Sutta Kebajikan Seorang Ibu Dan Kesulitan Membalas-Nya

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Sutta Kebajikan Seorang Ibu Dan Kesulitan Membalas-Nya

Post by skipper on Sun Nov 22, 2009 10:52 pm

Suttra Kebajikan Seorang Ibu Dan Kesulitan Membalas-Nya

Demikianlah yang aku dengar, bahwa pada suatu saat Sang Buddha berdiam di Shravasti, di Hutan Jeta, di Taman Pelindung Anak-Anak Yatim Piatu dan Para Pertapa, bersama -sama dengan sekumpulan bhiksu - bhiksu besar, yang seluruhnya berjumlah seribu dua ratus lima puluh, dan dengan semua Bodhisattva, jumlahnya tiga puluh delapan ribu semuanya.
Pada waktu itu, Sang Bhagava memimpin kumpulan besar itu dalam perjalanan menuju selatan. Tiba - tiba mereka menjumpai seonggok tulang manusia disamping jalan. Sang Bhagava berpaling menghadapinya, dan bersikap Anjali dengan penuh hormat.
Ananda dengan bersikap Anjali kemudian bertanya kepada Sang Bhagava, "Tathagata adalah Guru Agung dari Tri Loka dan bapak yang terkasih dari makhluk -makhluk yang berasal dari empat jenis kelahiran. Beliau dihormati dan dicintai seluruh umat. Apakah sebabnya kini beliau menghormati seonggok tulang-tulang kering?" Sang Buddha berkata kepada Ananda, "Meskipun engkau adalah siswa-siswaku yang utama dan telah cukup lama menjadi anggota Sangha, engkau masih belum mencapai pengertian yang jauh. Onggokan tulang ini mungkin adalah milik para leluhurku pada kehidupan yang telah lalu. itulah sebabnya sekarang Aku bersujud". Sang Buddha melanjutkan pembicaraannya kepada Ananda, "Tulang-tulang yang kita lihat ini dapatlah dibagi menjadi dua kelompok. Yang satu adalah tulang-tulang lelaki, yang berat dan putih warnanya. Kelompok yang lain adalah tulang-tulang perempuan, yang ringan dan warnanya hitam."
Ananda berkata kepada Sang Buddha, "Duhai Sang Bhagava, sewaktu para lelaki masih hidup didunia mereka menghiasi badan dengan jubah, pengikat pinggang, sepatu, topi dan pakaian-pakaian indah lainnya sehingga mereka jelas-jelas nampak perkasa.ketika para perempuan masih hidup, mereka mengenakan kosmetik, minyak wangi, bedak dan wangi-wangian yang menarik untuk menghiasi tubuh mereka, sehingga dengan jelas menampakkan kewanitaannya. Namun tatkala para lelaki dan perempuan itu meninggal, semua yang tertinggal adalah tulang-tulang. Bagaimana seseorang dapat membedakannya? Ajarilah kami bagaimana membedakannya?"
Sang Buddha menjawab Ananda, " Ketika para lelaki ada di dunia, mereka memasuki rumah ibadah, mendengarkan penjelasan-penjelasan tentang Sutra -sutra dan Vinaya, menghormati Sang Tri Ratna dan menyebut nama-nama Buddha. Tatkala mereka meninggal tulang-tulangnya menjadi berat dan putih warnanya.
Kebanyakan wanita dalam dunia mempunyai sedikit kebijaksanaan dan dipenuhi emosi. mereka melahirkan dan membesarkan anak-anak , merasakannya sebagai kewajiban. Setiap anak meminum seribu dua ratus galon susu ibunya. Oleh karena penghisapan (penyedotan) dari badan ibu ini sang anak mengambil susu untuk makanannya, ibu menjadi letih dan menderita dan karenanya tulang-tulang mereka berobah menjadi hitam dan ringan."
Ketika Ananda mendengar kata-kata ini, dia merasakan kepedihan dalam hatinya, karena seolah-olah telah tertusuk pedang dan karenanya ia diam-diam menangis. Dia mengatakan kepada Sang Bhagava, "Bagaimanakah caranya seseorang dapat membalas kasih dan kebaikan ibunya?"
Sang BUddha mengatakan kepada Ananda, "Dengarkanlah baik-baik, dan Aku akan jelaskan hal ini kepadamu dengan terperinci. Janin tumbuh dalam kandungan selama sepuluh bulan perhitungan Candra Sengkala. Alangkah menderitanya ibu selama janin berada disitu! Pada bulan pertama kehamilan, hidup janin tidaklah menentu seperti titik embun pada daun yang kemungkinan tidak akan bertahan dari pagi hingga sore, tetapi akan menjadi uap pada tengah hari!"
"Pada bulan kedua, janin menjadi kental seperti susu kental. Pada bulan ketiga, ia seperti darah yang mengental. Pada bulan keempat, janin mulai berwujud sedikit seperti manusia. Selama bulan kelima dalam kandungan, kelima anggota badan anak (dua kaki, dua tangan,dan kepala) mulai terbentuk. Pada bulan keenam kehamilan, anak mulai mengembangkan inti ke enam alat inderanya yaitu mata, telinga, hidung, lidah, badan dan pikiran.Selama bulan ketujuh, ketiga ratus enam puluh tulang-tulang dan persendian terbentuk, dan kedelapan puluh empat ribu pori-pori rambut juga telah sempurna. Dalam bulan kedelapan kehamilan, kecerdasan dan kesembilan lubang terbentuk. Pada bulan kesembilan, janin telah belajar menyerap berbagai zat makanan. misalnya janin dapat menyerap sari buah-buahan, akar tanaman tertentu, dan kelima macam padi-padian."
Bagian dalam tubuh ibu adalah organ yang padat, untuk fungsi menyimpan, dan ia tergantung ke arah bawah, sedangkan organ dalam yang hampa, berguna untuk mengolah, dan ia melingkar ke arah atas. Ini disamakan dengan ketiga gunung yang terbit dari permukaan bumi. kita boleh menyebut gunung-gunung ini Puncak Semeru, Gunung Karma dan Gunung Darah. Gunung-gunung perumpamaan ini bersatu, dan membentuk satu gugusan dengan puncak-puncak kesebelah atas dan lembah-lembah ke sebelah bawah. Begitu jugalah, pembekuan darah ibu dari organ-organ dalamnya membentuk zat tunggal yang menjadi makanan anak.
Selama bulan ke sepuluh kehamilan, badan janin disempurnakan dan siap untuk dilahirkan. Bila anak itu sangat berbakti dia akan lahir dengan telapak tangannya disatukan sebagai menghormat dan kelahiran itu akan aman dan baik. Ibunya tidak akan terluka oleh kelahiran itu dan tidak akan menderita kesakitan. Tetapi, bila anak itu sangat pemberontak sifatnya hingga melakukan kelima perbuatan jahat ( membunuh Ayah, membunuh Ibu, membunuh Orang Suci, memecah belah Sangha dan Melukai seorang Buddha ) maka dia akan merusak kandungan ibunya, mengoyak jantung dan hati ibunya, akan tersangkut di tulang-tulang ibunya, Kelahiran itu akan seperti sayatan seribu pisau atau seperti seribu pedang tajam menikam jantungnya. Itulah kesakitan-kesakitan yang terjadi dalam kelahiran anak nakal dan yang pembangkang.
Untuk menjelaskan lebih jelas, ada 10 jenis kebaikan yang diperbuat oleh seorang ibu kepada anaknya :
Yang pertama ialah kebaikan didalam memberikan perlindungan dan penjagaan selama anak dalam kandungan.
Yang Kedua adalah kebaikan dalam menanggung penderitaan selama kelahiran.
Yang ketiga adalah kebaikan untuk melupakan semua kesakitan begitu anak telah dilahirkan.
Yang keempat adalah kebaikan dari memakan bahagian yang pahit bagi dirinya dan menyimpan yang manis bagi anak.
Yang kelima adalah kebaikan untuk memindahkan anak ke tempat yang kering dan dirinya sendiri berbaring di tempat yang basah.
Yang keenam adalah kebaikan menyusukan anak pada payudaranya dan memberi makan dan membesarkan anaknya.
Yang ketujuh adalah kebaikan dalam membersihkan yang kotor.
Yang kedelapan adalah kebaikan dari selalu memikirkan anak bila dia berjalan jauh.
Yang kesembilan adalah kebaikan karena kasih sayang yang dalam dan pengabdian.
Yang kesepuluh adalah kebaikan karena rasa kasihan yang dalam dan simpati.
1. Kebaikan didalam memberikan perlindungan dan penjagaan selama anak didalam kandungan
Sebab-sebab dan kondisi-kondisi dari banyak kalpa yang terkumpul bertumbuh menjadi berat, sehingga dalam hidup ini anak berakhir dalam kandungan ibunya. Dengan berlalunya bulan, kelima organ penting berkembang. Dalam waktu tujuh minggu, keenam alat indera mulai tumbuh, badan ibu menjadi seberat gunung, Diamnya dan gerakan-gerakan janin adalah laksana bencana angin kalpic, baju-baju ibu yang cantik tidak dapat dipakai dengan baik lagi, dan begitu juga cerminnya pun berdebu.
2. Kebaikan didalam menanggung derita selama kehamilan
Kehamilan berlangsung selama sepuluh bulan penanggalan Canda Sengkala, dan puncaknya ialah kesulitan dengan semakin dekatnya kelahiran, sementara itu, setiap pagi ibu merasa sangat sakit, dan sepanjang hari terasa mengantuk dan lamban, ketakutannya dan kegelisahannya sukar dilukiskan. kesedihan dan air mata memenuhi dadanya, Dia dengan khawatir mengatakan kepada keluarganya, bahwa dia hanya takut maut akan menimpa dirinya.
3. Kebaikan untuk melupakan semua kesakitan begitu anak telah lahir
Pada saat ibu akan melahirkan anak, Kelima organ semua terbuka lebar, Menyebabkan dia sangat letih dalam badan dan piliran, darah mengalir laksana seekor domba yang disembelih, tetapi ketika mendengar bahwa anaknya terlahir sehat, dia dipenuhi dengan kegembiraan yang melimpah, tetapi sesudah kegembiraan, kesedihan datang kembali, Dan rasa sakit kembali mengaduk-ngaduk bahagian dalam tubuhnya.
4. Kebaikan dari memakan bahagian yang pahit bagi dirinya dan menyimpan bahagian yang manis untuk anak
kebaikan kedua orangtua sangat besar dan dalam, penjagaan dan pengabdiannya tidak pernah berhenti, tidak pernah beristirahat, ibu senantiasa menyimpan yang manis untuk anak, dan tanpa mengeluh menelan yang pahit bagi dirinya, cintanya amat besar dan emosinya sukar tertahankan, kebaikannya adalah mendalam dan begitu juga kasihnya, hanya menginginkan anak mendapat cukup makanan, ibu yang kasih tidak membicarakan kelaparannya sendiri.
5. Kebaikan untuk memindahkan anak ke tempat yang kering dan dirinya sendiri di tempat basah.
Ibu rela berada di tempat yang basah agar dengan demikian anak dapat berada di tempat yang kering. Dengan kedua payudaranya dia memuaskan rasa lapar dan haus sang anak, menutupi dengan kainnya, dia melindungi anak dari angin dan dingin, dalam kebaikannya, kepala ibu jarang lega diatas bantal, dan bahkan dia melakukannya dengan gembira selama anak dapat merasa senang, Ibu yang baik tidak mencari penghiburan bagi dirinya sendiri.
6. Kebaikan menyusui anak pada payudaranya dan memberi makan serta memelihara anak
Ibu yang baik adalah bagaikan bumi yang besar, Ayah yang tegar laksana langit yang mengasihi, yang satu melindungi dari atas, yang lainnya menunjang dari bawah, kebaikan orangtua adalah sedemikian rupa sehingga mereka tidak membenci atau marah terhadap anaknya, dan tetap menyukainya, sekalipun anak terlahir lumpuh. sesudah ibu mengandung anak dalam kandungannya dan melahirkannya, orangtua bersama-sama memelihara dan melindunginya sampai akhir hayatnya.
7. Kebaikan dari membersihkan yang kotor
Mula-mula ibu mempunyai wajah yang cantik dan tubuh yang indah, semangatnya kuat dan bergelora, alis matanya seperti daun willow hijau yang segar, dan warna kulitnya bagaikan mawar merah jambu. tetapi kebaikan ibu begitu mendalam sehingga dia melepaskan wajah yang cantik, sekalipun mencuci yang kotor merusak badannya. ibu yang baik bertindak hanya demi untuk kepentingan putra-putrinya. dan dengan rela menerima kecantikannya yang memudar.
8. Kebaikan dari selalu memikirkan anak bila dia berjalan jauh.
Kematian dari orang yang dicintai sukar terlukiskan penderitaannya. Tetapi berpisah dari yang dikasihi juga sangat menyakitkan. bila anak berjalan jauh, ibu merasa khawatir dikampungnya, dari pagi hingga malam, hatinya selau bersama anaknya, dan air mata berderai jatuh dari matanya, seperti monyet menangis diam-diam, demikian dalam cinta seorang ibu kepada anaknya. sedikit demi sedikit hatinya hancur.
9. Kebaikan karena kasih sayang yang dalam dan pengabdian.
Alangkah besarnya kebaikan orang tua dan gejolak emosinya! kebaikannya mendalam dan sukar membalasnya, dengan rela mereka menderita untuk kepentingan anaknya. Bila anak bekerja berat, orang tua pun merasa tidak senang. bila mereka mendengar bahwa dia berjalan jauh, mereka khawatir bahwa pada waktu malam sang anak berbaring kedinginan. bahkan kesakitan sebentar yang diderita putra-putra atau putri-putrinya. akan menyebabkan orang tua lama bersusah hati.
10. Kebaikan dari rasa kasihan yang dalam dan simpati
Kebaikan orang tua adalah besar dan penting. perhatiannya yang lemah lembut tidak pernah berhenti. dari saat mereka bangun tiap pagi, pikiran mereka adalah pada anaknya. Apakah anak-anak dekat atau jauh, orang tua selalu memikirkan mereka. sekalipun seorang ibu hidup untuk seratus tahun. dia akan selalu mengkhawatirkan anaknya yang berumur delapan puluh tahun. Inginkah anda mengetahui bilakah kebaikan dan cinta yang demikian itu berakhir ? Ia bahkan tidak mulai berkurang hingga akhir hidupnya.
Sang Buddha berkata kepada Ananda "Bila Aku merenung tentang makhluk-makhluk hidup, Aku melihat bahwa sekalipun mereka dilahirkan sebagai manusia, mereka adalah bodoh dan dungu dalam pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan mereka. mereka tidak mempertimbangkan kebaikan dan kebajikan orang tua mereka. mereka tidak menghormati dan melupakan kebaikan dan apa yang benar. mereka kurang manusiawi dan kurang berbakti atau patuh pada orang tua.
selama sepuluh bulan ibu mengandung anak, dia merasakan kesusahan setiapkali dia bangun, seolah-olah ia mengangkat beban yang berat. sebagai seorang cacat yang parah, dia tak mampu menelan makanan dan minuman. bila waktu sepuluh bulan telah berlalu dan waktu melahirkan telah datang, dia menderita segala macam kesakitan dan penderitaan supaya anak dapat dilahirkan. dia takut akan kematiannya, seperti seekor babi atau domba menunggu untuk disembelih. kemudian darah mengalir di atas tanah. Inilah penderitaan-penderitaan yang dialaminya.
Setelah anak lahir, dia menyimpan apa yang manis untuk anak dan menelan yang pahit bagi dirinya sendiri. dia menggendong anak dan memberinya makan serta membersihkan kotorannya. tiada pekerjaan atau kesukaran yang ia tidak bersedia mengerjakan demi kepentingan anaknya. dia menahan baik rasa dingin dan panas dan tiada pernah menyebutkan apa yang telah dialaminya. dia memberikan tempat yang kering untuk anaknya dan dia sendiri tidur di tempat yang lembab, selama tiga tahun dia memberi makan anak dengan susu yang adalah darah badannya sendiri.


Terakhir diubah oleh sen tanggal Sun Nov 22, 2009 11:43 pm, total 2 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Om Amirta Tejo Vati Svaha

Post by skipper on Sun Nov 22, 2009 10:53 pm

Orang tua terus-menerus mengajar dan membimbing anak-anaknya tentang
apa yang patut dan bermoral, selama anak tumbuh menjadi dewasa. mereka
mengatur perkawinan bagi anak-anaknya dan menyediakan harta benda dan
kekayaan atau mengusahakan cara-cara untuk mendapatkannya bagi
anak-anak mereka. mereka bertanggung jawab dan bersusah susah sendiri
dengan kerja keras dan semangat yang besar, dan tiada pernah
membicarakan kasih sayang dan kebaikan mereka.
Bila putra atau putrinya sakit, orang tua khawatir dan takut sehingga
mereka sendiri mungkin jatuh sakit. mereka berada di samping anak,
terus menerus menjaganya, dan hanya bila anak sembuh orang tua menjadi
gembira kembali. dengan cara ini. mereka menjaga dan membesarkan
anak-anaknya dengan harapan yang terus-menerus bahwa keturunan mereka
akan segera menjadi dewasa.
Alangkah sedihnya bila acap kali anak-anaknya justru tidak berbakti,
sebagai balasannya bila berbicara dengan sanak saudara yang seharusnya
mereka hormati, anak-anak tidak ingin menunjukkan kepatuhan mereka.
ketika mereka seharusnya bersikap hormat, mereka malah tidak ingin
bertingkah laku baik. mereka mendelik kepada orang yang seharusnya
mereka segani dan menghina paman-paman dan bibi-bibi mereka. mereka
memarahi saudara-saudaranya dan menghancurkan perasaan keluarganya yang
ada di antara mereka. Anak-anak seperti itu tidak mempunyai rasa hormat
atau perasaan yang patut.
Anak-anak mungkin bisa diajar dengan baik, tetapi mereka tetap tidak
berbakti, mereka tidak akan memperdulikan pengajaran atau mematuhi
aturan-aturan. Jarang sekali mereka menuruti bimbingan orang tua
mereka. mereka menentang dan membangkang bila bergaul dengan
saudara-saudara mereka. mereka datang dan pergi dari rumah tanpa
memberi tahu kepada orang tua. kata-kata dan tindakan-tindakannya
sangat sombong dan mereka bertindak tiba-tiba tanpa membicarakannya
dengan yang lainnya. anak-anak yang demikian tidak mengacuhkan
teguran-teguran dan hukuman-hukuman yang dibuat oleh orang tuanya dan
tidak memperdulikan peringatan-peringatan paman-paman mereka. tetapi,
mereka belum matang (dewasa) dan selalu perlu diperhatikan dan
dilindungi oleh orang yang lebih tua.
Sebagaimana anak-anak demikian makin besar, mereka menjadi keras kepala
dan tidak bisa diatur. mereka sama sekali tidak berterima kasih dan
betul-betul melawan. mereka menantang dan penuh kebencian, membuang
keluarga dan kawan-kawan mereka. mereka berteman dengan orang-orang
jahat dan segera meniru kebiasaan-kebiasaan jahat mereka. mereka
menganggap yang salah adalah benar.
Anak-anak yang demikian mungkin dipikat kawannya untuk meninggalkan
keluarganya dan lari untuk hidup di kota lain, dan dengan demikian
tidak mengakui orangtuanya, serta meninggalkan kota tempat lahir
mereka. mereka mungkin menjadi pedagang atau pegawai negeri yang hidup
dengan jemu dalam kesenangan dan kemewahan. mereka mungkin kawin dengan
tergesa-gesa dan ikatan baru ini bahkan merupakan halangan lain yang
semakin menghalangi mereka kembali ke rumah untuk waktu yang lama.
Atau, ketika mencoba hidup di kota lain, anak-anak ini tidak hati-hati
dan mendapati dirinya difitnah atau dituduh berbuat jahat. mereka
mungkin dipenjarakan dengan tidak adil. atau mereka jatuh sakit dan
terlibat dalam malapetaka atau kesukaran-kesukaran, terkena penderitaan
kemiskinan yang hebat, kelaparan, dan kurus kering. tetapi tak akan ada
orang yang memperhatikan mereka. karena dibenci dan tak disukai
orang-orang lain, mereka akan disia-siakan di jalan. dalam keadaan
demikian, hidup mereka akan berakhir. tak seorang pun yang bersusah
payah mencoba menolong mereka. Badan mereka membengkak, membusuk,
hancur dan terkena matahari dan beterbangan dihembus angin.
Tulang-tulang putih hancur sama sekali dan bertebaran. ketika anak-anak
ini mati di tempat kotor di kota lain, mereka tidak akan pernah
berkumpul kembali dengan gembira bersama sanak saudara atau keluarga.
juga mereka tidak akan pernah tahu bagaimana orang tua mereka yang
makin tua menangisi dan cemas tentang mereka. Orang tua mungkin menjadi
buta karena menangis atau menjadi sakit karena putus asa dalam
kesedihan yang amat sangat. terus menerus mengingat anak-anaknya,
mereka mungkin meninggal tetapi bahkan tatkala menjadi hantu sekalipun,
jiwa mereka tetap mengingatnya dan tak dapat melupakannya.
Anak-anak tidak berbakti lainnya mungkin tidak ada keinginan untuk
belajar, tetapi sebagai gantinya tertarik akan ajaran-ajaran aneh dan
ganjil. anak-anak demikian mungkin menjadi jahat, kasar, dan keras
kepala, menyenangi perbuatan-perbuatan yang sama sekali tidak
menguntungkan. mungkin mereka terlibat dalam perkelahian dan pencurian,
membuat diri mereka bertentangan dengan aturan hidup kota karena
berminum dan berjudi. seolah-olah kejahatan mereka tidak cukup, mereka
menarik saudara-saudaranya untuk ikut berbuat jahat sehingga menambah
kesedihan orang tua mereka.
Kalaupun anak-anak yang demikian itu tinggal di rumah, mereka
meninggalkan rumah pagi-pagi sekali dan tidak kembali sampai jauh
malam. tidak pernah mereka menanyakan kesejahteraan orang tuanya atau
memastikan apakah mereka tidak menderita panas atau dingin. mereka
tidak menanyakan kesehatan orang tua mereka di waktu pagi atau di sore
hari, bahkan juga tidak pada hari pertama atau kelima belas dari
penanggalan bulan (Candra Sengkala). sebenarnya tidak pernah terpikir
oleh anak yang tidak berbakti ini untuk menanyakan apakah orang tua
mereka dapat tidur nyenyak dan beristirahat dengan tenang. anak-anak
yang demikian memang sama sekali tidak memperhatikan kesehatan orang
tuanya. bila orang tua mereka menjadi tua dan rupanya makin lama makin
renta dan kurus mereka dibuat merasa malu di depan umum dan diejek
serta diganggu.
Anak-anak tidak berbakti seperti itu mungkin akhirnya punya ayah
seorang duda atau ibunya seorang janda. orang tua yang sendirian
ditinggalkan sendirian di rumah yang kosong dan merasa seperti tamu di
rumahnya sendiri. mereka mungkin tahan menghadapi dingin dan lapar,
tetapi tidak ada yang memperhatikan kesusahan mereka. mereka mungkin
menangisi terus-menerus dari pagi hingga malam, berkeluh kesah dan
meratap. adalah wajib bagi anak-anak menyediakan makanan dan minuman
yang enak bagi orang tua mereka yang menua, tetapi anak-anak yang tidak
bertanggung jawab sudah pasti melupakan kewajiban-kewajibannya. Bila
mereka pernah atau mencoba menolong orang tuanya dengan cara apapun,
mereka merasa malu dan takut ditertawakan orang lain. namun anak-anak
yang sedemikian itu memfoya-foyakan harta dan makanan kepada anak dan
istri mereka, tanpa menghiraukan kerja dan kelelahan dalam
melakukannya. anak-anak tidak berbakti lainnya mungkin diancam istrinya
sedemikian rupa sehingga mereka mengikuti segala keinginan istri.
tetapi bila diminta oleh orang tuanya dan orang-orang yang lebih tua,
mereka tidak memperdulikannya dan sama sekali tidak tergerak hatinya
melihat keadaan mereka.
Dapat terjadi bahwa anak-anak perempuan berbakti kepada orang tuanya
sebelum kawin. tetapi makin lama makin membangkang sesudah mereka
kawin. keadaan dapat menjadi begitu parah sehingga bila orang tua
menunjukkan ketidaksenangan sedikit saja, anak-anak perempuan menjadi
penuh kebencian dan dendam terhadap mereka. tetapi, mereka sanggup
menahan kemarahan dan pukulan-pukulan suami mereka dengan senang,
sekalipun pasangan mereka adalah orang lain dengan ikatan keluarga yang
lain dan nama keluarga yang lain pula. ikatan emosional diantara
pasangan-pasangan yang demikian adalah sangat erat, tetapi anak-anak
perempuan yang demikian menjauhi orang tuanya. mereka mungkin mengikuti
suami dan pindah ke kota lain, dan meninggalkan orang tuanya sama
sekali. mereka tidak merindukan orang tuanya dan sama sekali tidak
berhubungan dengan orang tuanya. bila orang tua terus-menerus tidak
mendengar kabar dari anak-anak perempuannya, mereka khawatir
terus-menerus. mereka begitu dibebani oleh kesedihan seolah-olah mereka
dihukum gantung dengan kepala di bawah. setiap pemikiran mereka ialah
untuk melihat anak-anaknya seperti orang yang haus merindukan sesuatu
untuk diminum. pemikiran mereka yang baik untuk anak-anak tidak pernah
berhenti.
Kebajikan dari kebaikan orang tua sungguh luas dan tidak terbatas. Bila
seseorang berbuat kesalahan karena tidak berbakti, alangkah sukar
membayar kembali kebaikan itu !"
Pada ketika itu, setelah mendengar Sang Buddha berbicara tentang
dalamnya kebaikan orang tua, setiap orang dalam kumpulan besar itu
menjatuhkan diri mereka ke tanah dan mulai memukuli dada mereka dan
menghempaskan diri mereka hingga semua pori-pori mereka mengeluarkan
darah. Beberapa orang pingsan di atas tanah, sedangkan yang lain
menghentakkan kakinya dalam kesedihan. Lama baru mereka dapat mengatasi
diri mereka. dengan suara keras mereka meratap : "Alangkah
menderitanya! Alangkah sakitnya! Alangkah sakitnya! kami semua
bersalah. Kami adalah penjahat yang tidak pernah sadar, seperti mereka
yang berjalan di malam yang gelap. kami baru sekarang menyadari
kesalahan-kesalahan kami dan hati kami tercabik-cabik. kami hanya
berharap bahwa Sang Bhagava mengasihi dan menyelamatkan kami. Mohon
ajarilah kami bagaimana mengembalikan kebaikan yang mendalam dari orang
tua kami !"
Pada waktu itu Tathagata memakai delapan macam suara yang sangat dalam
dan bersih, seraya berkata kepada kumpulan besar itu, "Anda semua harus
mengetahui ini, sekarang akan kami jelaskan beberapa segi dari hal ini."
"Bila ada seseorang yang mengangkat ayahnya dengan bahu kirinya dan
ibunya dengan bahu kanannya dan oleh karena beratnya menembus tulang
sumsumnya sehingga tulang-tulangnya hancur menjadi debu, dan
orang-orang tersebut mengelilingi Puncak Semeru seratus ribu kalpa
lamanya sehingga darah yang keluar dari kakinya membasahi pergelangan
kakinya, orang tersebut belum cukup membalas kebaikan yang mendalam
dari orang tuanya".
"Bila ada seseorang yang selama waktu satu kalpa yang penuh dengan
kesukaran dan kelaparan, memotong sebagian dari daging badannya sendiri
untuk memberi makan orang tuanya dan ini diperbuatnya sebanyak debu
yang dilalui dalam perjalanan ratusan ribu kalpa, orang itupun belum
membalas kebaikan yang dalam dari orang tuanya"
"Bila ada satu orang yang demi orang tuanya, mengambil sebuah pisau
yang tajam dan mencungkil kedua belah matanya dan mempersembahkannya
kepada Tathagata, dan terus melakukannya hingga beratus-ratus ribu
kalpa, orang tersebut masih tetap belum membalas kebaikan yang mendalam
dari orang tuanya".
"Bila ada orang yang demi ayah dan ibunya mengambil sebuah pisau tajam
dan mengeluarkan jantung dan hatinya sehingga darah mengucur dan
menutupi tanah dan dia melakukan ini dalam beratus ribu kalpa, tiada
sekalipun mengeluh tentang kesakitannya,orang tersebut tetap belum
dapat membalas kebaikan yang besar dari orang tuanya".
"Bila ada orang demi orangtuanya, menghancurkan tulang-tulangnya
sendiri sampai ke sumsum dan melakukan ini hingga beratus ribu kalpa,
orang itu tetap belum membalas kebaikan yang besar dari orang tuanya".
"Bila ada orang yang demi orang tuanya menelan butiran-butiran besi
yang mencair dan berbuat demikian hingga beratus ribu kalpa, orang itu
tetap belum dapat membalas kebaikan yang mendalam dari orang tuanya".
Pada waktu itu, ketika mendengar Buddha membicarakan kebaikan dan
kebajikan orang tua, setiap orang dalam kumpulan besar itu menangis
diam-diam dan merasakan kepedihan dalam hatinya. mereka merenungkannya
dan segera merasa malu dan berkata kepada Sang Bhagava, "Oh, Sang
Bhagava, bagaimana kami dapat membalas kebaikan yang dalam dari orang
tua kami?"
Sang Buddha menjawab, "Wahai siswa-siswa Buddha, bila engkau ingin
membalas kebaikan orang tuamu, tulislah Sutra ini untuk mereka.
Kumandangkanlah Sutra ini untuk mereka. bertobatlah atas
pelanggaran-pelanggaran dan kesalahan-kesalahan demi mereka. untuk
kepentingan orang tua berikanlah persembahan kepada Tri Ratna. demi
orang tua, patuhlah kepada perintah untuk hanya memakan makanan suci
dan bersih. Demi orang tua biasakanlah berdana dan mencari keberkahan.
Bila engkau dapat melakukan ini, engkau adalah anak yang berbakti. bila
engkau tidak melakukannya, engkau adalah orang yang akan menuju pada
alam sengsara".
Sang Buddha mengatakan kepada Ananda, " Bila seseorang tidak berbakti
ketika hidupnya berakhir dan badannya membusuk, dia akan jatuh ke dalam
Neraka Avici yang tidak terbatas. Neraka yang besar ini kelilingnya
delapan puluh ribu Yojana, dan dikelilingi dinding besi pada ke empat
sisinya.Diatasnya ditutup oleh jaring-jaring, dan lantainya juga dibuat
dari besi. Api akan membakar dengan berkobar-kobar, sementara itu petir
bergemuruh dan sambaran kilat yang berapi-api akan membakar. Perunggu
yang cair dan cairan besi akan disiramkan keatas badan orang-orang yang
bersalah. Anjing-anjing perunggu dan ular-ular besi terus-menerus
memuntahkan api dan asap yang membakar orang-orang bersalah dan
memanggang badan dan lemaknya hingga menjadi bubur.
"Oh, penderitaan yang hebat ! Sukar menahankannya, sukar
menanggungkannya ! Ada galah, pengait, lembing-lembing, tombak-tombak
besi dan rantai-rantai besi, pemukul-pemukul dari besi, dan jarum-jarum
besi. Roda-roda dari pisau besi turun bagai hujan dari udara. Orang
yang bersalah itu dicincang dipotong atau ditikam dan mengalami
hukuman-hukuman yang mengerikan ini selama berkalpa-kalpa tidak
henti-hentinya. Kemudian mereka memasuki neraka-neraka berikutnya, di
mana kepala mereka akan ditutupi mangkok-mangkok yang panas sekali,
sedangkan roda-roda besi akan menggilas badan mereka secara mendatar
dan tegak lurus sehingga perut mereka pecah dan daging serta
tulang-tulangnya menjadi lebur. Dalam satu hari mereka akan mengalami
beribu-ribu kelahiran dan kematian. Penderitaan-penderitaan yang
demikian adalah akibat melakukan kelima perbuatan jahat dan karena
tidak berbakti selama seseorang masih hidup.
Pada waktu itu setelah mendengar Sang Buddha membicarakan sutra tentang
kebajikan orang tua, setiap orang dalam kumpulan besar itu menangis
dengan sedihnya dan berkata kepada Tathagata, "Pada hari ini, bagaimana
kami dapat membalas kebaikan yang dalam dari orang tua kami ?"
Sang Buddha berkata, " Wahai siswa-siswa Buddha, bila engkau ingin
membalas kebaikan-kebaikan mereka, maka demi mereka salinlah sutra ini.
ini sesungguhnya membalas kebaikan mereka. Bila seseorang dapat
menyalin satu saja maka dia akan melihat satu Buddha. bila seseorang
dapat menyalin sepuluh buah, maka dia akan melihat 10 Buddha. Bila
seseorang dapat menyalin 100, maka ia akan bertemu 100 Buddha. Bila
seseorang dapat menyalin 1000 maka ia akan melihat 1000 Buddha. Bila
seseorang dapat menyalin 10.000, maka ia akan melihat 10.000 Buddha.
Inilah kekuatan yang diperoleh bila orang-orang baik menyalin Sutra.
Semua Buddha akan selamanya melindungi orang yang demikian itu dan
dapat dengan segera menyebabkan orang-orang tua mereka lahir kembali di
surga, untuk menikmati segala kebahagiaan dan meninggalkan
penderitaan-penderitaan neraka.
Pada ketika itu, Ananda dan lain-lainya dalam kumpulan besar itu -
Asura, Garuda, Kinnara, Mahoraga, manusia, bukan manusia, dan
lain-lainnya, demikian juga dewa-dewa, naga, yaksha, gandarwa,
raja-raja bijaksana yang memutar roda, dan semua raja-raja yang lebih
kecil, merasakan semua bulu pada badan mereka berdiri setelah
mendengarkan apa yang dikatakan Sang BUddha. mereka menangis dengan
sedihnya dan tak sanggup menghentikannya.
Masing-masingnya bertekad dan berkata, " Kami semua mulai sekarang
sampai perwujudan akhir dari masa mendatang, akan lebih suka badan kami
dilumatkan menjadi abu untuk beratus ribu kalpa daripada melanggar
ajaran-ajaran bijaksana dari Tathagata. Kami lebih suka lidah kami
dicabut, sehingga akan memanjang sepanjang satu Yojana penuh, dan untuk
selama seratus ribu kalpa sebuah luku besi ditarik diatasnya; kami
lebih suka roda dengan seratus ribu pisau menggelinding dengan bebas
diatas badan kami, daripada melanggar ajaran-ajaran bijaksana dari
Tathagata. Kami lebih suka badan kami diikat denga njaring besi selama
seratus ribu kalpa, daripada melanggar ajaran-ajaran bijaksana dari
Tathagata. kami lebih suka badan kami dicincang, dipotong, dirusak dan
dipahat menjadi sepuluh juta potong sehingga kulit, daging, persendian
dan tulang-tulang kami betul-betul hancur, dari pada melanggar
ajaran-ajaran bijaksana dari Tathagata".
Pada ketika itu, Ananda dengan agung dan perasaan damai, bangkit dari
tempat duduknya dan bertanya kepada Sang Buddha, "Sang Bhagava, apakah
nama Sutra ini bila kami mengikutinya dan menjaganya ?"
Sang Buddha berkata kepada Ananda, " Sutra ini disebut SUTRA KASIH YANG
MENDALAM DARI ORANG TUA DAN KESULITAN MEMBALASNYA. Pakailah nama ini
bila engkau mengikutinya dan menjaganya".
Pada ketika itu, kumpulan besar itu,
dewa-dewa,manusia-manusia,asura,dan lain-lainnya, mendengar apa yang
telah dikatakan oleh Sang Buddha, betul-betul merasa gembira. Mereka
mempercayainya, menerimanya, dan menyesuaikannya dengan tingkah laku
mereka dan kemudian menunduk hormat dan berlalu.

Namo Triratna


Terakhir diubah oleh sen tanggal Sun Nov 22, 2009 11:51 pm, total 1 kali diubah

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Sutta Kebajikan Seorang Ibu Dan Kesulitan Membalas-Nya

Post by skipper on Sun Nov 22, 2009 10:53 pm

Bagi yang mau melihat Sang Tathagata, salin atau sebarkan Suttra luar biasa mengagumkan ini di wihara atau siapapun. Sang Tathagata tidak pernah khilaf berkata-kata.

Smile Om Amirta Tejo Vati Svaha

skipper

Jumlah posting : 439
Join date : 27.11.08
Age : 28

Lihat profil user http://aryamahayana.forumup.com

Kembali Ke Atas Go down

Re: Sutta Kebajikan Seorang Ibu Dan Kesulitan Membalas-Nya

Post by Sponsored content Today at 5:09 pm


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik