Teknik Pengembangan Kesadaran Sempurna

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Teknik Pengembangan Kesadaran Sempurna

Post by Admin on Sun Jan 10, 2010 1:04 pm

Teknik pengembangan kesadaran sempurna


Tangtong Gyalbo (1361 - 1485), petapa suci Tibet dan penyusun
m editasi bagi Semua Makhuk di Alam Semesta



PENDAHULUAN

Uraian berikut ini menguraikan suatu metode pengembangan wel as
asih dan kebijakan sempurna dari seorang Bodhisattva

Di dalam ajaran agama Buddha, terdapat banyak metode yang
demikian. Namun satu yang khusus akan diuraikan di sini yaitu yang disebut
Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta. Ini adalah sebuah meditasi
pada Avalokiteshvara Bodhisattva beserta mantraNya " Om Mani Padme Hum" yang
termashur itu. Yang mula-mula mengajarkannya adalah se orang tokoh suci
Buddhis asal Tibet yang bernama Tangtong Gyalbo pada abad ke-15, yang sampai
saat ini masih tetap populer.

Latihan meditasi Buddhis yang melibatkan Avalokiteshvara dan
mantraNya yang amat terkenal itu, banyak dilakukan oleh umat Buddha di
berbagai negara di Asia sepanjang sejarah agama Buddha. Hal ini disebabkan
karena Avalokiteshvara di anggap sebagai lambang welas asih yang tertinggi dari
seorang Bodhisattva. Bodhisattva adalah seorang yang telah bersumpah untuk
mencapai penerangan sempurna dengan mengikuti ajar an Sang Buddha, untuk dapat
senantiasa menolong setiar makhluk di jagad rays ini sampai mereka semua juga
mencapa penerangan. Avalokiteshvara adalah yang pertama-tama men canangkan dan
berhasil memenuhi hasratNya yang mulia itu Oleh karenanya Beliau selalu menjadi
panutan bagi kebanyak an pemeditasi Buddhis dalam usaha pencapaian penerangan


Avalokiteshvara adalah nama dalam bahasa Sansekerta yang berarti
"la yang memiliki kemampuan untuk mengamati (semua makhluk hidup)". Juga disebut
Maha Karunika (la yang memiliki welas asih yang amat besar), atau sebagai
Padmapani (la yang memegang bunga teratai). Mengenai hal­oya Avalokiteshvara ini
dapat kita baca pula pada kitab-kitab suci agama Buddha, umpamanya
Vimalakirtinirdesha Sutra, dan Saddharma Pundarika Sutra bab
ke-25. Pada Sukhavati Vyuha Sutra, Avalokiteshvara berperan sebagai
Pembantu Amitabha (Buddha Cahaya Tanpa Batas), sehingga dengan demikian menjadi
jelaslah bagi kita kaitan Avalokiteshvara dengan "Surga Sukhavati". Karanda
Vyuha Sutra
berisi pen ­ jelasan tentang welas asih yang mulia dan
kekuasaan yang dimiliki Avalokiteshvara. Shurangama Sutra menjelaskan
metode dari Avalokiteshvara tentang meditasi dan penyadaran akan kebenaran tanpa
aku. Di dalam Prajna Paramita Hrdaya Sutra (Sutra Hati) Avalokiteshvara
memberi penjelasan dan mengajarkan tentang inti dari filsafat yang dalam dari
non­ dualisme dan Jalan Tengah. Sedang Padmajala Tantra banyak berisi
informasi tentang peranan Avalokiteshvara di dalam ajaran agama Buddha
Vajrayana.

Bagian dari sumpah Avalokiteshvara untuk menolong semua makhluk
hidup adalah melalui asumsi tentang berbagai perwujudan sesuai dengan
kebutuhannya pada situasi tertentu. Sejalan dengan sumpah itu Beliau kerap
muncul di berbagai tempat dalam berbagai peran, bentuk dan suku bangsa. Bahkan
apabila dianggap perlu dapat berperan dan menampakkan diri sebagai benda mati,
misalnya sebagai jembatan atau sebagai tempat berteduh. Pada ilmu perpatungan
(iconography) tradi­ sional untuk patung dan lukisan Avalokiteshvara ini men­
cerminkan beberapa dari variasi ini. Namun demikian hendak­ nya difahami bahwa
bentuk yang berbeda-beda itu adalah sebagai perwujudan yang beraneka dari
prinsip penerangan sempurna yang sama.

Pada patung-patung India kuno, Avalokiteshvara dilukis kan
sebagai seorang pangeran manusia dalam posisi berdiri dan berpakaian kebesaran.
Pada patung yang lain Beliau digambar­ kan dalam keadaan duduk santai dengan
posisi latitasana. Salah satu bentuk yang termashur adalah
Avalokiteshvara bermata seribu dan tangan seribu pula. Anggota tubuhNya yang
sebanyak itu dimaksudkan untuk dapat memenuhi berbagai kebutuhan makhluk hidup.
Beliau bahkan dapat me­ nampakkan diri sebagai Dewa Hayagriwa dalam versi Tantra
yang berwajah penuh kemarahan, pads situasi dimana untuk membangkitkan rasa
welas asih diperlukan adanya dorongan yang menakutkan. Meditasi bagi Semua
Makhluk di Alam Semesta
yang diterangkan di dalam buku kecil ini, termasuk
Avalokiteshvara berkepala satu dengan empat tangan dalam posisi duduk. Ini
merupakan suatu bentuk yang luar biasa pentingnya di Tibet . Adapun penjelasan
terperinci mengenai Avalokiteshvara yang bertangan empat ini akan disajikan pada
bab-bab selanjutnya.

Bersamaan dengan tersebarnya agama Buddha di luar India , ke
negara-negara Asia lainnya, maka pentingnya peranan Avalokiteshvara meningkat
dengan pesatnya. Banyak kuil-kuil besar yang memuja Bodhisattva ini dalam wujud
Lokeshvara sebagai pasangan dari Shiva, dewa Hindu. Hal ini dapat disaksi ­kan
di seluruh Asia Tenggara. Ke arah Utara di Nepal, dikenal 108 bentuk
Avalokiteshvara sebagaimana dapat dilihat pada lukisan-lukisan yang terdapat di
tempat pemujaan kuno di Katmandu . Bagi masyarakat Tibet , Avalo k i teshvara
(Chenre ­ zig) adalah pujaan tertinggi umat Buddha. Banyak dari orang suci yang
telah memperoleh penerangan sempurna yang ter ­tinggi dipandang sebagai
perwujudan manusia dari Bodhisattva itu, terutama Dalai Lama itu sendiri. Di
Timor Jauh amat ter ­ kenal pentingnya peranan Avalokiteshvara, terutama melalui
sentuhan-sentuhan seni yang menampilkan Beliau dalam ber ­ bagai bentuk. Di
Tiongkok, Avalokiteshvara sangat dihormati sebagai Kuan Shi Yin (Kwan Im) yang
secara harfiah berarti "Pengamat Suara Dunia". Dan di Jepang Beliau disebut
Kwannon. Di negara-negara Asia tali Avalokiteshvara dipuja sebagai pelindung
tertinggi terhadap ketakutan, Juga sebagai Guru, dan yang utama Beliau dipandang
sebagai sumber ilham bagi perwujudan welas asih sempurna yang paling dalam.

Dengan demikian, meditasi pads Avalokiteshvara mem ­ bentuk
landasan bagi suatu cara yang sangat efektif dalam mengolah diri untuk mencapai
penerangan sempurna. Pada Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta
yang akan di ­ uraikan di bawah ini, pemeditasi diajarkan untuk memvisuali
­ sasikan Avalokiteshvara secara langsung. Teknik yang akan diuraikan ini
termasuk cara bermeditasi untuk menerima berkah-berkah yang sangat kuat dari
Avalokiteshvara. Pe ­ meditasi clan lingkungan tempat berlatih itu kemudian di
visualisasikan sebagai telah memperoleh penerangan. Sambil membaca mantra
enam suku kata, bayangkanlah bahwa semua bentuk, suara, dan pikiran kita
menjelma menjadi bentuk, suara, dan pikiran Avalokiteshvara.

"Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta" ini
disusun oleh Tangtong Gyalbo, seorang petapa suci Tibet yang agung yang telah
kerapkali memperoleh pengalaman langsung dari Avalokiteshvara sendiri. Tangtong
Gyalbo dilahirkan pads tahun 1361 di Owa Latse , Tibet Barat. Sejak kecil Beliau
sangat tertarik pads filsafat Buddhisme terutama pads ajaran tentang
Avalokiteshvara. Beliau memperoleh petunjuk-pe ­ tunjuk lanjutan tentang
Vajrayana (Tantrayana) dari berbagai Guru Tibet dan India pads masa hidupnya,
termasuk Kangapa Paljor Sherab, seorang ahli tentang Avalokiteshvara. Beliau
juga menjalankan meditasi bertahun-tahun. Beliau menerima pelajaran tentang
"Cipta" dan teknik-tekniknya langsung dari para Buddha, Bodhisattva, clan para
Master di zaman itu. Beliau kemudian berkelana ke seluruh Tibet, dan juga ke
India, Bhutan, Tiongkok, dan Mongolia untuk menyebarkan mantra "Om Mani
Padme Hum"
kepada para pengikutnya. Tangtong Gyalbo menyusun "Meditasi
bagi Semua Makhluk di Alam Semesta"
atas dasar penglihatan clan pengalaman
pribadi ten- tang Avalokiteshvara. Kemudian Beliau mengajarkan meditasi ini
kepada murid-muridnya . Dan sejak itu secara turun temurun
diwariskan dari murid ke muridnya lagi sampai saat ini. Meditasi ini berhasil
dihidupkan kembali pada abad XIX di bawah kepemimpinan Jamyang Kyentse Wangbe
Rinpoche dan Jamgon Kongtrul Rinpoche dan kini dipraktekkan oleh umat Buddha di
seluruh dunia.

Teknik-teknik penting lainnya yang dikernbangkan oleh Tangtong
Gyalbo termasuk versinya sendiri tentang Upaeara CHOD (pengikisan ego), sari
Yoga Esoteris dari Dakini Niguma (kakak perempuan dari Naropa), dan metode
memperpanjang usia melalui meditasi pada Amitayus. Tangtong Gyalbo sangat
dicintai oleh rakyat Tibet terutama karena jembatan gantung ciptaannya yang
dibangunnya di seluruh negeri. Setelah ber ­ hasil menemukan endapan biji besi
dalam jumlah besar, Beliau mengembangkan suatu metode pembuatan rantai besi anti
karat. Sampai kini jembatan-jembatan yang Beliau bangun dengan menggunakan
rantai besi ini masih tetap bisa diper ­ gunakan.

Tangtong Gyalbo wafat pada tahun 1485 dalam usia 124 tahun.
Usianya yang panjang itu membuktikan kebenaran teknik memperpanjang usia yang
diajarkannya itu. Kegiatan ­ ,nya yang luar biasa bagaikan geraknya seorang
Bodhisattva demi kemakmuran rakyat Tibet itulah yang menyebabkan Beliau
dipandang sebagai penjelmaan Avalokiteshvara. Ke ­ mudian Tangtong Gyalbo
melanjutkan hidupnya dan terlahir kembali sebagai seorang guru agama Buddha di
Tibet. Sedang pada kehidupan Beliau yang sekarang adalah sebagai Druptob
Hinpoche yang terlahir pada awal abad ini di Golok , Tibet Timur. Kini Druptob
Rinpoche berdiam di Bhutan dan dipan d ang sebagai seorang Siddha Agung dari
"Garis Keturunan jembatan Besi". Beliau melanjutkan semua ajaran Tangtong
Gyalbo, termasuk "Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta" Banyak
juga guru-guru lain yang memberi pelajaran meditasi ini misalnya Deshung
Rinpoche di Seattle Washing ­ ton . Ada lagi Kalu Rinpoche yang mengajar di
berbagai Buddhist Center yang dimilikinya di seluruh dunia, dan Lama Kunga yang
mengajar pada Ewarn Choden Center Berkeley, California.





BAB I
PETUNJUK UMUM
TENTANG
MEDITASI


Sebelum menguraikan tentang pelaksanaan sesungguh ­ nya dari
Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta, sebaiknya dijelaskan
beberapa teknik dasar bagi penerapan visualisasi dari meditasi ini. Adalah
penting bagi kita untuk mengetahui latar belakangnya agar dapat melaksanakan
medi ­ tasinya dengan tepat. Oleh karena itu perlu dipelajari dengan baik oleh
mereka yang belum terbiasa dengan meditasi Buddhis. Juga petunjuk ini dapat
digunakan sebagai tambah- a n pengertian bagi mereka yang telah mempelajari
meditasi namun tanpa bimbingan seorangguru yang berpengalaman dan ahli.

Dalam hubungan ini hendaknya diperhatikan bahwa tuntunan
meditasi dari seorang guru Buddhis merupakan faktor yang sangat penting
bagi mereka yang ingin mengikuti ajaran agama Buddha. Guru yang ahli adalah
seorang yang telah banyak berpengalaman dalam melakukan meditasi Buddhis dan
dapat ditelusuri siapa gurunya yang asli. Dalam masyarakat Buddhis, guru
yang demikian dikenal sebagai telah mencapai tingkat penerangan tertentu
dan selalu bersikap bijaksana serta penuh welas asih. Hanya guru
semacam inilah yang memiliki kemampuan dalam memberikan motivasi yang tepat
untuk dilaksanakan, mampu menunjukkan realisasi yang benar yang harus kita
capai, mampu menjaga dan melindungi kita agar tidak sampai melakukan kesalahan
latihan clan kesalahan tafsir. Dan guru semacam itu harus mampu mem ­bimbing
kita untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi tepat pada waktunya. Guru
merupakan faktor yang luar blase pentingnya bagi siswa Buddha Vajrayana,
sebab hubungan guru dengan murid terikat erat pada kesepakatan untuk men ­ capai
tujuan akhir, yaitu Kebuddhaan. oleh karena Meditasi bagi Semua Makhluk di
Alam Semesta
termasuk dalam ajaran mashab Vajrayana, maka kepada para
pemeditasi sangat di ­ anjurkan untuk mencari bimbingan, setiap seat apabila ada
kesempatan, dari seorang guru yang tulen, dan menggunakan

buku kecil ini sebagai pelengkap dari petunjuk-petunjuk sang
guru yang sangat berharga itu. Namun demikian, bagi mereka yang belu m
memperoleh kesempatan untuk dapat berhubung ­ an dengan seorang guru
yang pandai, bisa saja mempraktekkan sendiri meditasi ini sejauh kemampuan
yang dimilikinya tanpa perlu maraca khawatir akan mengalami hal-hal yang
berbahaya. Sesungguhnya meditasi yang khusus ini telah dirancang se ­ demikian
rupa sehingga sesuai (Ian bermanfaat bagi pemula maupun bagi yang telah
berpengalaman. Sebab di satu fihak meditasi ini tidak mengandung sesuatu hal
yang membahaya ­ kan dari latihan esoteric yang sulit, dan di lain fihak juga
tidak mengorbankan prinsip penerangan yang tertinggi

Admin
Admin

Jumlah posting : 278
Join date : 02.04.08

Lihat profil user http://agama.forumakers.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Teknik Pengembangan Kesadaran Sempurna

Post by Admin on Sun Jan 10, 2010 1:07 pm

Teknik pengembangan kesadaran sempurna


Seperti juga pads visualisasi, maka demikian pula pads meditasi
ini diperlukan adanya teknik-teknik dasar untuk meditasi clan konsentrasi.
Teknik semacam ini telah banyak diuraikan di dalam buku-buku Buddhis, sedang
yang akan diuraikan di sini hanyalah garis besarnya saja dari beberapa pokok
yang penting-penting.

A. Tempat dan Waktu.

Sekalipun meditasi itu idealnya bisa saja dilakukan di sembarang
tempat, tetapi bagaimanapun juga suatu tempat yang tenang dan bersih akan
mengalami gangguan yang paling sedikit pula dan hal ini sangat menguntungkan
bagi para pemula. Kalau mungkin usahakanlah sebuah ruangan atau sudut ruangan
yang dikhususkan untuk tempat berlatih medi ­ tasi setiap hari. Sebaiknya
diusahakan satu tempat khusus yang tidak digunakan untuk kesibukan sehari-hari.
Dan hendaknya dijaga untuk tetap bersih dan tidak diletakkan bends-bends yang
ticlak sesuai dengan tujuan penggunaan tempat tersebut, umpamanya bends yang
menonjolkan sifat keduniawian. Sebaiknya kalau mungkin, pasanglah sebuah altar
dan patung serta lambang tentang ajaran agama Buddha. Kemudian diletakkan
persembahan air, dupa,lilin, bungs, dan sebagainya pada posisi yang lebih rendah
dari patung-patung yang ada di altar itu. Dan yang paling membantu dalam hal ini
adalah apabila dapat dipasang patung atau lukisan Avalokiteshvara yang sesuai
dengan yang digambarkan pads Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta.


Cara yang paling balk adalah dengan melaksanakan meditasi setiap
hari secara teratur, waktunya tertentu clan lamanya bermeditasipun tertentu
pula. Banyak yang senang melakukan meditasi di pagi hari benar sebelum memulai
kegiatan rutin sehari-hari. Hal ini mengingat bahwa pads jam -jam tersebut
pikiran setiap orang masih berada dalam keadaan yang paling tenang. Senja hari
adalah juga waktu yang baik untuk berlatih meditasi. Lebih baik dibuat jadwal
waktu latih ­an meditasi untuk diri pribadi masing-masing, tetapi sebaiknya
memilih waktu yang tetap sehingga menjadi kebiasaan rutin setiap harinya.
Tentukanlah sendiri lamanya waktu yang di ­ pergunakan untuk bermeditasi clan
jangan terlampau ber ­ nafsu, agar ticlak mengalami kegagalan di kemudian hari.
Bahkan berlatih meditasi hanya 15 menit setiap harinyapun sudah akan sangat
bermanfaat. Mengenai lamanya waktu medi ­ tasi dapat ditingkatkan sesuai kondisi
pribadi masing-masing,

B. Latihan-Latihan Lainnya .

Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta ini berisi
latihan yang lengkap. Namun demikian para siswa dapat juga melakukan latihan
lainnya selama waktu meditasi itu berlang ­ sung. Hal ini tentu saja hanya dapat
dibenarkan apabila telah mendapat petunjuk khusus untuk itu dari sang guru.
Umpama ­ nya bagi para siswa yang melakukan Kebaktian, dapat melak ­ sanakannya
sebelum memulai meditasinya itu sendiri. Atau dapat juga melakukan meditasi
Vajrasattva untuk pembersih ­ an batin sambil mengucapkan mantra Vairasattva
yang terdiri
dari 100 suku kata itu sebelum memulai dengan Meditasi
bagi Semua Makhluk di Alam Semesta.
Urut-urutannya dan peng ­ gabungannya
dari latihan yang berbeda-beds itu tergantung., pads situasi clan tujuannya,
maka sebaiknya dikonsultasikan dulu dengan sang guru.

C. Sikap Tubuh pada waktu Meditasi (Lihat gambar pada
halaman berikut)


Sikap tubuh yang ideal untuk bermeditasi adalah duduk di
lantai atau di atas bantalan dengan sikap Vajra (Padmasana).
Yaitu kaki
kiri di sebelah dalam clan kaki kanan di sebelah luar, keduanya diletakkan di
atas paha yang berlawanan. Atau dengan sikap semi padmasana (hanya satu kaki,
kanan atau kiri, yang diletakkan di atas paha), atau bahkan dengan duduk bersila
secara sederhanapun dapat dibenarkan. Punggung harus tegak clan tidak tegang.
Kedua tangan dapat disilangkan seenak mungkin di atas pangkuan, atau dalam mudra
yang resmi untuk meditasi dengan tangan kanan ditumpangkan di atas tangan kiri
clan kedua ibu jari sating menyentuh. Kepala harus tetap lurus, mata setengah
terbuka dan jangan difokuskan pads apapun (kecuali apabila memang sedang dengan
sengaja bermeditasi atas suatu obyek nyata di hadapan kita). Mulut tertutup
wajar clan ujung lidah menyentuh langit-langit mulut.

D. Konsentrasi .

Pada meditasi-meditasi yang menggunakan visualisasi, sangat
dibutuhkan kemampuan untuk tetap berkonsentrasi penuh. Secara singkat dapat
dijelaskan bahwa konsentrasi ada ­lah pengekangan atas melayang-layangnya
pikiran sedemikian rupa sehingga mampu memusatkan pikiran tadi hanya pada





satu sasaran yaitu meditasi. Teknik-teknik berkonsentrasi banyak
diuraikan secara mendalam di dalam kitab-kitab suci agama Buddha, apabila telah
memperoleh beberapa pengalam ­ an tentang teknik-teknik itu tentu akan banyak
membantu proses visualisasi. Maka bagi pars siswa yang belum mengem­ bangkan
konsentrasiny a , dianjurkan untuk melakukan be ­berapa latihan sederhana selama
beberapa minggu sebelum memulai berlatih Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam
Semesta
ini. Berlatih konsentrasi dengan benar clan tepat akan meningkatkan
kesehatan jasmani clan memberi manfaat yang nyata pads kejiwaan.

Satu metode sederhana adalah berkonsentrasi pada per­nafasan.
Duduk dalam sikap meditasi, hanya menarik dan menghembuskan nafas seperti biasa
dengan irama yang paling nyaman clan wajar, jangan dipaksanakan clan jangan
tegang. Jangan memikirkan apa-apa, sadari saja torus menerus proses keluar
masuknya nafas, misalnya dengan menghitung dari 1 sampai 10 secara
berulang-ulang.

Suatu cara lain untuk melatih konsentrasi adalah dengan
menggunakan obyek yang sederhana, seperti misalnya se ­potong bahan cita
berbentuk pesegi kecil atau sekuntum bunga yang sederhana. Letakkan obyek itu
pads jarak 1 1 /2 meter di hadapan kits. Sambil duduk dalam sikap meditasi,
pandangilah obyek itu saja secara terus menerus dan jangan memikirkan apa-apa
lagi. Atau dapat jugs berkonsentrasi pada bayangan pikiran, umpamanya sebuah
titik berwarna atau bahkan pada kesadaran kosong itu sendiri.

Seluruh latihan tadi semata-mats dimaksudkan untuk menenangkan
dan memusatkan pikiran serta meningkatkan kesadaran. Apabila pads waktu
berkonsentrasi dengan salah satu cara tadi pikiran berkeliaran ke dalam
permasalahan keduniawian, atau pads khayalan, atau pads yang lain-lainnya lagi,
sadarilah saja bahwa pikiran semacam itu hanyalah ilusi semata clan hapuskanlah
dari pikiran kita. Sambil menyadari sifat dari semua pikiran yang kita bust
sendiri itu, kembali ­ kanlah perhatian kepada meditasi lagi.

Perlu diperhatikan bahwa penghentian meditasi secara mendaclak
harus dihindarkan. Perpindahan pikiran dari alam meditasi ke alam kesibukan
duniawi harus dijaga agar selalu berlangsung dengan lembut dan ticlak
tergesa-gesa.

Teknik-teknik konsentrasi (Shamatha,
atau Dhyana, atau Zen) cliterangkan jauh lebih mendalam lagi di dalam
hanyak buku-buku agama Buddha, clan clapat d ikonsultasikan guna memperoleh
pengertian yang lebih mendetail. Perlu di ­tambahkan bahwa latihan Meditasi
bagi Semua Makhluk di Alum Semesta yang berulang-ulang sudah barang tentu akan
meningkatkan kemampuan konsentrasi kita.

E . Visualisasi

Tujuan utama visualisasi adalah untuk memindahkan kenyataan yang
kita alami sendiri setidak-tidaknya pads waktu meditasi. Nalarnya demikian,
makin banyak waktu berolah Latin yang dipergunakan untuk memvisualisasikan pars
Buddha, Bodhisattva, clan lain-lainnya, maka keadaan ke ­ seluruhan pandangan
mental kita akan memperoleh manfaat. Lagi pula karena kemampuan memvisualisasi
seantero jagad telah sempurna, maka kemampuan mengendalikan perasaan akan
meningkat sangat pesat, jugs days persepsi clan pengalam ­ an dalam hidup. Dasar
pemikirannya adalah bahwa hal itu masih dalam batas kemampuan diri kita sendiri
untuk men ­ capai penerangan. Dan dengan demikian berarti kita hidup di dunia
kesempurnaan.

Pada umumnya pengembangan kemampuan visualisasi itu agak sulit
dan berbeda-beda sesuai dengan kebiasaan yang melekat pads diri masing-masing
clan pads kemampuan masing ­ masing pula. Sebagian orang ticlak mengalami
kesulitan yang herarti, sedang pads yang lain terasa amat beret. Namun yang
penting adalah bahwa hendaknya pengharapan kita sederhana saja pada
permulaannya. Visualisasi adalah suatu proses dalam melihat gambaran yang dengan
sengaja dibayangkan secara hati-hati dan sungguh-sungguh. Dengan menggunakan ber
­ bag6i fungsi mental seperti ingatan, imaginasi, dan konsentrasi kita
menciptakan secara meditatif gambaran itu dalam suatu lokasi ruang khusus.
Mula-mula gambaran itu tidak jelas dan khayal, tetapi dengan berlatih pemeditasi
akan "melihat" gambaran itu sejelas obyek nyata secara visual.

Banyak cara untuk mencapai visualisasi. Beberapa guru
menganjurkan agar dimulai dengan mencoba memvisualisasi kan dengan suatu
penglihatan menyeluruh dari gambaran yang samar-samar, lalu secara
perlahan-lahan memperjelasnya, karena keakraban kita pads gambaran itu dan
prosesnya makin meningkat. Guru yang lain menyarankan agar memulai visuali sasi
pada bagian-bagian kecil dari gambaran itu sejelas mungkin. Kemudian secara
perlahan-lahan belajar menggabungkan bagian-bagian tali menjadi sebuah gambaran
yang utuh dan lengkap. Cara ini sangat membantu pada visualisasi yang lebih
kompleks yang menyangkut banyak makhluk suci. Teknik ketiga adalah dengan
memandang pada sebuah lukisan menge­ nai gambaran tali untuk waktu yang lama
sampai visualisasi pada gambaran tadi menjadi lebih mudah.

Apapun teknik yang digunakan, hendaknya jangan ber­ kecil hati
apabila visualisasinya itu pada permulaannya tidak stabil. Kerap kali para
pemula mengeluh tentang banyaknya kesulitan yang dihadapi dalam melatih
visualisasi. Keluhan yang umum antara lain adalah: tidak mampu membayangkan sama
sekali, atau gambaran selalu berubah-ubah sebentar jelas sebentar kabur, atau
pada satu saat hanya sebagian dari gambaran itu yang dapat terlihat, atau
munculnya keragu­ raguan dari sudut mana seharusnya memandang gambaran itu, atau
gambaran selalu meluncur hilang dari kepala (sebagai pada visualisasi atas
gambaran/patung di ujung kepala dalam "Medi­ tasi bagi Semua maklhuk di Alam
Semesta'j,
gambaran/ patung itu bergerak-gerak semaunya sendiri dan mulai
ber­ cakap-cakap, tertawa ataupun bersendau gurau. Masih ada lagi problem yang
sangat umum Dari semua bentuk meditasi, misal­ nya rasa sakit pada anggota
tubuh, pikiran yang melayang­ layang, mengantuk, kekacauan pikiran, keinginan
untuk ber­ gerak, dan gejolak emosi yang kuat namun tidak teratur.

Jawaban bagi semua problem ini adalah sama yaitu abai kan dan
jangan memperduli kannya, serta tetap terus melanjut ­ kan meditasi. Semua
kesulitan tadi hendaknya dianggap sebagai suatu muslihat belaka dari sang ego
yang ingin meng ­ hindar dari pengamatan yang cermat dan penghancuran total
sebagai akibat keberhasilan kita dalam melaksanakan meditasi Buddhis. Sebaliknya
apabila kita hiraukan, gangguan itu akan menjadi-jadi. Oleh karena itu janganlah
terlampau menghirau ­ kannya, tapi justru pusatkan terus perhatian kita pada
ikhtiar untuk melanjutkan meditasi itu sebagaimana biasa.

Prinsip tersebut di atas juga berlaku bagi setiap pengalaman
istimewa yang mungkin kita peroleh selama berlang ­ sungnya meditasi. Juga
apabila kita tidak memperoleh penga ­ laman apapun selama meditasi. Pemeditasi
diingatkan untuk tidak berbangga hati atas apa yang dianggapnya sebagai suatu
tanda keberhasilan, seperti misalnya mengalami perasaan yang menyenangkan, rasa
hangat, melihat cahaya, dan sebagainya. pengalaman - pengalaman semacam itu
memang akan muncul dalam lelapnya meditasi, akan tetapi hal itu bukanlah sesuatu
yang amat penting, jadi tidak perlu dikejar dan tidak perlu dihindari.

Demikian Pula halnya dengan halusinasi yang mung­kin kita
peroleh, yaitu apabila suatu saat timbul pemandangan yang aneh maupun yang
menakutkan. Hendaknya justru di ­ sadari bahwa itu hanyalah ilusi dan suatu
keadaan yang tidak nyata, dan oleh karena itu hilangkanlah dari pandangan kita.
Sedang apabila kita tidak mendapat pengalaman apapun, janganlah berkecil hati
ataupun kecewa. Hendaknya selalu di ­ ingat bahwa satu-satunya tujuan meditasi
itu adalah untuk mengembangkan welas asih dan pengertian. Apabila kita dapat
mengalami suatu penglihatan yang jelas seperti pada waktu bermeditasi atau
sekalipun hanya mengalami sedikit peningkat­ an rasa welas asih kita dalam
kehidupan sehari-hari, itu hendaknya dipandang sebagai suatu hasil yang nyata
dari ber ­ latih meditasi ini.

Sebagai suatu catatan akhir, perlu dikemukakan di sini hahwa
visualisasi pads gambaran-gambaran patung seperti Avalokiteshvara itu mungkin
terasa aneh dan sukar bagi mereka yang belum mengenal patung-patung buddhis pads
ninumnya. Sehingga akan sangat membantu apabila pada tahap permulaan visualisasi
itu dianggap Baja sebagai latihan untuk mengembangkan pikiran clan
menyempurnakan days konsen ­ wisi. Tetapi yang justru lebih penting adalah bahwa
bentuk dan atribut yang dikenakan Avalokiteshvara itu hendaknya dimengerti
sebagai yang memang dirancang dengan mengguna ­ kan lambang-lambang yang paling
mudah ditangkap dan kena Berta mempunyai kaftan arti dengan welas asih clan
kebijakan. Lam bang-lambang ini sedikit banyak dijelaskan di dalam Ilan 3.
Karena bertambahnya keakraban kita dengan bentuk dim hubungannya atas
Avalokiteshvara, sehingga dimungkin ­ kan juga bagi sebagian terbesar anggota
peradaban manusia miluk berhubungan dengan lambang-lambang kuno yang penuh
kekuatan ini.

I Cara membaca mantra dengan menggunakan mala.


Mantra adalah ungkapan kata-kata dari suatu kesadaran
allung. Mantra itu singkat clan simbolik, dan biasanya dalam bahasa
Sansekerta. Sekalipun memiliki arti harfiah yang dapat diterjemahkan ke dalam
bahasa lain, namun fungsi utamanya adalah untuk mengantarkan kita kepala suatu
bentuk kesadar ­ an khusus melalui hanya suara suku-suku kata dari mantra
itu. Dengan demikian mantra itu harus dibaca berulang-ulang
sebanyak mungkin dengan pikiran yang dikonsentrasikan pads suara dari mantra itu
dan pada kebijakannya yang terkandung di dalamnya. Biasanya mantra
dihitung dengan menggunakan mala (tasbih).

Mala yang dipergunakan dalam agama Buddha biasanya terdiri atas
108 butir, tujuannya adalah untuk menghitung terutama apabila kita akan mencoba
membaca mantra untuk suatu jumlah tertentu. Setiap kali mencapai satu putaran


penuh dihitung sebagai 100 mantra, (yang 8 adalah
sebagai cadangan kalau-kalau terjadi salah ucap ataupun salah konsen­ trasi.)
Lagi pula angka 108 itu biasanya dianggap sebagai angka mujur.

Mantra diucapkan sambil memegang biji mala di antara
jari telunjuk dan ibu jari, (kadang-kadang cligunakan jari yang lain pads
latihan yang lebih lanjut). Mala boleh dipegang de ­ ngan tangan kanan ataupun
tangan kiri sesuai kehiasaan masing-masing. Setiap kali mantra selesai
diucapkan, pegangan pindah ke biji berikutnya. Hitungan dimulai dari biji yang
pertama di sebelah kepala mala. Apabila selesai satu putaran clan sampai pads
kepala mala lagi, maka kepala mala itu jangan dihitung, tapi putarlah mala itu
dan mulailah menghitung lagi dan kembali ke arah kebalikannya dari yang pertama
tadi.

Biji mala dapat dibuat dari bahan apa saja. Yang paling digemari
adalah yang terbuat dari biji Bodhi, demikian pula yang terbuat dari kayu
gaharu. Beberapa bahan seperti gading, merjan, kristal, atau bahkan dapat
terbuat dari tulang, namun hanya dipergunakan untuk keperluan yang khusus saja.


Penggunaan mala juga membantu konsentrasi pikiran kita pads
mantra clan meditasi. Mala itu sendiri seyogyanya
dirawat dengan hati-hati
clan penuh hormat. Setiap butir mala dapat dianggap sebagai lambang seorang
Bodhisattva yang kepadaNya kita tujukan meditasi itu. Seclang tali yang meng ­
hubungkan butir-butir mala itu adalah lambang dari kesadaran Bodhisattva.

G. Penggunaan ajaran meditasi ini.

Yang terdapat pads Bab 2 adalah suatu terjemahan tentang
Meditasi bagi Semua makhluk di Alam Semesta dari teks aslinya dalam
bahasa Tibet yang ditulis oleh Tangtong Gyalbo.

Ajaran ini menggambarkan dan menjelaskan secara tepat tentang
apa yang harus divisualisasikan dan dialami di dalam meditasi. Pelaksanaan yang
biasa adalah dengan membaca setiap bagian dengan perlahan-lahan. Bacalah mantra
itu baik ­- baik, boleh dengan suara yang keras ataupun dengan suara lirih yang
hanya terdengar untuk diri sendiri. Dan visualisasikan setiap langkah yang kita
baca. Pada akhir setiap bagian boleh berhenti sejenak clan pikiran Berta basin
kita meninjau ke seluruhan visualisasi yang sejauh ini telah kita lakukan. Lama
­ nya waktu yang dipergunakan pada setiap bagian tidak harus sama, sebab hal itu
tergantung pads kebutuhan clan kecen ­ derungan masing-masing prang.

Selama mengucapkan mantra hendaknya diusahakan mengingat-ingat
sebanyak mungkin dari keseluruhan visuali ­ sasi itu. Kita juga harus
berkonsentrasi pads suara dari mantra itu dan berusaha untuk menyadari daya
spiritual yang te r ­ kandung di dalamnya. Pengucapan mantra yang diikuti dengan
pelaksanaan meditasi tanpa bentuk ini memerlukan waktu yang lebih lama daripada
meditasinya itu sendiri.

Setelah pengulangan-pengulangan mantra, selesaikanlah
bacaan dan meditasinya sesuai dengan teks.

Hendaknya diingat bahwa nomor-nomor dalam tanda kurung itu
adalah tambahan dari penerjemah demi memudah ­ kan pembaca untuk menandai setiap
bagian dari meditasi ini. Nomor-nomor tersebut sesuai dengan penjelasan
detailnya dari setiap bagian yang akan diungkapkan dalam Bab 3.






Admin
Admin

Jumlah posting : 278
Join date : 02.04.08

Lihat profil user http://agama.forumakers.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Teknik Pengembangan Kesadaran Sempurna

Post by Admin on Sun Jan 10, 2010 1:08 pm

Teknik pengembangan kesadaran sempurna


Meditasi bagi Semua Makhluk di Alam Semesta yang diturunkan
langsung kepada Tangtong Gyalbo adalah sebagai berikut


Pertama-tama, mohon perlindungan :

(1)

Aku berlindung

dalam Buddha, Dharma, dan Sangha sampai aku memperoleh
penerangan.

Semoga semua perbuatan balk yang kulakukan, seperti cinta kasih,
dan lain-lainnya,

membawaku mencapai kebuddhaan, guns menolong semua makhluk.



(2)

Aku dan semua makhluk-makhluk di jagad raya teratai putih dan
bulan di ujung kepala. "HRIH" di atasnya, Bari sans menjelma Yang Mulia Arya
Avalokiteshvara,

putih, kemilau, memancar cahaya panca warna. Tersenyum memandang
penuh karuna.

Empat tanganNya, merangkap yang dua,

mala kristal dan teratai putih di tangan lainnya. Berjubah
sutera, perhiasanNya tiada tars,

memakai bulu rusa menyilang di dadaNya, mengenakan mahkota
berujung Amitabha, duduk dalam sikap Vajrasana,

bersandar pada bulan purnama.

IA intinya perlindungan semua.



(3)

Bayangkan diri sendiri dan semua makhluk hidup berdoa
bersama serasi selaras dan seirama .


Aku menyembah Yang Arya Avalokiteshvara IA yang tanpa cacat
tanpa cela,

Bermandikan cahaya, putih warnanya, KepalaNya bermahkotakan
Amitabha,

memandang semua makhluk dengan penuh karuna.

Ulangi 3 atau 7 kali, atau sebanyak mungkin.



(4)

Akibat doa yang menyatu ini,

cahaya terang memancar dari tubuh Sang Arya, menghapus semua
pemunculan pikiran buruk dan pandangan yang keliru.

Alam luar menjadi Svarga Sukhavati. Sarinya yang di dalam:
tubuh, ucapan dan pikiran semua insan, menjadi tubuh, ucapan, dan pikiran
Avalokiteshvara. Penglihatan, suara, dan pikiran menjadi sunya bulat menyatu.


Pada waktu melaksanakan meditasi atas Doa di atas ucapkanlah
mantra enam suku kata ( Om Milani Padme Hum)




(5)

Kemudian menjadi lelap dalam alam pribadi masing­ masing,
suatu keadaan yang tidak dapat dilukiskan dan di luar jangkauan dari ketiga
lingkaran (subyek, obyek dan perbuatan).




(6)

Kebangkitan

Rupaku dan jugs yang lain adalah rupa Sang Arya. Suaranya adalah
irama enam suku kata.

Pikirannya adalah pusat kebijakan agung.



(7)

Melalui pahala ini semoga aku cepat menjadi Avalokiteshvara, dan
kemudian menolong semua makhluk tanpa kecuali untuk mencapai ke tingkat itu.


Berdoa semoga pahala yang kita peroleh dipancarkan kepada
semua makhluk.

Admin
Admin

Jumlah posting : 278
Join date : 02.04.08

Lihat profil user http://agama.forumakers.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Teknik Pengembangan Kesadaran Sempurna

Post by Admin on Sun Jan 10, 2010 1:10 pm

Teknik pengembangan kesadaran sempurna


Keterangan di dalam bab ini berdasar pads tafsir tradisional
Tibet tentang Meditasi bagi Semua Makluk di Alain Semesta dan atas
petunjuk-petunjuk lisan yang diberikan oleh sejumlah guru kepada
penerjemah (Janet Gyatso).

1. Mohon Perlindungan.

Bagian meditasi ini sebenarnya mengetengahkan dua motivasi yang
sangat penting untuk berlatih meditasi Buddhis, yaitu Permohonan Perlindungan
dan diiringi dengan Kebang ­ kitan Kesadaran Bodhisattva. Kedua konsep ini
selalu dike ­ mukakan lebih dulu sebelum memulai setiap latihan. Dan se ­
sungguhnyalah bahwa hal ini sama sekali tidak boleh diabai ­ kan demi kemajuan
kita di dalam mengikuti ajaran agama Buddha.

Permohonan Perlindungan (ketiga baris pertama dari teks
meditasi) adalah pernyataan resmi bahwa tujuan per ­ lindungan terakhir atau
pujaan tertinggi kita adalah Buddha, Dharma, clan Sangha. Dengan kata lain, kita
berpendirian untuk berpegang pads Buddha, Dharma, dan Sangha sebagai kerangka
tujuan kita yang tertinggi sampai kita mencapai kebuddhaan. Pada waktu mohon
perlindungan, kita teringat bahwa Sang Buddha adalah seorang yang telah mencapai
penerangan sempurna, sehingga menjadi inspirasi tertinggi bagi semua umat
Buddha. Adapun Dharma adalah ajaran, filosofi, d an metode terdalam yang
dibabarkan oleh Sang Buddha, dan disajikan dalam kitab-kitab suci agama Buddha.
Sangha adalah Pesamuan Agung para Suci yang berikhtiar mengembangkan batin
mereka untuk mencapai tingkat kebuddhaan. Oleh karena itu Buddha, Dharma, dan
Sangha dipuja oleh umat Buddha dan layak memperoleh penghormatan dan pemujaan
yang tertinggi.

Pada saat mengulang kata-kata dari "Permohonan Per ­ lindungan",
visualisasikan bahwa diri kita dikelilingi oleh ibu, ayah, teman, musuh, bahkan
sesungguhnya semua makhluk hidup, semuanya duduk bersama dan sedang bersama-sama
pula memohon perlindungan. Di angkasa di hadapan kita semua, terlihat Sang
Buddha dan semua B odhisattva, kemudi ­ an kitab-kitab suci yang menggambarkan
Dharma, clan anggota Sangha. Kehadiran yang divisualisasikan dari makhluk-makh ­
luk ini memperkuat ikatan kita pada Permohonan Perlindung ­ an itu.

Bagi yang baru pertama kali melaksanakan Permohonan
Perlindungan, maka biasanya dihadiri oleh guru spiritualnya yang
menandai masuknya seseorang ke dalam agama Buddha. Oleh karena itu, pernyataan
mohon perlindungan itu kerap kali diulang-ulang sebelum mulai bermeditasi, ini
akan meng ­ ingatkan maksud utama clan ideal tertinggi seseorang di dalam
melaksanakan meditasi.

Kebangkitan kesadaran Bodhisattva (tiga baris kedua dari bagian
ke-1) adalah suatu akibat yang pasti dari Per ­ mohonan Perlindungan, dan boleh
jadi ini merupakan konsep terpenting dari agama Buddha. Ini adalah suatu
pernyataan

bahwa semua usaha yang kita lakukan untuk memperoleh penerangan
itu adalah untuk dipersembahkan bagi kebahagiaan orang lain. Usaha ini termasuk
semua aspek dari ajaran agama Buddha seperti murah hati, menolong orang lain,
membaca kitab suci, mengembangkan konsentrasi dan pandangan terang, dan
sebagainya. Deegan lebih dulu mengemukakan tekad bahwa semua usaha untuk
mencapai kebuddhaan itu adalah demi semua makhluk hidup, maka hal ini akan
membentuk su ­suatu tekad yang kuat yang mampu menembus dan mengubah segala
sesuatu yang akan dihadapi selanjutnya. Tekad untuk membangkitkan kesadaran
Bodhisattva ini menghindarkan kita dari kesalahan yang fatal, yaitu menggunakan
meditasi ini untuk kepentingan diri sendiri.

Jadi, sebelum mulai dengan latihan yang sebenarnya, hendaknya
kita menengok dulu sekejap kepada makhluk yang tidak terbilang banyaknya yang
berada di alam Samsara (di dunia ini ) , dengan bermacam-macam penderitaan yang
harus mereka tanggung. Menurut ajaran agama Buddha, makhluk hidup itu dibagi
dalam enam golongan: dewa di sorga, raksasa yang selalu berkelahi, manusia,
Binatang, setan kelaparan, dan makhluk penghuni neraka. Dipercaya pula adanya
enam alam kehidupan yang sesuai dengan keenam golongan makhluk tadi. Tetapi
dipandang dari segi lain, sebenarnya di dalam diri manusiapun terdapat
sifat-sifat dari keenam jenis makhluk itu.

Dewa-dewa di sorga itu sebenarnya berada di alam sorga yang
bersifat jasmaniah (materialistic) namun pengembangan spiritualnya kecil sekali.
Mereka akan mengalami goncangan dan penderitaan yang besar apabila hidupnya
berakhir serta melihat kenyataan bahwa dirinya berada dalam bahaya. Raksasa
selalu terlibat dalam persaingan dan Baling menyerang karena iri hati. M er eka
jugs tidak mempunyai kesempatan untuk memikirkan hal-hal spiritual. Binatang,
pada umumnya sangat dungu dan tidak memiliki kecerdasan yang nyata. Mereka
selalu terlibat perkelahian demi mempertahankan hidupnya, dan kerap kali
diperbudak. Setae kelaparan men ­ derita oleh adanya dorongan keinginan yang
besar namun tidak pernah dapat dipuaskan. Akibat kekikiran diri, mereka selalu
rnencari-cari makanan dan perbekalan, tetapi yang mampu mereka peroleh hanyalah
sekeping makanan dan pakai ­ an rusak, itupun jarang-jarang sekali. Makhluk
penghuni neraka mutlak berada dalam kungkungan kebencian dan keangkara ­
murkaannya sendiri, sehingga mereka mengalami penyiksaan dan penderitaan yang
luar biasa beratnya. Boleh jadi pads diri manusiapun memiliki semua jenis dari
problem tadi pads ukuran tertentu. Hanya Baja rupa-rupanya manusia memiliki
jumlah dan campuran yang tepat antara penderitaan dan ke ­ cerdasan, sehingga
kadang-kadang mampu menembus ke ­ bodohan dan dapat mengembangkan beberapa
kebajikan.

Oleh karena itu manusia diperkirakan sebagai satu-satunya
kehidupan dimana dimungkinkan pengembangan ajaran agama Buddha. Mengingat bahwa
jumlah manusia begitu kecil bila di ­ bandingkan dengan makhluk lainnya, maka
sesungguhnya menjadi manusia adalah suatu berkah yang luar biasa besarnya dan
merupakan hal yang langka. Namun demikian berbagai problem terbesar justru
melanda umat manusia, umpamanya sakit, ketidaktahuan, kekecewaan, dan kematian


Sekalipun mungkin kita telah menyadari secara luas tentang
adanya berbagai penderitaan, pengalaman membukti ­ kan bahwa biasanya kita gaga)
mengatasi pads benturannya yang penuh di dalam kehidupan kita. Tetapi refleksi
dari luasn y a penderitaan itu akan menumbuhkan rasa welas asih clan hasrat
untuk meringankan penderitaan semua makhluk hidup. Hendaknya disadari akan
pentingnya pengembangan kebijak ­ an yang sangat dibutuhkan untuk mampu secara
efektif me ­ nolong semua makhluk hidup demi menciptakan suatu perubahan yang
nyata pads kesadaran dan keadaan hidup makhluk itu semua. Dengan mengakui
pentingnya kebijakan yang sempurna beserta welas asih, maka hal ini akan men ­
dorong juga menguatkan hasrat untuk bermeditasi, serta me ­ manfaatkan suatu
kesempatan yang sangat berharga sebagai manusia yang sehat clan berakal untuk
melaksanakan Dharma.

2. Tahap Produksi .

Sekarang kita sampai pads tahap meditasi yang sebenar-nya.
Bagian ini dikenal sebagai tahap produksi, karena meng­ maikan timbulnya patung
Avalokiteshvara yang divisualisasi ­ kan iitu setahap demi setahap.

marilah kita mulai kembali memvisualisasikan semua makhluk hidup
di alam semesta yang tiada terbilang banyak - nya itu. Makhluk ini meliputi
seantero jagad rays. Bayangkan l ah mereka berada di suatu lapangan yang sangat
luas, dan Malang melaksanakan juga meditasi bersama dengan kita.

Bayangkanlah bahwa di paling ujung dari kepala kita clan kep ala
semua makhluk hidup itu muncul setangkai bunga nya seolah benar-benar berada di
dalam kepala kita, kemudian bunga teratai itu muncul dari dalam spa yang disebut
"lubang

Brahma", yaitu ubun-ubun. Sebuah bulan berbentuk piring ­ an
menempel seimbang di ujung kelopak bunga, bentuknya mirip dengan bantalan
meditasi tetapi sangat rata.

Hrih, sukukata dari welas asih, dalam huruf Tibet .

Dari ujung piringan bulan itu secara tiba-tiba muncul satu suku
kata "HRIH". "Hrih" ini dilafalkan sesuai bunyi ejaannya, huruf "h" di belakang
menandakan hembusan nafas yang pendek pads akhir suku kata itu. "Hrih" ini
dianggap sebagai perwujudan dari intinya welas asih clan kebijakan semua Buddha.
"Hrih" ini boleh divisualisasikan dalam bahasa apapun, dalam bahasa Sansekerta ,
Tibet ataupun Latin. "Hrih" ini dibayangkan setinggi beberapa inci, berdiri di
atas piring ­ an bulan clan menghadap ke depan. Warnanya putih dan sangat
terang, hampir mengalahkan terangnya petir. Dipenuhi daya kekuatan dari sarinya
welas asih yang sangat kuat itu. Sinar ­ Nya menerangi seluruh alam semesta.






Seorang pemeditasi melakukan visualisasi
Avalokiteshvara


menurut Meditasi bagi Semua Makhluk di
Alam Semesta




Kemudian "Hrih" itu secara otomatis berubah menjadi wujud dari
Bodhisattva Arya Avalokiteshvara (Arya = yang patut dihormati).

Avalokiteshvara berkulit putih bening bagai warna bulan di musim
Gugur. TubuhNya memancarkan cahaya yang mengurai menjadi warna bianglala: putih,
biru, kuning,merah, d an hijau. Kelima warna ini melambangkan elemen-elemen
dasar dari dunia ini. Berkas sinarNya menerangi seantero jagad. Bodhisattva ini
tersenyum kecil sambil mengamati seluruh jagad raya dengan penuh welas asih.
Beliau memiliki empat buah tangan, dimana yang dua dalam sikap berdoa
(namas­ kara) di dadaNya. Mudra ini mencerminkan penghormatan
etas
aktivitas yang tanpa betas dari Sang Buddha. Adapun kedua tanganNya yang lain,
yang kanan memegang setangkai bungs teratai yang indah (merupakan lambang dari
seorang Bodhisattva), yang kiri memegang male kristal (sebagai lambang welas
asih yang terus menerus tiada terputuskan).

Avalokiteshvara memakai jubah tradisional terbuat dari sutera,
dan mengenakan perhiasan seorang Bodhisattva, ter ­ masuk sjaal, rok, dan ga un
luar dari sutera terbaik dibordir emas. Memakai anting permata, kalung, gelang,
ikat pinggang clan gelang kaki. Selembar kulit rusa diselendangkan di pundak
kiriNya sebagai lambang welas asihNya yang besar pada semua makhluk hidup.
RambutNya diikat dengan pita berbentuk bulat dengan sisa ikalanNya dibiarkan
terurai. Beliau memakai mahkota bertabur permata, di bagian depannya terdapat
Buddha Amitabha dalam ukuran kecil, sebagai penghormatan pads Sang Buddha yang
penting itu.

Avalokiteshvara duduk dengan sikap meditasi dalam posisi
Vajrasana, yaitu kedua kaki dilipat, kaki kanan di atas kaki kiri,
telapak kaki ditumpangkan di atas paha kaki yang berlawanan. PunggungNya
bersandar pads piringan bulan yang lain lagi yang jugs berwarna putih dalam
posisi berdiri tegak tepat di belakang Sang Bodhisattva. Bulan ini menandakan
pancaran sejuk dari welas asih yang mengatasi pedihnya derita akibat
keterikatan.

Penjelasan terakhir dari bagian ini memberikan petunjuk pada
pemeditasi untuk menyadari bahwa Avalokiteshvara yang ada di atas kepalanya itu
bukanlah sekadar sebuah patung yang divisualisasikan, tetapi benar-benar
Avalokiteshvara itu sendiri. Kita harus membayangkan bahwa Bodhisattva ini
memiliki sarinya clan kebijakan semua Buddha, yang menjadi obyek mulia dari
semua permohonan perlindungan. Oengan demikian gambaran yang divisualisasikan
itu menjadi prinsip tertinggi ajaran agama Buddha. Gambaran Avalokiteshvara yang
divisualisasikan itu memiliki kekuatan yang tanpa batas, clan mampu mengadakan
komunikasi langsung dengan para pemeditasi.

3. Doa pada Avalokiteshvara.

Baris-baris yang terdapat pads bagian ini adalah sebuah doa
tradisional yang berisi pemujaan pads Avalokiteshvara dan ringkasan tentang
ciri-ciri penting dari Sang Bodhisattva.

Sambil mengingat-ingat seluruh visualisasi terdahulu,
ulang-ulanglah doa ini sebanyak mungkin. Kalimat yang ter ­ dapat pads doa itu
mengungkapkan dasar pemujaan dan peng ­ agungan bagi keadaan batin yang dalam
clan mulia dari Sang Bodhisattva. Ini adalah kebalikan dari keadaan pikiran diri
pribadi kita dan semua makhluk di alam Samsara ini yang penuh keraguan dan hawa
nafsu. Oleh karena itu kita dengan sungguh-sungguh memohon kepada Sang
Bodhisattva untuk melimpahkan berkah clan kekuatan.



4. Transformasi dan Pengucapan Mantra

Permohonan clan pengharapan yang sungguh-sungguh seperti
tersebut di atas tali menunjukkan bahwa pemeditasi menerima dan sanggup
melaksanakan welas asih. Hal ini me ­ nyebabkan Sang Bodhisattva tergerak
hatiNya untuk me ­ nolong semua makhluk di alam Samsara ini. Cahaya mulai
memancar dari tuhuhN I ya clan menerangi seluruh alam Samsara. Cahaya
ini memiliki kekuatan untuk menghapuskan semua penderitaan ilusif, problem, dan
keraguan di duniaini, suatu keadaan yang diakibatkan oleh ketidaktahuan clan
kegelapan batin. Pemeditasi membayangkan bahwa seantero alam luar (dunia
jasmaniah) tersentuh cahaya ini. Setiap obyek dengan seketika berubah ke dalam
aspeknya yang paling berarti dan paling indah, yaitu menjadi penghias Svarga
Sukha ­ vati (Alain Kebahagiaan dimana Amitabha, Avalokiteshvara, clan para
makhluk suci lainnya berada). Sebagai contoh, ruang tempat kita bermeditasi
berubah menjadi istana kristal, suatu lingkungan yang sesuai bagi para makhluk
yang telah men ­ capai penerangan. Sementara itu semua makhluk di dunia ini
(alam dalam) diubah oleh cahaya itu, dan aspeknya yang paling sempurna
berkembang penuh. Tubuh mereka menjadi sama seperti tubuh Avalokiteshvara.
Apapun yang mereka ucapkan terdengar bagaikan suara mantra enam suku
kata Bari Avalokiteshvara itu. Dan apa yang mereka pikir adalah semata-mata
pementasan Bari kesadaran sempurna itu sendiri secara spontan. Perubahan ini
sudah barang tentu termasuk diri sendiri, yaitu yang melakukan meditasi.

Dengan kata lain, semua fenomena di jagad raga ini her­ ubah
seperti apa yang seharusnya terjadi apabila seantero jagad raga telah memperoleh
penerangan. Cahaya Bari Bodhisattva itu membersihkan pikiran kita sedemikian
rupa, sehingga

semua pertentangan keduniawian terselesaikan, dan semua
pandangan, suara, Berta pikiran terlihat tanpa perbedaan dan tidak dapat
dipisahkan Bari kekosongan itu sendiri.

Dalam keadaan kesadaran yang telah bersih inilah kita sekarang
mengucapkan mantra. Mantra ini hendaknya dibaca berulang-ulang sebanyak
mungkin, tetapi paling sedikit 100 kali. Selama waktu membaca mantra
itu, pertahankan seluruh visualisasi yang sejauh ini telah diuraikan.

Sedang tentang halnya mantra itu sendiri, Om Mani Padme
Hum, dipercaya sebagai berisi pemusatan Bari semua Jaya kekuatan Bari welas asih
dan aktivitas Avalokiteshvara. Dengan sebenarnya dikatakan bahwa suku kata "
OM "
berisi bentuk dan kebijakan kelima golongan Buddha. "MANI"
ber­ arti Permata, dan "PADMA" berarti bunga teratai. Dan apabila
digabungkan berarti "la yang memegang Permata dan teratai" yang merupakan
sebutan lain bagi Avalokiteshvara. "HUM" mempunyai fungsi dan kewajiban
untuk melindungi semua makhluk di enam alam Samsara. Jadi arti mantra
yang diberi­ kan secara tradisional itu adalah: "Oh Master Bari kelima
tubuh dan kebijakan Buddha, Pemegang Permata dan Padma, lindungilah keenam jenis
makhluk Bari penderitaan." (Perlu diingat bahwa penafsiran arti "Om Mani Padme
Hum" sebagai "Hiduplah Sang Permata Dalam Teratai!" adalah sama sekali keliru.)


Mantra enam suku kata ini juga dipercaya mempunyai
kaftan dengan keenam alam Samsara, enam warna, enam nafsu, enam kebijakan, dan
enam Buddha. Serta masih banyak lagi penafsiran yang mungkin untuk mengartikan
mantra tersebut.

Tetapi hal itu tidak penting untuk diperhatikan pads saat kita
sedang membaca mantra. Dengan membaca mantra di­ mana
konsentrasi terpusat hanya pads suara enam suku kata itu Baja, maka akan
timbullah kekuatan yang menyatu bulat, hal inilah yang justru akan secara pasti
memindahkan kebijak­ an dan welas asih Bari Avalokiteshvara kepada pemeditasi,
yang berarti juga kepada semua makhluk hidup.



Catatan tentang lafal :

"Om Mani Padme Hum" dibaca sesuai dengan ejaannya dalam bahasa
Indonesia . Kecuali untuk kata "Hum", yang dilafalkan hampir mendekati bunyi
kata "Hung". Dalam bahasa Tibet, kata "Padme" diucapkan sebagai "Pemei", dimana
suku kata pertama dilafalkan sebagai "pe" pads kata "peti" dalam bahasa
Indonesia



Tahap Penyempurnaan.

dengan selesainya periode pembacaan mantra ini, maka
seluruh visualisasi larut ke dalam keadaan kosong. Kemudian pemeditasi
dianjurkan untuk menyadari alam yang benar dari kenyataan ini, sesuai dengan
prinsip-prinsip filosofi Buddhis yang tertinggi. Bagian dari meditasi ini, yaitu
hasil dari visuali ­sasi yang telah dikerjakan sejauh ini sebenarnya tidak ada
perb edaannya dengan kebanyakan meditasi Buddhis yang lain, seperti misalnya Zen
atau Vipashyana.

Penjelasannya adalah sebagai berikut: Karena kita telah
memperoleh kebijakan sempurna dari Avalokiteshvara, maka kita menyadari
relativitas semua benda-benda di jagad raya ini, ter ­ masuk halnya visualisasi
itu sendiri. Kemudian hendaknya batin kita terserap ke dalam kewajarannya
sendiri, yang me ­ rupakan intinya penerangan sempurna. Semua susunan mental
yang saling bertentangan itu tertembusi. Baik si pelaku (agent) yang melakukan
perbuatan, baik obyek perbuatan itu, maupun perbuatannya itu sendiri, semuanya
tidak berarti apa-apa. tiada sesuatupun yang patut dilekati, ticlak pula pads
keadaan yang menyenangkan dari kejernihan itu sendiri. Sebaliknya, b iarkanlah
diri kita berada dalam alamnya sendiri yang me rupakan kenyataan yang paling
mendasar. hendaknya kita tetap bertahan pads keadaan tanpa ego ini selama
mungkin, karena ini adalah bagian yang terpenting dari meditasi.

Bangkit keluar dari Meditasi.

Keluar dari keadaan penyerapan ini, kita melihat dan merasakan
segala sesuatu sebagai bagian dari Mandala (alam yang dialami)
Avalokiteshvara. Kita memandang semua makhluk dan bentuk sebagai
Avalokiteshvara, semua suara bagaikan bunyinya mantra enam suku kata
itu, dan semua pikiran menjadi bagian dari welas asih dan kebijakan Avaloki ­
teshvara. Diilhami oleh pengalaman dari meditasi itu, kita me ­ mandang
kenyataan dengan cara baru yang mendalam dan mulia, dimana segala sesuatu
terlihat dalam aspeknya yang paling sempurna.

Jadi hendaknya kita memadukan kenyataan-kenyataan yang kita
peroleh selama bermeditasi ke dalam kehidupan kita sehari-hari sebanyak mungkin.
Ini berarti bahwa kita menghindarkan diri dari pemikiran yang saling
bertentangan d an dari kemelekatan pada obyek yang bersifat jasmaniah. Sebagai
gantinya, kita hendaknya justru mengembangkan welas asih, keramah-tamahan, dan
sifat gemar menolong pada semua makhluk hidup dan tidak pernah lupa akan sifat
ilusif dari semua fenomena.

Membagikan Berkah yang diperoleh.

Sudah menjadi tradisi dari semua latihan meditasi Buddhis, bahwa
waktu meditasi itu ditutup dengan pernyataan untuk membagi-bagikan setiap pahala
apapun yang kita per ­ oleh sebagai hasil dari latihan meditasi itu kepada semua
makhluk hidup. Seperti halnya pada permulaan meditasi, maka kita kembali pada
tujuan meditasi Buddhis yang adalah bagi kebahagiaan semua makhluk, dan bukan
untuk kepentingan diri sendiri saja. Kita bersumpah untuk sungguh-sungguh men ­
jadi seorang Bodhisattva seperti Avalokiteshvara agar dapat menolong semua
makhluk hidup untuk juga mampu men capai keadaan batin yang terbebas dari
kekotoran.

Sebagai catatan akhir, kiranya cukup relevan untuk di ­ utarakan
beberapa pokok tentang pelaksanaan dari welas asih dalam kehidupan sehari-hari.
Segera terlihat jelas bagi pe m editasi bahwa untuk mengerti tentang cara hidup
yang paling tepat dan paling kena agar dapat menolong semua makhluk hidup itu
adalah sama sekali bukan hal yang mudah. Gerak Bodhisattva selalu ditujukan
kepada pencapaian penerangan tertinggi bagi semua makhluk hidup. Namun untuk
mampu mengerti tentang cara yang terbaik yang menuju ke arah sasar ­ an yang
mulia itu kerap kali banyak dibutuhkan kebijaksanaan d an kecakapan. Dalam hal
inilah Bering terjadi para pemula membuat kesalahan, seperti misalnya kita
suclah pasti tidak ingin "membantu" pencuri untuk melakukan kejahatan. Secara
umum dapat disarankan agar jangan hendaknya welas asih itu justru menambah
dorongan egoisme pads diri orang lain, atau justru mendorong mereka untuk
menjadi semakin kacau dalam gejolak emosi.

Oleh karena itu sangat penting bagi para pemula untuk memusatkan
perhatiannya terutama pada sikap batin dan untuk berlatih meditasi secara
teratur. Janganlah kita mem ­ buat rencana yang terlampau muluk-muluk, atau
berkhayal dengan merasa diri sendiri sebagai juru selamat yang agung bagi semua
makhluk hidup. Sekalipun memang benar bahwa hasrat hati sungguh-sungguh untuk
mencapai cita-cita yang dalam itu, namun sebaiknya perubahan tingkah laku kita
jangan ter ­ lampau menyolok dulu. Kita dapat secara sederhana mencoba untuk
bersikap secara umum lebih ramah. Dan jangan lupa untuk juga bersikap ramah
kepada binatang, hindarilah pem ­ bunuhan, sekalipun hanya atas kutu-kutu busuk.
Dengan makin mampunya kita mengendalikan emosi clan problem sedikit demi
sedikit, serta sedikit sekali kemelekatan pada ego, maka keadaan serta kebutuhan
orang lain maupun makhluk lain akan tertampak lebih jelas pads kita.—

MANTRA SERATUS SUKU KATA DARI VAJRASATTVA


OM AVALOKITESVARA SAMAYA (1), MANUPALAYA (2), AVALOKITESVARA
TVENOPATISTA (3), DRITHO ME BHAVA (4), SUTOSYA ME BHAVA (5), SUPOSYA ME BHAVA
(6), ANURAKTO ME BHAVA (7), SARVASIDDHI ME PRAYACCHI (8, SARVA KARMA SUCA ME
(9), CITTAM SREYAH KURU HUM (10), HA HA HA HA HO (11) BHAGAVAN AVALOKITESVARA MA
ME MUNCA (12) AVALOKITESVARA BHAVA (13), MAHA SAMAYA ­ SATVA (14), AH HUM PHAT
(15).

Admin
Admin

Jumlah posting : 278
Join date : 02.04.08

Lihat profil user http://agama.forumakers.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Teknik Pengembangan Kesadaran Sempurna

Post by Sponsored content Today at 7:18 am


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik