdesa Suttram
(Sutra Makna Yang Tak Terhitung)
Diterjemahkan dari bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Cina pada Dinasti Xiao Qi
oleh
Guru Tripitaka Dharmagatayaśas dari India
Bab 1
Tindakan Suci Berbudi Luhur

Demikianlah telah Ku dengar:
Pada suatu waktu Sang Buddha tinggal di Gunung Gridhrakuta, dekat kota Rajagriha, bersama dengan 12.000 bhiksu besar dan 80.000 Bodhisattva Mahasattva, serta para dewa, Naga, Yaksa, gandharva, asura, garuda, kimnara, dan mahoraga. Hadir pula para bhiksu, bhiksuni, upasaka dan upasika, serta Raja Pemutar Roda Besar dan Raja Pemutar Roda Yang Lebih Kecil, seperti Raja Roda Emas dan Raja Roda Perak, serta raja-raja, pangeran, menteri negara, warga negara, laki-laki , perempuan, dan ketua sesepuh, dikelilingi oleh pengiring mereka dalam jumlah miliaran. Mereka semua datang kepada Sang Buddha, menundukkan kepala ke bawah kaki-Nya, dan berputar mengelilingi-Nya (pradaksina) 100.000 kali. Mereka membakar dupa, menyebarkan bunga, dan mempersembahkan berbagai macam persembahan. Setelah membuat persembahan mereka kepada Sang Buddha, mereka melangkah mundur dan duduk di satu sisi.

Di antara 80.000 Bodhisattva Mahasattva ada Manjusri sang Pangeran Dharma, Pangeran Dharma Gudang Kebajikan Yang Agung Mengagumkan, Pangeran Dharma Gudang Kegembiraan, Pangeran Dharma Gudang Kefasihan Yang Agung, Bodhisattva Maitreya, Bodhisattva Pemimpin Pembimbing, Bodhisattva Raja Obat (Bhaisajya-raja), Bodhisattva Pengobatan Unggul (Bhaisajya-samudgata), Bodhisattva Panji Bendera Bunga, Bodhisattva Panji Bendera Bunga Bercahaya,  Bodhisattva Raja Penguasa Dharani, Bodhisattva Avalokitesvara, Bodhisattva Keperkasaan Tiba Yang Agung, Bodhisattva  Kemajuan Teguh Penuh Semangat, Bodhisattva Pemegang Segel Meterai Permata di Tangan (Ratnapani),  Bodhisattva Tumpukan Harta Kekayaan, Bodhisattva Pegawai Permata, Bodhisattva Di Luar Triloka, Bodhisattva Vimalabhadra, Bodhisattva Gajah Wangi Semerbak, Bodhisattva Gajah Wangi Semerbak Yang Agung, Bodhisattva Raja Auman Singa (Simhanada-raja), Bodhisattva Dunia Bahagia Singa,  Bodhisattva Kekuatan Sermangat Singa, Bodhisattva Kemajuan Singa, Bodhisattva Pasukan Gagah Berani, Bodhisattva Penakluk Singa Ganas, Bodhisattva Keindahan Cemerlang, dan Bodhisattva Keindahan Cemerlang Yang Agung. Semua Bodhisattva Mahasattva ini adalah orang-orang besar yang telah menyadari tubuh dharma mereka melalui menyempurnakan [lima segi pemandangan:] sila (aturan), samadhi (pemusatan pikiran), prajna (kebijaksanaan), vimukti (pembebasan), serta pengetahuan (jnana) dan pandangan tentang pembebasan. Pikiran mereka, sunyi diam dan merenungkan, yang secara terus-menerus berada didalam samadhi, damai, pendiam, tidak terbentuk melalui sebab dan kondisi (asamskrta), dan bebas dari nafsu keinginan. 'Pikiran terbalik' dan 'tanggapan penglihatan' tidak lagi muncul. Diam, jernih, mendalam, dan luas, pikiran mereka bisa tetap tinggal berdiam selama 100.000 koti kalpa, seperti Pintu Dharma yang tak terhitung jumlahnya semuanya hadir di depan mereka. Setelah membuka kebijaksanaan yang besar dan menembus semua Dharma, mereka memahami kenyataan sejati dari dharma, yang, dibedakan oleh sifat alami-nya dan penampilan-nya, secara jelas menyatakan wujud sebagai 'ada' atau 'tiada', panjang atau pendek. Selain itu, mereka mahir dalam mengenali kecakapan, sifat alami, dan nafsu keinginan dari para makhluk hidup. Dilengkapi dengan Dharani dan kefasihan tanpa hambatan, mereka selalu meminta para Buddha untuk memutar roda Dharma (Dhammacakka/Dharmacakra).

Demikian juga, mereka juga mampu memutar-nya. Mereka pertama kali mengurangi debu nafsu keinginan dengan tetesan gerimis [dari Ajaran]. Ketika mereka membuka pintu untuk ke Nirvana dan menghembuskan angin pembebasan, mereka mengubah panas dari penderitaan dunia menjadi kesejukan Dharma. Mereka sesudah itu menurunkan hujan prinsip yang mendalam dari 'Dua Belas Hubungan Ketergantungan dari Kemunculan (Paticcasamuppada)' diatas sinar matahari dari penderitaan menyala berkobar yang berjalan dari 'kegelapan batin ketidaktahuan' sampai 'usia tua', 'sakit', dan 'kematian'. Kemudian, mereka memancarkan kebawah hujan deras dari [Ajaran] Mahayana (Kendaraan Besar) yang tak tertandingi untuk mengairi akar-akar kebaikan dari para makhluk hidup dalam Tiga Alam Kehidupan (triloka). Mereka menyebarkan benih-benih kebaikan di mana-mana di dalam lapangan jasa kebajikan, yang memungkinkan semuanya menumbuhkan tunas Bodhi. Dengan kebijaksanaan mereka yang seperti matahari (surya) dan bulan (candra), dengan menggunakan cara-cara terampil dan pengaturan waktu, mereka mendorong maju dan memperluas tugas misi Mahayana, memungkinkan para makhluk hidup untuk mencapai Anuttara-samyak-Sambodhi (Penerangan/Pencerahan Sempurna Tak Tertandingi) dengan cepat dan untuk tinggal menetap di dalam kebahagiaan dan kenyataan sejati yang tak terbayangkan. Seperti ketika para Bodhisattva Mahasattva ini menyelamatkan 'para makhluk hidup yang lama menderita' dengan melalui perasaan kasih sayang yang besar tak terhingga, mereka adalah teman-teman dermawan sejati terpelajar mereka, lapangan keberuntungan besar mereka, dan guru yang tanpa diminta mereka. Demi para makhluk hidup, mereka melayani sebagai tempat perlindungan dari kedamaian dan sukacita dan sebagai tempat penyelamatan, perlindungan, dan ketergantungan yang besar. Dalam segala hal mereka adalah guru pembimbing besar untuk para makhluk hidup. Mereka bisa menjadi mata bagi mereka yang buta sejak lahir dan menjadi telinga, hidung, dan lidah bagi mereka yang tuli, tidak bisa mencium bau, dan bisu. Mereka dapat melengkapi mereka yang tidak lengkap dalam alat indera mereka dan dapat membuat yang kacau gila berpikir jernih lurus. Seperti kapten, kapten besar, dari sebuah kapal, mereka membawa para makhluk hidup ke seberang sungai dari kelahiran dan kematian menuju ke pantai nirwana. Seperti raja obat (bhaisajya-raja), raja obat yang agung (Mahabhaisajya-raja), mereka membedakan tanda gejala penyakit, mengetahui sifat dari obat, memberikan obat-obatan sesuai dengan penyakit, dan membuat pasien menikmati mengambil obat-obatan itu. Seperti pelatih binatang yang dapat melatih gajah dan kuda tanpa gagal, mereka, para penjinak, para penjinak yang agung, selalu menahan diri dari tindakan-tindakan tak terkendali. Seperti singa ganas berani yang menundukkan semua hewan, benar-benar sepenuhnya tak terkalahkan, mereka suka bermain berlatih paramita Bodhisattva. Ketetapan hati yang tak tergoyahkan untuk mencapai Tathagata bhumi (tahap keBuddhaan), mereka bergantung pada kekuatan sumpah mereka untuk memurnikan tanah-tanah suci Buddha (Buddhaksetra). Tak lama, mereka akan mencapai Anuttara-samyak-Sambodhi. Para Bodhisattva Mahasattva ini semuanya memiliki manfaat kebajikan yang tak terbayangkan seperti yang dijelaskan.

Di antara 12.000 bhiksu ada Sariputra sang pemilik Kebijaksanaan Besar, Maudgalyayana sang pemilik Kekuatan Yang Sangat Sukar Dipahami, Subhuti sang pemilik Kebijaksanaan Hidup, Mahākātyāyana, Purna (putra dari Maitrayani), Ājńātakaundinya, Aniruddha sang pemilik Mata Deva, Upāli sang Penopang Vinaya, Ananda (pelayan sang Buddha), Rahula (putra dari sang Buddha), Upananda, Revata, Kapphina, Vakkula, Mahamaudgalyayana, Svāgata, Mahakasyapa yang paling utama dalam Pelatihan Dhūta (Latihan melepaskan nafsu keinginan berkaitan dengan kenyamanan dalam makanan, pakaian, dan tempat tinggal), Uruvilvākāśyapa, Gayākāśyapa, dan Nadīkāśyapa. Semua dari mereka adalah Arahat, yang, setelah mengakhiri penderitaan dan pelepasan (asrava) mereka oleh sebab itu, terbebas dari perbudakan ketergantungan dan benar-benar dibebaskan.

Pada saat itu Bodhisattva Mahasattva besar yang indah cemerlang, melihat jumlah besar banyaknya orang diselesaikan dengan tenang, bersama-sama dengan 80.000 Bodhisattva Mahasattva didalam perkumpulan majelis itu, bangkit dari tempat duduknya dan datang kepada sang Buddha. Mereka menundukkan kepala ke bawah kaki sang Buddha, dan berputar mengelilingi (pradaksina) Dia 100.000 kali. Sebagai persembahan kepada sang Buddha, asap dupa surgawi, bunga, pakaian, kalung, dan perhiasan yang tak ternilai harganya jatuh berpilin ke bawah dari langit dan berkumpul disekeliling seperti awan. Hidangan piring dan mangkuk makanan dari Surga langit dipenuhi dengan kelezatan dari seratus citra rasa surga, memuaskan semua melalui warna dan aromanya. Ditempatkan di mana-mana spanduk-spanduk surga, bendera-bendera, dan tirai-tirai, serta alat-alat musik yang indah, sedang memainkan musik surga untuk menghibur sang Buddha.

Didepan sang Buddha, mereka merangkapkan gabungan telapak tangan (anjali) mereka dan berlutut dengan lutut kanan mereka. Dengan satu pikiran dan satu suara, mereka menyampaikan penghargaan mereka dalam syair:

Keluhuran Mulia adalah sang Penguasa Tertinggi Yang Suci, Dia Yang Besar Tercerahkan!
Dengan tiada noda, tiada kekotoran, dan tiada kemelekatan,
Dia adalah Penjinak Dewa dan Manusia serta Gajah dan Kuda.
Pengaruh wibawa jalan-Nya dan keharuman kebajikan-Nya menyerap tembus ke mana-mana.
Kebijaksanaan-Nya damai, emosi-Nya tentram tenang, dan kekuatiran-Nya tenang beristirahat.
Indera batin dan kesadaran batin-Nya tetap hening tenang, dan pikiran-Nya diam,
Setelah selamanya mengakhiri mimpi, berpikir, tanggapan penglihatan, dan perenungan.
Dia tidak lagi mengambil sebagai kenyataan "enam bidang" ("sad-dhatu" => 'mahluk hidup tercipta dari 6 bidang yakni tanah,air,api,udara,ruang,dan kesadaran'),  "Lima kumpulan" ("panca skandha" => 'mahluk hidup tersusun dari 5 kumpulan yakni rupa (bentuk tubuh), vedana (tanggapan penerimaan dari alat indera), samjna (tanggapan penglihatan), samskara (pengolahan batin) dan vijnana (kesadaran)'), "Delapan Belas Bidang" ("astadasa-dhatu"=> 'mahluk hidup tersusun dari 18 bidang yaitu : 6 alat indera (=mata,telinga,hidung,mulut,tubuh,dan indera batin/jiwa (=manas)), 6 tujuan perasa (=pemandangan, suara, aroma bebauan, rasa selera bumbu, rasa dari meraba, dan benda tujuan batin/jiwa ), dan 6 kesadaran (=kesadaran mata, kesadaran telinga, kesadaran hidung, kesadaran lidah, kesadaran tubuh, dan kesadaran batin/jiwa) '), dan "Dua Belas Bidang"("dvadasa-ayatana"=>'mahluk hidup tersusun dari 12 bidang yaitu : 6 alat indera(=mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan indera batin/jiwa(=manas) serta 6 benda tujuannya (pemandangan, suara, aroma bebauan, rasa selera bumbu, rasa dari meraba, dan benda tujuan batin/jiwa))').

Lahir dari tiada penyebab maupun kondisi, tiada diri sendiri maupun orang lain,
Tubuh [Dharma]-Nya adalah tiada ada maupun tiada ketidak-adaan,
Tidak persegi maupun bulat, tidak panjang maupun pendek,                                                                                                                                                                                                                      Tidak muncul maupun menghilang, tidak lahir maupun mati,
Tidak dibangun maupun timbul, tidak dibuat maupun dibentuk,
Tidak duduk maupun berbaring, tidak berjalan maupun berdiri diam,
Tidak bergerak pindah maupun berputar, tidak berisik maupun tenang,
Tidak maju maupun mundur, tidak aman maupun berbahaya,
Tidak benar maupun salah, tidak mendapatkan maupun kehilangan,
Tidak ini maupun itu, tidak datang atau pergi,
Tidak biru maupun kuning, tidak merah maupun putih,
Tidak merah tua maupun ungu, tidak juga dalam berbagai macam warna.
Hal ini diwujudkan melalui pencapaian [lima segi-nya:] sila (aturan pedoman), samadhi (pemusatan pikiran), prajna (kebijaksanaan), vimukti (pembebasan), serta pengetahuan (jnana) dan pandangan tentang pembebasan.

Yang Terselesaikan dengan sempurna adalah "Tiga Kemurnian Cerah"(=>'seorang Arhat telah mencapai [1] Pengetahuan yang jelas tentang kehidupan masa lampau diri sendiri dan orang lain dan sebab dan kondisi mereka, [2] Kejelasan yang jernih dari mata dewa-Nya yang melihat kehidupan masa depan orang lain dan sebab dan kondisi mereka, [3] Pengetahuan yang jelas bahwa penderitaannya telah berhenti dan tidak akan pernah muncul lagi.'), "Enam Kekuatan Yang Sangat Sukar Dipahami"(=>'melalui samadhi (pemusatan pikiran/meditasi) orang dapat mengembangkan 6 kekuatan ini : [1] mata dewa yang dapat melihat apapun dimanapun,[2] telinga dewa yang dapat mendengar suara apapun dimanapun,[3] kemampuan mengetahui kehidupan masa lampau diri sendiri dan orang lain,[4] kemampuan mengetahui pikiran orang lain,[5] kemampuan menjelma tubuh seseorang dan menempuh perjalanan dengan seketika ke manapun, [6] kemampuan memusnahkan angan-angan khayalan dan nafsu keinginan duniawi'), dan "Tiga Puluh Tujuh Unsur Bodhi"("Bodhi pakkhiya Dhamma"=>
'Keempat pemusatan tumpuan dari kesadaran berhati-hati (cattaro satipathana)                                                                                                                                                                                                                                         1. perenungan tubuh (kāyānupassanā);
2. perenungan perasaan (vedanā'nupassanā);
3. perenungan pikiran (cittānupassanā);
4. perenungan gejala kejadian (dhammanupassana).
Empat usaha benar (samma-p padhana)
[5] 1. usaha tekun untuk mencegah keadaan-keadaan jahat yang belum muncul dari kemunculan (samvara padhāna);
[6] 2. usaha tekun untuk meninggalkan keadaan-keadaan jahat yang muncul (Pahana padhāna);
[7] 3. usaha tekun untuk menumbuhkan kondisi bajik yang belum muncul (Bhavana padhāna), dan
[8] 4. usaha tekun untuk mempertahankan kondisi bajik yang muncul (anurakkhanā padhāna).
Empat jalan kekuatan batin (iddhi pada)
[9] 1. keinginan untuk bertindak (chanda);
[10] 2. Usaha tekun (viriya);
[11] 3. kesadaran pikiran (citta), dan
[12] 4. Menyelidiki (yaitu kebijaksanaan) (vimamsa).
Lima kemampuan alat indera (panca indriya)
[13] 1. Indera Keyakinan (saddha indriya);
[14] 2. Indera Usaha Tekun (viriya indriya);
[15] 3. Indera Kesadaran (sati indriya);
[16] 4. Indera Pemusatan Pikiran/Konsentrasi (samadhi), dan
[17] 5. Indera Kebijaksanaan (pańńa 'indriya).
Lima kekuatan spiritual (panca bala)
[18] 1. Kekuatan Keyakinan (Saddha bala);
[19] 2. Kekuatan Usaha Tekun (viriya bala);
[20] 3. Kekuatan Indera Kesadaran (sati bala);
[21] 4. Kekuatan Indera Pemusatan Pikiran/Konsentrasi (samadhi bala), dan
[22] 5. Kekuatan Kebijaksanaan (panna bala).
Tujuh unsur/faktor kebangkitan (satta bojjhanga )
[23] 1. Faktor Kesadaran (sati sambojjhanga);
[24] 2. Faktor Penyelidikan Keadaan (dhamma vicaya sambojjhanga);
[25] 3. Faktor Usaha Tekun (viriya sambojjhanga);
[26] 4. Faktor Semangat (perhatian penuh kegembiraan) (Piti sambojjhanga);
[27] 5. Faktor Ketenangan (passaddhi sambojjhanga);
[28] 6. Faktor Konsentrasi (samadhi sambojjhanga), dan
[29] 7. Faktor Keseimbangan Batin (upekkha sambojjhanga).
Jalan mulia berunsur delapan (Ariyo atthangika magga)
[30] 1. pandangan benar (samma ditthi);
[31] 2. pikiran benar (samma sankappa);
[32] 3. ucapan benar (samma vaca);
[33] 4. tindakan yang benar (samma kammanta);
[34] 5. mata pencaharian benar (samma ajiva);
[35] 6. usaha benar (samma vayama);
[36] 7. perhatian benar (samma sati), dan
[37] 8. konsentrasi benar (samma samadhi).'
)
Yang Muncul adalah "Cinta Kasih", "Kasih Sayang", "Sepuluh Kekuatan" ("dasa bala"=>
'(1) Sang Tathagata memahami, seperti apa adanya, penyebab sebagai penyebab dan bukan-penyebab sebagai bukan-penyebab.
(2) Sang Tathagata memahami, seperti apa adanya, lewat penyebab dan kondisi akar, hasil tindakan-tindakan yang dilakukan di masa lalu, masa mendatang dan masa kini.
(3) Sang Tathagata memahami, seperti apa adanya, jalan yang menuju pada semua keberadaan.
(4) Sang Tathagata memahami, seperti apa adanya, dunia dengan segala elemennya yang berbeda-beda.
(5) Sang Tathagata memahami, seperti apa adanya, kecenderungan-kecenderungan semua makhluk
(6) Sang Tathagata memahami, seperti apa adanya, kondisi-kondisi kemampuan batin yang rendah dan tinggi dari makhluk lain, dan orang lain.
(7) Sang Tathagata memahami, seperti apa adanya, mengenai jhana-jhana, pembebasan, pemusatan pikiran/konsentrasi (samadhi), pencapaian-pencapaian dari samadhi, kelemahan-kelemahan dan kemurniannya, dan kemunculannya dari itu semua.
(8] Sang Tathagata mengingat kehidupan-kehidupan masa lalunya yang banyak jumlahnya, yaitu satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, berkalpa-kalpa pengerutan dunia, berkalpa-kalpa pengembangan dunia, berkalpa-kalpa pengerutan dan pengembangan dunia.
(9) Sang Tathagata melihat makhluk-makhluk mati dan muncul kembali, yang lebih rendah dan lebih tinggi, yang elok dan buruk, dengan tempat tujuan yang baik atau buruk. Beliau memahami keadaan makhluk-makhluk sesuai dengan perbuatan mereka.
(10) Sang Tathagata, dengan hancurnya noda-noda, di dalam kehidupan ini juga masuk dan berdiam di dalam pembebasan pikiran yang tak-ternoda, pembebasan oleh kebijaksanaan, setelah menyadarinya sendiri lewat pengetahuan langsung. Ini 10 kekuatan Tathagata yang dimiliki Sang Tathagata, yang menjadi alasan mengapa Beliau mendapat kedudukan tertinggi, mengeluarkan raungan singa (Simhanada) -Nya di sekumpulan orang, dan memutar Roda Dhamma tertinggi.'),
dan "Empat Keberanian" (=>
'[1] Keberanian karena pengetahuan dari semua pengetahuan telah diperoleh.
[2] Keberanian karena semua penderitaan telah dimusnahkan.
[3] Keberanian dalam menjelaskan hambatan/rintangan yang menghalangi orang mencapai Bodhi.
[4] Keberanian dalam menjelaskan jalan yang benar untuk mengakhiri penderitaan orang.
').
Dalam menanggapi kondisi karma baik dari makhluk hidup,
Dia telah muncul dalam tubuh tiga meter dan enam inci tinggi-Nya, emas ungu kebiruan,
Gemerlapan, bersinar, dan bagian perbandingan yang baik.
Rambut putih di antara Alis mata-Nya melingkar seperti bulan baru, dan lingkaran cahaya-nya adalah seperti sinar matahari.
Rambut melingkar keriting-Nya berwarna biru gelap, dan tonjolan gundukan berdaging ada pada mahkota-Nya.
Mata jelas-Nya adalah cerah, secara lembut melihat ke atas dan ke bawah.
Alis dan bulu mata-Nya berwarna biru gelap, dan mulut dan pipi-Nya terbentuk dengan baik.
Bibir dan lidah-Nya berwarna merah, seperti bunga merah.
Empat puluh gigi-Nya putih seperti salju.
Dahi-Nya luas, Hidung-Nya lurus, dan wajah-Nya terbuka.
Di dada singa-Nya ada simbol svastika(卍).
Telapak tangan-Nya dan telapak kaki-Nya lembut, ditandai dengan seribu jari-jari ruji.
Ketiak-Nya tidak berongga, Jari-jari-Nya berselaput,
Lengan-Nya panjang, dan Jari-Nya lurus dan ramping.
Kulit-Nya halus dan lembut, dengan rambut melingkar keriting ke kanan.
Pergelangan kaki dan lutut-Nya tidak kurus, dan organ laki-laki-Nya tersembunyi seperti yang dimiliki kuda.
Otot halus membungkus tulang kaki-Nya, seperti yang dimiliki raja-rusa.

Tubuh-Nya bersinar, murni, dan segar,
[Seperti bunga teratai] tak tersentuh oleh air dan tak ternoda oleh kotoran.
Tiga puluh dua tanda fisik-Nya
Dan delapan puluh ciri-ciri-Nya yang sangat baik tampak terlihat.
Dalam kenyataan sejati, tidak ada bentuk maupun penampilan
Karena penampilan didepan mata adalah kosong (sunyata).
Seperti penampilan dari tiada penampilan diwujudkan sebagai tubuh-Nya,
Dengan cara yang sama itu diwujudkan sebagai tubuh makhluk hidup.
Penampilannya memungkinkan makhluk hidup untuk membuat sembah hormat dengan sukacita,
Dan untuk memberikan penghormatan dengan tulus dan sungguh-sungguh.
Dengan membuang pengangkatan tinggi diri dan kesombongan diri,
Dia telah mendapatkan tubuh yang indah seperti itu.

Semua dari kami bersama-sama, 80.000 banyaknya jumlah besar orang,
Membuat sembah hormat kepada dan berlindung kepada Dia yang suci yang, tanpa keterikatan/kemelekatan,
Telah dengan terampil mengubah bentuk pemikiran-Nya, tanggapan penglihatan, pikiran, indera batin, dan kesadaran batin,
Serta gajah jinak dan kuda jinak.
Kami bersujud untuk berlindung kedalam bentuk fisik tubuh dharma-Nya,
Gabungan persatuan dari aturan pedoman (sila), pemusatan pikiran (samadhi), kebijaksanaan (prajna), pembebasan (vimukti), dan pengetahuan dan pandangan pembebasan.
Kami bersujud untuk berlindung kedalam penampilan Makhluk yang menakjubkan.
Kami bersujud untuk berlindung kedalam Dia yang tidak terbayangkan.

"Nada Brahma-Nya" bergemuruh dalam delapan cara,
Menakjubkan, murni, dan jauh jangkauannya,
Mengumumkan "Empat Kebenaran Mulia"("Sanskrit: catvāri āryasatyāni; Pali: cattāri ariyasaccāni"=>
' [1] Kebenaran tentang adanya Dukkha (Dukkha)
  [2] Kebenaran tentang sebab Dukkha (Dukkha Samudaya)
  [3] Kebenaran tentang lenyapnya Dukkha (Dukkha Niroda)
  [4] Kebenaran tentang jalan mulia berunsur 8 menuju akhir Dukkha (Dukkha Nirodha Gamini Patipada Magga)'
),
"Enam paramita"("Sad-paramita"=>
'Dana paramita = memberi tanpa pamrih
Sila paramita = melaksanakan aturan dengan tanpa pamrih
Ksanti paramita = kesabaran penuh pengertian tanpa pamrih
Virya paramita = usaha tekun penuh semangat untuk maju tanpa pamrih
Dhyana paramita = meditasi tanpa pamrih
Prajna paramita = kebijaksanaan tanpa pamrih'
),
dan "Dua Belas Hubungan Ketergantungan dari Kemunculan" ("Paticcasamuppada"=>
'Kegelapan Batin atau Ketidaktahuan menimbulkan Bentuk-Bentuk Karma (Avijja-paccaya sankhara)
Bentuk-Bentuk Karma menimbulkan Kesadaran (sankhara-paccaya vinnanam)
Kesadaran menimbulkan Nama Rupa (vinnana-paccaya nama-rupam)
Nama Rupa menimbulkan Enam Indriya (nama-rupa-paccaya salayatanam)
Enam Indriya menimbulkan Kontak (salayatana-paccaya phasso)
Kontak menimbulkan Perasaan (phassa-paccaya vedana)
Perasaan menimbulkan Kehausan,Kegemaran,Kegiuran (vedana-paccaya tanha)
Kehausan,Kegemaran,Kegiuran menimbulkan Kemelekatan (tanha-paccaya upadanam)
Kemelekatan menimbulkan Proses Penjelmaan (upadana-paccaya bhavo)
Proses Penjelmaan menimbulkan Kelahiran (bhavapratyayā jātih)
Kelahiran menimbulkan Kelapukan, Kematian, Keluh Kesah, Sakit (jati-paccaya jara-maranam)
Kelapukan, Kematian, Keluh Kesah, Sakit adalah akibat dari Kelahiran (soka-parideva-dukha-domanassupayasa sambhavanti)

'Ketidaktahuan dihancurkan maka Bentuk-Bentuk Karma menjadi hancur (avidyā nirodhāt samskāra nirodhah)
Bentuk-Bentuk Karma dihancurkan Kesadaran menjadi hancur (samskāra nirodhād vijńānanirodhah)
Kesadaran dihancurkan Nama Rupa menjadi hancur (vijńāna nirodhān nāmarūpanirodhah)
Nama Rupa dihancurkan Enam Indriya menjadi hancur (nāmarūpa nirodhāt salāyata nanirodhah)
Enam Indriya dihancurkan Kontak menjadi hancur (salāyatana nirodhāt sparśa nirodhah)
Kontak dihancurkan Perasaan menjadi hancur (sparśa nirodhād vedanā nirodhah)
Perasaan dihancurkan Kehausan,Kegemaran,Kegiuran menjadi hancur (vedanā nirodhātt trsnā nirodhah)
Kehausan,Kegemaran,Kegiuran dihancurkan Kemelekatan menjadi hancur (trsnā nirodhād upādāna nirodhah)
Kemelekatan dihancurkan Proses Penjelmaan menjadi hancur (upādāna nirodhād bhava nirodhah)
Proses Penjelmaan dihancurkan Kelahiran menjadi hancur (bhava nirodhā jāti nirodhah)
Kelahiran dihancurkan maka Kelapukan, Kematian, Keluh Kesah, dan Sakit menjadi lenyap. (jāti nirodhā jjarāmaranaśokaparidevaduhkhadaurmanasyopāyāsā nirudhyante)'
),
Menurut karma pikiran makhluk hidup.

Tak satu pun dari para pendengar akan gagal untuk membuka pikirannya,
Dan untuk menghancurkan belenggu perputaran kelahiran dan kematian yang tak terhitung.
Beberapa Pendengar Suara menjadi Srotāpanna,
Sakrdāgāmin, Anāgāmin, atau Arahat.
Beberapa menjadi Pratyekabuddha, bebas dari penderitaan dan kemelekatan pada dharma samskrta(=> terbentuk dari sebab dan kondisi).
Beberapa menyadari tiada kelahiran dan tiada kematian dari dharma dan naik ke tahap Bodhisattva (Bodhisattvabhumi).
Beberapa memperoleh Dharani yang tak terhitung
Dan senang dalam membabarkan secara terperinci Dharma dengan sangat fasih.
Mereka mengucapkan yang sangat mendalam, bait yang menakjubkan,
Bermain dan mandi di danau murni dari Dharma.
Beberapa menampilkan kekuatan yang sangat sukar dipahami seperti saat mereka melompat dan terbang
Atau dengan bebas masuk dan keluar dari air atau api.
Yang seperti itu merupakan perwujudan dari roda Dharma,
Murni, tak terbatas, dan tak terbayangkan!

Sekali lagi kami semua bersujud bersama untuk berlindung
Dalam roda Dharma yang berputar pada waktu yang tepat.
Kami semua bersujud untuk berlindung dalam nada Brahma.
Kita semua bersujud untuk berlindung di dalam [prinsip] Ketergantungan dari Kemunculan, Empat Kebenaran Mulia, dan Enam Paramita.

Selama kalpa yang tak terhitung di masa lampau,
Yang dimuliakan dunia (Bhagavan) dengan susah payah berlatih di dalam tindakan-tindakan kebajikan.
Untuk diri-Nya sendiri, manusia, dewa, naga, roh, raja,
Dan semua makhluk hidup lainnya,
Dia mampu meninggalkan semua yang sulit untuk ditinggalkan,
Seperti istri, anak, kekayaan, tahta, dan kerajaan.
Tidak pernah menyesalkan dharma, yang didalam atau yang diluar,
Dia memberi orang lain kepala, mata, sumsum tulang, dan otak-Nya.
Mengamati sila murni sang Buddha,
Dia tidak pernah menyebabkan bahaya kerugian apapun, bahkan untuk menyelamatkan hidup-Nya.
Dia tidak pernah marah bila dipukul oleh pisau atau pentungan
Atau diserang dengan penghinaan dan kata-kata kasar.
Selama berkalpa-kalpa, Dia tidak pernah lelah atau malas dalam usaha-Nya.
Siang dan malam, Dia telah menjaga pikiran-Nya dalam meditasi.
Setelah mempelajari semua jalan dalam Dharma,
Dia bisa menembus kecakapan makhluk hidup dengan kebijaksanaan-Nya.
Oleh karena itu, Dia kini telah mencapai Kekuasaan Memerintah,
Menjadi Raja Dharma dalam perintah Dharma.

Kita semua bersujud bersama untuk berlindung,
Sehingga kita bisa berusaha untuk melakukan apa yang sulit untuk dilakukan.

Bab 2
Membabarkan Dharma

Bodhisattva Mahasattva besar yang indah cemerlang dan 80.000 Bodhisattva Mahasattva, setelah menyelesaikan bait dalam memuji Sang Buddha, bertanya kepada Sang Buddha, "Bhagavan, kami semua 80.000 Bodhisattva sekarang ingin bertanya tentang Dharma sang Tathagata. Kita tidak tahu apakah Bhagavan akan memberikan kami izin."

Sang Buddha berkata kepada Bodhisattva Mahasattva besar yang indah cemerlang dan 80.000 Bodhisattva Mahasattva: "Sangat bagus! Sangat bagus! Putra yang baik, Anda adalah yang terbaik mengetahui bahwa ini adalah waktu yang tepat. Anda dapat mengajukan pertanyaan apapun. Tak lama, sang Tathagata akan memasuki Parinirvana, dan tidak boleh ada keraguan yang tersisa setelah Parinirvana Saya. Anda dapat bertanya kepada Saya pertanyaan apapun yang Anda inginkan."

Kemudian Bodhisattva Mahasattva besar yang indah cemerlang dan 80.000 Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Sang Buddha dengan satu suara, "Bhagavan, jika seorang Bodhisattva Mahasattva ingin mencapai Anuttara-samyak-Sambodhi dengan cepat, melalui Pintu Dharma apakah harus mereka berlatih? Pintu Dharma apakah yang akan memungkinkan Bodhisattva Mahasattva untuk mencapai Anuttara-samyak-Sambodhi dengan cepat?"

Sang Buddha menjawab Bodhisattva Mahasattva besar yang indah cemerlang dan 80.000 Bodhisattva Mahasattva: "Putra yang baik, ada satu Pintu Dharma melalui dimana Bodhisattva dapat mencapai Anuttara-samyak-Sambodhi dengan cepat. Jika ada Bodhisattva yang belajar Pintu Dharma ini, mereka dapat mencapai Anuttara-samyak-Sambodhi dengan cepat."

"Bhagavan, disebut apakah Pintu Dharma ini? Apa artinya? Bagaimana Bodhisattva harus melatih dirinya sendiri?"

Sang Buddha menjawab, "Putra yang baik, satu Pintu Dharma ini disebut Makna Yang Tak Terhitung (Ananta Nirdesa). Bodhisattva yang ingin belajar dan mempelajari 'makna yang tak terhitung' harus mengamati bahwa dharma selalu kosong didalam sifat alami dan didalam penampilan. Dengan tiada kelahiran maupun kematian, dharma adalah tiada besar maupun kecil, tiada bergerak maupun berdiri diam, tiada maju maupun mundur. Seperti ruang angkasa, mereka adalah tiada rangkap ganda. Namun, makhluk hidup keliru menghitung ini dibandingkan itu, keuntungan dibandingkan kerugian. Pikiran buruk yang didatangkan mereka, melakukan karma jahat, dan oleh karena itu berpindah melalui "enam perjalanan hidup"(=>deva,asura,manusia,hantu kelaparan, dan penghuni neraka), mengalami penderitaan mengerikan. Selama koti kalpa yang tak terhitung banyaknya, mereka tidak dapat mengatasi siklus peredaran putaran mereka sendiri. Setelah mengamati mereka dengan cermat dengan cara ini dan ingin menyelamatkan mereka, Bodhisattva Mahasattva-merasa simpati dan memancarkan cinta kasih dan kasih sayang yang besar. Selain itu, mereka dengan sangat dalam menembus semua dharma: dengan penampilan dharma yang demikian, dharma yang demikian itu timbul, dengan penampilan dharma yang demikian, dharma yang demikian itu tinggal, dengan penampilan dharma yang demikian, dharma yang demikian itu berubah, dengan penampilan dharma yang demikian, dharma yang demikian itu binasa, penampilan dharma yang demikian dapat menghasilkan dharma yang jahat, penampilan dharma yang demikian dapat menghasilkan dharma yang baik. Dengan cara yang sama setiap dharma tinggal-berdiam, berubah, dan binasa. Setelah sepenuhnya mengamati dan memahami seluk-beluk dari "empat penampilan" [=>(1) yang timbul, (2) berlanjut, (3) berubah, dan (4) berakhir dari setiap dharma samskrta], Bodhisattva selanjutnya mengamati dengan saksama bahwa semua dharma muncul dan musnah seketika, seperti pikiran, satu demi satu, tidak pernah tinggal menetap. Mereka juga mengamati kelahiran yang seketika, tetap, berubah, dan kematian dari semua Dharma. Setelah membuat pengamatan ini, Bodhisattva kemudian menembus kemampuan kecakapan, sifat, dan keinginan dari makhluk hidup. Karena kemampuan kecakapan, sifat, dan keinginan mereka yang beragam tak terhitung, Bodhisattva mengucapkan Dharma yang beragam tak terhitung. Karena Dharma yang diucapkan adalah tak terhitung, maknanya juga tak terhitung. Makna yang tak terhitung itu dilahirkan dari satu dharma. Satu Dharma ini adalah tiada "penampilan/penampakan", yang tidak terpisah dari penampilan. Kebenaran bahwa "penampilan" dan "tiada penampilan" adalah tidak terpisah dari satu sama lain disebut "kenyataan sejati". Ketika Bodhisattva Mahasattva tinggal menetap di dalam kenyataan sejati, kasih setia dan kasih sayang yang mereka pancarkan adalah yang asli, tidak palsu. Mereka benar-benar bisa mengakhiri penderitaan makhluk hidup. Setelah menyelamatkan mereka dari penderitaan, Bodhisattva mengucapkan Dharma kepada mereka, memungkinkan mereka untuk mengalami kebahagiaan.

"Putra yang baik, jika Bodhisattva dapat melatih dalam satu Pintu Dharma dari Makna Yang Tak Terhitung ini, mereka akan dengan cepat mencapai Anuttara-samyak-Sambodhi. Putra yang baik, Sutra Mahayana dari Makna Yang Tak Terhitung, yang mendalam, tanpa tandingan ini adalah benar pada prinsip-nya dan yang tertinggi dalam kemuliaan-nya. Sutra ini dilindungi oleh semua Buddha dari masa lalu, sekarang, dan masa depan. Tidak ada Mara maupun yang bukan pengikut Buddha dapat memasuki-nya, juga tidak bisa dirusak oleh pandangan salah yang mengabadikan kelahiran dan kematian. Oleh karena itu, Putra yang baik, Bodhisattva Mahasattva yang ingin mencapai Bodhi yang tak tertandingi harus belajar dan mempelajari Sutra Mahayana dari Makna Yang Tak Terhitung, yang mendalam, tanpa tandingan ini . "

Bodhisattva Mahasattva besar yang indah cemerlang selanjutnya berkata kepada sang Buddha, "Bhagavan, Dharma yang diucapkan oleh Anda adalah tak terbayangkan, kemampuan kecakapan makhluk hidup juga tak terbayangkan, dan penjelasan dari Pintu Dharma adalah tak terbayangkan juga. Kami tidak lagi memiliki keraguan tentang Dharma yang diucapkan oleh sang Buddha. Namun, saya perlu menyatakan kembali pertanyaan saya karena makhluk hidup telah bingung pikirannya. Bhagavan, sejak pencapaian sang Tathagata ke bodhi, selama lebih dari empat puluh tahun, Anda telah sering menjelaskan secara terperinci kepada makhluk hidup bahwa arti dari empat penampakan dari setiap dharma adalah ketidakkekalan, kesakitan, kekosongan, dan tiada diri. Dengan tiada kelahiran maupun kematian, dharma adalah tiada besar maupun kecil, tetapi dalam satu penampakan dari tiada penampakan. Sifat alami dharma dan penampakan dharma selalu kosong, tidak datang maupun pergi, tidak tampak muncul maupun menghilang. Dari mereka yang telah mendengar ajaran-ajaran ini, beberapa telah menyelesaikan [salah satu dari Empat Pelatihan Persiapan:]
(1)Kehangatan => seserang menyadari dalam "samadhi cahaya penerangan" bahwa benda adalah kosong,
(2)Puncak => seserang menegaskan pencapaian yang sama melalui samadhi cahaya penerangan yang bertambah besar,
(3)Ketahanan =>seseorang menyadari didalam "samadhi penguncian dalam penyesuaian" bahwa kesadaran sebagai "perantara dari perbedaan" adalah kosong;,
dan (4)Yang Paling Utama di Dunia => seseorang menegaskan didalam "samadhi yang tidak terganggu" bahwa kedua "objek/benda yang dirasakan" dan "perantara yang merasakan" adalah kosong. Dengan mencapai kesadaran ini, seseorang naik ke Bodhisattva Bhumi Tingkat Pertama, memulai tahap suci menuju Kebuddhaan.;
beberapa sudah menjadi Srotāpanna, Sakdāgāmin, Anāgāmin, atau Arahat; beberapa telah mengaktifkan pikiran bodhi dan naik ke tingkat Pertama (pratama bhumi), Kedua, Ketiga, atau bahkan Tingkat Kesepuluh (dasa bhumi).

"Apakah perbedaan didalam arti antara Dharma yang Anda telah ucapkan di masa lalu dan apa yang Anda telah nyatakan hari ini, yang mendorong Anda untuk mengatakan bahwa para Bodhisattva yang berlatih menurut yang mendalam, tanpa tandingan Mahayana Sutra dari Makna Yang Tak Terhitung ini akan mencapai Bodhi yang tak tertandingi dengan cepat ? Apa alasannya? Saya berdoa hanya bahwa Bhagavan, dari kasih setia-Nya dan belas kasih-Nya untuk semua, akan secara luas menjelaskannya kepada makhluk hidup, memungkinkan pendengar Dharma masa sekarang dan masa depan tidak memiliki jaring keraguan yang tersisa. "

Sang Buddha berkata kepada Bodhisattva Mahasattva besar yang indah cemerlang, "Sangat bagus! Sangat bagus! Putra dari kebaikan yang besar, Anda mampu bertanya kepada Tathāgata tentang makna halus dari yang mendalam, Mahayana (Kendaraan Besar/Agung) yang tanpa tandingan ini. Kami tahu bahwa Anda dapat membawa banyak manfaat besar untuk dewa dan manusia dan menyelamatkan makhluk yang menderita, memberi mereka semua kedamaian dan sukacita. Kasih setia-Mu yang besar dan kasih sayang-Mu adalah benar, tidak salah. Karena sebab-sebab dan kondisi ini, Anda pasti akan mencapai Bodhi yang tak tertandingi dengan cepat. Anda juga akan memungkinkan makhluk hidup dari dalam Tiga Alam Kehidupan untuk mencapai Bodhi yang tak tertandingi dalam kehidupan mereka sekarang atau masa depan.

"Putra yang baik, setelah duduk dengan baik selama enam tahun di bawah pohon bodhi didalam Bodhimanda (Tempat duduk 'vajra => yang keras tak dapat dihancurkan' yang ada dibawah Pohon Bodhi sang Buddha) Saya, Saya mencapai Anuttara-samyak-Sambodhi (=>Penerangan Sempurna Tiada Tanding). Saya kemudian mengamati semua dharma dengan mata Buddha Saya dan memutuskan bahwa beberapa [Dharma] harus belum bisa diucapkan. Kenapa? Karena sifat dan keinginan makhluk hidup beraneka-ragam. Karena sifat alami dan keinginan mereka beraneka-ragam, ajaran Saya juga telah beraneka-ragam. Mengucapkan berbagai jenis Dharma dengan kekuatan sarana terampil selama lebih dari empat puluh tahun, Saya tidak mengungkapkan makna pasti. Akibatnya, ada perbedaan dalam bodhi yang dicapai oleh makhluk hidup, dan mereka tidak dapat mencapai Bodhi yang tak tertandingi dengan cepat.

"Putra yang baik, Dharma adalah seperti air, yang dapat mencuci sampah dan kotoran. Apakah air datang dari sumur, danau, aliran arus, sungai, anak sungai, saluran terusan, atau laut besar, itu semua bisa mencuci berbagai jenis kotoran. Demikian juga, air Dharma dapat membersihkan penderitaan yang kotor dari makhluk hidup.'

"Putra yang baik, sifat alami dari air adalah sama, tetapi aliran arus, sungai, sumur, kolam, saluran terusan, dan laut besar adalah berbeda satu sama lain. Demikian juga, sifat alami dari Dharma adalah sama, dan tidak ada perbedaan dalam pencuciannya terhadap jenis-jensi yang berbeda dari penderitaan kotor. Namun, tiga dharma (=> ajaran, latihan, dan pencapaian Buah suci), empat Buah [dari Pendengar Suara = Sravaka] (=>Srotapanna, Sakrdagamin, Anagamin, dan Arhat), dan Dua Jalan (=> [1] (a) 'Jalan dengan "pengeluaran (asrava)" aliran "penderitaan (klesa)" keluar' adalah jalan duniawi yang diambil oleh mereka dengan penderitaan ketika mereka mengikuti dua buah pertama dari Empat Kebenaran Mulia dan berpindah didalam "tiga alam kehidupan"("trailokyadhatu"=> adalah dunia dari kehidupan angan-angan, yang mana para mahluk hidup berpindah, yang terdiri dari Kamaloka (dunia dari nafsu keinginan - ditandai oleh keinginan dasar, dihuni oleh makhluk neraka, preta, binatang, hantu, manusia dan setengah dewa yang lebih rendah tingkatnya.), Rupaloka (dunia dari bentuk - kebanyakan bebas dari keinginan dasar, dihuni oleh dewa yang tinggal menetap di jhana/dhyana, mungkin tujuan kelahiran kembali bagi mereka yang berlatih dengan baik dalam penyerapan jhāna.), Arupaloka (dunia dari tiada bentuk - dunia tiada tubuh jasmani yang diisi dengan empat surga, mungkin  tujuan kelahiran kembali bagi para pelatih dari empat tahap tak berbentuk.)).
[1] (b) 'Jalan tanpa "pengeluaran aliran penderitaan keluar' adalah jalan suci yang diambil oleh mereka yang mengikuti dua buah terakhir dari Empat Kebenaran Mulia agar untuk memusnahkan penderitaan mereka dan melampaui tiga dunia (triloka).
[2] (a) 'Jalan yang susah menuju Kebuddhaan' adalah melalui kelahiran dan kematian yang berulang-ulang didalam "trailokyadhatu"
[2] (b) 'Jalan yang mudah menuju Kebuddhaan' adalah melalui kelahiran ulang didalam tanah suci Buddha (Buddha ksetra) untuk berlatih disana.
adalah tidak sama.

"Putra yang baik, meskipun air dari sumber manapun mencuci kotoran dengan sama, sumur bukanlah kolam, kolam bukanlah aliran arus maupun sungai, dan anak sungai atau saluran terusan bukanlah laut besar. Dharma yang diucapkan oleh Tathagata, sang pahlawan dunia, yang memiliki perintah semua dharma, adalah seperti air. Meskipun apa yang diajarkan di awal, di tengah, dan di akhir semua bisa membersihkan penderitaan makhluk hidup, yang awal bukanlah yang tengah, demikian juga yang tengah bukanlah yang akhir. Ajaran yang diberikan pada awal, tengah, dan pada akhir menggunakan kata-kata yang sama tetapi maknanya berbeda.

"Putra yang baik, setelah Saya bangkit dari bawah pohon bodhi, sang raja pohon, Saya pergi ke Taman Rusa di Varanasi dan memutar roda Dharma dari Empat Kebenaran Mulia kepada lima orang, termasuk Ajnatakaundinya. Saya mengumumkan bahwa dharma selalu kosong, tiada henti berubah, seperti pikiran muncul dan musnah, dari pikiran ke pikiran. Selama masa waktu tengah ajaran Saya, Saya menjelaskan secara terperinci dimana-mana kepada para bhiksu dan para Bodhisattva Dua Belas Hubungan Ketergantungan dari Kemunculan (Paticcasamuppada) dan Sadparamita. Saya juga mengumumkan bahwa dharma selalu kosong, tiada henti berubah, seperti pikiran muncul dan musnah, dari pikiran ke pikiran. Seperti sekarang Saya menjelaskan Sutra Mahayana Makna Yang Tak Terhitung ini, Saya kembali mengucapkan bahwa dharma selalu kosong, tiada henti berubah, seperti pikiran muncul dan musnah, dari pikiran ke pikiran. Oleh karena itu, Putra yang baik, Ajaran yang di awal, di tengah, dan di akhirnya menggunakan kata-kata yang sama, tetapi dengan arti yang berbeda. Karena maknanya berbeda, pemahaman makhluk hidup berbeda. Karena pemahaman mereka berbeda, Dharma, buah, dan Bodhi yang mereka peroleh juga berbeda.

"Putra yang baik, pada awalnya, ketika Saya mengucapkan Empat Kebenaran Mulia kepada mereka yang ingin menjadi Pendengar Suara (Sravaka), delapan koti Dewa yang turun [dari surga mereka] untuk mendengarkan Dharma, mengaktifkan pikiran Bodhi. Pada masa waktu pertengahan [dari Ajaran Saya], ketika Saya mengucapkan di mana-mana Dua Belas Hubungan Ketergantungan dari Kemunculan (Paticcasamuppada) yang mendalam kepada mereka yang ingin menjadi Pratyekabuddha, makhluk yang tak terhitung jumlahnya mengaktifkan pikiran bodhi, sementara yang lain tetap sebagai Pendengar Suara. Saya berikutnya mengucapkan Sutra dalam dua belas kategori (=>[1]"Sutra (percakapan ajaran dalam prosa)", [2]"Geya (Nyanyian yang mengulangi ajaran)", [3]"vyakarana (ramalan)", [4]"Gatha (bait)", [5]"Udana (Ungkapan yang diprakarsai/dimulai diri)", [6]"Nidana (Sebab dari percakapan ajaran)", [7]"Avadana (cerita perumpamaan)", [8]"Itivuttaka (Sutra yang dimulai dengan 'Jadi telah dikatakan' )", [9]"Jataka (Kehidupan masa lampau dari sang Buddha)", [10]"Vaipulya (Ajaran yang luas panjang)", [11]"Adbhuta-dharma (Peristiwa Menakjubkan/Mengagumkan)", [12]"Upadesa (Menunjukkan Pengajaran)" ) termasuk Sutra vaipulya dan Sutra Mahaprajna, seperti lautan indah dari awan, dan Saya menjelaskan secara terperinci bagaimana Bodhisattva akan melatih diri sendiri selama berkalpa-kalpa. Namun, dari ratusan ribu bhiksu dan puluhan ribu koti manusia dan dewa, jumlah yang tak terhitung menjadi para Srotāpanna, Sakrdāgāmin, Anāgāmin, atau Arahat, taat patuh dalam Dharma Hubungan Ketergantungan dari Kemunculan yang dicapai oleh Pratyekabuddha. Putra baik, untuk alasan ini, mengetahui bahwa meskipun kata-kata adalah yang sama, maknanya berbeda. Karena maknanya berbeda, pemahaman makhluk hidup berbeda. Seperti pemahaman mereka yang berbeda, Dharma, buah, dan bodhi yang mereka capai juga berbeda.

"Putra yang baik, setelah mencapai bodhi yang besar, dari waktu Saya mulai mengucapkan Dharma, sampai hari ini yang Saya membabarkan secara terperinci Sutra Mahayana Makna Yang Tak terhitung ini, Saya tidak pernah berhenti menjelaskan "penderitaan", "kekosongan", "ketidakkekalan", dan "tiada diri". Tidak juga Saya berhenti menjelaskan bahwa dharma, tidak "nyata" maupun tidak "tidak-nyata", tidak "besar" maupun "kecil", "tidak pernah dilahirkan", maupun "tidak mati". Salah satu penampilan dari semua Dharma ada "tiada penampilan/penampakan", seperti penampilan dharma dan sifat alami dharma yang tidak datang maupun pergi. Namun, makhluk hidup terus didorong oleh empat penampilan yang mereka rasakan [didalam dharma].

"Putra yang baik, ini berarti bahwa para Buddha, yang tidak pernah mengucapkan kata-kata yang bertentangan, dapat menanggapi dengan satu nada semesta untuk semua suara. Mereka masing-masing dapat menggunakan satu tubuh mewujudkan seperti tiruan tubuh itu yang banyaknya seperti pasir dari yang tak terukur, yang tak terhitung miliaran koti nayuta sungai Gangga. Setiap tubuh tiruan pada gilirannya dapat mewujudkan berbagai jenis bentuk yang banyaknya seperti pasir dari miliaran Asamkhyeya koti nayuta sungai Gangga. Setiap bentuk dapat lebih lanjut mewujudkan berbagai bentuk yang banyaknya seperti pasir dari miliaran Asamkhyeya koti nayuta sungai Gangga. Putra yang baik, keadaan yang mendalam yang tak terbayangkan dari para Buddha tidak dapat diketahui untuk pengendara dari "Dua Kendaraan" (=>[1] "Sravakayana - Kendaraan Pendengar Suara" yang menyebabkan pencapaian keArhatan, [2] "PratyekaBuddhayana - Kendaraan Buddha bagi dirinya sendiri" yang menyebabkan pencapaian kePratyekaBuddhaan) dan melampaui Bodhisattva tingkat Kesepuluh (dasa bhumi). Hal ini hanya dimengerti oleh para Buddha.

"Oleh karena itu, Putra yang baik, Saya mengucapkan yang menakjubkan, yang mendalam, tanpa tandingan Sutra Mahayana Makna Yang Tak Terhitung ini, yang benar pada prinsipnya dan yang tertinggi dalam martabatnya. Itu dilindungi oleh semua Buddha dari masa lalu, sekarang, dan masa depan. Tiada mara atau orang yang bukan pengikut Buddha dapat memasukinnya, juga tidak bisa dirusak oleh pandangan yang salah yang mengabadikan kelahiran dan kematian. Jika Bodhisattva Mahasattva ingin mencapai Bodhi yang tak tertandingi dengan cepat, mereka harus belajar dan mempelajari yang mendalam, tanpa tandingan Sutra Mahayana Makna Yang Tak Terhitung (Ananta Nirdesa Mahayana Suttram) ini. "

Setelah sang Buddha telah menyelesaikan kata-kata ini, Tiga Ribu Seribu Kali Lipat Besar Dunia (Trisuhasra Mahasahasra Lokadhatu) ini bergetar dalam enam cara yang berbeda. Langit dengan sendirinya menurunkan hujan berbagai macam bunga-bunga surgawi, seperti utpala, padma, kumuda, dan Pundarika. Sebagai persembahan kepada sang Buddha dan Bodhisattva banyak sekali berjumlah besar dan Sravaka, yang tak terhitung jenis dupa surgawi, pakaian, kalung, dan perhiasan yang tak ternilai harganya jatuh memutar berpilin turun dari langit. Porsi piring dan mangkuk surga dipenuhi dengan makanan lezat dari seratus rasa surgawi. Ditempatkan di mana-mana spanduk, bendera, kanopi/tirai, dan alat musik surga. Ketika lagu dan musik surgawi diselenggarakan untuk memuji sang Buddha, dunia kembali bergetar dalam enam cara yang berbeda.

Di timur, di tanah suci Buddha yang banyaknya seperti pasir sungai Gangga, langit Mereka juga menurunkan hujan berbegai jenis bunga-bunga surgawi, dupa, pakaian, kalung, dan perhiasan yang tak ternilai harganya. Porsi piring dan mangkuk surga Mereka juga penuh dengan makanan lezat dari seratus rasa surgawi. Juga ditempatkan di mana-mana spanduk, bendera, kanopi/tirai, dan alat musik surga. Lagu dan musik surgawi diselenggarakan juga, memuji para Buddha Mereka dan Bodhisattva banyak sekali berjumlah besar dan Sravaka. Sama juga dunia di selatan, barat, dan utara, serta di empat di antara penjuru arah, dan arah puncak dan titik terendah.

Kemudian pada yang banyak sekali jumlahnya, 32.000 Bodhisattva Mahasattva mencapai 'Pemusatan Pikiran Makna Yang Tak Terhitung (Ananta Nirdesa Samadhi)', dan 24.000 Bodhisattva Mahasattva memperoleh yang tak terhitung banyaknya, Pintu Dharani Yang Tak terukur dan memungkinkan untuk memutar roda Dharma tanpa kemunduran (avinivartanīya) dari para Buddha dari masa lalu, sekarang, dan masa depan. Para bhiksu dan bhiksuni, upasaka, upasika, dewa, naga, Yaksa, gandharva, asura, garuda, kimnara, dan mahoraga, Raja Pemutar Roda Besar dan Raja Pemutar Roda Kecil, seperti raja roda perak dan raja roda besi , serta raja-raja, pangeran, menteri negara, warga negara, laki-laki, perempuan, dan orang tua sesepuh, bersama-sama dengan pengiring mereka dalam ratusan ribu, setelah mendengar sang Buddha mengucapkan sutra ini, semuanya menerima manfaat keuntungan. Beberapa mencapai [salah satu dari Empat Pelatihan Persiapan:] Kehangatan, Puncak, Ketahanan, dan Yang Terutama di Dunia. Beberapa mencapai buah-buah dari sang Pendengar Suara/Sravaka, menjadi Srotāpanna, Sakrdāgāmin, Anāgāmin, atau Arahat. Beberapa menjadi Pratyekabuddha. Beberapa mencapai Ketahanan Bodhisattva dalam Kesadaran dari tiada kelahiran dari Dharma (=>Pencapaian Kesadaran Abadi dari Kebenaran bahwa Dharma tidak memiliki baik lahir maupun mati seperti mereka muncul dan menghilang melalui sebab-sebab dan kondisi-kondisi). Beberapa memperoleh satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, atau bahkan sepuluh Dharani, beberapa memperoleh miliaran koti Dharani, beberapa memperoleh Dharani yang banyaknya seperti pasir yang tak terhitung banyaknya, yang tak terhingga Asamkhyeya sungai Gangga. Semua dimungkinkan untuk memutar Roda Dharma yang tanpa kemunduran. Makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya mengaktifkan pikiran Anuttara-samyak-Sambodhi.


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Mon Jun 17, 2013 3:34 pm, total 5 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Ananta Nirdesa Mahayana Suttram

Post by skipper on Tue Jun 11, 2013 10:37 am

Bab 3
Sepuluh Kebajikan

Bodhisattva Mahasattva besar yang indah cemerlang selanjutnya berkata kepada sang Buddha, "Bhagavan, Anda telah mengucapkan yang menakjubkan, yang mendalam, yang tanpa tandingan Sutra Mahayana Makna Yang Tak Terhitung ini. Sungguh ini adalah sangat mendalam, sangat mendalam, sangat mendalam. Kenapa? Karena di dalam para Bodhisattva Mahasattva yang banyak sekali jumlahnya ini, empat kelompok murid Anda (=>Bhiksu,Bhiksuni,Upasaka,Upasika), dewa, naga, roh/mahluk halus, raja, menteri negara, warga negara, dan makhluk hidup, setelah mendengar yang mendalam, yang tanpa tandingan Sutra Mahayana Makna Yang Tak Terhitung ini, tiada satupun yang gagal memperoleh Pintu Dharani, Tiga Dharma, Empat Buah Suci [Sravaka], maupun Pikiran Bodhi. Ketahuilah bahwa Sutra ini adalah benar pada prinsipnya dan tertinggi dalam martabatnya. Sutra ini dilindungi oleh semua Buddha dari masa lalu, sekarang, dan masa depan. Tidak ada Mara maupun yang bukan pengikut Buddha dapat memasukinya, juga tidak bisa rusak oleh pandangan yang salah yang mengabadikan kelahiran dan kematian. Mengapa tidak? Karena dengan mendengar sekali saja, orang dimungkinkan untuk menjunjung tinggi semua Dharma.

"Jika ada makhluk hidup yang telah mendengar Sutra ini, itu adalah untuk keuntungan besar mereka. Kenapa? Karena jika mereka berlatih dengan sesuai, mereka akan mencapai Anuttara-samyak-Sambodhi dengan cepat. Jika ada makhluk hidup yang tidak dapat mendengar Sutra ini, ketahuilah bahwa itu adalah kerugian besar bagi mereka. Bahkan setelah melewati yang tak terhitung, yang tak terbatas, Asamkhyeya kalpa yang tak terbayangkan, mereka masih tidak akan mencapai Anuttara-samyak-Sambodhi. Mengapa tidak? Karena tidak mengetahui Mahayana (Jalan Besar/Agung) ke Bodhi, mereka mengambil jalur berbahaya yang menyebabkan banyak penderitaan.

"Bhagavan, Sutra ini adalah tak terbayangkan! Saya hanya berdoa bahwa Bhagavan, mengeluarkan cinta kasih dan belas kasih, akan secara luas menjelaskan secara terperinci kepada perkumpulan majelis besar ini, hal yang mendalam dan yang tak terbayangkan tentang Sutra ini. Bhagavan, dari manakah Sutra ini berasal, dimanakah dia pergi, dan dimanakah dia tinggal menetap, sehingga memiliki kebajikan yang demikian tak terhitung dan kekuatan yang tak terbayangkan, yang memungkinkan makhluk hidup untuk mencapai Anuttara-samyak-Sambodhi dengan cepat? "

Kemudian sang Bhagavan berkata kepada Bodhisattva Mahasattva besar yang indah cemerlang, "Sangat bagus! Sangat bagus! Putra yang baik, memang, memang, itu hanya seperti yang Anda katakan. Putra yang baik, Saya katakan bahwa sungguh benar-benar Sutra ini sangat mendalam, sangat mendalam, sangat mendalam. Kenapa? Karena memungkinkan makhluk hidup untuk mencapai Anuttara-samyak-Sambodhi dengan cepat. Mendengarnya sekali memungkinkan mereka untuk menjunjung tinggi semua Dharma. Ini membawa manfaat besar kepada makhluk hidup, dan memungkinkan mereka untuk berjalan di jalan besar yang benar tanpa penderitaan. Putra yang baik, Anda bertanya darimana Sutra ini berasal, di mana dia pergi, dan di mana dia tinggal menetap.Dengarkan dengan baik! Putra yang baik, sutra ini berasal dari tempat tinggal sang Buddha, pergi ke makhluk hidup demi mereka untuk mengaktifkan pikiran Bodhi, dan tinggal menetap di tempat latihan tindakan Bodhisattva. Putra yang baik, Sutra ini datang dalam cara ini, pergi dengan cara ini, dan tinggal menetap dengan cara ini. Memang, Sutra ini memiliki kebajikan yang tak terhitung dan kekuatan yang tak terbayangkan, dan dapat memungkinkan makhluk hidup untuk mencapai Anuttara-samyak-Sambodhi dengan cepat. Putra yang baik, apakah Anda ingin mendengar sepuluh kekuatan yang tak terbayangkan dari kebajikan Sutra ini? "

Bodhisattva Mahasattva besar yang indah cemerlang menjawab, "Saya akan dengan senang mendengarnya."

Sang Buddha berkata: "Bagus, pertama, Sutra ini dapat memungkinkan para Bodhisattva yang belum mengaktifkan pikiran Bodhi untuk mengaktifkan pikiran Bodhi; memungkinkan mereka yang tidak memiliki cinta kasih setia untuk memohon pikiran cinta kasih setia; memungkinkan mereka yang senang menikmati membunuh untuk membangkitkan pikiran kasih sayang; memungkinkan mereka yang cemburu untuk membuka pikiran kegembiraan belas kasihan; memungkinkan mereka yang memiliki cinta dan kemelekatan untuk menumbuhkan pikiran ketenangan; memungkinkan mereka yang kikir dan serakah untuk melancarkan pikiran dermawan yang bermurah hati; memungkinkan mereka yang sombong untuk mengamati pedoman aturan mereka; memungkinkan mereka yang mudah marah untuk bersabar [ketidaksenangan mereka sendiri]; memungkinkan mereka yang lalai dan malas untuk berjuang untuk kemajuan yang kuat; memungkinkan mereka yang kacau untuk mengembangkan pikiran yang berkonsentrasi (samadhi); memungkinkan mereka yang bodoh untuk mengembangkan pikiran bijaksana; memungkinkan mereka yang tidak dapat membebaskan orang lain untuk memiliki kemauan untuk membebaskan orang lain; memungkinkan mereka yang melakukan "sepuluh karma jahat" (=>"dasa akusala karma",(1) pembunuhan, (2) mencuri, (3) kejahatan seksual, (4) ucapan salah, (5) ucapan memecah belah, (6) perkataan kasar cacian, (7) pidato yang menimbulkan pikiran jahat tidak senonoh, ('8') keserakahan, (9) marah, dan (10) pandangan yang salah.) terdorongi untuk melakukan "sepuluh karma baik" (=>"dasa kusala karma",(1) tidak membunuh, (2) tidak mencuri, (3) tidak ada perbuatan asusila seksual, (4) tidak ada ucapan salah, (5) tidak ada ucapan memecah belah, (6) tidak ada cacian, (7) tidak ada pidato yang menimbulkan pikiran jahat tidak senonoh, ('8') tidak ada keserakahan, (9) tidak ada amarah, dan (10) tidak ada pandangan salah.); memungkinkan mereka yang senang di dalam dharma samskrta untuk mewujudkan pikiran "asamskrta" (=>"tidak samskrta"); memungkinkan mereka yang dengan pikiran surut mundur untuk memohon pikiran yang tidak pernah surut mundur; memungkinkan mereka yang mengalirkan keluar kesengsaraan (asrava) mereka untuk mengungkapkan pikiran tanpa penderitaan untuk mengalirkan keluar, dan memungkinkan mereka yang memiliki banyak sekali penderitaan untuk menyelesaikannya untuk memusnahkannya. Putra yang baik, ini disebut kekuatan yang tak terbayangkan pertama dari kebajikan Sutra ini.

"Putra yang baik, ini adalah kekuatan yang tak terbayangkan kedua dari kebajikan Sutra ini. Jika ada makhluk hidup yang telah memperoleh Sutra ini, baik secara keseluruhan atau hanya satu bait atau satu ayat, mereka akan dimungkinkan untuk menembus 100.000 koti arti/makna dalam Dharma yang, selama kalpa yang tak terhitung banyaknya, mereka telah menjunjung tinggi, tetapi tidak mampu untuk menjelaskan. Kenapa? Karena Dharma di dalam Sutra ini memiliki makna yang tak terhitung. Putra yang baik, dengan persamaan, sebuah benih dapat menghasilkan ratusan, ribuan, dan puluhan ribu benih. Setiap benih pada gilirannya dapat menghasilkan ratusan, ribuan, dan puluhan ribu benih. Benih-benih yang berturut-turut dihasilkan dengan cara ini adalah tak terhitung banyaknya. Demikian pula Sutra ini membentang luas. Satu Dharma menimbulkan ratusan dan ribuan makna. Setiap makna pada gilirannya membangkitkan ratusan, ribuan, dan puluhan ribu makna. Membentang luas dengan cara ini, yang tak terhitung, makna yang tak terbatas terungkap. Oleh karena itu, Sutra ini disebut Makna Yang Tak Terhitung. Putra yang baik, ini disebut kekuatan yang tak terbayangkan kedua dari kebajikan Sutra ini.

"Putra yang baik, ini adalah kekuatan yang tak terbayangkan ketiga dari kebajikan Sutra ini. Jika ada makhluk hidup yang telah mendengar Sutra ini, baik secara keseluruhan atau hanya satu bait atau satu ayat, mereka akan dimungkinkan untuk menembus satu miliar koti makna. Meskipun mereka masih memiliki penderitaan, mereka akan melanjutkan seolah tanpa penderitaan. Mereka akan pergi melalui kelahiran dan kematian tanpa pikiran takut. Mereka akan memiliki belas kasih terhadap makhluk hidup dan keberanian untuk menghadapi semua Dharma. Seperti orang kuat yang bisa membawa beban berat, demikian juga bisa para penjunjung Sutra ini memikul usaha sukar yang berat untuk bodhi yang tak tertandingi dan membawa makhluk hidup menjauh dari perjalanan kelahiran dan kematian. Meskipun mereka belum menyelamatkan diri mereka sendiri, mereka akan dapat menyelamatkan orang lain. Sebagai persamaan, seorang kapten kapal yang sakit parah tinggal menetap di pantai ini karena cacat tubuh, tetapi dia memiliki sebuah kapal kokoh yang dilengkapi untuk mengangkut orang-orang, sehingga dia memberikan kepada orang lain untuk berlayar jauh. Demikian juga para penjunjung Sutra ini. Berpindah melalui lima jalan kehidupan, dengan tubuh mereka terbelenggu oleh 108 penyakit parah, mereka akan terus melanjutkan ketidaktahuan mereka, menjadi tua, dan mati di pantai ini [dari samsāra]. Namun, mereka memiliki Sutra Mahayana Makna Yang Tak Terhitung yang kuat ini dan dapat menyelamatkan orang lain. Makhluk hidup yang berlatih sesuai dengan ajaran akan diselamatkan dari [perputaran] kelahiran dan kematian mereka. Putra yang baik, ini disebut kekuatan yang tak terbayangkan ketiga dari kebajikan Sutra ini.

"Putra yang baik, ini adalah kekuatan yang tak terbayangkan keempat dari kebajikan Sutra ini. Jika ada makhluk hidup yang telah mendengar Sutra ini, baik secara keseluruhan atau hanya satu bait atau satu ayat, mereka akan memperoleh keberanian. Meskipun mereka belum menyelamatkan diri mereka sendiri, mereka akan dimungkinkan untuk menyelamatkan orang lain dan memiliki Bodhisattva sebagai keluarga keagamaan suci mereka. Para Buddha-Tathagata akan sering membabarkan secara terperinci Dharma kepada mereka. Setelah mendengarnya, mereka akan dapat menerima dan menjunjung tinggi itu dengan sesuai, tidak melawannya. Mereka pada gilirannya akan mengucapkannya secara luas kepada orang lain jika diperlukan. Putra yang baik, mereka seperti pangeran termuda yang lahir untuk raja dan ratu, apakah berusia satu atau dua atau sampai tujuh hari, apakah berusia satu atau dua atau sampai tujuh bulan, apakah berusia satu atau dua atau sampai tujuh tahun. Meskipun dia tidak mampu untuk mengelola urusan negara, dia sudah dihormati oleh rakyatnya. Dia berada didalam kumpulan pangeran yang lebih tua, dan raja dan ratu, dengan cinta menyayanginya, secara teratur berbicara dengannya. Kenapa? Karena dia sangat muda. Putra yang baik, beruntunglah juga para penjunjung Sutra ini. Buddha adalah raja dan Sutra ini adalah ratu. Persatuan Mereka melahirkan putra Bodhisattva. Jika Bodhisattva ini telah mendengar Sutra ini, apakah hanya satu ayat atau satu bait, baik sekali atau dua kali, apakah sepuluh, seratus, seribu, sepuluh ribu kali, atau bahkan seperti yang tak terhitung pasir dari puluhan ribu koti Sungai Gangga, meskipun mereka belum mampu mencapai kebenaran tertinggi, juga tidak mereka dapat memutar roda Dharma besar dengan nada Brahma yang bergemuruh untuk mengguncang Tiga Ribu Seribu Kali Lipat Besar Dunia (Trisuhasra Mahasahasra Lokadhatu), mereka sudah dihormati oleh Empat Kelompok murid [Saya] dan Delapan Kelompok Pelindung Dharma (Asta-gatyah = deva,naga,gandharva,asura,garuda,kimnara dan mahoraga), dan memiliki Bodhisattva yang besar agung sebagai keluarga keagamaan suci mereka. Menembus secara mendalam kedalam Dharma rahasia dari para Buddha, mereka bisa menjelaskannya secara terperinci tanpa pertentangan atau kesalahan. Karena mereka adalah murid-murid yang masih pemula, mereka selalu dilindungi dan diingatkan oleh para Buddha dan memeluk kasih setia mereka. Putra yang baik, ini disebut kekuatan yang tak terbayangkan keempat dari  kebajikan Sutra ini.

"Putra yang baik, ini adalah kekuatan yang tak terbayangkan kelima dari kebajikan Sutra ini. Jika putra dan putri yang baik (=>kula putrah va kula duhita), selama masa hidup sang Buddha atau setelah Parinirvāna-Nya, menerima dan menjunjung tinggi yang mendalam ini tak tertandingi Sutra Mahayana Makna Yang Tak Terhitung ini dan melafalkan dan menyalinnya, mereka akan mampu menunjukkan Jalan Bodhi Besar, meskipun mereka masih terbelenggu oleh penderitaan dan tidak mampu menjauhkan diri dari masalah makhluk biasa. Mereka akan dapat memperpanjang satu hari sampai seratus kalpa dan memperpendek seratus kalpa menjadi satu hari, memenangkan penghargaan dan kepercayaan dari makhluk hidup. Putra yang baik, putra dan putri yang baik ini adalah seperti anak naga yang, hanya berusia tujuh hari, sudah bisa membangkitkan awan dan mencurahkan hujan. Putra yang baik, ini disebut kekuatan yang tak terbayangkan kelima dari kebajikan Sutra ini.

"Putra yang baik, ini adalah kekuatan yang tak terbayangkan keenam dari kebajikan Sutra ini. Jika putra dan putri yang baik, selama masa hidup sang Buddha atau setelah Parinirvāna-Nya, menerima dan menjunjung tinggi Sutra ini dan membaca dan melafalkan nya, meskipun masih dengan penderitaan, mereka akan mengucapkan Dharma itu kepada makhluk hidup, memungkinkan mereka untuk tinggal menjauh dari penderitaan dan samsāra dan untuk mengakhiri semua penderitaan. Setelah mendengarnya dari mereka, makhluk hidup yang berlatih dengan sesuai akan memperoleh Dharma, Buah-Buah [suci], dan Bodhi, sama seperti diajarkan oleh Buddha-Tathagata, tanpa perbedaan apapun. Sebagai persamaan, meskipun sang pangeran masih sangat muda, jika raja bepergian atau sakit, ia menunjuk sang pangeran untuk mengelola urusan negara. Sang pangeran, mengikuti perintah raja besar itu, secara benar memerintahkan para rombongan pengiring nya dan seratus menteri negara untuk memberitakan Dharma sejati. Kerajaan-nya dan orang-orang nya akan hidup dalam damai, sama seperti diperintah oleh sang raja besar, tanpa perbedaan apapun. Para putra dan putri yang baik yang menjunjung tinggi Sutra ini dapat melakukan hal yang sama. Apakah selama masa hidup sang Buddha atau setelah Parinirvāna-Nya, meskipun mereka belum naik ke "Bodhisattva Tingkat Pertama" yang disebut "Kegembiraan", mereka akan mampu menjelaskan secara terperinci ajaran itu dengan mengandalkan kata-kata yang diucapkan sang Buddha. Setelah mendengar [ajaran] dari mereka, makhluk hidup yang berlatih dengan  pikiran yang tunggal terarah akan mampu memusnahkan kesengsaraan mereka dan memperoleh Dharma, Buah-Buah [suci], dan bahkan Bodhi. Putra yang baik, ini disebut kekuatan yang tak terbayangkan keenam dari kebajikan Sutra ini.

"Putra yang baik, ini adalah kekuatan yang tak terbayangkan ketujuh dari kebajikan Sutra ini. Jika putra dan putri yang baik, selama masa hidup Buddha atau setelah Parinirvāna-Nya, telah mendengar Sutra ini, dengan sukacita dan keyakinan mereka menghargai kelangkaan berharga tersebut. Selain itu, mereka menerima dan mempertahankannya, membaca dan menceritakan, dan menyalin dan menjelaskannya, mereka berlatih sesuai dengan Dharma itu dan mengaktifkan pikiran Bodhi, dan mereka mengembangkan akar kebaikan mereka dan berdoa meminta pikiran kasih sayang yang besar, memutuskan untuk menyelamatkan semua makhluk yang menderita. Meskipun mereka belum berlatih enam paramita (sadparamita), enam paramita dengan sendirinya tanpa diminta-minta akan hadir di depan mereka. Kemudian mereka akan mencapai didalam hidup mereka saat ini "Ketahanan didalam Pencapaian Kesadaran dari Dharma Yang Tiada Lahir". Mereka akan memusnahkan sekaligus penderitaan dari kelahiran dan kematian dan naik ke "Tingkat (Bhumi) Ketujuh (yang disebut Duramgama)", masing-masing menduduki posisi sebagai seorang Bodhisattva besar. Dengan persamaan, seorang pria yang kuat berhasil membunuh musuh untuk sang raja. Dengan musuh dihilangkan, sang raja dalam kegembiraannya melimpahkan setengah dari kerajaannya kepadanya. Pria dan wanita yang menjunjung tinggi Sutra ini dapat melakukan hal yang sama. Pengikut latihan keagamaan ini benar-benar berani dan kuat. Enam paramita, harta Dharma, akan datang kepada mereka tanpa mereka mencari, musuh "kelahiran dan kematian" akan binasa dengan sendirinya, dan mereka akan mencapai "Ketahanan didalam Pencapaian Kesadaran dari Dharma Yang Tiada Lahir". Mereka akan diberikan hadiah harta, setengah dari tanah suci Buddha, untuk hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan. Putra yang baik, ini disebut kekuatan ketujuh dari kebajikan Sutra ini.

"Putra yang baik, ini adalah kekuatan kedelapan dari kebajikan Sutra ini. Misalkan putra dan putri yang baik, selama masa hidup sang Buddha atau setelah Parinirvāna-Nya, setelah memperoleh Sutra ini, menghormati dan mempercayainya, menganggapnya sebagai tubuh Buddha, tanpa perbedaan apapun. Senang pada sutra ini, mereka menerima dan mempertahankannya, membaca dan menceritakan nya, menyalin nya, dan berlatih dengan penuh hormat sesuai dengan Dharma itu. Mereka membentengi ketaatan mereka pada ajaran dan daya tahan mereka saat mereka berlatih sedekah. Memancarkan kasih setia yang mendalam dan kasih sayang, mereka mengucapkan secara luas kepada orang lain yang tak tertandingi Sutra Mahayana Makna Yang Tak Terhitung ini. Jika pendengar awalnya tidak percaya bahwa pelanggaran dan pahala ada, mereka akan menunjukkan kepada pendengar Sutra ini dan menyusun berbagai yang terampil, cara-cara dorongan yang meyakinkan untuk membantu mereka percaya. Dengan kebajikan dari kekuatan yang luar biasa dari Sutra ini, pikiran [dari orang yang tidak percaya] akan berbalik. Setelah keyakinan mereka dinyalakan, mereka akan berani membuat kemajuan yang penuh kekuatan semangat. Karena kekuatan dan kebajikan dari Sutra ini, mereka akan memperoleh Jalan dan mencapai buah-buah [suci]. Selain itu, para putra yang baik dan para putri yang baik, karena pahala kebajikan mereka mengubah orang lain, akan didalam kehidupan mereka saat ini mencapai "Ketahanan didalam Pencapaian Kesadaran dari Dharma Yang Tiada Lahir" dan naik ke tingkat (bhumi) berikutnya yang lebih tinggi [Tingkat Kedelapan], dan mereka akan memiliki Bodhisattva sebagai keluarga keagamaan suci mereka. Mereka akan memungkinkan makhluk hidup dengan cepat untuk datang ke pencapaian [keagamaan suci], dan mereka akan memurnikan Tanah Suci Buddha (Budhaksetra). Tak lama, mereka akan mencapai Bodhi yang tak tertandingi. Putra yang baik, ini disebut kekuatan yang tak terbayangkan kedelapan dari kebajikan Sutra ini.

"Putra yang baik, ini adalah kekuatan yang tak terbayangkan kesembilan dari kebajikan Sutra ini. Jika putra dan putri yang baik, selama masa hidup sang Buddha atau setelah Parinirvāna-Nya, telah memperoleh Sutra ini, dengan sukacita dan kegembiraan mereka menghargainya sebagai sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya. Jika mereka menerima dan mempertahankannya, membaca dan menceritakan nya, menyalinnya, memberikan persembahan kepadanya, dan menjelaskan maknanya kepada orang lain, karma masa lalu mereka, kesalahan pelanggaran yang tersisa, dan rintangan berat semua akan dihapuskan sekaligus. Mereka akan memperoleh kemurnian dan kefasihan besar, mencapai Paramita satu demi satu, dan mencapai Samadhi. Melalui Suramgama Samadhi, mereka akan memasuki Pintu Besar dari Total Penyimpanan Daya Ingat. Setelah memperoleh kekuatan kemajuan bersemangat, mereka akan dengan cepat naik ke Tingkat berikutnya yang lebih tinggi [Tingkat Kesembilan]. Mereka akan mahir dalam mewujudkan penggandaan tubuh mereka di mana-mana didalam dunia-dunia di sepuluh penjuru arah. Mereka akan dapat menyelamatkan makhluk hidup dalam penderitaan yang sangat keras dalam "dua puluh lima bentuk kehidupan" (=> 14 bentuk kehidupan didalam alam Kama loka, 7 bentuk kehidupan didalam alam Rupa Loka, dan 4 bentuk kehidupan didalam alam Arupa loka), memungkinkan mereka untuk mencapai pembebasan. Memang, Sutra ini memiliki kekuatan tersebut. Putra yang baik, ini disebut kekuatan yang tak terbayangkan kesembilan dari kebajikan Sutra ini.

"Putra yang baik, ini adalah kekuatan yang tak terbayangkan kesepuluh dari kebajikan Sutra ini. Misalkan putra dan putri yang baik, selama masa hidup sang Buddha atau setelah Parinirvāna-Nya, setelah menerima Sutra ini, mengungkapkan sukacita yang besar dalam penghargaan kelangkaan berharga tersebut. Mereka tidak hanya menerima dan mempertahankannya, membaca dan menceritakan nya, menyalin, memberikan persembahan untuk nya, dan berlatih dengan sesuai, tetapi juga meyakinkan para orang awam dan orang-orang Vihara untuk menerima dan mempertahankannya, membaca dan menceritakan nya, menyalin nya dan menjelaskannya, membuat persembahan untuk nya, dan berlatih sesuai dengan Dharma. Orang-orang tersebut akan memperoleh Jalan dan mencapai Buah-Buah[suci] karena pelatihan mereka dan kekuatan Sutra ini. Pencapaian mereka diberikan penghargaan kepada pikiran cinta kasih dan kekuatan dorongan kepercayaan dari para putra yang baik dan para putri yang baik. Untuk alasan ini, para putra yang baik dan para putri yang baik akan di dalam kehidupan mereka saat ini memperoleh Pintu Dharani yang tak terhitung banyaknya. Meskipun masih berdiri di tingkat makhluk biasa, mereka secara dengan sendirinya tanpa diminta-minta akan mampu membuat yang tak terhitung Asamkhyeya sumpah besar untuk menyelamatkan dengan kasih sayang yang besar semua makhluk yang dalam penderitaan. Mereka akan mengumpulkan peningkatan akar kebajikan mereka karena mereka menguntungkan semua mahluk. Seperti saluran aliran air yang mengairi tanah yang kering, mereka akan membabarkan secara terperinci Dharma seakan memberikan obat Dharma kepada makhluk hidup, dan mereka akan memberikan kedamaian dan sukacita bagi semua. Mereka secara bertahap akan naik ke Tingkat Mega Dharma [Tingkat Kesepuluh /Dasa Bhumi]. Sesudah itu, amal kebaikan mereka akan bersifat semesta menyeluruh dan kasih setia mereka mencakup semuanya, memindahkan makhluk yang menderita ke jalan yang benar. Oleh karena itu, tak lama kemudian, para putra yang baik dan para putri yang baik ini akan mencapai Anuttara-samyak-Sambodhi. Putra yang baik, ini disebut kekuatan yang tak terbayangkan kesepuluh dari kebajikan Sutra ini.

"Putra yang baik, yang tak tertandingi Sutra Mahayana dari Makna Yang Tak Terhitung ini memiliki kekuatan batin yang besar mengagumkan. Yang Tertinggi dalam martabat kemuliaan nya, dapat memungkinkan makhluk biasa untuk mencapai buah suci, selamanya terbebas dari putaran kelahiran dan kematian mereka. Oleh karena itu, Sutra ini disebut Makna/Arti Yang Tak Terhitung. Sutra ini dapat menyebabkan makhluk hidup yang ditingkat makhluk biasa untuk menumbuhkan benih yang tak terhitung tunas Bodhi dari Bodhisattva. Sutra ini dapat menyebabkan pohon kebajikan mereka untuk tumbuh subur dan berkembang. Oleh karena Sutra ini disebut "Kekuatan Kebajikan Yang Tak Terbayangkan. "

Kemudian Bodhisattva Mahasattva besar yang indah cemerlang dan 80.000 Bodhisattva Mahasattva berkata kepada sang Buddha dengan satu suara: "Bhagavan, yang menakjubkan, yang mendalam, yang tanpa tandingan Sutra Mahayana dari Makna Yang Tak Terhitung ini diucapkan oleh sang Buddha adalah benar dalam prinsip nya dan tertinggi dalam martabat kemuliaan nya. Sutra ini dilindungi oleh Buddha dari masa lalu, sekarang, dan masa depan. Tidak ada Mara maupun yang bukan pengikut Buddha dapat memasuki-nya, juga tidak bisa dirusak oleh pandangan salah yang mengabadikan kelahiran dan kematian. Oleh karena itu sutra ini memiliki sepuluh kekuatan yang tak terbayangkan dari kebajikan, untuk memberikan manfaat besar yang tak terhitung kepada semua makhluk. Sutra ini dapat mengaktifkan setiap Bodhisattva Mahasattva untuk mencapai Ananta Nirdesa Samadhi. Beberapa akan memperoleh 100.000 Pintu Dharani, beberapa akan mencapai "Ketahanan pada Tingkat Bodhisattva", beberapa akan menjadi Pratyekabuddha atau mencapai Empat Buah-Buah [Sravaka]. Bhagavan, dari cinta kasih dan simpati, Anda telah mengucapkan secara langsung kepada kami ajaran tersebut, memberi kami manfaat Dharma yang besar. Ini sangat luar biasa, sehingga belum pernah terjadi sebelumnya. Kebaikan dan rahmat dari Bhagavan benar-benar sulit untuk dibalas. "

Itu telah dikatakan, Tiga Ribu Seribu Kali Lipat Besar Dunia (Trisuhasra Mahasahasra Lokadhatu) ini bergetar dalam enam cara yang berbeda. Langit dengan sendirinya menurunkan hujan berbagai macam bunga-bunga surgawi, seperti utpala, padma, kumuda, dan Pundarika. Sebagai persembahan kepada sang Buddha dan Bodhisattva berjumlah besar banyaknya dan para Sravaka, berbagai jenis dupa surgawi, pakaian, kalung, dan perhiasan yang tak ternilai harganya jatuh berpilin turun dari langit. Porsi piring dan mangkuk langit dipenuhi dengan makanan lezat dari seratus rasa surgawi, yang memuaskan semua dengan warna dan aroma nya. Ditempatkan di mana-mana  spanduk surga, bendera, dan kanopi, serta alat musik yang indah. Ketika lagu dan musik surga diselenggarakan untuk memuji sang Buddha, dunia kembali bergetar lagi dalam enam cara yang berbeda.

Di timur, di Tanah-Tanah Suci Buddha yang banyaknya seperti pasir di sungai Gangga, langit Mereka juga dihujani bunga-bunga surgawi, dupa, pakaian, kalung, dan perhiasan yang tak ternilai harganya. Porsi piring dan mangkuk surga Mereka juga dipenuhi dengan makanan lezat dari seratus rasa surgawi, yang memuaskan semua dengan warna dan aroma mereka. Ditempatkan di mana-mana spanduk surga, bendera, dan kanopi.Alat-alat musik mereka yang indah juga memainkan musik surgawi, memuji sang Buddha dan banyaknya jumlah besar dari para Bodhisattva dan Sravaka Mereka. Sama juga dunia di selatan, barat, utara, serta di empat di antara penjuru arah, dan arah puncak dan titik terendah.

Kemudian sang Buddha berkata kepada Bodhisattva Mahasattva besar yang indah cemerlang dan 80.000 Bodhisattva Mahasattva: "Kalian semua harus berdoa memohon pikiran hormat untuk Sutra ini dan berlatih sesuai dengan Dharma itu. Anda harus secara luas mengedarkan Sutra ini dan mengubah semua orang. Siang dan malam Anda harus rajin melindungi Sutra ini dan memungkinkan makhluk hidup untuk menerima manfaat-manfaat Dharma. Anda semua benar-benar memiliki kasih setia yang besar dan kasih sayang yang besar! Gunakan "kekuatan yang sangat sukar dipahami" milik Anda dan "kekuatan sumpah Anda" untuk melindungi Sutra ini. Jangan membiarkan nya menjadi persoalan untuk di ragukan atau di halangi. Edarkan secara luas di Jambudvipa jauh ke masa depan dan mungkinkan semua makhluk untuk melihat dan mendengarnya, membaca dan menceritakan nya, menyalin nya, dan membuat persembahan untuk nya. Karena usaha Anda, Anda semua akan mampu mencapai Anuttara-samyak-Sambodhi dengan cepat. "

Bodhisattva Mahasattva besar yang indah cemerlang dan 80.000 Bodhisattva-Mahasattva bangkit dari kursi mereka, maju ke sang Buddha, dan menundukkan kepala mereka turun ke kaki-Nya. Mereka memutari (pradaksina) sang Buddha 100.000 kali. Kemudian mereka berlutut dengan lutut kanan mereka dan berkata kepada sang Buddha dengan satu suara, "Bhagavan, kami sangat beruntung bahwa Bhagavan telah memberikan simpati kasih-Nya kepada kami dan telah mengucapkan untuk kami yang menakjubkan, yang mendalam, yang ak tertandingi Sutra Mahayana dari Makna Yang Tak Terhitung ini. Kami dengan hormat menerima perintah sang Buddha. Setelah Parinirvana dari sang Tathagata, kami akan mengedarkan secara luas Sutra ini, memungkinkan semua untuk menerima dan mempertahankannya, membaca dan menceritakan nya, menyalin, dan membuat persembahan untuk nya. Kami berdoa hanya bahwa Bhagavan tidak akan khawatir. Kami akan menggunakan kekuatan dari sumpah kami agar semua makhluk hidup mendapatkan kekuatan batin yang mengagumkan dari Sutra ini. "

Sang Buddha memuji, "Bagus sekali! Sangat bagus! Putra yang baik, sekarang Anda adalah benar-benar anak-anak dari sang Buddha dan mampu menyelamatkan, dengan kasih setia yang besar dan kasih sayang yang besar, mereka yang berada dalam penderitaan dan kesengsaraan. Ketika Anda secara luas memberikan manfaat Dharma bagi semua, Anda adalah lapangan keberuntungan yang baik bagi semua makhluk, Pemandu yang tangkas untuk semua makhluk hidup, tempat perlindungan besar untuk semua makhluk hidup, dan dermawan mulia untuk semua makhluk hidup. "

Semua didalam perkumpulan majelis besar sangat bersukacita. Mereka memberi hormat kepada Sang Buddha, menerima dan menjunjung tinggi ajaran itu, dan berangkat.


Terakhir diubah oleh skipper tanggal Sun Jun 23, 2013 1:29 am, total 7 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Ananta Nirdesa Mahayana Suttram

Post by skipper on Sun Jun 16, 2013 4:03 pm

Dengan selesainya Ananta Nirdesa Mahayana Suttram, maka berlanjut ke pada
Suramgama Suttram beserta Usnisa Sitatapatra didalamnya dan kemudian
dilanjutkan lagi kepada Raja Sutra Suvarnaprabha dan kemudian
ke Raja Sutra Mahavairocana dan Raja Sutra Saddharma Lankavatara.

Berikut divisi Junjungan kita Buddha Sasana yang sedang di susun yang saat ini
yayasan Anuttara Samyaksambodhi sedang fokus pada Keranjang Sutra (Sutra Pitaka).
Selesainya Ananta Nirdesa Sutra ini adalah dari dan oleh sang Tathagata.

Sutra dari Tiga kendaraan yang terdiri dari Sravakayana, PratyekaBuddhayana,
dan Mahayana ini akan tetap menjadi fokus dalam Bodhisattvacarya untuk
melindungi Keranjang Sutra.

Maha Tipitaka
Sutra Piṭaka
[1] advayatantraṭika
[2] avadana
[3] dharaṇi
[4] jataka
[5] mahayana sutra
[6] nirdesa
[7] prajna paramita
[8] pramaṇa
[9] tantra
[10] yoga cara
[11] yoginī tantraṭika
[12] yogot tara tantraṭika

Vinaya Pitaka
[1] Bhiksu karma vakya
[2] Bhiksuni vinaya
[3] Bodhisattva pratimoksa sutram
[4] Maha samghikanam pratimoksa sutram
[5] Mula sarvastivada vinayavastu
[6] Pratimoksa sutram
[7] Vinaya sutram


Sastra Pitaka
[1] Yogacara Bhumih
[2] Yoga vatarah
[3] Yukti sastikarika


Akhir kata, semoga kita semua beruntung dapat mampu melindungi dan memperbanyak
sutra sang Tathagata, memiliki kebajikan yg cukup untuk bisa yakin dan percaya sepenuh
hati.

Namo Stu Buddhaya

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Ananta Nirdesa Mahayana Suttram

Post by Sponsored content Today at 7:17 am


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik