TUKANG SEPATU

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

TUKANG SEPATU

Post by Admin on Sat Nov 28, 2009 2:07 pm

TERDAPAT seorang tukang sepatu yang bernama Entong, setiap hari dia menunggu langganannya datang menjahit sepatunya di tepi jalan.

Pada suatu hari, ketika Entong beristirahat makan slang, seberkas sinar berkilauan menarik perhatiannya. Sinar itu berasal dari tumpukan bebatuan yang berada di seberang tepi jalan. Dengan penuh rasa ingin tabu, dia mendekati sumber kilauan cahaya tersebut, ternyata terdapat sekeping emas di antara seta-seta bate bats.

Melihat rezeki di depan mats, Entong mencoba mengoretnya dengan ujung pisau, tetapi kepingan emas itu seakan-akan berakar pada tanah, baga i mana pun Entong mengorek, kep i ngan emas itu tak tergerakkan sedikit pun.

Akhirnya Entong terpaksa mengurungkan niatnya dan kembali ke tempat usahanya. Diam-diam dia berjanji di dalam hati.

""Sun malang nasibku ini, hingga untuk memiliki kepingan emas yang tipis itu pun tidak pantas. Biarlah pada masa yang akan datang, apabila saya menemukan harta tak bertuan lainnya yang bagaimana pun banyaknya, saya tidak akan memungutnya untuk dijadikan milik saya pribadi ......

Waktu berlalu dengan cepat, dua tahun kemudian, ketika melalui suatu tempat yang sunyi, jauh dari keramaian kola, tiba-tiba terlihat oleh Entong setumpuk kepingan emas yang jatuh berserakan di jalan yang jumlahnya cukup banyak, Entong membungkukkan tubuhnya, tangannya ingin mengambil, seketika itu terlintas dalam pikirannya suatu ikrar diri yang

pernah dijanjikannya dua tahun yang lalu: biarlah pada masa yang

akan datang demi kesetiaan dirinya terhadap janji itu, akhirnya Entong
tidak jadi memungut harta tersebut.

Entong kemudian pergi ke sebuah-kuil Bhikkhuni terdekat dan mernberitahukan hat itu kepada pimpinan kuil agar harta tak bertuan itu dapat dipergunakan untuk memugar kuil tersebut yang mem ang sudah tea. Seusai pemugaran, ternyata masih terdapat sisa uang yang tidak sedikit, atas keb]iaksanaan pimpinan kuil, sisa uang tersebut didepositokan pada sebuah Bank atas nama Entong, sungguh pun demikian, Entong masih tetap pada pendiriannya, tidak pernah mempergunakan uang tersebut

Pada hari peresmian kuil, tidak ditemukan Entong di antara hiruk- pi ku knya parapara undangan terhornat, d ia dengan sengaja bersembunyi di rumah familinya. Atas usaha keras para Bhikkuni, berhasil juga diketahui tempat persernbunyiannya. Berulang-kali Entong diminta kehadirannya, tetapi dia tetap tidak bersedia.

Tiba-tiba Entong mendengar alunan suara kecapi yang indah, dia tertarik untuk mengetahui siapa gerangan yang memainkan musik itu, tetapi sesuatu yang tidak dikehendaki semua orang terjadi. Ketika Entong baru saja melangkah keluar dari pintu rumah, terjadi sambaran kilat dan guntur bertautan, seketika itu juga Entong meninggal dunia.

Ternyata menurut karma kehidupan lalunya, Entong seharusnya meninggal terbakar halilintar setelah tersiksa ke g anasan dunia hingga umur lanjut, tetapi etas pahala yang diperoleh dari membangun kuil, dia meninggal lebih dini dari yang sudah ditentukan sebelumnya, yang berarti memperingan pembalasan karma lalunya

Admin
Admin

Jumlah posting : 278
Join date : 02.04.08

Lihat profil user http://agama.forumakers.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: TUKANG SEPATU

Post by octafiani on Sat Mar 05, 2011 10:51 pm

wew

octafiani

Jumlah posting : 5
Join date : 05.03.11

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik