LAKI LAKI YANG BERTOBAT

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

LAKI LAKI YANG BERTOBAT

Post by Admin on Sat Nov 28, 2009 1:46 pm

LAKI LAKI YANG BERTOBAT

Pelatih dan guru silat itu bernama Tan Kin, perawakannya tinggi kekar, 39 tahun yang lalu ia dilahirkan di keresidenan Ji-mau, karena mahir ilmu silat dan kepandaiannya memang cukup kosen, maka ia amat disegani dan ditakuti, merasa dirinya kuat dan pemberani, ia sering berbuat sewenang-wenang, main pukul dan gasak, meski masyarakat luas takut padanya, tapi orang banyak meremehkan dirinya.

Malam itu tanggal 11 bulan 6 tahun Bouw-sut dinasti Ka-Khing, dalam tidurnya yang lelap, Tan Kim bermimpi dirinya berada diluar pintu kota selatan, kebetulan saat itu dirinya sedang lewat di depan sebuah kelenteng beranjak keluar seorang dewi berpakaian hijau pupus, menggapai tangan kearahnya serta mengundangnya masuk kedalam. saat Tan Kim berjalan masuk, dilihatnya dalam ruang pemujaan asap dupa mengepul tinggi, sepanjang serambi berjejer dua baris petugas-petugas yang semuanya bertampang seram mirip setan dengan senjata yang gemerdep tajam, saking kaget dan takut Tan Kim merasakan lututnya goyah, badan pun gemetar mengeluarkan keringat dingin, lekas ia menjatuhkan diri di undakan batu serta berlutut dan menyembah.

Didengarnya Te cong ong Pou sat yang duduk diatas tahta berkata kepadanya: "Tan Kim, ketahuilah bahwa kakek moyangmu adalah orang-orang yang arif bijaksana, demikian pula almarhum ibumu adalah perempuan suci bersih, malah sepanjang tahun dia sujud sembahyang dan memuja Hud-co, banyak berdharma terhadap kaum miskin, kebajikan yang telah dipupuknya tinggi sebetulnya dapat membuatmu menjadi seorang agung yang terhormat, tapi karena watakmu buruk, buas lagi kejam, berapa kali kau berbuat sewenang-wenang, tidak mau bekerja secara halal, sehingga segala pahala dan rejeki yang telah dipupuk kakek moyangmu menjadi impas dan ludes. dalam usiamu yang ke 40, kau akan mulai peroleh ganjaran setimpal dari seluruh perbuatan burukmu selama ini. terutama waktu seorang teman memberimu sejilid kitab suci Giok Lek, bahwa kau sendiri tidak mau percaya, tapi juga tidak kau berikan kepada orang lain, itu berarti kau menghalangi orang lain berbuat bajik terhadap sesamanya, perbuatanmu ini juga merupakan dosa yang tidak terampunkan lagi, maka pada bulan 8 tahun ini kau akan memperoleh hukuman setimpal, sakit berat dan akhirnya mati dengan mengenaskan."

Tan Kim berjingkrak kaget dari mimpinya. Sesaat lamanya ia termangu-mangu serta membayangkan kejadian beberapa tahun lalu, memang dikala ia dalam perjalanan ke Kim ling untuk ikut ujian negara, di tengah jalan ia bersua dengan anaknya Oei Lek ceng dari keresidenan Gi seng, yang menitipkan sejilid kitab Giok Lek untuk disampaikan kepada seorang teman, kebetulan temannya ini tinggal serumah di Kim ling, tapi karena waktu itu ia sibuk mempersiapkan diri mengikuti ujian, ia lupa menyampaikan kitab suci itu kepada pihak yang semestinya menerima buku itu. padahal kejadian ini sudah beberapa tahun berselang, sudah lama ia lupakan. kini meski diingatnya kembali lewat mimpi tadi, tapi ibarat nasi sudah menjadi bubur, apa pula yang dapat dilakukan. apalagi ia pikir kejadian dalam mimpi masa bisa dianggap sungguhan, meski setengah percaya juga setengah bimbang, namun persoalan ini selalu mengganjal dalam sanubarinya, hingga untuk beberapa waktu lamanya, makan tidur menjadi tidak tenang dan was-was.

Tanggal 16 bulan 8, pagi-pagi sekali Tan Kim sudah bangun karena mendadak ia merasakan dadanya terasa perih, kaki tangan menjadi kaku, keringat dinngin juga gemerobyos, mata berkunang-kunang, kepala terasa berat peningnya luar biasa. dalam hati Tan Kim maklum bahwa bencana telah mengancam jiwanya, lekas ia melorot turun dari pembaringan lalu berlutut dilantai, berdoa serta mengucapkan sumpah bahwa selanjutnya ia akan berubah watak dan menjadi manusia baik-baik, setelah sekian lama ia memanjatkan doa, perlahan lahan rasa pening dan perih mulai berkurang. setelah menarik nafas panjang beberapa kali ia benar-benar merasakan penderitaannya agak ringan tanpa menghiraukan segala akibatnya ia merangkak kearah meja dan berusaha berdiri setelah menarik kursi ia duduk dengan tangan gemetar ia mengambil tinta tulis dan membeber kertas saat itu juga ia menulis janji secara ringkas tapi jelas bahwa ia merasa bertobat serta mengutuk perbuatan dosanya sendiri, berjanji selanjutnya akan bersujud kepada Hud co mohon pengampunan supaya diperpanjang usianya, ia bertekad akan berdharma menolong simiskin dan membantu yang lemah, juga akan mencetak kitab Giok lek serta menganjurkan orang banyak untuk membaca dan mempercayainya, dengan semua janji itu ia berharap dapat menebus dosa-dosanya. habis menulis surat janjinya itu ia menunggu beberapa saat setelah tinta kering lalu dibakar.

Rasa pening di kepala dan perih di dadanya tadi memang cukup menyiksa dan membuatnya menderita, setelah membakar surat janjinya tanpa terasa ia mendekap kepala langsung pulas diatas meja.

Malam kedua, Tan Kim kembali bermimpi dipanggil oleh dewi baju hijau pupus yang membawanya masuk kedalam kelenteng Tan Kim berlutut pula di undakan yang paling bawah, sementara dewi baju hijau beranjak ke samping Te cong ong Pou sat entah membisikkan apa seperti memberi laporan atau mungkin juga memohonkan pengampunan bagi dirinya, beberapa kejap kemudian baru menghampiri dirinya serta berkata dengan sikap serius: "Pou Sat berkenan memberi pengampunan kepadamu, tapi selanjutnya kau harus benar-benar patuh dan selalu menepati janjimu sendiri, jangan sekali-kali kaulalaikan atau ingkar"

Habis bicara dewi baju hijau mengebaskan lengan bajunya, Tan Kim merasa dirinya seperti terlempar keluar, ditengah rasa girangnya itulah ia terjaga dari tidurnya. terasa badannya jauh lebih segar, rasa pening dan perih di dada juga sudah lenyap, hanya tenaganya memang masih lemah, maklum selama sakit ia tidak enak makan tidak nyenyak tidur.

Hari-hari selanjutnya, Tan Kim benar-benar menepati janjinya, ibarat manusia yang baru dilahirkan lagi di dunia ini, bukan saja ia menjadi manusia baik budi, suka menolong orang juga banyak melakukan perbuatan baik untuk kepentingan orang banyak, malah sejak hari itu ia tidak makan barnag berjiwa, juga mencetak kitab suci Giok lek serta disebarluaskan, bukan saja famili dan kenalan, kepada khalayak ramai pun ia memberikan keterangan tentang manfaat membaca kitab suci itu. Tan Kim betul-betul mewarisi tekad kakek moyangnya. bukan saja sujud sembah yang akhirnya ia juga menjadi tokoh masyarakat yang disegani dan dihormati.

Admin
Admin

Jumlah posting : 278
Join date : 02.04.08

Lihat profil user http://agama.forumakers.com

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik