Mahayana Bodhisattvayana

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Mahayana Bodhisattvayana

Post by skipper on Sun Jan 03, 2010 2:45 am


Mahayana Bodhisattvayana


Mahayana adalah Kendaraan Agung untuk Bodhisattva Mahasattva yang diajarkan oleh Semua Tathagata dan diucapkan langsung oleh semua Tathagata yang jumlahnya seperti butiran pasir di sungai gangga.

Bodhisattva adalah Mahluk yang bercita-cita dan melaksanakan Dharma Niyoga Tertinggi untuk mencapai Anuttara SamyakSamBuddha dengan mengendarai Mahayana.

Dalam Sutanta Pitake, Samyutta Nikaya Atthakatha i. 47, Bodhisattva digolongkan dalam tiga kelompok, yaitu:
[1]Prajnadhika Bodhisattva yakni Bodhisattva yang memiliki dan mengandalkan Prajna (Kebijaksanaan) yang kuat. Untuk berhasil mencapai Anuttara SamyakSamBuddha, Pannadhika Bodhisattva harus melaksanakan dan menyempurnakan Paramita sekurang-kurangnya selama Empat Asamkhyeya dan seratus ribu Kalpa.

[2]Sraddhadhika Bodhisattva yakni Bodhisattva yang memiliki dan mengandalkan Sraddha (Keyakinan) yang kuat. Untuk berhasil mencapai Anuttara SamyakSamBuddha, Sraddhadhika Bodhisattva harus melaksanakan dan menyempurnakan Paramita sekurang-kurangnya selama Delapan Asamkhyeya dan seratus ribu Kalpa.

[3]Viriyadhika Bodhisattva yakni Bodhisattva yang memiliki dan mengandalkan Viriya (Semangat) yang kuat. Untuk berhasil mencapai Anuttara SamyakSamBuddha, Viriyadhika Bodhisattva harus melaksanakan dan menyempurnakan Paramita sekurang-kurangnya selama Enam Belas Asamkhyeya dan seratus ribu Kalpa.

Saat pertama sekali mengendarai Mahayana, Bodhisattva mengawali perjuangannya menuju ke Nirvana sejati dengan membuat Pernyataan Abhiniharakarana atau Mulapanidhana didepan Seorang SamyakSamBuddha demi kesejahteraan dan kebebasan semua mahluk pada masa yang akan datang. Abhiniharakarana didahului oleh suatu masa ketika Bodhisattva melaksanakan manopanidhi (Pernyataan tekad keinginan untuk mencapai Anuttara SamyakSamBuddha tanpa menyatakannya kepada orang lain).

Seorang yang ingin mengendarai Mahayana menjadi Bodhisattva harus memenuhi delapan syarat sebelum melakukan Pernyataan Abhiniharakarana. Apakah delapan syarat itu? Dalam Buddhavamsa Atthakatha ii, 59 dan 75, demikianlah delapan syarat tersebut;
[1] Dia adalah seorang manusia,
[2] Dia adalah laki-laki,
[3] mempunyai kemampuan untuk menjadi Arhantah pada kehidupan itu juga,
[4] sebagai Pertapa pada waktu melakukan Pernyataan Abhiniharakarana,
[5] Dia harus menyatakan Pernyataan Abhiniharakarana nya didepan SamyakSamBuddha,
[6] Dia harus mencapai tingkat-tingkat Jhana,
[7] Dia bersedia mengorbankan segala sesuatu termasuk dirinya sendiri,
[8] Pernyataan Abhiniharakarana nya adalah Teguh dan Tidak Tergoyahkan.

Bodhisattva berjuang untuk mencapai Anuttara SamyakSamBuddha dengan cara menyempurnakan Sad Paramita dan Dasa Paramita. Sekarang, apakah Sad Paramita dan Dasa Paramita itu?

Demikianlah Sad Paramita, Enam Pelaksanaan Mulia yang terdiri dari:
[1] Dana (Memberikan suatu persembahan)
[2] Sila (aturan moralitas)
[3] Kshanti (Kesabaran)
[4] Viriya (Semangat)
[5] Dhyana (Samadhi)
[6] Prajna (Kebijaksanaan)

Dasa Paramita, merupakan Sepuluh Pelaksanaan Mulia yang terdiri dari:
[1] Dana (Beramal, bermurah hati dengan menderma)
[2] Sila (Hidup dalam sila, bermoral baik)
[3] Nekkhama (menghindari diri dari nafsu indriya)
[4] Prajna (Kebijaksanaan, mengetahui sebab dan akibat, memahami keadaan dari sesuatu berdasarkan kebenaran)
[5] Viriya (Berusaha dengan sekuat tenaga, tidak takut terhadap rintangan)
[6] Kshanti (Kesadaran dengan sabar menghadapi segala sesuatu, mampu mengendalikan pikiran sehingga dia kelak terbebas dari kekotoran batin)
[7] Sacca (Kebenaran, yakni benar dalam perbuatan, perkataan dan pikiran)
[8] Adhitthana (Tekad yang mantap, memutuskan segala sesuatu dengan tepat sempurna, dan berbuat sesuai pada waktunya)
[9] Metta (Cinta kasih tanpa keinginan memiliki, cinta kasih yang ditujukan terhadap semua mahluk di 31 alam kehidupan tanpa membedakan bangsa, ras, agama, dan segala perbedaan, merupakan cinta kasih yang sempurna)
[10] Upekkha (Batin yang tidak tergoyahkan, merupakan batin yang terarah pada Kebenaran Hukum Kesunyataan (Dharma))

Selama kalpa-kalpa yang tak terhingga, Sakyamuni Tathagata, sewaktu masih sebagai seorang Bodhisattva Mahasattva mengendarai Mahayana berjuang untuk mencapai Anuttara SamyakSamBuddha telah melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat sulit dikerjakan. Perjuangan Sang Bodhisattva tergambar jelas di Kisah-Kisah Jataka dan Dhamma-Dhamma Bodhisattva.

Untuk mencapai Bodhi, Bodhisattva selain melaksanakan dan menyempurnakan Paramita juga melaksanakan 37 faktor, Yang Merupakan Keseluruhan Ajaran Sang Buddha, Yang disebut dengan Bodhipakkhiyadhamma.

Sekarang, apakah 37 faktor, Yang Merupakan Keseluruhan Ajaran Sang Buddha, Yang disebut dengan Bodhipakkhiyadhamma itu? Itu adalah demikian:
[1] Empat Dasar Perhatian Benar (Satipatthana)
[2] Empat Usaha Benar (Sammapadhana)
[3] Empat Jalan Penguasaan atau Keberhasilan (Iddhipada)
[4] Lima indera (Indriya)
[5] Lima kekuatan mental (Bala)
[6] Tujuh faktor Penerangan Agung (Bojjhanga)
[7] Delapan Faktor Jalan Utama (Asta Ariya Atthangika Maggha)

"Adapun Tujuh faktor Penerangan Agung (Bojjhanga) adalah:
[1] Perhatian (sati)
[2] Menyelidiki Dhamma (Dhammavicaya)
[3] Bersemangat (Viriya)
[4] Kegiuran dalam meditasi (Piti)
[5] Ketenangan (Passaddhi)
[6] Meditasi (Samadhi)
[7] Keseimbangan bathin (Upekkha)

Bilamana ketujuh syarat yang menuju kesejahteraan itu dapat dipahami, dihayati dan diamalkan oleh Para Bhikkhu, maka perkembangan dan kemajuan Mereka yang Kita harapkan, bukan Kemundurannya."

Delapan Kebebasan (VIMOKHA)


"Ananda, ada Delapan Kebebasan. Apakah ke delapan itu?

Dari kita ini mempunyai bentuk-bentuk dan orang yang menyadari bentuk-bentuk tersebut, ia telah mencapai Kebebasan yang pertama.

Dengan tak memperhatikan bentuk-bentuk pada dirinya sendiri, dan orang yang dapat menyerap bentuk di luar dirinya, ia telah mencapai Kebebasan yang kedua.

Diwaktu seorang melihat keindahan, ia menyadari keindahan itu, ia telah mencapai Kebebasan yang ketiga.

Dengan mengatasi semua penyerapan dari materi dengan lenyapnya semua penyerapan dari reaksi terhadap perasaan, dan dengan tidak memperhatikan segala macam penyerapan-penyerapan lainnya, orang lalu menjadi sadar dan mencapai kebebasan serta berdiam di dalam keadaan ruang yang tak terbatas, berarti ia telah mencapai Kebebasan yang keempat.

Dengan mengatasi seluruh keadaan dari ruang yang tak tak terbatas, orang menjadi sadar dan mencapai kebebasan, serta berdiam di dalam keadaan kesadaran tak terbatas, berarti ia telah mencapai Kebebasan yang kelima.

Dengan mengetahui seluruh keadaan dari kesadaran tak terbatas, orang menjadi sadar dan mencapai kebebasan serta berdiam di dalam keadaan kekosongan. Ini berarti ia telah mencapai Kebebasan yang keenam.

Dengan mengatasi seluruh keadaan dari kekosongan, orang menjadi sadar dan mencapai kebebasan serta berdiam di dalam keadaan yang bukan penyerapan pun tidak bukan penyerapan. Ini berarti ia telah mencapai Kebebasan yang ketujuh.

Dengan mengatasi seluruh keadaan yang bukan penyerapan pun juga yang tidak bukan penyerapan, orang mencapai kebebasan dan berdiam di dalam penghentian dari seluruh penyerapan dan perasaan. Ini berarti ia telah mencapai Kebebasan yang kedelapan.

Ananda, inilah Delapan Kebebasan`(VIMOKHA) itu."
(Mahayana Maha Parinibbhana Suttram)

Dalam Mahayana Avatamsaka Suttram, tercatat jelas dalam Bodhisattvayana, ada sepuluh tingkat Para Bodhisattva yang memasuki tingkatan pengetahuan Para Buddha. Dan apakah sepuluh tingkat Para Bodhisattva yang telah, akan, dan sedang dijelaskan oleh Para Buddha lampau, mendatang, dan sekarang? Setelah memasuki Samadhi yang disebut Samadhi Cahaya Mahayana, Sang Vajragarbha Bodhisattva Mahasattva menyatakan, disana ada Tingkat Bodhisattva:
[1] Yang disebut 'Kegembiraan Luar Biasa'
[2] Yang disebut 'Kesucian'
[3] Yang disebut 'Bersinar
[4] Yang disebut 'Berkobar'
[5] Yang disebut 'Sulit Ditaklukkan'
[6] Yang disebut 'Kehadiran'
[7] Yang disebut 'Berjalan Jauh'
[8] Yang disebut 'Tak Tergoyahkan'
[9] Yang disebut 'Batin Baik'
[10] Dan Tingkat Bodhisattva yang disebut 'Mega Dharma'

"Sepuluh Tingkat Para Bodhisattva ini harus dilihat sesuai dengan keserbatahuan dalam segala aspeknya, sebagaimana ia muncul secara bertahap. Ini seperti air mengalir dari danau tanpa panas, melalui aliran empat sungai besar ia mencukupi benua, tak ada habis-habisnya, selalu bertambah, bermanfaat bagi para mahluk yang tak terhingga banyaknya, dan pada akhirnya tumpah kedalam samudera besar pengetahuan serbatahu sempurna: air akar-akar kebaikan itu sejak semula mengarah ke samudera keserbatahuan."

"Lebih lanjut,Para Bodhisattva di tingkat sepuluh, dengan kekuatan sumpah Mereka sendiri, membuat awan-awan belas kasihan muncul, mewujudkan halilintar Dharma Agung, menyalakan kilat Pengetahuan mistik, ilmu pengetahuan, dan keahlian, mencambuk angin besar sinar, menutupi semua dengan awan pekat kebajikan dan pengetahuan, memperlihatkan pusingan pekat beraneka tubuh, mengucapkan proklamasi Dharma Agung, mengatur jalan gerombolan preta dan dalam sekejap, di segenap dunia yang banyaknya sebanyak atom di kuadriliun dunia di sepuluh penjuru yang disebut di depan, dan di segenap lebih banyak lagi dunia, ratusan kuadriliun dunia yang tak terhitung banyaknya, mereka memperlihatkan hujan besar obat tanpa kematian pembawa kebaikan dan menenangkan dan memadamkan semua debu dan api penderitaan mahluk-mahluk yang disebabkan oleh ketidaktahuan. Itu sebabnya tingkat ini disebut Mega Dharma."

Sang Buddha berkata kepada Bodhisattva Bulan Kebajikan dan Para Bodhisattva lainnya, "Orang-orang baik, pencerahan lengkap sempurna ini, dikembangkan selama berkalpa-kalpa tak terhitung banyaknya, Saya pujikan bagi anda, percayakan kepada anda, dengan tuntutan akhir anda akan memelihara Ajaran ini dan juga menguraikannya secara lengkap kepada yang lainnya. Secara singkat, jika Buddha tetap hidup selama satu kalpa membabarkan Kemuliaan Ajaran ini siang dan malam, tak akan pernah Kemuliaan Ajaran ini berakhir ataupun pembabaran Buddha menjadi habis. Seperti halnya perilaku, konsentrasi, kebijaksanaan, kebebasan, pengetahuan , dan pandangan Buddha adalah tak berukuran dan tak berakhir, begitu pula mereka yang mempelajari Ajaran ini, melestarikannya, melafalkannya, menuliskannya, membuatnya ditulis, menguasainya, menjalankannya, dan membabarkannya secara lengkap dalam masyarakat, yang akan menceritakan kepada orang-orang dengan penuh keyakinan dan hormat dengan pertimbangan orang-orang ini juga mungkin memperoleh Ajaran mulia ini, dan merenungkannya secara sehat, yang akan menuliskannya dalam sebuah Kitab dan menjaganya, menghormatinya, merawatnya, dan menghargainya di rumah, yang akan menceritakan Kemuliaan Ajaran ini tanpa kedengkian dan mengatakannya sedemikian sehingga ia dapat ditulis, diceritakan, dilafalkan, dihormati, dan diungkapkan: Kebajikan Mereka tak akan berakhir."
(Maha Vaipulya Avatamsaka Namah Mahayana Suttram (Suttra Kendaraan Agung yang bernama Karangan Bunga))

Dengan menempuh dan menyempurnakan Dharma ini semua, Bodhisattva ini akan bergelar Mahasattva, mencapai Tingkatan Dasa Bhumi sebagai Mega Dharma sampai akhirnya mencapai Anuttara SamyakSamBuddha. Demikianlah Mahayana yang telah ditunjukkan dan telah dibuktikan sendiri oleh Sang Tathagata. Mahayana merupakan Yana Tunggal yang menjadi Alasan Utama kemunculan Para Tathagata, yakni mengajar Para Bodhisattva dan memang demikianlah adanya, sebab kata-kata Tathagata adalah murni dan tiada dusta.


Arya Mahayana :: Index
Om Nisumbha Vajra Hum Phat

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik