Bhaisajyaraja Purvayoga Parivartah Dharmaparyaya Suttram

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Bhaisajyaraja Purvayoga Parivartah Dharmaparyaya Suttram

Post by skipper on Sat Nov 29, 2008 9:23 pm

Sutta Bunga Teratai Dari Keghaiban Hukum Kesunyataan Yang Menakjubkan

BAB XXII

Bhaisajyarajapurvayogaparivartah


Pada saat itu Sang Bodhisattva Nakshatrarajasamkusumitabhijna menyapa Sang Bhagavan Buddha seraya berkata: "Yang Maha Agung ! Mengapa Sang Bodhisattva Bhaisajyaraja berkelana didalam dunia Saha ini? Yang Maha Agung ! Alangkah banyaknya penderitaan yang harus ditanggung oleh
Sang Bhaisajyaraja ! Akan menjadi sempurnalah kiranya, duhai Yang Maha Agung ! Seandainya Engkau menjelaskannya meskipun hanya sekelumit saja sehingga para dewa, naga, yaksa, gandharva, asura, garuda, kinnara, mahoraga, manusia, dan yang bukan manusia serta Para Bodhisattva yang telah datang dari negeri-negeri lain, akan bergembira semuanya setelah mendengarnya."

Kemudian Sang Buddha menyapa Sang Bodhisattva Nakshatrarajasamkusumitabhijna : " Dahulu kala, pada ribuan kalpa yang tak terhitung, yang jumlahnya sebanyak pasir-pasir dari Sungai Gangga yang telah berlalu, adalah Seorang Buddha yang bernama Candrasuryavimalaprabhasasri, Yang Telah Datang, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Agung, Yang Telah Mencapai Kebebasan Yang Sempurna, Sempurna Pikiran dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Maha Tahu Dunia, Pemimpin Tiada Tandingan, Guru Dewa dan manusia, Yang Telah Bangun, Yang Maha Agung.
Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri memiliki 80 koti Bodhisattva Mahasattva Agung dan sekelompok besar Para Sravaka yang jumlahnya seperti pasir-pasir dari 72 sungai gangga. Masa hidup Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri adalah 42 ribu kalpa dan masa hidup dari Para Bodhisattva-Nya juga selama itu. Didalam kawasanNya tidak terdapat seorang wanitapun, neraka, iblis-iblis lapar, hewan, asura, dan kesengsaraan. TanahNya datar seperti telapak tangan manusia dan terbuat dari lapis lazuli, terhiasi dengan pepohonan permata, terselimuti oleh tirai-tirai manikam, digantungi dengan bendera-bendera bebungaan permata, pot-pot kembang dan anglo-anglo bertatah permata terlihat di seluruh pelosok negeri itu. Terdapat juga teras-teras yang terbuat dari 7 benda berharga dengan pepohonan disetiap terasnya dimana pohon itu berjarak satu jangkauan anak panah penuh dari teras tadi. Dibawah pepohonan permata ini duduklah para Bodhisattva dan Sravaka. Diatas masing-masing mimbar ini terdapat seratus koti para dewa yang sedang mengalunkan dendang dan lagu pujian kasurgan untuk memuliakan Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri. Kemudian Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri mengkhotbahkan Hukum Kesunyataan Bunga Teratai kepada Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana dan seluruh para Bodhisattva serta kelompok para Sravaka.

Sang Bodhisattva Kecantikan ini telah menikmati khotbah tentang penderitaan dan didalam Hukum dari Sang Buddha
Candrasuryavimalaprabhasasri, Ia telah membuat kemajuan dengan penuh semangat dan dengan sepenuh hatinya Ia mengembara kesana kemari untuk mencari Sang Buddha selama 12 ribu tahun penuh, dimana sesudah itu Ia mencapai Tingkat Samadhi Sarvarupasamdarsanah. Setelah mencapai Perenungan ini, hati-Nya menjadi sangat bergembira dan membayangkan demikian : "Hasil Perenungan Ku sampai Tingkat Samadhi Sarvarupasamdarsanah ini semata-mata hanyalah berkat kekuatan yang timbul dari mendengarkan Sutta Bunga Teratai dari Kegaiban Hukum Yang Menakjubkan. Oleh karenaNya, biarlah Aku sekarang memuliakan Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri; dan Sutta Bunga Teratai dari Kegaiban Hukum Yang Menakjubkan ini."Tidak lama setelah Ia memasuki Perenungan itu, kemudian dari langit hujan bertaburan Bunga-Bunga Mandarawa, Bunga-Bunga Maha Mandarawa dan 5 macam serbuk kayu cendana yang keras dan hitam yang semuanya ini memenuhi angkasa dan turun seperti segumpal awan. Juga ditaburkan dedupaan dari kayu cendana Urugasara yang 6 karsha dari dedupaan ini berharga satu dunia saha. Semuanya ini Ia lakukan demi untuk memuliakan Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri.

"Sesudah membuat persembahan ini, kemudian Ia bangkit dari Perenungan itu dan berpikir dalam hati-Nya:"Meskipun dengan kekuatan ghaib-Ku
Aku telah memuliakan Sang Buddha, tetapi hal itu tidaklah sebaik membuat persembahan dengan tubuh-Ku sendiri."Kemudian Ia dahar beberapa macam dedupaan, yaitu dedupaan dari kayu cendana, kunduruka, turushka, prikka, kayu gaharu dan damar, serta meminum pula sari minyak Bunga Campaka dan Bunga-Bunga lainnya. Sesudah 1200 tahun penuh, kemudian Ia melumasi Tubuh-Nya dengan salep-salep harum, dan dihadapan Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri Ia mengenakan pakaian kasurgan yang indah serta mandi didalam minyak wangi dan dengan seluruh daya ghaib-Nya, Ia membakar sekujur Tubuh-Nya sendiri. Kilau sinar-Nya menerangi seluruh alam semesta yang jumlahnya seperti pasir-pasir dari 80 koti sungai-sungai Gangga, dan Para Buddha-Nya secara serempak memujiNya seraya berkata:"Bagus,bagus! Putera yang baik! Inilah semangat yang nyata yang disebut Penghormatan Hukum Yang Benar Bagi Sang Tathagata. Segala persembahan yang berupa bebungaan, wewangian, kalung-kalung, dedupaan, serbuk-cendana, salep-salep obat, bendera dan tirai-tirai sutera surga serta kayu cendana Uragasara, semuanya tidak dapat mengimbangi-Nya. Begitu pula persembahan-persembahan yang berupa derma, negeri, kota, istri, dan anak, semua persembahan-persembahan ini tidak dapat menyamai-Nya. Wahai Putera-Ku yang baik! Inilah yang disebut persembahan yang paling agung, persembahan yang Maha luhur dan mulia, karena inilah persembahan Hukum bagi Para Tathagata." Sesudah mengucapkan Pernyataan ini, Semuanya diam kembali.

"Tubuh-Nya menyala terus selama 1200 tahun dan sesudah itu mokshalah Tubuh-Nya."

"Setelah Sang Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana selesai membuat persembahan Hukum yang semacam itu, maka disaat Kemokshaan-Nya, Ia terlahir didalam Kawasan Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri; yang secara tiba-tiba Ia terjelma dalam keadaan duduk bersila di kediaman Sang Raja Vimaladatta yang menjadi Ayah-Nya dimana Ia segera berkata dalam Syair:

"Ketahuilah Wahai Raja Agung! Pada saat berada di tempat kediaman lain, dengan segera Aku mencapai tingkat Samadhi Sarvarupasamdarsanah , dan dengan tulus ikhlas melaksanakan Dharma dari semangat yang agung, dengan cara mengorbankan Tubuh yang Aku cintai."

"Setelah mengucapkan Syair ini, kemudian Ia berkata kepada Ayah-Nya:"Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri masih tetap ada seperti dahulu kala. Sesudah membuat penghormatan Utama kepada Sang Buddha, Aku mencapai Dharani dari menafsirkan ucapan-ucapan semua mahluk dan lebih-lebih lagi Aku telah mendengar Sutta Bunga Hukum Kesunyataan ini sebanyak 800 ribu koti nayuta, kankara, bimbara, dan Aksobhya Syair. Wahai Raja Agung! Aku harus kembali sekarang dan memuliakan Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri."
Sesudah mengucapkan ini, kemudian Ia mengambil tempat duduk-Nya diatas menara dari tujuh benda berharga dan membumbung ke angkasa setinggi tujuh pohon tala. Ketika Ia sampai pada Buddha itu, kemudian Ia bersujud di kaki-Nya serta mengatupkan sepuluh jari-Nya dan memuja Buddha itu dalam Syair:

"Raut Wajah yang sangat mengagumkan, cemerlangNya menerangi alam semesta, Dahulu kala Aku memuliakan-Mu, Sekarang Aku kembali lagi untuk memandang-Mu."

"Setelah Sang Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana selesai mengucapkan Syair ini, kemudian berkatalah Ia kepada Buddha itu:"Yang Maha Agung! Yang Dihormati dunia masih tetap berada didalam dunia."

"Kemudian Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri; menyapa Sang Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana:"Putera-Ku Yang Baik! Saat Nirvana-Ku telah tiba. Saat kemokshaan-Ku telah datang. Engkau aturlah tempat tidur-Ku. Malam nanti Aku akan memasuki Parinirvana." Kembali Beliau mengutus Sang Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana:"Putera-Ku Yang Baik! Aku percayakan Hukum Buddha kepada-Mu dan Aku serahkan pula kepada-Mu seluruh Bodhisattva-Bodhisattva dan Pengikut-Pengikut Utama-Ku, Hukum Penerangan Agung-Ku dan jutaan dunia-Ku yang terbuat dari 7 benda berharga bersama dengan pepohonan permata dan menara Manikamnya serta seluruh pelayan-pelayan-Ku. Aku percayakan juga kepada-Mu segala peninggalan Relik-Relik apapun yang ada sesudah Kemokshaan-Ku. Biarlah mereka menyebar dan memuliakan-Nya sampai jauh dan biarlah ribuan Stupa didirikan pula." Setelah Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri selesai menitahkan Sang Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana sedemikian itu, kemudian didalam penghujung malam, masuklah Dia kedalam Nirvana.

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Namo Bhagavate Amitayus Tathagata Arhate SamyakSamBuddha

Post by skipper on Sat Nov 29, 2008 9:24 pm

"Ketika Sang Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana melihat bahwa Sang Buddha itu telah moksha, hati-Nya menjadi sangat berkabung, sangat terharu dan berduka-cita serta menyesalinya. Kemudian Ia menumpuk bahan bakar dari kayu cendana Uragasara dan setelah menghormati Jasad Buddha itu lalu Ia membakar-Nya. Sesudah sang api padam, Ia mengumpulkan abu-abu peninggalan-Nya dan membuat 84 ribu mangkok-mangkok indah serta mendirikan 84 ribu Stupa setinggi 3 lipatan dunia yang dihias dengan menara panji-panji, digantungi dengan bendera dan tirai-tirai serta genta-genta indah. Kemudian Sang Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana membayangkan lagi didalam hati-Nya:"Meskipun Aku telah melakukan Penghormatan seperti ini, namun hatiku belumlah merasa puas. Baiklah Aku tetap memuliakan Peninggalan-Peninggalan-Nya lebih jauh lagi."Kemudian Ia menyapa Para Bodhisattva, Pengikut-Pengikut Utama, begitu pula para dewa dan para naga, para yaksha dan seluruh kelompok seraya berkata:"Kalian perhatikanlah dengan sepenuh hati, karena sekarang ini Aku akan memuliakan peninggalan Sang Buddha Candrasuryavimalaprabhasasri."Setelah berkata demikian ini, kemudian didepan 84 ribu stupa, Ia membakar tangan-Nya bersama dengan ratusan tanda-tanda-Nya yang indah dan selama 72 ribu tahun, Ia memuliakan-Nya dan mengasuh sekelompok Para Pencahari KeSravakaan yang tak terhitung jumlah-Nya serta meneguhkan iman dari ribuan asamkhyeya orang agar mereka itu mencapai Penerangan Agung dan membuat semuaNya tinggal didalam Perenungan dari Samadhi Sarvarupasamdarsanah.

"Kemudian seluruh Para Bodhisattva, para dewa, manusia, asura dan lain-lainnya, demi melihat Dia tanpa tangan lagi, semuanya sangat berduka, bersedih dan bersusah hati seraya berkata:" Sang Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana ini adalah benar-benar Guru dan Pembimbing Kita, tetapi sekarang Tangan-Nya telah musnah terbakar dan Jasmani-Nya pun telah menjadi rusak pula."Kemudian Sang Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana
berprasetya didalam Persidangan Agung itu:"Setelah mengorbankan kedua belah Tangan-Ku, maka Aku akan benar-benar memperoleh tubuh emas Seorang Buddha. Jika Keyakinan ini benar adanya dan tidak meleset, maka baiklah Kedua Belah Lengan-Ku ini kembali sempurna seperti sediakala." Begitu Ia selesai mengucapkan Prasetya ini, Kedua Belah Lengan-Nya menjadi sempurna kembali dengan sendirinya, dan hal ini membuat semua orang menyadari Keistimewaan dari Kebijaksanaan dan Keluhuran Yang Tiada Cela dari Sang Bodhisattva ini. Pada saat itu juga jutaan dunia bergoncangan dalam 6 cara dan sang langitpun menghujani aneka ragam bebungaan, para dewa serta para manusia semuanya memperoleh apa yang belum pernah mereka dapatkan."

Kemudian Sang Buddha menyapa Sang Bodhisattva Nakshatrarajasamkusumitabhijna : " Pendapat apakah yang ada dalam Pikiran-Mu, adakah Sang Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana itu Orang lain adanya? Sesungguhnyalah Dia itu Sang Bodhisattva Bhaisajyaraja. Persembahan dan Pengorbanan Diri-Nya sangat begitu tak terbatas sampai ratusan ribu koti nayuta seperti ini. Wahai Nakshatrarajasamkusumitabhijna! Jika terdapat Seseorang yang dengan sepenuh hatinya berkehendak dan bertujuan untuk mencapai Penerangan Agung dan Ia mampu membakar jari-jari tangan-nya atau bahkan ibu jari kakinya untuk memuliakan Stupa Buddha, maka Ia akan melampaui dia yang memuliakan Stupa dengan negeri-negeri, kota, istri dan anak-anak, serta jutaan dunianya bersama seluruh gunung-gunung, hutan-hutan, sungai, kolam dan segala sesuatunya yang sangat berharga".

"Lagi, jika terdapat seseorang yang mempersembahkan jutaan dunia yang penuh dengan 7 benda-benda berharga untuk memuliakan Para Buddha, Bodhisattva-Bodhisattva Agung, PratyekaBuddha dan Para Arhat, maka pahala yang diperoleh orang ini tidaklah mampu mengimbangi kebahagiaan dari mereka yang menerima dan memelihara meskipun hanya 4 untai dari sebuah bait syair Sutta Bunga Teratai dari Kegaiban Hukum Yang Menakjubkan ini".

"Wahai Raja Nakshatrarajasamkusumitabhijna! Bayangkanlah saja, seandainya diantara saluran-saluran air, sungai-sungai kecil, sungai, hulu dan semua air-air yang lain, maka lautlah yang paling luas. Begitu jugalah dengan Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini, diantara segala Sutta yang telah dikhotbahkan oleh Para Tathagata, Hukum Kesunyataan Bunga Teratai inilah Yang Paling Dalam dan Yang Paling Agung. Dan demikian juga diantara semua pegunungan-pegunungan yaitu pegunungan bumi, gunung-gunung hitam, gunung-gunung lingkaran besi kecil, gunung-gunung lingkaran besi besar, dan 10 pegunungan pusaka indah serta pegunungan-pegunungan lainnya, maka Gunung Sumerulah yang paling tinggi. Demikian jugalah dengan Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini, diantara segala Sutta-Sutta, Hukum Kesunyataan Bunga Teratai inilah Yang Tertinggi. Begitu juga seperti Sang Dewa Bulan yang terang sinarNya melebihi bintang-bintang, Demikian jugalah dengan Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini. Diantara ratusan ribu koti dari segala jenis Sutta Hukum Kesunyataan, maka Hukum Kesunyataan Bunga Teratai inilah Yang Paling Cemerlang. Lebih jauh lagi, seperti halnya Sang Dewa Matahari yang mampu melenyapkan semua kegelapan, maka begitu jugalah Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini yang mampu pula memusnahkan semua kegelapan yang nista. Lagi, diantara semua raja-raja kecil, maka Raja Pemutar Roda Sucilah Yang Paling Agung dan demikian pulalah Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini yang diantara segala Sutta merupakan Sutta Yang Termulia. Lagi, seperti halnya Sang Dewa Sakra Indra, Raja Yang Maha Mulia diantara dewa dari surga tiga puluh tiga (Tavatimsa), maka demikian jugalah dengan Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini yang merupakan Raja Dari Semua Sutta. Lagi, seperti halnya Raja Surga Brahma Sahampati yang merupakan Bapak dari seluruh makhluk hidup, maka demikianlah Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini yang merupakan Bapak dari seluruh Orang Arif dan Bijak, Bapak dari Mereka yang masih berada dibawah asuhan maupun yang tidak lagi dibawah asuhan dan Bapak dari Mereka yang berjiwa Bodhisattva. Lagi, seperti halnya Seorang Srotapanna, Sakadagami, Anagami, Arhan, dan PratyekaBuddha yang lebih unggul dibandingkan manusia biasa, begitu jugalah dengan Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini yang diantara segala Sutta yang telah dikhotbahkan oleh Para Tathagata, Bodhisattva maupun Sravaka merupakan Sutta Yang Terunggul.
Begitu pulalah halnya dengan Mereka yang dapat menerima dan memelihara Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini, maka diantara seluruh mahluk hidup, Merekalah Yang Paling Mulia. Diantara seluruh Sravaka dan PratyekaBuddha, maka Bodhisattvalah yang paling terkemuka. Begitu jugalah dengan Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini yang diantara semua Sutta merupakan Sutta Hukum Kesunyataan Terunggul.
Seperti Buddha Yang Merajai Segala Hukum, maka demikianlah Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini Yang Merajai Seluruh Sutta.

"Wahai Nakshatrarajasamkusumitabhijna! Sutta ini adalah Sutta yang mampu menyelamatkan semua umat. Sutta ini mampu membebaskan seluruh mahluk dari duka dan nestapa. Sutta ini mampu menyelamatkan para umat dan mampu memenuhi segala keinginan mereka. Seperti sebuah kolam yang jernih dan dingin yang mampu memuaskan mereka yang kehausan, seperti orang kedinginan yang mendapatkan perapian, seperti orang yang tidak memiliki pakaian mendapatkan pakaian, seperti karapan rombongan pedagang yang mendapatkan pimpinan, seperti seorang anak yang mendapatkan ibunya, seperti seorang yang ingin menyeberang mendapatkan perahu, seperti seorang sakit yang mendapatkan tabib, seperti seorang miskin yang menemukan permata, seperti orang didalam kegelapan yang mendapatkan pelita, seperti rakyat yang mendapatkan raja, seperti seorang pedagang pengadu untung yang mendapatkan kesempatan, seperti obor yang menyirnakan kegelapan, maka demikian jugalah halnya dengan Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini yang mampu membebaskan semua umat dari segala kesengsaraan serta penderitaan dan mampu pula melepaskan ikatan-ikatan dari kehidupan yang tidak kekal".

Jika terdapat Seseorang yang setelah mendengar Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini kemudian menyalin-Nya atau membuat orang lain menyalin-Nya, maka batas jumlah Pahala yang diperolehnya tidak lagi dapat diperkirakan meskipun dengan kebijaksanaan Buddha sekalipun. Jika seseorang menyalin Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini dan memuliakan-Nya dengan bebungaan, wewangian, kalung-kalung, dedupaan, bedak-bedak cendana, salep-salep obat, bendera-bendera, tirai-tirai, pakaian, dan bermacam-macam lampu, lampu susu, lampu minyak, lampu minyak wangi, lampu minyak bunga campaka, lampu minyak bunga samana, lampu minyak bunga patala, dan lampu minyak bunga varshika serta lampu minyak bunga navamalika, maka pahala yang diperoleh tiada dapat dilukiskan.

"Wahai Nakshatrarajasamkusumitabhijna! Jika terdapat Seseorang yang mendengar Bab dari "Dharma Yang Terdahulu Dari Sang Bhaisajyaraja" itu, iapun akan memperoleh pahala yang tak terhingga dan tak terbatas. Jika terdapat seorang wanita yang mendengar hal dari Dharma Yang Terdahulu Dari Sang Bodhisattva Bhaisajyaraja dan ia mampu menerima dan memelihara-Nya, maka sesudah tubuh kewanitaannya berakhir ia tidak lagi akan menerima tubuh wanita itu lagi. Jika sesudah Kemokshaan Sang Buddha nanti terdapat seorang wanita yang didalam 500 tahun yang terakhir mendengar Sutta Hukum Kesunyataan Bunga Teratai ini dan bertindak sesuai dengan Ajaran-Nya maka diujung kehidupan ini ia akan menuju Dunia Bahagia dimana Sang Buddha Amitayus berdiam dikelilingi oleh Para Bodhisattva Agung-Nya. Ia akan terlahir disana ditengah-tengah setangkai bunga teratai yang berada diatas tahta permata. Wanita yang sudah menjelma menjadi laki-laki itu tidak akan pernah tergoda lagi oleh kemarahan ataupun tergoda oleh kesombongan, dengki ataupun ketidak sucian, tetapi ia akan memperoleh kekuatan ghaib dan kepastian untuk tidak terlahir kembali.

Setelah memperoleh Penetapan ini, indera matanya akan menjadi sempurna dan dengan kesempurnaan indera matanya ini ia akan melihat 7 juta dan 2 ribu koti nayuta dari Para Buddha Tathagata yang jumlah-Nya sama dengan pasir-pasir Sungai Gangga ketika Para Buddha ini memujinya dengan serempak dari kejahuan seraya bersabda:"Bagus sekali, bagus sekali! Wahai Putera-Ku yang baik! Engkau telah mampu menerima dan memelihara, membaca dan menghafalkan serta merenungkan Sutta ini didalam Hukum Sang Sakyamuni Buddha dan mengajarkanNya pula kepada orang lain. Karunia yang telah engkau peroleh adalah sangat tak terhingga dan tak terbatas dimana sang api tidak mampu membakarnya serta sang airpun tidak mampu menghanyutkannya. Pahalamu tiada dapat lagi diutarakan oleh Seribu Buddha. Sekarang engkau telah mampu memusnahkan mara-mara jahat, menyingkirkan kekuatan-kekuatan ikatan ketidak-tahuan dan menghancurkan musuh-musuh yang lain.

Wahai Putera Yang Baik! Ratusan ribu Para Buddha dengan segala kekuatan ghaib-Nya akan selalu bersama-sama menjaga dan melindungimu sehingga tiada satupun dari para dewa dan manusia diseluruh dunia ini yang dapat menyamaimu kecuali Sang Tathagata Sendiri. Kebijaksanaan dan meditasi dari Para Sravaka, PratyekaBuddha atau bahkan Para Bodhisattva Sendiri, semuanya tidak akan dapat mengimbangimu."

"Wahai Nakshatrarajasamkusumitabhijna! Sedemikianlah Daya Pahala dan Kebijaksanaan yang telah diperoleh Sang Bodhisattva ini."
"Jika terdapat seseorang yang ketika mendengar hal dari Dharma Yang Terdahulu Dari Sang Bodhisattva Bhaisajyaraja ini kemudian ia mampu menerima dan memuliakan-Nya dengan penuh kegembiraan, maka selama hidupnya yang sekarang ini, ia akan selalu menebarkan bau nafas yang harumnya seperti Bunga Teratai Biru dan dari seluruh pori-pori tubuh-Nya akan memancarkan harumnya kayu cendana kepala lembu serta pahalanya akan menjadi seperti tersebut diatas tadi. Oleh karenanya, wahai Nakshatrarajasamkusumitabhijna, Aku percayakan kepada-Mu Bab tentang Dharma Yang Terdahulu Dari Sang Bhaisajyaraja itu. Didalam 500 tahun yang terakhir sesudah Kemokshaan-Ku nanti, maklumkanlah dan siarkanlah Bab itu didalam Jambudvipa, karena kalau tidak, Bab itu akan hilang sehingga sang mara, yang maha jahat, beserta manusia-manusia maranya, para dewa, naga, yaksha, kumbhandas dan lain-lainnya akan memperoleh kesempatannya."

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Namo Bhagavate Lokesvararaja Tathagata Arhate SamyakSamBuddha

Post by skipper on Sat Nov 29, 2008 9:26 pm

"Wahai Nakshatrarajasamkusumitabhijna! Peliharalah dan Lindungilah Sutta ini dengan kekuatan-kekuatan ghaib-Mu. Karena Sutta ini merupakan obat yang manjur bagi penyakit orang-orang Jambudvipa. Jika seseorang jatuh sakit dan ia mendengar Sutta ini, maka sakitnya akan segera hilang dan iapun tidak akan menjadi tua dan tidak pula akan mati."

"Wahai Nakshatrarajasamkusumitabhijna! Jika Engkau melihat seseorang menerima dan memelihara Sutta ini, maka Engkau harus menaburkan Bunga-Bunga Teratai Biru yang penuh dengan serbuk-serbuk kayu cendana kepadanya, dan sesudah menaburinya, berpikirlah demikian:"Orang ini akan segera menerima segebung rerumputan dan akan segera mengambil tempat dudukNya diatas tempat Kebijaksanaan. Ia akan mencerai-beraikan kelompok mara dan meniup nafiri Hukum serta menabuh genderang Hukum Agung. Ia akan menyelamatkan seluruh mahluk hidup dari samudra ketuaan, penyakit dan kematian."
"Oleh karena itu, siapapun yang mencari Jalan KeBuddhaan ketika melihat seseorang yang menerima dan memelihara Sutta ini, maka ia harus menaruh rasa hormat kepadanya."
Pada saat Bab dari Dharma Yang Terdahulu Dari Sang Bodhisattva Bhaisajyaraja ini sedang dikhotbahkan, 84 ribu Bodhisattva memperoleh Dharani dari menafsirkan ucapan semua mahluk. Sang Tathagata Prabutaratna yang berada didalam Stupa 7 Benda Berharga memuji Sang Bodhisattva Nakshatrarajasamkusumitabhijna :" Bagus sekali, bagus sekali, wahai Nakshatrarajasamkusumitabhijna! Engkau telah memperoleh Pahala-Pahala yang tak dapat dilukiskan lagi karena Engkau telah dapat menanyakan Hal-Hal yang seperti ini kepada Sang Sakyamuni Buddha dan Engkau telah benar-benar menyelamatkan semua umat."

Demikianlah Sutta Bunga Teratai Dari Kegaiban Hukum Yang Menakjubkan, Tentang Sang Bodhisattva Bhaisajyaraja, Bab 22.

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Bhaisajyaraja Purvayoga Parivartah Dharmaparyaya Suttram

Post by Sponsored content Today at 5:08 pm


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik